"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32. Bukti bukan janji
Pagi itu, ketenangan di kamar Cantik hancur seketika. Suara pintu yang dibuka dengan kasar membuat Cantik tersentak dari lamunannya di tepi jendela. Di ambang pintu, Ayah berdiri dengan wajah yang mengeras, tangannya menggenggam erat selembar kertas nota bengkel yang kusam dan berbau bensin.
Surat dari Juna yang diterbangkan lewat bola kasti semalam.
"Apa-apaan ini, Cantik?!" Ayah melangkah maju dan melemparkan surat itu tepat ke atas tempat tidur. "Sudah Ayah bilang, jangan ada komunikasi lagi dengan keluarga itu! Kenapa kamu masih berani menyimpan surat sampah dari bocah ugal-ugalan ini?"
Cantik menatap surat itu, lalu menatap Ayah. Sesuatu di dalam dirinya mendadak meledak. Rasa sesak, sedih, dan tertekan yang ia simpan selama seminggu ini berubah menjadi keberanian yang tak terbendung.
"Itu bukan sampah, Yah! Itu satu-satunya alasan Cantik masih mau bangun dan bertahan di kamar ini!" teriak Cantik. Suaranya bergetar, namun lantang membelah kesunyian rumah.
Ayah tertegun. Ini pertama kalinya putri penurutnya berteriak seperti itu. "Cantik, jaga bicaramu! Ayah melakukan ini demi melindungi kamu! Keluarga Bani Sudirjo itu beracun, mereka hanya bawa petaka buat kamu!"
"Yang beracun itu cuma Satria, Yah! Bukan Juna, bukan Papa Sudirjo, bukan Mama Maya!" Cantik melangkah maju, menantang tatapan Ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca namun tajam. "Kenapa Ayah harus memutuskan hubungan ini secara sepihak? Kalau Ayah mau benci, cukup benci bajingan itu saja! Jangan seret Juna ke dalam kebencian Ayah!"
"Dia adiknya, Cantik! Darah mereka sama!" bentak Ayah, mencoba mempertahankan wibawanya.
"Tapi hati mereka beda jauh! Ayah sadar nggak? Saat Cantik hancur karena gagal nikah sebulan lalu, Juna yang jadi obatnya! Juna yang bikin Cantik bisa ketawa lagi saat semuanya ngetawain Cantik!"
Cantik menyeka air matanya dengan kasar, napasnya memburu. "Dan malam itu... saat Satria mencoba merusak Cantik di rumah utama, Juna yang mempertaruhkan nyawanya buat lindungin Cantik! Juna yang mukul Satria sampai berdarah-darah demi keselamatan Cantik! Di mana Ayah saat itu? Ayah cuma datang saat semuanya sudah selesai! Tapi sekarang, Ayah justru menghukum orang yang sudah menyelamatkan anak Ayah sendiri? Itu nggak adil, Yah!"
Ayah terdiam membeku. Rahangnya mengeras, namun sorot matanya mulai goyah. Kalimat "Di mana Ayah saat itu?" benar-benar menghantam telak egonya. Ayah teringat luka di wajah Juna malam itu—pukulan yang Ayah berikan sendiri—dan bagaimana Juna tetap diam tanpa melawan sepatah kata pun.
Keheningan yang menyiksa menyelimuti kamar itu. Ayah memalingkan wajah, menatap ke arah luar jendela, mencoba meredam pergulatan batinnya. Ayah sayang pada Cantik, itu pasti. Tapi gengsi keluarga Wijaya terlalu besar untuk ditaruh di bawah kaki seorang remaja bengkel.
"Ayah butuh bukti nyata, Cantik," suara Ayah akhirnya melunak, meski tetap terdengar berat. "Ayah tidak butuh surat cinta bau bensin atau janji-janji ugal-ugalan. Ayah ingin lihat dia berdiri sebagai pria yang mapan dan berwibawa di depan Ayah. Bukan cuma modal nekat atau numpang nama besar keluarganya."
Ayah menoleh kembali ke arah Cantik, menatap putrinya dengan serius. "Minggu depan dia ada acara besar di bengkelnya, kan? Dia kirim undangan resmi ke kantor Ayah pagi ini. Ayah akan datang. Ayah mau lihat seberapa jauh 'kerajaan oli' yang dia banggakan itu bisa menjamin masa depan kamu."
Ayah berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak sebelum keluar. "Ingat satu hal... kalau dia gagal memberikan bukti nyata malam itu, kamu harus janji pada Ayah untuk melupakan namanya selamanya."
Pintu tertutup rapat. Cantik terduduk lemas di lantai, mendekap surat Juna di dadanya. Ada secercah harapan di balik air matanya.
"Satu minggu, Jun... Ayah minta bukti," bisik Cantik pelan. "Gue tahu lu nggak akan biarin gue kalah. Gaskeun, Juna Raksa. Tunjukin ke Ayah kalau lu adalah ksatria yang sebenernya."
Di bengkel, Juna Raksa menerima telepon dari kurir pribadinya—salah satu temannya—yang mengabarkan bahwa undangan sudah diterima langsung oleh asisten Ayah Wijaya.
"Dia bakal dateng, Jun. Tapi bokapnya Cantik mukanya galak bener pas denger nama lu," lapor temannya itu.
Juna menyeringai, ia mengelap keringat di dahinya dengan kain lap kotor. "Galak itu biasa. Yang penting gerbangnya dibuka sedikit. Sisanya, biar gue yang ugal-ugalan nembus pertahanannya."
Juna menatap spanduk Grand Opening yang mulai dipasang. Ia tahu, ini adalah malam penentuan hidup dan matinya. Di antara deretan motor modifikasi berkelas internasional dan tamu-tamu penting, ia harus membuktikan bahwa si "brondong ugal-ugalan" ini sudah berubah menjadi singa yang siap menjaga bidadarinya selamanya.