10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Yang Masuk Tidak Pernah Keluar
Gelap.
Bukan sekadar tidak ada cahaya.
Ini… sesuatu yang lain.
Seperti kegelapan yang punya bentuk.
Punya napas.
Punya niat.
Alya tidak bisa melihat apa pun.
Namun ia bisa merasakannya.
Di sekelilingnya.
Dekat.
Terlalu dekat.
Napasnya tercekat.
Ia mencoba bergerak—tapi tubuhnya terasa berat.
Seolah udara di sekitarnya berubah menjadi cairan kental yang menahannya.
Lalu—
Suara itu datang lagi.
Bukan satu.
Banyak.
Berbisik bersamaan.
Tidak jelas.
Tidak sinkron.
Seperti ratusan orang mencoba berbicara lewat satu mulut.
“Masuk…”
“Masuk…”
“Masuk…”
Alya menutup telinganya.
“Berhenti…” suaranya pecah.
Namun bisikan itu tidak berhenti.
Justru semakin dekat.
Semakin jelas.
“Sudah lama…”
“Sudah menunggu…”
“Sekarang… giliranmu…”
Tiba-tiba—
Sesuatu menyentuh kakinya.
Dingin.
Lembap.
Bergerak.
Alya menjerit dan menendang ke arah itu.
Namun tendangannya terasa… sia-sia.
Seperti menendang kabut yang padat.
Atau sesuatu yang tidak sepenuhnya ada.
“Jangan sentuh aku!” teriaknya.
Balasan datang.
Bukan kata-kata.
Tapi…
Tawa.
Pelan.
Serak.
Banyak.
Dari segala arah.
Alya mulai mundur.
Atau setidaknya… mencoba.
Ia tidak tahu lagi di mana pintu.
Di mana dinding.
Di mana dirinya sendiri berada.
Semua terasa sama.
Semua terasa salah.
Lalu—
Sebuah cahaya kecil muncul.
Jauh di depan.
Sangat kecil.
Namun cukup untuk terlihat.
Alya langsung menatapnya.
Itu satu-satunya hal yang berbeda.
Satu-satunya yang tidak gelap.
Tanpa berpikir panjang, ia melangkah ke arah cahaya itu.
Satu langkah.
Berat.
Seolah lantai menahannya.
Dua langkah.
Bisikan mulai berubah.
“Jangan…”
“Jangan pergi…”
“Dia bukan milikmu…”
Alya tidak peduli.
Ia terus berjalan.
Cahaya itu semakin besar.
Semakin dekat.
Dan saat ia hampir mencapainya—
Ia melihat sesuatu di dalamnya.
Sosok.
Berdiri membelakanginya.
Tubuhnya samar.
Namun familiar.
“Dira…?” suara Alya gemetar.
Sosok itu tidak menjawab.
Namun perlahan—
Ia berbalik.
Dan Alya langsung berhenti.
Bukan karena terkejut.
Tapi karena… ada yang salah.
Wajah itu memang Dira.
Namun—
Matanya kosong.
Terlalu kosong.
Seperti tidak ada siapa pun di dalamnya.
Dan senyumnya—
Terlalu lebar.
Tidak manusiawi.
“Kenapa kamu lama sekali…” suara itu keluar dari mulut Dira.
Namun nadanya…
Bukan dia.
Alya mundur satu langkah.
“Bukan kamu…” bisiknya.
Sosok itu tertawa.
Pelan.
Lalu—
Tubuhnya mulai berubah.
Wajahnya retak.
Seperti kaca.
Dari dalam retakan itu—
Keluar sesuatu.
Hitam.
Bergerak.
Seperti… banyak wajah lain yang mencoba keluar dari satu tubuh.
“Dia hanya pintu…” suara itu berkata.
“Dan kamu… kunci berikutnya.”
Alya berbalik.
Berusaha lari.
Namun—
Kegelapan di belakangnya sudah berubah.
Tidak lagi kosong.
Sekarang…
Dipenuhi.
Bayangan.
Berdiri diam.
Mengelilinginya.
Tinggi.
Kurus.
Tidak memiliki wajah.
Namun semuanya—
Menatapnya.
“Tidak…” Alya mundur lagi.
Namun sosok “Dira” di depannya semakin mendekat.
“Tidak ada jalan keluar…” katanya.
“Karena ini bukan tempatmu keluar…”
“Ini tempatmu… tinggal.”
Tiba-tiba—
Semua bayangan itu bergerak.
Serentak.
Maju.
Alya menjerit.
Dan saat mereka hampir menyentuhnya—
Cahaya lain muncul.
Lebih terang.
Lebih hangat.
Langsung di sampingnya.
Dan kali ini—
Alya tahu.
Ini berbeda.
Ini nyata.
Sebuah tangan menyentuh bahunya.
Hangat.
Tidak dingin.
Tidak menyakitkan.
“Alya.”
Suara itu.
Pelan.
Namun jelas.
Ia menoleh.
Dan jantungnya langsung berhenti sejenak.
“Raka…?”
Raka berdiri di sana.
Wajahnya pucat.
Namun matanya fokus.
Cahaya mengalir dari tangannya.
Menahan bayangan di sekitar mereka.
“Aku nemuin kamu…” katanya cepat.
“Jangan lihat mereka. Fokus ke aku.”
Alya hampir menangis.
“Kamu… kamu di sini gimana—”
“Gak ada waktu!” Raka memotong.
Bayangan di sekitar mereka mulai mendekat lagi.
Cahaya Raka bergetar.
Seperti tidak stabil.
“Mereka udah masuk terlalu dalam…” katanya pelan.
“Ini bukan mimpi lagi.”
Alya menggenggam tangannya.
“Terus kita harus apa?!”
Raka menatap lurus ke depan.
Ke arah sosok “Dira” yang kini berhenti.
Menatap mereka.
“Pintu belum benar-benar tertutup…” katanya.
“Masih ada celah.”
“Dan mereka… masuk lewat kamu.”
Alya terdiam.
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari apa pun.
“Aku…?”
Raka mengangguk.
“Waktu kamu nutup pintu… kamu jadi pengganti.”
Alya menggeleng.
“Tidak… tidak mungkin…”
Namun jauh di dalam dirinya—
Ia tahu.
Itu masuk akal.
Terlalu masuk akal.
Sosok “Dira” tersenyum lebih lebar.
“Dia mulai mengerti…” katanya.
“Bagus.”
Tiba-tiba—
Lantai di bawah mereka retak.
Hitam.
Dalam.
Seperti jurang.
Dan dari dalamnya—
Tangan-tangan itu muncul lagi.
Lebih banyak.
Lebih cepat.
Menarik.
Menggapai.
“Alya!” Raka menariknya.
Namun salah satu tangan berhasil menangkap pergelangan Alya.
Dingin.
Kuat.
Ia menjerit.
“LEPASKAN!”
Raka mencoba menariknya.
Namun tangan itu tidak mau lepas.
Justru menarik lebih kuat.
Dari dalam kegelapan—
Wajah-wajah mulai muncul.
Banyak.
Menjerit.
Memanggil.
“Masuk…”
“Masuk…”
“Masuk…”
Raka mengangkat tangannya.
Cahaya meledak.
Tangan itu terbakar.
Menjerit.
Dan akhirnya—
Lepas.
Alya terjatuh ke pelukan Raka.
Napasnya kacau.
“Kita gak bisa lama di sini…” Raka berkata cepat.
“Ini bukan dunia nyata. Ini—”
“—tempat di antara,” suara itu menyela.
Sosok “Dira” kini berdiri sangat dekat.
Terlalu dekat.
“Aku suka tempat ini…” katanya.
“Karena di sini… semua yang hilang bisa kembali.”
Alya menatapnya.
“Dira gak kayak gini…”
Sosok itu tertawa.
“Dira sudah pergi.”
“Yang tersisa… hanya yang
kamu tinggalkan.”
Kata-kata itu menusuk.
Dalam.
Menyakitkan.
Dan saat itu—
Cahaya di tangan Raka mulai melemah.
“Raka…” Alya panik.
Raka menggertakkan giginya.
“Mereka makin kuat…”
Bayangan di sekitar mereka kini semakin banyak.
Lebih padat.
Lebih dekat.
Tidak ada celah.
Tidak ada jalan.
“Kalau kita tetap di sini…” Raka berkata pelan.
“Kita bakal hilang.”
Alya menatapnya.
“Terus?!”
Raka menatap Alya.
Dalam.
Serius.
“Cuma ada satu cara.”
Alya menelan ludah.
“Dengan nutup celah itu dari dalam.”
Alya membeku.
“Artinya…?”
Raka tidak langsung menjawab.
Namun matanya sudah cukup memberi tahu.
Salah satu dari mereka—
Harus tinggal.
Selamanya.
Alya menggeleng.
“Tidak. Kita cari cara lain.”
“Gak ada waktu!” Raka meninggi.
Bayangan mulai menyentuh cahaya mereka.
Sedikit lagi—
Dan semuanya akan runtuh.
“Alya, denger—”
“Enggak!” Alya memotong.
Air matanya jatuh.
“Udah cukup! Aku udah kehilangan Dira! Aku gak mau—”
Kalimatnya terhenti.
Karena—
Tangan Raka menyentuh pipinya.
Hangat.
Lembut.
“Aku tahu…” katanya pelan.
“Makanya kali ini… aku yang tinggal.”
Alya langsung menggeleng keras.
“Enggak! Enggak! Kita keluar bareng!”
Namun Raka tersenyum kecil.
Sedih.
Tenang.
Seperti seseorang yang sudah menerima.
“Kalau kamu tetap di sini…” katanya.
“Mereka bakal pakai kamu buat buka lagi.”
Alya terdiam.
Tubuhnya gemetar.
“Dan kali ini… gak akan ada yang bisa nutup.”
Sunyi.
Hanya suara bayangan yang semakin dekat.
“Alya…” Raka berbisik.
“Tolong…”
Alya menatapnya.
Matanya merah.
Penuh air.
Penuh ketakutan.
“Aku gak mau sendirian lagi…”
Raka menunduk sedikit.
Lalu—
Ia memeluk Alya.
Erat.
Hangat.
“Ini bukan selamat tinggal…” bisiknya.
“Ini… janji.”
Cahaya di tubuhnya mulai meningkat.
Terang.
Menyilaukan.
“Aku bakal tahan mereka…”
“Dan kamu—”
Ia menatap Alya.
“Keluar.”
Alya menggeleng sambil menangis.
Namun cahaya itu—
Sudah mulai memisahkan mereka.
Menarik Alya menjauh.
“RAKA!” teriaknya.
Namun Raka tetap berdiri.
Di tengah kegelapan.
Sendirian.
Cahaya di sekitarnya menjadi perisai.
Bayangan menyerang.
Menabrak.
Menjerit.
Namun ia tetap berdiri.
“PERGI!” teriaknya.
Dan dalam sekejap—
Dunia pecah.
Alya terbangun.
Ia jatuh ke lantai kamarnya.
Napasnya kacau.
Tubuhnya gemetar.
“Raka…?” bisiknya.
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Ia melihat sekeliling.
Semua normal.
Namun—
Cermin.
Pantulannya…
Tidak ada.
Kosong.
Seperti lubang.
Dan dari dalamnya—
Sebuah suara pelan terdengar.
“Sekarang…”
“Dia milik kami.”
Lampu mati.
Dan dari kegelapan—
Senyum Raka perlahan muncul.
Namun—
Matanya…
Bukan miliknya lagi.