Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : Debu di Balik Megahnya Langit
Langit di atas Sekte Awan Putih tidak pernah tampak begitu angkuh. Awan-awan berarak perlahan, memantulkan sinar matahari pagi yang keemasan, menyinari ribuan puncak gunung yang menjulang tinggi seperti pedang yang menghujam cakrawala. Di lapangan utama yang terbuat dari batu giok putih, ribuan murid berdiri dengan formasi yang sempurna. Keheningan mencekam menyelimuti tempat itu, hanya menyisakan suara kibaran jubah sutra yang tertiup angin gunung yang dingin. Hari ini adalah Hari Pengujian Akar Spiritual—hari di mana takdir seorang manusia diputuskan oleh langit.
Di tengah altar yang luas, seorang pemuda bernama Wang Tian berdiri dengan kepala tertunduk. Pakaiannya adalah jubah abu-abu kasar, tanda bahwa ia hanyalah seorang murid pelayan yang tugasnya membersihkan kotoran dan melayani kebutuhan para murid jenius. Wajahnya terlihat pucat, namun matanya yang gelap menyimpan keteguhan yang tidak biasa. Selama sepuluh tahun, sejak ia ditemukan sebagai yatim piatu di kaki gunung, Wang Tian telah menghabiskan setiap malam untuk berlatih teknik pernapasan dasar, berharap bahwa suatu hari ia akan memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang kultivator sejati.
"Selanjutnya, Wang Tian!" suara lantang dari Penatua Lin memecah kesunyian.
Wang Tian melangkah maju dengan kaki yang sedikit gemetar. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah-olah seluruh beban dunia menekan pundaknya. Di hadapannya berdiri sebuah kristal penguji setinggi dua meter yang memancarkan aura kuno yang menekan. Kristal ini adalah hakim yang tidak memihak. Ia akan membaca struktur energi di dalam tubuh seseorang dan menampilkannya dalam bentuk warna.
"Letakkan tanganmu di atas kristal," perintah Penatua Lin tanpa emosi. Matanya menatap Wang Tian dengan kilatan rasa bosan. Baginya, murid pelayan hanyalah gangguan yang membuang-buang waktu sekte.
Wang Tian menarik napas panjang, menutup matanya, dan menempelkan telapak tangannya pada permukaan kristal yang dingin. Seketika, ia merasakan sensasi seperti tersengat listrik yang merambat dari ujung jarinya, menembus pembuluh darah, dan langsung menghujam pusat energinya (Dantian).
Sesaat, kristal itu tetap gelap. Namun tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya muncul dari dalamnya. Bukan satu warna, melainkan sebuah kekacauan warna yang saling bertabrakan. Merah api menyala sekejap, lalu langsung dipadamkan oleh biru air. Kuning tanah muncul dengan kaku, disusul oleh hijau kayu yang layu, dan perak logam yang tumpul. Warna-warna itu tidak bersinar dengan terang; mereka redup, berkedip-kedip seperti lampu minyak yang hampir habis, dan saling meniadakan satu sama lain di dalam kristal tersebut.
Seluruh lapangan yang tadinya sunyi mendadak meledak dalam tawa dan bisikan menghina.
"Lihat itu! Akar spiritual lima elemen?" ujar seorang murid berbaju biru sambil tertawa terbahak-bahak. "Itu bukan bakat, itu adalah kutukan! Bagaimana mungkin seseorang bisa berkultivasi jika energi di dalam tubuhnya selalu berperang satu sama lain?"
Penatua Lin menghela napas panjang, ekspresi wajahnya berubah menjadi jijik yang mendalam. "Wang Tian. Akar spiritual campuran lima elemen. Kualitas: Sampah Terendah. Secara teori, kamu bisa menyerap semua energi, tapi secara praktis, tubuhmu akan menolak semuanya. Kamu tidak akan pernah bisa menembus Ranah Pembersihan Tubuh Tingkat 1 bahkan jika kamu berlatih selama seratus tahun."
Kata-kata itu menghantam Wang Tian seperti godam raksasa. Ia merasa dunianya runtuh. Sepuluh tahun kerja keras, ribuan malam tanpa tidur, dan rasa lapar yang ia tahan... semuanya berakhir dengan satu kata: Sampah.
"Turun dari altar," ucap Penatua Lin dingin. "Mulai hari ini, posisimu sebagai murid pelayan di asrama luar dicabut. Kamu akan dipindahkan ke Perpustakaan Terlarang di puncak belakang. Tugasmu adalah menjaga buku-buku kuno yang sudah lapuk. Jangan pernah bermimpi untuk menyentuh teknik kultivasi lagi. Itu hanya akan membuang-buang sumber daya sekte."
Wang Tian tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan melewati kerumunan murid yang menatapnya dengan pandangan merendahkan. Beberapa dari mereka sengaja menyandung kakinya, membuat Wang Tian tersungkur di atas batu giok yang dingin. Tawa kembali pecah. Wang Tian bangkit tanpa mengeluarkan suara, membersihkan debu dari pakaiannya, dan terus berjalan menuju puncak belakang yang terisolasi.
Perpustakaan Terlarang hanyalah sebuah bangunan kayu tua yang sudah hampir roboh, dikelilingi oleh hutan bambu hitam yang selalu diselimuti kabut. Tempat ini disebut "terlarang" bukan karena isinya yang berharga, melainkan karena bangunan ini dianggap sebagai tempat sial di mana para kultivator yang gagal menghabiskan sisa hidup mereka dalam kegilaan.
Malam itu, di dalam perpustakaan yang gelap dan berdebu, Wang Tian duduk sendirian di pojok ruangan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi lantai kayu. Ia memandangi tangannya yang kasar dan penuh luka. "Apakah langit benar-benar sekejam ini? Mengapa memberiku harapan jika akhirnya hanya untuk dihancurkan?"
Dalam kemarahannya, Wang Tian menendang rak buku di sampingnya. Rak itu berderit dan beberapa gulungan tua jatuh berhamburan. Salah satu gulungan, yang terbungkus kain hitam kumal dan terikat rantai besi berkarat, menggelinding tepat ke depan kakinya.
Ada sesuatu yang aneh. Rantai besi itu tiba-tiba hancur menjadi debu saat menyentuh kulit Wang Tian. Dengan rasa penasaran yang mengalahkan rasa sedihnya, ia memungut gulungan itu. Saat ia membukanya, sebuah aroma kuno yang menyengat memenuhi ruangan. Di dalam gulungan itu, tertulis huruf-huruf yang tampak seperti aliran darah yang membeku.
"DA'O TERLARANG: SUTRA KAISAR SEMBILAN UNSUR"
Tiba-tiba, suara berat yang terasa berasal dari zaman purba bergema di dalam kepala Wang Tian, membuat telinganya berdenging hebat.
"Dunia ini bodoh... mereka memuja kemurnian satu elemen karena mereka takut pada kerumitan. Mereka menyebutnya sampah, karena mereka tidak memiliki wadah untuk menampung seluruh alam semesta. Wahai anak muda yang ditolak oleh langit, apakah kamu bersedia mengkhianati hukum dunia demi menggenggam takdirmu sendiri?"
Wang Tian tertegun. Ia merasakan pusaran energi di perutnya—yang tadinya kacau dan lemah—tiba-tiba mulai berputar dengan arah yang berlawanan. Itu adalah rasa sakit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk setiap sarafnya. Namun, di tengah rasa sakit itu, ia merasakan sebuah kekuatan yang sangat murni mulai mengalir.
"Aku... aku bersedia!" bisik Wang Tian dengan penuh tekad. Jika langit menolaknya, maka ia akan mencari jalannya sendiri, meski itu adalah jalan terlarang yang akan menjadikannya musuh bagi seluruh dunia.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang tertutup kabut, sejarah baru mulai ditulis. Wang Tian, sang murid pelayan yang dianggap sampah, baru saja membuka gerbang menuju kekuatan yang akan membuat 12 Klan Kuno gemetar ketakutan.
Statistik Bab 1:
Karakter: Wang Tian (Protagonis), Penatua Lin (Antagonis awal).
Lokasi: Altar Pengujian & Perpustakaan Terlarang Sekte Awan Putih.
Peristiwa Kunci: Kegagalan pengujian akar spiritual dan penemuan Sutra Kaisar Sembilan Unsur.
Status Kultivasi: Belum masuk ranah (Fana).
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah