semua yang kulakukan selama ini ternyata tidak berarti apapun bagi mereka,orang yang kuhormati,kusayangi dan kucintai mengkhianati ku begitu saja.
menyaksikan kematian ku seperti pertunjukkan yang menghibur mereka,aku sungguh bodoh...
memilih mereka yang tidak memilih ku..yang hanya memanfaatkan ku..aku menyesal...
aku tidak menerima takdir ini....aku menolak...
aku meminta pembalasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HartaKarun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 21
Tempat acara untuk pertunangan telah diputuskan akan diadakan di sebuah vila milik keluarga Devan,vila tersebut cukup jauh dari kota memakan waktu 3 jam sebelum sampai kesana.
Vila itu dulu nya milik kakek dan nenek Devan,mereka menghabiskan masa tua mereka disana,itulah mengapa Nia memutuskan bahwa tempat itu sempurna untuk pertunangan Devan,berharap jika kakek Devan atau ayahnya akan tau bahwa ia akhirnya berhasil menjalankan janjinya dulu.
Devan memakai jas nya,merapikan pakaian nya sambil bercermin,ia merapikan dasinya yang sebenarnya sudah rapi,bisa dikatakan bahwa Devan gugup saat ini,bagaimana mungkin ia tidak akan gugup,setelah hari ini ia memiliki tanggung jawab lainnya dan memiliki seseorang yang akan berdiri di sisinya sepanjang hidupnya.
Tumbuh dalam keluarga yang penuh cinta membuat Devan juga mendambakan punya pasangan yang akan ia setia sepanjang hidupnya,walaupun ia tau bahwa saat ini mereka masing-masing belum mencintai tapi terkadang cinta bisa datang saat terbiasa,ia juga berkomitmen bahwa hidup hanya sekali,mencintai sekali dan menikah juga hanya sekali.
Tok-tok
“Devan,kamu sudah siap?keluarga tunangan mu sudah datang”panggil ibu dari luar
“Sudah bu,aku akan segera keluar”
Ia menghembuskan Nafas,memantapkan hatinya dan keluar.ia masuk keruangan yang sudah dihiasi agar tidak terlalu polos,walaupun hanya kedua keluarga mereka yang hadir.ia mendekati ayahnya yang sedang berbicara dengan paman Daren.
“Devan,kamu hari ini tampan sekali nak”puji Daren
“Terima kasih paman”
“Tentu saja ia harus berdandan,ia akan menemui tunangannya hari ini”goda ayah membuat Devan tersenyum tipis.
'Baiklah ayo dimulai acaranya”
Devan berdiri ditengah ruangan menghadap pintu,ia tau saat pintu itu terbuka ia akan melihat tunangan nya.
Terdengar suara berderit lalu pintu itu terbuka lebar,ia akhirnya melihat nya.
Meisya Cakra Wijaya
Ia berada ditengah dengan ibu dan bibi Sri berdiri disamping kanan dan kirinya.
Meisya,ia tampak lebih cantik dari foto yang ia lihat,ia tampak anggun dengan bajunya yang berwarna pink muda yang lembut,membuat kulitnya tampak semakin putih.rambutnya ditata sanggul dengan hiasan bunga,ia tampak seperti malaikat.
Hanya tuhan yang tau bagaimana cepatnya jantung Devan berdetak,bagaimana ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dan bagaimana pusingnya ia mencoba untuk tetap fokus dan tidak terlena oleh pemandangan didepannya.
“Meisya,ini Devan Atmajaya.ibu harap nantinya kalian bisa hidup berdua bahagia”ujar Sari dengan mata berkaca-kaca.
“Kami akan bu”suara itu,suara yang sangat halus sangat cocok dengan pembawaan Meisya pikir Devan.
“Devan,tolong jaga Meisya kedepannya”Devan mengangguk.
Meisya mengangkat wajahnya dan bertatapan langsung dengan Devan,Devan dapat melihat tidak ada penolakan apapun di wajah Meisya yang membuat nya cukup senang,setidaknya gadis itu tidak merasa terpaksa,lagi dan lagi ia terpukau dengan mata Meisya,bahkan dengan sekali pandang ia merasa mata itu akan mampu mengambil nafasnya.
Lalu Nia membawakan sepasang cincin dan meminta mereka untuk saling memasangkan,bisa Devan rasakan betapa halus dan lembutnya tangan Meisya,ingin sekali rasanya ia memegang tangan itu terus.
Akhirnya pertunangan mereka resmi,tidak ada satupun kata yang bisa menggambarkan betapa bahagianya devan saat ini,ia menerima ucapan selamat dari saudara dan saudari Meisya,walaupun ia tidak menyukai sikap Nina yang tampak sangat dibuat-buat didepannya,semacam wanita pick me yang sering ia lihat selama ini,ia menahan untuk tidak berkata kasar hanya untuk menghormati Meisya.
Devan yang merasa senang namun nampaknya tidak menyadari satu hal,selama acara bahkan pemakaian cincin wajahnya selalu datar ini dikarenakan Devan yang minim ekspresi sejak dulu,Meisya yang tidak tau merasa Devan tidak menyukainya dan bahkan membencinya karena harus dipaksa bertunangan dengannya.