NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda Tangan di Atas Penderitaan

Sore itu, kediaman keluarga Shine tidak terasa seperti rumah. Suasananya lebih menyerupai ruang sidang yang mencekam. Matahari yang mulai tenggelam menyisakan semburat jingga yang masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang yang dramatis di atas lantai marmer ruang kerja Liam.

Di tengah ruangan, Morgan Bruggman duduk dengan tenang. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap, tangannya terlipat rapi di atas lutut. Wajahnya datar, seolah-olah dia sedang menunggu sidang skripsi, bukan menunggu calon pengantinnya. Di sampingnya, Liam berdiri dengan gelisah, berkali-kali melirik jam tangannya.

"Dia akan datang, Morgan. Aku sudah menyuruh orang menjemputnya paksa dari tempat latihan band Derby," ucap Liam ketus.

Tepat saat kalimat itu selesai, pintu ganda ruang kerja itu terbanting terbuka.

"APA-APAAN INI, KAK?!"

Liana Shine melangkah masuk dengan napas memburu. Rambutnya berantakan, dan ia masih mengenakan jaket kulit yang penuh dengan aroma asap rokok—ciri khas Derby. Namun, langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap sosok pria yang duduk di sofa.

"Pak ... Pak Morgan?" Liana mengerutkan kening, rasa bingungnya mengalahkan amarahnya sejenak. "Kenapa dosen paling membosankan di kampus ada di rumah kita?"

Morgan tidak bergeming. Ia hanya mengangkat pandangannya, menatap Liana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang membuat Liana merasa tidak nyaman. "Duduklah, Liana. Kita punya urusan penting," ucap Morgan, suaranya terdengar seperti gesekan es.

"Aku tidak mau duduk! Aku mau penjelasan kenapa orang-orangmu menyeretku dari pelukan Derby!" teriak Liana ke arah Liam.

Liam menggebrak meja kerja. "Duduk, Liana Shine! Atau aku akan memastikan Derby mendekam di sel malam ini juga karena laporan balapan liar!"

Ancaman itu bekerja. Liana menggeram, lalu menjatuhkan dirinya di sofa tunggal, sejauh mungkin dari Morgan. Ia melipat tangan di dada dengan pose menantang, bibirnya mengerucut tajam.

Liam menarik napas panjang, lalu meletakkan sebuah map cokelat di atas meja kopi, tepat di depan Liana. "Ini adalah kontrak pernikahanmu. Kau akan menikah dengan Morgan. Minggu depan."

Keheningan yang menyakitkan menyusul kalimat itu. Liana terdiam, matanya mengerjap berkali-kali seolah sedang memproses bahasa asing. Kemudian, tawa liar pecah dari mulutnya.

"Hahaha! Bagus, Kak. Lelucon yang hebat. Sekarang panggil kru kamera tersembunyi, aku mau melambaikan tangan," Liana tertawa sampai air mata keluar di sudut matanya. Namun, saat ia melihat wajah Liam yang kaku dan Morgan yang sama sekali tidak tersenyum, tawanya mendadak mati.

"Kalian ... kalian serius?" bisik Liana horor.

"Aku sangat serius," sahut Morgan dingin. Ia memajukan tubuhnya sedikit, mengambil map itu dan membukanya. "Baca poin-poinnya. Aku tidak suka mengulang penjelasan."

Liana menyambar kertas itu dengan tangan gemetar. Matanya membelalak membaca setiap barisnya. "Pernikahan kontrak lima tahun ... status rahasia ... larangan aktivitas intim ... tinggal di bawah pengawasan Morgan Bruggman ...."

"Kalian gila!" Liana berdiri, merobek kertas itu menjadi dua bagian dengan kasar. "Aku punya Derby! Aku mencintainya! Aku tidak mau menikah dengan patung es ini! Dia bahkan lebih tua dari Kak Liam! Dia ini kakek-kakek!"

"Jaga bicaramu, Liana," Liam memperingatkan dengan nada rendah. "Morgan bersedia mengorbankan reputasinya untuk menjagamu. Derby hanya akan membawamu ke lubang kehancuran."

"AKU TIDAK PEDULI!" Liana berteriak, air mata kemarahan mulai jatuh membasahi pipinya yang kemerahan. "Aku lebih baik hancur bersama Derby daripada harus hidup bersama dosen kaku yang bahkan tidak tahu cara tersenyum ini! Aku tidak akan menandatanganinya!"

Morgan bangkit dari duduknya. Meski ia tidak berteriak, aura yang dipancarkannya begitu kuat hingga Liana mundur selangkah tanpa sadar. Morgan berdiri tegak, postur tubuhnya yang tinggi dan tegap mengintimidasi ruangan itu.

"Liana," suara Morgan terdengar tenang namun mematikan. "Kau pikir aku menginginkan ini? Menghabiskan lima tahun hidupku untuk mengawasi bocah manja yang tidak tahu cara menghargai dirinya sendiri? Aku punya riset yang lebih penting daripada mengurus drama remajamu."

"Kalau begitu jangan lakukan!" tantang Liana.

"Aku melakukannya karena permintaan kakakmu. Dan karena aku tahu, jika kau dibiarkan, dalam satu tahun kau akan hamil atau overdosis di tangan bajingan bernama Derby itu," Morgan melangkah mendekat, membuat Liana terpojok ke sandaran sofa. "Jadi, berhentilah bersikap seolah kau adalah korban. Kau adalah penyebab kekacauan ini."

Liam mengambil salinan kontrak baru dari laci mejanya—dia sudah menduga Liana akan merobek yang pertama—dan meletakkannya kembali di depan adiknya.

"Pilihannya hanya dua, Liana," ucap Liam tanpa emosi, sebuah nada yang sangat jarang ia gunakan pada adiknya. "Tanda tangani kontrak ini, pindah ke rumah Morgan, dan selesaikan kuliahmu dengan benar. Atau ... keluar dari rumah ini sekarang juga. Aku akan memblokir semua kartu kreditmu, menarik mobilmu, mencoret namamu dari ahli waris, dan aku pastikan Derby Neeson kehilangan pekerjaan sampingannya di bengkel mana pun di kota ini."

Liana menatap kakaknya dengan tidak percaya. "Kau ... kau tega melakukan ini padaku, Kak?"

"Aku tega karena aku menyayangimu," balas Liam, meski matanya tampak berkaca-kaca.

Liana beralih menatap Morgan. Pria itu hanya berdiri di sana, seperti menara pengawas yang dingin. Tidak ada belas kasihan di matanya, hanya ketegasan yang mutlak.

"Kenapa harus dia?" tanya Liana dengan suara parau.

"Karena hanya dia yang tidak bisa kau hancurkan dengan tangisanmu," jawab Liam tegas.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan isak tangis yang mulai pecah, Liana menyambar pulpen di atas meja. Ia menatap kertas itu seolah-olah itu adalah surat kematiannya. Di bawah tatapan tajam dua pria dewasa di ruangan itu, Liana membubuhkan tanda tangannya dengan goresan yang berantakan.

Sret!

Liana melempar pulpen itu ke dada Morgan. Pria itu menangkapnya dengan sigap tanpa mengedipkan mata.

"Puas?!" Liana berteriak di depan wajah Morgan. "Aku sudah menandatanganinya! Aku akan menikah denganmu, Pak Dosen. Tapi jangan harap aku akan jadi istri yang baik. Aku akan membuat hidupmu di rumah dan di kampus seperti neraka! Aku akan membawa Derby ke mana pun aku pergi!"

Morgan merapikan kertas yang telah ditandatangani itu dengan gerakan tenang, menyatukannya kembali ke dalam map cokelat. Ia kemudian menatap Liana lurus-lurus ke dalam matanya.

"Cobalah," ucap Morgan pendek. "Dan kau akan belajar bahwa di duniaku, setiap pelanggaran aturan memiliki konsekuensi yang sangat berat. Kita lihat saja nanti siapa yang akan menyerah lebih dulu."

Liana menyentakkan bahunya, lalu berlari keluar ruangan sambil menangis histeris. Suara langkah kakinya yang menghentak tangga terdengar jelas, diikuti dentuman pintu kamar yang sangat keras hingga bingkai foto di ruang kerja Liam bergetar.

Liam menghela napas panjang, pundaknya merosot. Ia menatap Morgan dengan rasa bersalah. "Maafkan dia, Morgan. Dia belum mengerti."

Morgan menatap pintu yang tertutup, lalu beralih pada Liam. Ia tidak terlihat tersinggung atau marah. "Dia hanya seorang gadis yang tersesat, Liam. Dan tugas dosen adalah meluruskan jalan mahasiswanya yang salah arah. Aku akan membawanya besok pagi setelah subuh. Pastikan semua barangnya sudah siap."

Morgan berbalik, melangkah keluar dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Di balik wajah esnya, Morgan tahu bahwa lima tahun ke depan tidak akan berjalan mudah. Namun, ia telah berjanji, dan bagi seorang Morgan Bruggman, janji adalah hukum.

Keesokan paginya, tepat jam 5 subuh, Morgan sudah berdiri di depan pintu kamar Liana. Ia tidak mengetuk, melainkan langsung membuka pintu dengan kunci cadangan yang diberikan Liam. Liana yang masih tertidur lelap dengan maskara yang luntur di pipinya, terlonjak kaget saat merasakan selimutnya ditarik kasar.

"Bangun, Liana," suara Morgan menggelegar di kamar yang remang-remang itu. "Hari pertama kontrakmu dimulai sekarang. Kau punya sepuluh menit untuk mandi atau aku akan membawamu ke rumahku dalam keadaan seperti ini."

Liana menatap pria itu dengan mata merah, menyadari bahwa nerakanya baru saja dimulai secara resmi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!