NovelToon NovelToon
Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aizu1211

Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Alya memilih keluar kantor setelah dari ruangan atasannya, menghirup udara segar lebih ia butuhkan daripada sibuk klarifikasi pada beberapa pasang mata yang menuntut penjelasan tepat setelah pintu itu tertutup kembali.

Pingkan dan Indri paham situasinya, mereka berbaik hati memberi Alya ruang untuk menenangkan diri.

Jam pulang kantor masih satu jam lagi, Alya memilih duduk di taman, menikmati suasana sore hari, dengan semilir angin yang perlahan menggoyangkan daun-daun seolah menghibur hati Alya yang masih sakit karena kejadian beberapa waktu lalu.

Alya tidak ingin mengingat pembahasan di ruangan atasannya, itu memalukan meski Alya bukan terdakwa dalam kasus ini.

Yang ada di kepala Alya kini hanya, bagaimana menormalkan perasaannya sebelum pulang tanpa memerlukan waktu tambahan.

Alya ingin segera pergi dari kantor, tapi tidak ingin jadi beban pikiran kedua orangtuanya jika pulang dalam keadaan seperti ini.

Nafas panjang Alya ambil membiarkan udara memenuhi rongga dadanya, kemudian menghembuskan perlahan, Alya mencobanya beberapa kali.

Hingga waktu sudah menunjukkan pukul empat, waktu pulang kantor sudah tiba.

Alya kembali ke ruangannya, tidak ada siapapun disana selain mbak Pingkan dan Indri.

“Belum pulang mbak?” mereka berdua menoleh.

“Nungguin kamu lah, ini baju kamu sudah kering kalau mau ganti lagi,biar gak jadi pertanyaan orang rumah” ucap Pingkan sembari memberikan baju Alya.

“Terimakasih banyak mbak” ucap Alya penuh haru.

Indri bergabung, sekali lagi ia mengusap bahu Alya pelan, rasa khawatir jelas ada, tapi ia tidak mau membebani Alya yang tampak belum baik-baik saja, “Are you ok?”

Alya mengangguk pelan, tidak menjawab sepenuhnya, tapi baginya ini cukup untuk hari ini.

Pingkan dan Indri masih menunggu Alya berganti pakaian, rasa simpati mereka sangat besar untuk Alya yang sudah dianggap sebagai adik sendiri.

“Sudah ini mbak, ayo pulang sebelum semakin malam” mereka yang sudah berkemas kini hanya memperhatikan gerakan Alya yang yang tidak segesit biasanya.

Mereka turun dan berjalan ke parkiran motor, sambil sesekali Pingkan dan Indri saling lempar lelucon untuk meringankan suasana hati Alya.

Mereka berpisah di pertigaan jalan, kini Alya benar-benar sendiri, dia menyetir seperti menggunakan fitur auto pilot.

Hanya berjalan saja tanpa ekspresi, bentuk istirahat batin yang Alya pilih sebelum masuk rumah dan bertemu kedua orang tuanya.

Tak lama motor Alya berhenti di pekarangan rumah, setelah melepas sepatu dan helm Alya tidak langsung masuk, melainkan mengulang metode pernafasan agar terlihat lebih rileks.

Alya masuk saat mendengar canda tawa adik serta kedua orang tuanya, hal itu sontak membuat senyum Alya mengembang.

“Eh Kakak pulang” seru Viko yang kini sedang asyik duduk di lantai sembari merebahkan kepalanya di paha Mama.

Alya bergabung, menghampiri Mama dan Papanya, mencium tangan mereka, hal yang selalu ia lakukan saat pergi dan pulang.

“Seru banget nih kayaknya, kedengaran sampe luar ketawanya”

Papanya menepuk sisi sofa lapuk yang kosong, Alya menuruti, ia duduk disana bersama kedua orang tua dan adiknya.

“Ini loh adikmu cerita pengalamannya selama magang” Alya menatap Viko yang masih nyaman di pangkuan Mama.

“Memang ada apa di tempat magang?”

“Ya itu dia banyak kaget sama kehidupan kerja dikantor” Alya membulatkan mulutnya membentuk huruf o tanpa suara.

“Susah ya cari uang” keluah bocah usia hampir kepala dua itu dengan wajah yang sengaja dibuat nelangsa.

“Ya iyalah, makanya kamu jangan suka buang-buang uang” Viko melirik Alya tak suka dengan tuduhan yang di ucapkan kakaknya.

“Aku kira kerja kantoran kayak kakak itu, Cuma duduk doang terus di gaji” Alya langsung melempar adiknya itu dengan bantal sofa yang ada di dekatnya.

“Eh santai bos, kok marah sih”

“Eh sudah-sudah kalau gak di lerai bakal ribut ini setelahnya” Alya masih kesal dengan adiknya yang kini menjulurkan lidah mengejek Alya, saat mama membelanya.

“Gak begitu lah dek, yang namanya kerja pasti ada plus minusnya, kalau gajinya oke bisa jadi suasana kantornya gak ok, atau sebaliknya, bahkan kalau gajinya suasana kantornya oke tapi harus jauh dari keluarga” ucap Papa.

Harusnya itu untuk Viko, tapi entah kenapa nasihat itu juga masuk dalam relung Alya.

“Tapi kakak dapet kerja yang enak semua dan gak jauh dari keluarga” Alya kini sudah sangat sebal dengan bocah tengil di depannya.

“Ya nggak begitu dong, kan kamu Cuma lihat dari luar saja, mungkin saja semuanya oke tapi beban kerjanya buat kakak harus kerja lebih ekstra” timpal mama turut membela Alya dan mematahkan teori konyol Viko.

Benar, tidak ada yang benar-benar sempurna, awalnya Alya berpikir hal yang sama dengan Viko sampai dengan kejadian hari ini menjadikan pengingatnya.

Namanya juga hidup bersama berbagai macam isi kepala yang punya tujuan dan ambisi masing-masing, gesekan atau bahkan pertikaian pasti ada saja kan?

“Sudah mau maghrib, ayo kakak mandi dulu, hari ini mama masak” mata Alya berbinar mendengar ucapan mamanya.

“Mama masak apa? Kenapa gak tunggu Alya saja sih?” mamanya menggeleng pelan, wajah teduh itu selalu membuat Alya punya alasan untuk selalu tegar.

“Mama masak soto ayam kesukaan kamu”

Alya mendekat, mengambil posisi yang hampir sama dengan Viko. “Ma, itu repot banget masaknya, kenapa mama maksa masak sih, nanti kalau kecapean bagaimana?”

Mamanya mengusap pelan rambut Alya, kemudian beralih pada wajah Alya yang masih penuh dengan debu, “Mama gak bakal capek kok, tadi dibantu adik dan Papa kamu”

Mata Alya terpejam merasakan sentuhan itu, sentuhan ajaib seorang ibu, rasanya Alya langsung lupa apa yang terjadi hari ini hanya dengan usapan ringan mamanya.

Alya membuka matanya, memegang tangan lembut itu, mengecupnya pelan, “ Terimakasih ya Ma”

“Sama-sama, yaudah sana, kita makan malam bersama ya” Alya mengangguk dan menurut.

Memasuki kamarnya, duduk di ranjangnya, rasa sesak itu hilang sudah, satu hal yang membuatnya sadar.

Alya hanya akan menjalani harinya seperti ini, selalu ada suka dan duka, dan Alya tidak ingin protes dengan itu, karena memang seperti itulah dinamika kehidupan yang harus di jalani.

Alya datang ke ruang makan saat dirinya sudah lebih segar, aroma soto masuh ke indra penciumannya, menambah proses healing yang lengkap untuk hari ini.

“Ayo makan kak” Alya mengangguk dan mengambil tempat.

Di meja sudah ada kuah soto dan nasi lengkap dengan berbagai kondimen penyerta yang semakin membuat hidangan itu tampak sempurna.

“Waah lengkap banget ini beneran di bantuin Viko ma?” tanya Alya curiga.

“Ya iyalah, Viko begitu loh” jawab Viko Jumawa.

Alya berdecak “Halah, paling kamu kalau disuruh bikin sendiri juga gak bisa” kini Viko yang manyun.

Tapi potongan adegan itu sukses membuat mama dan papanya tertawa.

Alya menatap pemandangan itu dengan penuh haru, setelah semuanya yang terjadi sang Pencipta masih memberinya kesempatan melihat pemandangan hari ini.

Setidaknya Alya punya keluarga yang selalu ada dan mendukungnya, dan itu sudah lebih dari cukup.

TBC

1
Yuni Ngsih
Authooooor ku lg asyik baca dipotong sedih ,karena ceritra ini ada contoh" fakta dlm pek sbg PNS...ok
Elvia Rusdi
Thor. ..Baru Nemu nih karya mu Thor...marathon baca sampui bab trakhir up...baru 4 bab...cerita nya bagus .
Yuni Ngsih
Aùthooor ceritramu kreeeeen banget ,nah itulah seorang PNS yg tanggung jawab terhadap pekerjaan & klwrga hebat peran utamanya Aliya ...mencerminkan anak yg berbakti ,jd bisa menjadi contoh " bg pmbaca kawula muda ....semangat ....& lanjut Thor...ok
Adhiefhaz Fhatim
😍
Adhiefhaz Fhatim
lanjut kk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!