NovelToon NovelToon
Ku Jual Rahim Demi Si Buah Hati

Ku Jual Rahim Demi Si Buah Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Ibu Mertua Kejam / Pihak Ketiga / Wanita Karir / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Juniar Yasir

Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.

Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.

Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.

Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?


.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏


Kemana kah suami Norma?

Bagaimana kisahnya?




Setting: Sebuah pulau di Riau

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Norma membalas 1

"Nuri" lirih Norma tersenyum melihat putri semata wayangnya keluar dari rumah, berjalan pelan menuju arahnya. Norma merentangkan kedua tangannya.

Gadis ini berhenti, raut sulit di tebak, menatap Norma, Prakoso bergantian.

Norma berlutut "Sini nak, apa Nuri tak rindu dengan mamak sayang?" tanya heran, sedih.

"Betulan itu pria pengganti ayah?" tanya Nuri balik, menunjuk ke arah Prakoso, membuat Norma terkejut.

"Tidak Nak, kenapa Nuri berkata begitu?" Norma berdiri, berjalan mendekati Nuri. Saat akan meraih buah hati, Nuri mundur menghindari membuat hati Norma terluka.

"Nuri?" lirihnya, netra berembun.

"Nuri tak mau punya adik! Nuri tak Sudi punya ayah tiri! Nuri benci Mamak!" pekiknya, berbalik, berlari masuk rumah.

"Ya Allah...." Norma terisak, menutup wajahnya, menangis tergugu.

Baru kali ini buah hatinya menolak dirinya. Sungguh sesak merasuk hatinya, di tolak mentah-mentah oleh sang anak dengan kata-kata yang tak pantas di ucapkan anak sekecil itu. Tentu gadis itu tidak akan bisa berfikiran jauh seperti itu jika tidak ada orang yang mencuci otaknya. Membuat Nuri menentang Ibunya, berkata hal yang tidak wajar.

Norma mengusap kasar air matanya.

"Apa yang telah kalian ajarkan pada Putri ku? Kenapa kalian menghasutnya?!" pekik Norma murka.

"Apa yang kau ucapkan pada Putri ku Syamsul?!" di tatapnya mantan suami nyalang.

"Jangan asal tuduh kau perempuan murahan! Putra ku tidak mungkin menghasut putrinya sendiri. Seharusnya kau bercermin, lihat kelakuanmu itu, seharusnya memang pantas mendapat perlakuan begitu dari Nuri" balas sengit Mariah "Kasihan sekali nasib gadis kecil itu" Lanjutnya lagi dengan suara yang di buat lirih, sedih.

Norma terkekeh geli, miris "Pandai betul mulut mu bersandiwara. Jelas-jelas kau ikut andil dengan semua yang terjadi ini, tapi setelah kau mendapat keuntungan... Kau cuci tangan. Ckckck!" Norma menatap sinis.

Tak ada lagi ketakutan, rasa hormat pada wanita paruh baya, mantan mertuanya. Hatinya terlanjur sakit karena sang anak sudah di hasut pikirannya.

"Heh Kak Norma, jangan kurang ajar pada Ibuk. Mentang-mentang sudah menjadi simpanan pria kaya, kakak jadi melupakan adab sopan santun!" timpal Daria, mengusap bahu ibunya.

"Kau dan ibu mu sama saja!" balas Norma.

"Diam kau perempuan sundal! Jangan menghasut ibu ku, menyalahi adik ku. Seharusnya dirimu sadar diri, insaf" Syamsul akhirnya bersuara "Sudahlah Norma, jangan membuat keributan di sini. Lihat sekarang!" Netra Syamsul melihat sekelilingnya "Masalah mu mengundang warga, apa dirimu tak malu? Kasihan Nuri, Dia akan di bully kawan-kawannya, karena punya Induk macam kau!" tuding Syamsul.

"Abang tanya tentang rasa malu padanya?!" tunjuk Daria pada Norma, tersenyum sinis "Apa Abang lupa, dirinya tidak lagi punya urat malu semenjak menjual rahimnya itu!" Daria menambahi.

"Jangan lagi berani menginjakkan kaki di rumah, tanah ini!" ujar Mariah.

"Ini tanah, rumah peninggalan orang tuaku kalau kau lupa!" balas Norma tak terima.

"Rumah ini milik putri ku, aku yang menebusnya di penggadaian" ucap Syamsul tanpa rasa malu.

"Kalian licik!" ujar Norma.

'Dasar keluarga lebih drama. Lebih baik aku ke apartemen, memikirkan rencana untuk merebut Syakir kembali' batin Masitah.

Wanita itu berbalik, menuju mobilnya. Tugasnya melabrak, mempermalukan Norma telah selesai, jadi tidak ada kepentingan lagi berada di lingkungan kampungan ini. Yang perlu di pikirkan hanyalah rencana untuk menarik Syakir kembali padanya. Apa pun akan di lakukan untuk melancarkan rencana liciknya.

.

*

Keluarga Syamsul sudah masuk ke rumah. Tinggal beberapa ibu-ibu yang masih asik bergosip, berbisik-bisik sesama mereka. Beberapa di antaranya tak segan-segan mengatai Norma.

"Ckckck! Tak nyangka ya Wak. Perempuan terlihat naif, lugu ternyata.." celetuk Wiyah.

"Simpanan Pria kaya raya. Pantas mendadak pindah rumah, ternyata menyembunyikan belang bejatnya itu. Mana anak satu-satunya di tinggal dengan Ayahnya pula" balas wanita lain menggeleng heran, melirik sinis pada Norma.

Suara mereka sengaja di lantangkan, agar Norma mendengar ucapan pedas mereka. Memang jika hati sudah di liputi kebencian, beberapa mulut tidak akan bisa di rem untuk mengatai orang lain. Padahal belum tentu apa yang mereka lihat dan dengar adalah hal yang sebenarnya. Tapi memang lumrahnya beberapa orang akan langsung percaya tanpa mengetahui akar dari masalah. Bagi mereka yang memang julid, akar tidak penting, asal dapat berita panas bisa untuk jadi bahan ngumpul dan obrolan dengan dalih 'Gaul'.

Norma tidak menanggapi ucapan mereka, karena percuma. Dirinya akan kalah telah oleh mulut beberapa orang. Mak Cik Syam yang geram bukan main, tapi Norma mencegahnya ketika wanita baik hati itu akan melawan ibu-ibu ghibah itu.

"Sebaiknya kita pulang" ucap Prakoso, pria ini sudah panas mendengar ucapan ibu-ibu julid. Dirinya berjalan terlebih dahulu.

Norma dan Mak Cik Syam berlalu meninggalkan kediaman Syamsul.

"Wah, wah. Tak ku sangka ya Norma. Kau rela menjual rahim demi lembaran duit. Murah betul harga diri mu!" ucap wanita menggeleng kepala.

Norma yang akan masuk ke mobil berbalik.

'Sari?' batinnya.

_“Nah, ini baru tontonan bagus. Menyala lah ini nanti. Mudah-mudahan saja mereka ada adegan saling Jambak, cakar dan tendangan. Lumayan juga ini jadi hiburan gratis’’_ celetuk salah satu ibu-ibu girang.

_“Iya. Ini baru gacor. Paten betul, tak kan menangnya itu Norma berlawanan dengan Sari’’_ timpal teman satunya. Iya membawa nampan minuman es kelapa, gorengan. Sebagai cemilan untuk menonton pertunjukan panas.

.

"Heh, telinga mu ini tuli kah?" Sari kesal karena Norma tak menanggapinya.

"Aku tak ada urusan dengan mu" balas Norma, berbalik ingin masuk mobil.

"Cih! Angkuh betul gaya mu tu Norma. Baru jadi simpanan saja lagakmu sudah seperti istri dewan. Aku penasaran pula jadinya_" Sari bersedekap dada "Hem.... Berapa bayaran permalamnya kau menaiki ranjang pria kaya itu?!" tanyanya menatap remeh, tersenyum mengejek.

Norma ingin membalas, tapi melihat beberapa pasang mata di balik tirai jendela, timbul ide lain. kepalang tanggung, dirinya juga sudah buruk di mata warga kampung duku. Sekalian saja dirinya menambahkan, mengingat teman SMA nya ini dan keluarga mantan suaminya adalah keluarga mata duitan.

"Yang jelas lebih besar bayaran ku permalam, dari pada gajimu kerja di Singapura selama sebulan!" balasnya.

Sari mendelik "Aku tak percaya! Siapa yang mau membeli wanita bekas dengan harga tinggi" Sari tak ingin kalah.

"Percaya atau tidak bukan urusan ku!" ucap Norma santai.

"Nyonya Norma. Tuan berpesan agar anda menyusulnya ke showroom mobil" Suara Prakoso memutuskan perdebatan sengit.

Sari mencuri dengar, penasaran.

Norma terkejut mendengar panggilan Prakoso yang berubah, tapi melihat gelagat pria itu dirinya tersenyum samar. Mengerti.

"Ada apa Bang Rafisqy meminta saya menyusulnya?" tanya Norma, tidak menggunakan nama 'Syakir' agar orang tidak curiga.

"Anda di minta untuk memilih sendiri mobil kesukaan Anda" jawabnya santai, tegas.

Brakkkk!!! Bunyi kaca pecah terdengar dari dalam rumah. Karena kaget, Mariah tak sengaja menyenggol gelas di meja ruang tamu.

Mata Sari melotot sempurna, terkejut. Tangan terkepal erat, emosi, iri. Akting Norma dan Prakoso berhasil. Mereka yang jiwanya hanya berisi harta, menjadi iri luar biasa.

Mak Syam menahan senyum, menggeleng kepala melihat kekompakan Norma dan Prakoso.

"Ayo Nyonya Norma, nanti Tuan Rafisqy lama menunggu" timpal Mak Syam ikut serta.

Norma menoleh, tersenyum manis, lalu mereka masuk ke mobil.

Mobil berjalan perlahan, meninggalkan gang kampung duku yang sudah bisa di masuki mobil.

Like dan komentarnya 🙏

1
Yulia Dhanty
menarik
Anita Rahayu
Buat karna pedih untuk samsul dan familtnya sekaligus selingkuhannya😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
Juniar Yasir: asiap sisssa
total 1 replies
Sunaryati
Semoga setelah di talak hidupmu semakin baik dan keluarga Syamsul dapat balasan
Yulia Dhanty
Syamsul. brengsekkkk😠
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!