Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.
Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Ku di sini dan Kau di sana
Karena Nana berkata agar mereka tidur di luar saja, jadilah Anin memboyong Zura, seayun-ayunnya ke depan. Mereka tidur di depan tv, menggelar kasur lantai. Anin sudah ajak untuk tidur di dalam, tapi Nana tolak. Katanya tak sopan tidur di kamar pasangan suami istri. Itu kamar pribadi katanya.
Anin awalnya tak masalah, tapi karena Nana terus mengejek dan mengatakan itu tempat mereka berbagi peluh dan melakukan hal macam-macam, Anin jadi menyerah juga.
“Gak mau gue tidur di ruangan yang aura orang nganunya masih melekat banget.”
Hell, Anin mencebik mendengar congor Nana yang seblak-blakan itu. “Heh, nganu apa nih maksudnya?” tanyanya dengan bibir mencebik. Sebenarnya ia paham, hanya rasanya agak terlalu vulgar jika ia paham dini. Memalukan karena ingatan berbagai percumbuannya dengan Harsa malah terbayang-bayang, nyata bercokol di kepala hanya karena ucapan sialan Nana.
“Gak usah pura-pura gak ngerti deh, Anin.” begitu tadi Nana dengan wajah jengah menampol lengan Anin hanya karena mama muda itu pura-pura lugu. “Intinya gue mau kita tidur di sini aja, bawa Zura ke sini. Gue gak mau aura nganu itu mencemari isi pikiran gue yang suci ini!” Nana bercerocos panjang lebar.
Anin yang sejak tadi hanya diam sambil berekspresi julid sudah menunggu jeda, siap untuk menyergap ucapan temannya yang agak-agak ini. “Eh, lu kerja di hotel emang bisa lu pastiin orang-orang yang mampir ke sana kagak nganu juga di kamar-kamar yang seabrek itu?” sergah Anin sambil balik menoyor kepala Nana, bahkan ia yang sangat jarang sekali pakai dialeg Jakarta–lo-gue pun malah kelepasan karena si Nanabul.
Sementara Nana yang ditoyor lekas bereaksi layaknya orang sedang ngedance yang menggerakkan kepala sampai rambutnya berkibar seperti bendera tertiup angin.
“Lagian di sini juga gue pernah nganu kali,” ujar Anin blak-blakan. Entah mengapa, bila dengan Nana dia memang seperti gembok yang dapat kunci pas, langsung terbuka begitu saja.
Ucapannya membuat Nana menganga tak bisa berkata-kata. “Hah, serius? Di sini? Di sofa ini?” tanyanya memastikan dengan ekspresi super terkejut, dan Anin malah tersenyum bangga dengan tampang WATADO, alias wajah tanpa dosa. Ngeri euy! Nana merinding sebadan-badan.
“Iyuhh, ternyata mesum juga lu, neng! Gak nyangka banget gue. Sumpah!” Nana berseru seraya menoyor kepala Anin. Ibu satu Anak itu tengah sibuk mengunyah cemilan yang ia bawa.
“Di rumah ini tuh gak ada tempat yang gak pernah di–anu.” Anin terkekeh layaknya orang gila. Puas melihat wajah jijik Nana.
“Hell, diem gak, lu?!” sergah Nana, menutup telinga menggunakan boneka beruangnya. Ia memang anak yang paham pergaulan, tapi bukan berarti ia juga melakukannya. Ia tipe yang bebas, tapi tetap paham batasan dan paham jaga diri. Kalau Anin sih terserah, toh dia sudah halal. Tapi ya gak harus seblak-blakan itu juga keles! Nana menjerit tak habis pikir. “Gue kira cupu, taunya pro player, lu.”
Dan Anin kian tergelak, tawanya pecah melihat wajah jijik Nana. Ia pun heran kenapa malah bahas hal itu. Saat kewarasan mulai kembali, ia lalu mengusap ujung mata yang mengeluarkan air. Tawanya bikin matanya berair. “Haha, ya nggak lah. Sesad kamu kalau percaya apa yang aku bilang,” tambah Anin, mencoba menutupi kebenaran yang sudah terlanjur diutarakan. Gila, memang hilang separuh kewarasannya tadi. Ia jelas bukan tipe yang seblak-blakan itu mau cerita urusan ranjang sekalipun sedekat apa mereka. Tapi, ya mau dikata apa? Pun sudah terlanjur, kalau Nana gak percaya ya syukur, kalau percaya, ya gak apa-apa. Itu isi pikiran Anin sekarang.
Nana masih geleng-geleng dengan wajah ilfeel. Sepertinya ia lebih percaya ucapan Anin yang pertama.
“Noh, Zura gerak-gerak!” ujarnya saat melihat Zura mulai menggeliat di dalam ayun, tanda akan mencari asi.
Anin lalu beringsut mematikan mesin ayunan, lalu meraih Zura. Membawanya turun untuk diasihi dengan harapan agar anaknya tak rewel. Jelas ia akan kewalahan jika menghadapinya tanpa dampingan suami di sisi.
“Tidur, Na! Dah jam berapa nih, besok kamu kerja, kan?!” kata Anin saat ia sudah berbaring membelakangi Nana yang masih bersandar di sofa, sibuk dengan ponselnya.
Si Nana terdengar mengeluh setelah diingatkan oleh Anin. Dengan terpaksa ia pun ikut bergabung di kasur setelah mematikan lampu.
“Takkan aku kenang lagi ... Manis cinta yang kau beri ...” Nana bersenandung dengan suaranya yang, ya lumayan agak pas-pasan. Kepalanya sudah mendarat di bantal, di susul dengan satu kaki yang ia taru ke atas tubuh Anin. Terlihat sangat lancang ya, bung? Anin menepis kaki itu sambil berdecak.
“Berat, ege!” serunya setelah berhasil melempar kaki Nana dari atas tubuhnya. Yang benar saja, dikira tidak berat apa? Anin memutar mata malas.
Lalu ia mulai sibuk setelah meraih ponsel yang tergeletak di ujung kasur. Waktu menunjukkan hampir jam satu pagi, yang artinya pesawat yang Harsa tumpangi sudah take off sejak tadi jika tidak ada kendala. Ia lalu berinisiatif mengirim pesan, jemarinya menjelajah aplikasi berwarna hijau yang mana saat dibuka membuat matanya tertuju pada sebuah nomor asing yang membuat perasaannya dihinggapi sensasi seperti air panas yang disiramkan ke bongkahan es, bunyi ‘nyes' dan rasa ngilu itu seperti berdenging di telinga. Nyata.
Sialan!
Kenapa dia harus menghubunginya lagi?
Ada urusan apa?
Anin bertanya tak suka. Sungguh ia sangat terganggu. Benci sekali mengingat bagaimana orang itu dulu menyepelekan perasaannya dan kini malah datang lagi.
“Ck, kamu gak sepenting itu!” lirih Anin geram, lalu memilih mengklik kontak dengan foto pemandangan pantai di kala senja. Di mana siluet mereka terpotret dari belakang, dengan Harsa yang menggendong Zura, dan ia berdiri sambil melingkarkan tangan ke tubuh suaminya. Terlihat sangat harmonis dan bahagia dan Harsa menjadikan itu profil WhatsApp-nya. Bibir Anin mengulas senyum saat perasaannya kembali penuh hanya karena melihat bagaimana keluarga kecilnya menghantarkan ceria.
Ia membaca riwayat pesan terkahir, yang terjadi beberapa hari lalu dengan Harsa. Yang mana pesan yang tak pernah ia hapus hanyalah pesan dengan suaminya itu. Anin lalu mulai mengetikkan pesan yang ingin disampaikan padanya yang jauh di sana, dari ia yang di sini sudah merindu separah ini.
Anin : Safe flight, sayangku. Jangan lupa kabarin kalau udah sampai. Selamat pergi, selamat pulang, kami nungguin❤️
Demikian isi pesan yang ia kirim. Belum juga genap 24 jam berpisah, tapi rasanya ia sudah sangat sedih karena harus berjauhan. Ternyata perasaan saat tahu suami pergi menempuh jarak yang jauh, meski baru beberapa jam dengan seharian ditinggal bekerja perbedaannya sangat jelas. Saat dekat, meski seharian dan bisa saja lembur ia tak khawatir karena tahu mereka hanya berjarak sepersekian. Sementara ini, mengingat mereka akan berbeda pulau meski hanya barang sehari rasanya sangat menyesakkan
.
.
Pagi menyapa di bagian bumi berbeda. Di pulau dan tanah yang berbeda, ada lautan yang membentang memisahkan. Harsa tersenyum saat subuh tadi tiba di bandar udara Lagaligo-Bua, di Luwu Utara, setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat jam setelah transit di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar terlebih dulu.
Lalu setelahnya ia dan Anggara kembali melanjutkan perjalanan ke pusat kota, yang jaraknya tak begitu jauh ke kota di mana ibunya tumbuh. Saat kecil ia pernah tinggal di sini karena ibunya minggat setelah tahu Papa mendua.
Namun, begitu turun dari pesawat dan membaca pesan yang Anin kirim. Bayangkan tentang masa lalu itu hilang, membuatnya lekas memilih untuk membalas saat itu juga. Meski sedang melangkah sambil menahan ngantuk dengan wajah kucel khas bangun tidur bersama Anggara. Ia tetap memberikan kabar semaksimal mungkin.
“Iyaa. Di sini 5.20, baru banget sampai ini. Mau langsung ke mobil, dijemput sama suaminya Wida. Nanti aku telpon kalau udah bangun, sampai rumah Ibuk mau langsung istirahat.” Begitu kata Harsa pada video singkat yang ia rekam saat berjalan dengan Anggara. Yang mana sempat membuat adiknya itu agak geleng-geleng sekaligus salut atas laporan dan bagaimana Harsa si sulung yang dilabeli anak kalem, tak pandai berekspresi ini ternyata sebegitunya dengan Kakak Ipar yang nyatanya lebih muda darinya itu. Angga agak tak menyangka.
“Kalau gak dikabari nanti marah,” ujar Harsa begitu selesai merekam diri dan memasukkan ponsel ke tas selempang yang terkalung depan dadanya. Ia menoleh lagi pada Anggara. “Harus ada usaha buat bikin pasangan merasa dihargai.” Dan ia masih memberitahu, lebih terdengar seperti wejangan di telinga Angga.
Anggara yang awalnya manggut-manggut pun langsung ikut melakukan. Ia meraih ponsel, diam-diam melakukan apa yang dikatakan abangnya. Mengingat hal yang paling sering jadi topik pertengkaran ia dan istri memang soal komunikasi. Angga menyadari ucapan Harsa ada benarnya juga. Saling menghargai adalah koentji.
“Apa yang Papa lakukan ke Ibu bikin aku belajar, kalau jadi seperti Papa itu gak baik. Pasangan kita hanya akan tersiksa.”
“Semua sifat jelek Papa borong. Patriaki, minim komunikasi, mendua, keras ... beliau paket kombo.”
“Dan itu cukup untuk dijadikan pelajaran.”
Angga manggut-manggut, setuju dengan apa yang dikatakan si sulung. Secara tak langsung Harsa tengah menasehati dan memperingatkan agar ia tak mewarisi tabiat buruk Papa. Angga sadar, ia memang tak main wanita, tapi kadang bersifat patriaki dengan selalu merasa hak istimewah dipegang oleh dirinya sebagai laki-laki dan kepala keluarga. Kadang bikin cekcok berkepanjangan diantara ia dan istri.
“Itu, si Heri,” tunjuk Harsa pada sosok laki-laki yang berdiri di depan mobil, melambai ke arah mereka. Suami dari adik perempuannya.
Waktu berlalu lagi. Karena tiba menjelang pagi. Harsa dan Angga terlihat masih terlelap di kamar yang sama. Keduanya tidur seperti orang mati, tidak terusik meski cahaya matahari menyusup dari balik jendela kaca.
“Siapa tidur di kamar tamu itu, Mak?” tanya anak laki-laki yang sudah lengkap memakai seragam SD.
“Om Harsa sama Om Angga,” ujar sosok wanita dengan jilbab yang tetap tersampir di kepala meski sedang di rumah. Ya, adik ketiga Harsa ini memanglah seorang muslimah sejati dan taat agama. Semenjak berhijrah dan sering ikut kajian, penampilannya berubah 180 derajat. Wanita yang bernama lengkap Wildana Said Wijaya yang kerap disapa Wida itu dulunya pun terbilang suka buka tutup aurat. Tapi, ya itu dulu.
“Bapaknya adek Zura?” Anak laki-laki bernama Fauzan yang kerap disapa Ocang itu bertanya. Meski berjauhan, tapi ia kenal Zura karena pernah bertemu saat berkunjung ke rumah Kakek di Semarang dan ia juga sering ikut liburan ke Jakarta.
Wida yang sibuk menyiapkan sarapan untuk kedua kakak laki-lakinya itu hanya mengangguk. Tak lama setelahnya, seorang anak perempuan sekitar kelas empat datang membantu, tanpa banyak tanya seperti adiknya.
“Kapan i sampai, Mak?” Ocang yang penasaran kembali bertanya. Logatnya sangat kental logat Sulawesi Selatan.
“Tadi subuh.” Dan ibunya hanya menjawab singkat, tampak jengah karena disela keriwehan malah dijejal tanya.
“Mau i datang bikin apa, mak?”
“Ada urusan.”
“Mau ketemu kakek?” tanyanya lagi.
“Ck, apa je bertanya terus, makan mko cepat! Terlambat ko nanti.”
“Iyo, ih. Kayak reporter ko saja, Ocang!” Bahkan Raisa, sang kakak yang sejak tadi hanya diam pun ikut bersuara. Jengah sekali melihat adiknya banyak tanya.
Yang mana hal itu lantas membuat Ocang kicep, dia memilih diam sambil menyantap sarapannya.