NovelToon NovelToon
Pernikahan Tanpa Mempelai

Pernikahan Tanpa Mempelai

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Percintaan Konglomerat / Persahabatan / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Spion Off "Tuan Muda Amnesia"

Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.

Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.

Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan

Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mendapatkan dan melepaskan

"Orang tua Seaven sedang menyelidiki kasus kebakaran rumah tua tersebut, dan kamu masuk salah satu tersangkanya."

Liam menunduk dan setia mendengarkan ucapan papanya, apalagi suara itu terdengar sangat dingin. Dari kejadian beberapa hari lalu Liam menyadari banyak hal, termasuk kebodohannya dalam bertindak karena dendam yang tersimpan dalam hatinya. Apalagi ia tidak bisa berpikir jernih kala dendam tersebut bercampur menjadi satu dengan egonya yang terluka sebab Seaven menyukainya.

"Dan perusahaan Alexander menjadi kacau karenamu!" lanjut sang papa semakin membuat Liam terdiam.

Alih-alih membela diri, ia hanya memperhatikan pergelangan tangannya yang digips dan sesekali mengerakkan jemarinya.

"Sepertinya papa terlalu memaklumi sikapmu dan berlindung di balik ... kamu butuh hiburan atas sebuah kehilangan!"

"Serahkan semua bukti kebusukan Seaven pada papa!"

Mendengar hal itu Liam mendongak, menatap papanya yang masih terlihat marah.

"Kenapa? Masih mau membuat kesalahan untuk kedua kalinya? Papa nggak pernah menyangka putra yang selama ini papa percayakan bisa mengantikan papa malah berpikir dangkal. Mas, ada kalanya kita mengorbankan sesuatu untuk kebaikan banyak orang." Cakra menghela napas panjang.

"Sebegai pemimpin kita harus berpikir panjang dan memikirkan resiko kedepannya seperti apa jika akan melakukan sesuatu. Satu kebodohan akan membuat ratusan orang yang bernaung dengan kita kehilangan mata pencahariannya!"

"Maaf ...."

"Papa nggak butuh maafmu, papa hanya ingin pembuktian!" Cakra berdiri dan meninggalkan Liam yang masih bergeming di paviliun.

"Mas ayo makan siang dulu setelah itu minum obat biar tangannya cepat sembuh," ujar Liora yang menghampiri setelah melihat suaminya selesai bicara. Kali ini dia tidak melarang Cakra bersikap tegas pada putra mereka, sebab Liam sepertinya membutuhkan arahan lebih tegas dibandingkan sebelumnya.

"Iya Ma."

Liam beranjak dan menuju ruang makan. Menikmati makan siangnya tanpa banyak protes.

"Papa bilang untuk sementara waktu mas di rumah saja dulu, nggak usah ke kantor."

"Mas tetap ke kantor Ma," balas Liam.

"Tapi mas, tangannya kan masih di gips, kata dokter tangan yang terluka nggak boleh di pekerjakan ...."

"Yang cidera tangan kiri. Lagian di kantor mas bukan angkat-angkat barang kok, cuma memeriksa berkas dan tanda tangan. Apanya yang susah Ma?"

Terdengar helaan napas dari Liora, sepertinya wanita paruh baya itu kalah lagi berdebat dengan putra sulungnya yang keras kepala.

"Oke terserah mas saja, tapi ingat kata-kata mama di rumah sakit!"

"Iya ma."

"Obatnya diminum."

"Iya mama." Kali ini suara Liam terdengar memelas dan kembali melanjutkan makan siangnya.

"Mau ke mana?" tanya Liam ketika melihat adiknya sangat cantik dan rapi. Wanita itu ke ruang makan mengambil barangnya di atas meja makan yang ia letakkan tadi.

"Bertemu seseorang."

"Mas antar ...."

"Nanti kalau tangan kakak sudah sembuh, terimakasih tawarannya."

"Selesai liburan sama teman-teman kamu mas lihat sibuk banget."

"Soalnya dapat teman baru, dah kakak tampan." Leona melambaikan tangannya pada sang kakak yang kembali posesif seperti dulu.

....

Liam kembali bekerja dan menjalani rutinitas harian lebih normal dari biasanya. Sesuai jadwal dan tidak dipenuhi dendam lagi. Meski sering kali ia tiba-tiba terdiam jika merindukan Aruminya.

"Sudah lihat berita, Tuan?" tanya sang asisten membuat Liam yang tadinya sibuk pada berkas mendongak dengan kening mengerut.

"Berita apa?"

"Kasus kebakaran yang membuat tuan Seaven koma. Katanya kasus tersebut ketidaksengajaan warga yang membakar sampah di sekitar rumah tua."

"Apa maksudnya? Jelas sayalah pelakunya ...." Liam tidak melanjutkan kalimatnya mengingat terakhir kali bicara dengan sang papa yang meminta bukti keterlibatan Seaven atas kecelakaan yang menimpa Arumi.

Dia mengira papanya akan melaporkan Seaven ke polisi, ternyata sang papa menggunakan bukti itu untuk membersihkan namanya sebagai tersangka.

....

"Semuanya sudah beres Tuan. Tidak ada lagi yang akan membahas kasus tersebut apalagi menyeret nama Tuan muda," ujar Rockh yang kini berada di ruangan kerja Kediaman Alexander.

Atas perintah Cakra, Rocky telah mendatangi kandang lawan tanpa peduli pada nyawanya. Memperlihatkan semua bukti keterlibatan Seaven terhadap kecelakaan putrinya dan mengancam akan melaporkan Seaven ke pihak berwajib jika orang tua Seaven terus menyeret Liam.

Dan ya, kesepakatan pun terwujud demi kepentingan bersama. Sebab bagi pebisnis nama baik keluarga adalah yang terpenting agar mendapatkan kepercayaan dari rekan bisnis.

Nama Seaven bersih, begitupun dengan nama Liam. Dan dendam sakit hati Liam yang ingin pelakunya mendapatkan penderitaan yang sama seperti kekasihnya akhirnya terwujud. Mungkin jauh lebih tragis sebab Seaven masih hidup tetapi merasakan sakit dimana mati lebih baik.

"Saya terlihat kejam bukan? Mengorbankan kematian keponakan saya demi menutupi kejahatan putra saya?" tanya Cakra.

"Tidak Tuan, tindakan anda sudah benar. Mempertahankan yang ada lebih baik dibandingkan menjaga yang sudah pergi dan melepas apa yang ada di depan mata. Lagi pula saya baru saja mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan. Namun, saya tidak bisa memberitahukan Tuan sebelum memastikan benar tidaknya." Rocky menunduk sebelum meninggalkan ruangan Cakra.

"Kabar mengejutkan?" gumam Cakra dengan kening mengerut.

"Papa."

"Kenapa Sayang?" tanya Cakra dengan senyuman ketika melihat istrinya menyembulkan kepala di balik pintu ruang kerjanya.

"Sini dulu."

"Masuk Sayang, kenapa sih panggil-panggil di pintu?" tanya Cakra, meski begitu tetap menghampiri istrinya dan membuka pintu lebar-lebar.

"Lusa ulang tahun Liam yang ke 28. Enaknya aku kasih apa ya?"

"Kasih dedek saja."

"Papa!" Liora memelototkan matanya, suaminya sangat susah diajak bicara serius jika berdua saja.

"Ya sudah kasih anak perusahaan saja."

"Ish."

"Terus apa sayang? Mau ngasih Arumi juga nggak bisa. Kamu ini selalu saja memperlakukan Liam seperti anak kecil." Cakra menjawil hidung istrinya, kemudian merangkul menuju tempat santai di kediaman Alexander.

"Ini kan juga karena papa, ngambil Liam pas masuk masa remaja jadi waktunya berkurang sama mama. Mana pas pulang musibah malah menghampiri dan membuat Liam semakin jauh."

"Maaf Sayang, tapi mas melakukannya demi masa depan Liam dan si kembar. Siapa lagi yang akan meneruskan jika bukan Liam?"

"Lagi bahas apa?" celetuk Leona langsung memisahkan mama dan papanya agar bisa berada di tengah-tengah.

"Lusa ulang tahun mas Liam, adek mau ngasih apa? Kita buat mas bahagia yuk. Kasian mas sedih mulu," jawab Liora.

"Aku punya ide!"

"Simpan saja idemu itu," celetuk Leon berjalan menghampiri. Melempar tasnya ke sofa karena baru pulang dari kampus. Ia sedang melanjutkan S2 dengan jurusan yang sama yaitu hukum. Selain karena memang dia suka, sang papa juga menyuruhnya sebab ia dipersiapkan memimpin anak cabang dibidang keamanan.

"Memangnya kak Leon tahu ide aku?"

"Palingan nggak jauh-jauh dari prank. Itu nggak mempan sama mas Liam. Yang ada malah runyam."

"Terus idenya apa?" tanya Cakra, Liora dan Leona serempak.

"Ajak balapan ...."

Dugh

Bantal sofa mendarat di kepala Leon akibat ulah Leona.

"Lebih parah kan Pa?" ucapnya mencari pembelaan.

Perdebatan kecil itu berlangsung cukup lama dan hangat, membuat Liam yang hendak memasuki Paviliun tersenyum tipis.

....

1
Nena Anwar
bhahaha emang enak kepergok sama camer omelin Om Rocky Tuan mudanya kapan lagi kan ngomelin Liam 😂😂
ken darsihk
😂😂😂😂😂 Di rumah tetap Rocky yng berkuasa atas anak nya
nuraeinieni
nikahkan cepat pak,supaya mereka bebas nyosor,,,😂😂😂😂
nuraeinieni
uuhh liam lagi model manja sama arumi,,,athur dan sofia seperti tommy and jerry saja,,,,😂😂😂😂
Ikaaa1605
Keciduk nih mas liam main nyosor ajaa🤣
Ikaaa1605
Semangat up mba othor
Nena Anwar
Arhan anak tirinya Eril ya thor
Bucinnya Nunu ☆•,•☆: iya kak, jadinya nggak sepupu seayah
total 1 replies
Dew666
👑🍎
Teh Yen
konflik ringan aj Thor kan yg berat nya udh d awal hehe
nuraeinieni
tangammu sakit liam,tunggu saja kamu di omelin sama arumi.
nuraeinieni
kwkwkw kasian dirimu athur,,pacarmu ngambek
nuraeinieni
yg ringan aja thor biar enak di baca
Teh Yen
menikah saja dengan yg hadir hanya keluarga inti itu sudah cukup yah Liam
ken darsihk
Memang nya masih ada konflik lagi tbor , yang ringan 2 saja thor
Ikaaa1605
Yang ringan aja mba othor
Arsyad Algifari.
yang ringan aja lah Thor ..
Nena Anwar
yg ringan aja thor yg berat cukup berat badan aku aja 🤣✌️
Nena Anwar: maaf maaf thor ✌️😁
total 2 replies
Nena Anwar
semoga Liam dan Arumi hidup bahagia
sryharty
jangan hadirkan seaven lg ka
jijik
nuraeinieni
nggak apa2 sederhana,yg penting sah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!