NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:979
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 : Dinding pembatas jarak

“Apa yang sebenarnya tidak ku ketahui darinya?” bisik Alexander lirih, nyaris tak terdengar.

Ada perasaan janggal yang tak mampu ia jelaskan. Keraguan itu menusuk, namun tetap terasa rapuh karena logika berusaha menolaknya. Victoria hanyalah mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani masa residensi di IGD, pekerjaan yang mengikatnya hampir setiap jam. Rasanya mustahil ia bisa terlibat dalam hal lain.

Alexander menunduk, menarik napas panjang. Ia memaksa dirinya tidak membiarkan curiga itu tumbuh liar. Gadis polos itu, dengan senyum yang selalu ia tunjukkan, tak pantas menjadi sasaran pikiran gelapnya.

“Kumpulkan semua catatan, nanti malam akan kuperiksa,” ucapnya mantap, suaranya lebih tegas dari sebelumnya.

“Baik, Tuan.” Balasan singkat dari seberang terdengar sebelum sambungan terputus.

Alexander menurunkan ponselnya, matanya langsung menangkap sosok Victoria yang kini melangkah riang menuju kasir. Senyum lebarnya kontras dengan kekosongan di dada Alexander. Gadis itu terlihat ringan, bahkan membawa barang belanjaan seolah tak ada beban di dunia ini.

“Ini saja, nona? Ada tambahan?” tanya penjaga toko dengan nada ramah, menerima tumpukan barang dari tangan mungil Victoria.

“Tidak, hanya ini. Seperti biasa,” jawabnya ringan sambil menggeleng. Matanya menatap barang-barang itu dengan teliti, seolah memastikan tidak ada yang terlewat.

Saat jemarinya merogoh saku jas putihnya, mencari dompet. Namun yang jatuh justru sebuah kartu hitam, menghantam meja dengan bunyi tipis yang memecah keheningan.

Victoria menoleh, matanya bertemu dengan sorot tajam Alexander. “Aku punya uang,” ucapnya pelan, seakan keberatan menerima bantuan.

“Gesek saja, lalu cepat keluar!” balas Alexander, nadanya keras, dingin, seperti menutup ruang untuk penolakan. Ia pun berbalik, meninggalkan meja kasir tanpa menunggu.

Bel pintu berdenting saat ia melangkah keluar. Langit sudah benar-benar gelap, hanya sisa cahaya lampu jalan yang redup menemani. Angin malam menusuk tulang, membawa rasa asing yang membuat kulit merinding. Ia menyalakan sebatang rokok. Asapnya mengepul, menutup wajahnya yang muram. Setiap tarikan terasa panjang, seakan ingin menenggelamkan semua pikiran.

Namun sentuhan ringan di ujung jasnya membuat tubuhnya menegang. Ia menoleh cepat, Victoria berdiri tepat di belakangnya, menenteng kantong belanjaan dan kartu hitam miliknya.

“Ini kartumu… bagaimana aku harus mengembalikan uangnya?” ucapnya lirih, menawarkan kartu tersebut dengan tatapan ragu.

Alexander mengambilnya tanpa sepatah kata, menyelipkannya kembali ke dalam sakunya. Tanpa menatap lebih lama, ia langsung berbalik menuju mobil yang terparkir. “Masuk. Kita kembali ke rumah sakit,” perintahnya datar. Suaranya dingin, matanya kosong. Rumor tentang sikap kerasnya seolah terbukti nyata.

Victoria terdiam. Ada sesuatu dalam sikapnya yang terasa berbeda, membuat hatinya terhimpit. Ia hanya bisa mengangguk, melangkah mengikuti, lalu masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Perjalanan panjang itu berlangsung dalam senyap. Hanya suara mesin yang menemani, sementara keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Saat akhirnya mobil berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit, Alexander menoleh sekilas pada gadis di kursi sampingnya.

“Turun.”

Ucapan singkat itu membuat Victoria terhenti sejenak. Ia merasa ada jarak yang semakin melebar, tak lagi seperti sebelumnya. Namun, ia memilih diam. Dengan gerakan pelan, ia membuka pintu, menjejakkan kaki, lalu melangkah masuk ke rumah sakit.

Tanpa menoleh sedikit pun pada pria yang masih duduk di belakangnya.

Alexander terdiam, matanya mengikuti punggung gadis itu hingga menghilang dari pandangan. Tidak ada ucapan terima kasih, hanya kepergian yang meninggalkan ruang kosong di dadanya. Ia menarik napas berat, menggeleng perlahan seakan menolak rasa yang muncul.

Jemarinya menggenggam erat setir, lalu menekan pedal gas dalam-dalam. Mobilnya melesat kencang, membelah jalanan gelap di depan rumah sakit, seolah ia ingin menjauh dari segala beban yang menghantuinya.

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!