NovelToon NovelToon
Jodoh Ku Sepupuku

Jodoh Ku Sepupuku

Status: tamat
Genre:Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ann,,,,,,

Menikah dengan seseorang yang tumbuh bersama kita sejak kecil—yang rasanya sudah seperti saudara kandung sendiri—namun harus terpaksa menikah dengannya. Itulah yang kualami.

Namaku Alif Afnan Alfaris, seorang arsitek.
Sedangkan dia, Anna Maida, adalah adik sepupuku sendiri. Sepupu, kata ayahku, sudah sah untuk dinikahi—alasannya demi mendekatkan kembali hubungan darah keluarga. Namun sungguh, tak pernah sedikit pun terlintas di benakku untuk menikah dengannya.

Hubungan kami lebih mirip Tom and Jerry versi nyata. Setiap bertemu, pasti ribut—hal-hal kecil saja sebenarnya. Dia selalu menolak memanggilku Abang, tidak seperti sepupu-sepupu yang lain. Alasannya sederhana: usia kami hanya terpaut satu hari.

Anna adalah gadis cerdas yang menyukai hidup sederhana, meski ayahnya meninggalkan warisan yang cukup banyak untuknya. Ia keras kepala, setia, penyayang… dan menurutku, terlalu bodoh. Bayangkan saja, ia mau dijodohkan dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal, di usia yang masih sanga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann,,,,,,, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kedatangan paman Rusdi

“Assalamualaikum, Ann… Bian… Ayyan… Nenek datang,” seru Mace Nuri dengan suara lantang begitu aku membuka pintu.

Aku melongo sesaat.

Bian dan Ayyan yang tadinya duduk manis di meja makan langsung menoleh bersamaan.

“Nenek!” teriak Ayyan riang.

Bian ikut berdiri, matanya membulat kaget tapi wajahnya langsung berubah senang.

Mace Nuri sudah lebih dulu nyelonong masuk tanpa menunggu dipersilakan, khas beliau banget. Ia membuka tangan lebar-lebar.

“Sini… sini ke nenek,” panggilnya.

Kedua bocah itu langsung berlari menghampiri, memeluk Mace bergantian. Suasana yang tadinya tegang mendadak hangat—setidaknya di ruang tamu.

Sementara itu…

“Lo, Alif,” suara Om Rusli terdengar berat dari ambang pintu. “Kok kamu di sini?”

Tatapannya tajam, penuh selidik. Tatapan khas orang yang sudah terlalu sering menghadapi medan perang—dingin, terukur, dan bikin nyali menciut.

Aku menelan ludah. “Hehe… itu… panjang ceritanya, Om,” jawabku sambil nyengir, refleks bertahan hidup.

Om Rusli melangkah masuk, matanya menyapu seisi rumah—meja makan, piring-piring yang masih terisi, laptop di meja bar, sampai apron yang masih kupakai.

“Anna ke mana?” tanyanya lagi, kali ini nadanya lebih rendah, tapi justru itu yang bikin merinding.

Aku melirik ke arah anak-anak yang masih dipeluk Mace Nuri. “An… keluar sebentar, Om. Dari pagi,” jawabku hati-hati.

Mace Nuri mengusap kepala Ayyan, lalu menoleh ke arahku. “Kamu yang masak?” tanyanya heran.

“Iya, Mace,” jawabku cepat.

Beliau mengangguk pelan, tapi aku tahu…

kedatangan mereka bukan cuma buat makan siang.

Dan firasatku benar.

Ini bukan kunjungan biasa.

Aku segera mengajak Om Rusli dan Mace Nuri makan siang sekalian. Daripada suasana makin kaku, lebih baik perut diisi dulu—itu prinsip hidupku.

Setelah makan, mereka pindah ke ruang keluarga. Mace Nuri mengeluarkan oleh-oleh khas Papua dari tas besar yang dibawanya—kue dan camilan tradisional—lalu membagikannya pada Bian dan Ayyan.

“Ini buat kalian,” ucap Mace lembut.

Ayyan langsung bersorak kecil, sementara Bian menerima dengan sopan, matanya berbinar meski tetap kalem. Dua karakter, satu ibu—ajaib memang.

Aku?

Tentu saja beres-beres.

Nggak mungkin aku duduk manis sementara rumah berantakan. Bisa-bisa nanti Anna pulang dan aku yang diberesin, bukan rumahnya. Apalagi kalau dia lihat kondisi dapur atau ruang makan—wah, tamat riwayatku.

Aku mengelap meja, menyusun piring, memastikan semuanya rapi.

Dalam hati aku sempat nyeletuk: Rumahnya aja berantakan, apalagi hidupnya—

“Astaghfirullah,” gumamku cepat.

Aku langsung menepuk mulut sendiri.

“Ngaco lo, Lif,” bisikku. Kadang mulut sama pikiran memang suka jalan duluan tanpa izin otak.

Setelah semuanya kembali rapi, aku menghampiri Om Rusli dan Mace Nuri yang duduk di sofa ruang keluarga. Mereka memperhatikan Bian dan Ayyan yang sedang menikmati kue khas Papua dengan lahap.

Aku berdiri tak jauh dari mereka, menyandarkan tubuh sebentar di sisi sofa.

Melihat dua bocah itu tertawa kecil, aku tiba-tiba sadar—

di balik semua keruwetan orang dewasa, anak-anak ini cuma ingin satu hal: rumah yang aman.

Dan entah kenapa, aku merasa…

percakapan berat akan segera dimulai.

 

“Lif, sini duduk,” panggil Om Rusli.

Nada suaranya tenang, tapi justru itu yang bikin jantungku nyaris copot.

Aku menelan ludah, lalu menurut. Kakiku melangkah ke sofa tunggal di dekatnya. Begitu duduk, punggungku refleks tegak—kayak prajurit siap diperiksa komandan. Tanganku bertumpu di lutut, kaku.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Satu kali.

Dua kali.

Rasanya oksigen yang masuk tetap kurang.

Ini pasti soal Anna…

Pasti.

Keringat dingin mulai muncul di tengkuk. Otakku muter ke mana-mana.

Haruskah aku jujur?

Kalau aku jujur, apa aku melanggar kepercayaan Anna?

Tapi kalau aku diam, apa aku ikut menyembunyikan luka keponakan sendiri?

Anna, kamu di mana sih… pulang dong, umpatan itu bergema di kepalaku.

Dasar sepupu nyebelin. Datangnya selalu pas gue udah siap ribut, tapi ngilang pas gue butuh tameng.

Aku melirik sekilas ke arah Bian dan Ayyan. Mereka masih asyik dengan kuenya, tertawa kecil—tak tahu apa-apa tentang badai yang mungkin akan pecah sebentar lagi.

Dadaku makin sesak.

Aku kembali menatap lurus ke depan, berusaha terlihat santai. Padahal dalam hati aku sudah siap menerima apa pun—dimarahi, diinterogasi, atau bahkan ditendang keluar rumah.

Tenang, Lif, kataku pada diri sendiri.

Lo bukan bocah lagi. Lo cuma abang sepupu yang kebetulan terlalu peduli.

Dan aku tahu,

apa pun yang akan Om Rusli tanyakan setelah ini…

nama Anna pasti akan disebut.

“Alif, kamu mau bicara,” ucap Om Rusli pelan, “atau Paman yang mulai?”

Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Dan justru itu yang bikin bulu kudukku berdiri semua.

Seketika rasanya tulang-tulang di tubuhku melemas. Lututku hampir nggak punya tenaga, padahal aku cuma duduk. Satu pertanyaan sederhana dari paman—tapi efeknya kayak vonis.

Om Rusli memang begitu. Wajahnya keras, sorot matanya tajam, auranya… beda. Galak? Iya. Tapi aku tahu, di balik itu semua, dia orang yang baik. Hanya saja, kebaikannya datang dalam bentuk yang bikin nyali orang ciut duluan.

Aku menarik napas, bersiap membuka mulut.

Dan tepat saat itu—

Pintu terbuka.

Anna berdiri di sana.

Semua mata otomatis tertuju padanya.

Raut wajahnya merah, matanya sembap, seperti baru saja menangis—atau menahan tangis terlalu lama. Bahunya sedikit turun, tapi langkahnya tetap tegak. Kuat, tapi jelas lelah.

Dadaku mencelos.

An…

Situasi ini…

kayaknya bukan cuma butuh penjelasan.

Ini butuh pemadam kebakaran.

Aku menoleh sekilas ke Om Rusli, lalu ke Mace Nuri. Aura ruang keluarga berubah seketika—tegang, berat, seolah udara ikut menahan napas.

Anna melangkah masuk, menutup pintu perlahan di belakangnya.

Dan aku tahu,

kehadirannya barusan bukan sekadar datang tepat waktu.

Ini adalah awal dari percakapan yang tak bisa lagi ditunda.

1
Aruna02
nah kalo cerai itu paling ribet hak asuh anak mumet kalo keduanya rebutan
Aruna02
wih keren alif belain anak mati matian
Addb_Rh
biasanya kalo suka berantem kek tom and Jerry gini. nantinya bakalan mesra tu endingnya😅
Addb_Rh
jangan gitu dong, aku senang ngelamun orangnya😭😭
D'Mas0712
rian tergoda wanita diluaran sana. padahal dirumah punya istri spek bidadari
D'Mas0712
alif menjadi garda terdepan buat ana 😍😍
WDY
Wah... lif kamu mmg sepupu yang baik dan peduli
WDY
Lah dah nikah siri toh. 🤔
Meee
Harusnya laporin aja mereka ke polisi, An. Biar kapok. Biar dapat balasan. Hahaha 👹
Meee
Oh, nikah siri. Pantes suaminya gak merasa bersalah. Mungkin baginya, "Kan yang penting aku gak zina,"

Ih, keselll 😭 sakit hati aku kakkk
Ayank~Oma
itu karena dia udah kenyang nangis loh lif 🤭
Ayank~Oma
sedekat apapun saudara sepupu, tetap saja ada batasan yg harus di jaga
Aruna02
kalo sudah keputusan akhir aku dukung ana🤭🤭 semoga kamu dapat yang lebih baik
Aruna02
🤣🤣suka nya nyindir ya
D'Mas0712
trus ini nanti mereka nikah ta thor?
D'Mas0712
itu blm seberapa rian.. lihat dan tunggu saja
Addb_Rh
Anna berlayar melewati ombak sendirian. Bahkan sampai di dermaga pun tanpa bisingnya suara..
membuat alif terkejut dg kenyataan yg ada.. 😌
Addb_Rh
alif tuh care, makanya lumayan rewel. coba terbuka Ann...
GreenForest
Dih suatu saat Lo bakal nyesel Rian
GreenForest
Yah udah bener Ann urus surat ceraimu, mulai hidup baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!