NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Setelah ia di temukan

Daniel terbang langsung ke Singapura, dan ketika memasuki ruang perawatan yang dijaga ketat, sebuah keheningan aneh menyambutnya—hening yang tidak cocok dengan seseorang yang baru saja diculik dan dibuang di pinggir hutan. Vivienne duduk di ujung ranjang dengan bahu sedikit bergetar. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, mata merah seperti habis menangis, namun tatapannya tetap jernih dan fokus. Terlalu fokus.

Begitu melihat Daniel, ia mengangkat wajah perlahan, suaranya pecah dan lemah.

“Di mana Julian?”

Daniel tidak menjawab langsung. “Tuan Julian sedang sangat sibuk akhir-akhir ini,” katanya lembut, merahasiakan kondisi Julian yang sebenarnya.

Vivienne menunduk. Jari-jarinya meremas selimut dengan ketegangan yang terlihat nyata, namun mereda terlalu cepat—seolah sebuah tombol emosi dihidupkan dan dimatikan.

“Aku… aku kira dia akan datang,” bisiknya. Suaranya retak, tapi ada kekecewaan tipis yang melintas cepat di matanya.

Sebelum Daniel sempat menanggapi, pintu terbuka keras.

Seorang perempuan muda masuk tergesa-gesa—Clara, asisten pribadi Vivienne. Wajahnya panik, napasnya terputus-putus.

“Bu Vivienne! Ya Tuhan… saya pikir… saya pikir Anda—”

Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Clara menutup mulutnya sambil menahan tangis, tubuhnya bergetar hebat. Ia langsung mendekat, berlutut di samping ranjang, memegang tangan Vivienne dengan gemetar yang tidak bisa disembunyikan.

Vivienne menoleh perlahan, memberikan senyum tipis yang rapuh—rapuh secara sempurna.

“Clara… aku baik-baik saja. Jangan menangis.”

Namun Clara menangis lebih keras, ketakutannya begitu mentah dan alami hingga ruangan itu terasa kecil. Kontras dengan itu, Vivienne tetap tenang—tenang yang terasa… terlalu teratur.

Daniel memperhatikan keduanya dengan hati yang mengeras. “Vivienne,” katanya perlahan, “apa kau ingat sesuatu? Apa pun? Suara… tempat… orang?”

Vivienne menutup mata seolah berusaha keras mengingat. Namun Daniel memperhatikan wajahnya: otot-ototnya tidak benar-benar menegang.

Ekspresinya seperti seseorang yang sedang memilih memori mana yang aman untuk dibagikan.

“Aku hanya ingat tangan… menarikku,” bisiknya. “Bau tanah basah… suara air di dekatku. Lalu gelap.”

Clara menahan napas seperti tersambar petir. “Oh Tuhan…”

Vivienne tetap diam, hanya air mata yang jatuh perlahan—jatuh pada waktu yang terlalu tepat.

Daniel merasakan firasat lamanya merayap naik. Firasat tentang something-off dalam diri Vivienne yang sejak dulu tidak pernah bisa ia jelaskan. Hilangnya Vivienne yang terlalu rapi, ditemukannya dia tanpa luka yang cukup dalam, dan ketenangannya yang muncul hanya pada waktu-waktu tertentu.

Ketika Vivienne membuka mata dan menatapnya, Daniel merasakan sebuah dingin mengalir dari tengkuknya.

Ketakutan Vivienne terlihat begitu rapuh… namun di bawahnya, ada sesuatu yang gelap, sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang membuat Daniel semakin waspada.

Seolah ketakutan itu hanya permukaan—dan apa yang bersembunyi di baliknya jauh lebih berbahaya.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Batin Daniel mengangkat sebelah alisnya.

Batin Daniel semakin curiga dan yang pasti semakin waspada

Daniel melangkah mendekat, cukup dekat untuk menangkap detail kecil yang sering luput dari orang lain. Ia memperhatikan pergelangan tangan Vivienne—bekas lecet samar terlihat, terlalu rapi, seolah dibersihkan dengan hati-hati. Tidak ada bekas ikatan yang kasar. Tidak ada memar tua yang seharusnya muncul jika ia benar-benar diseret dan ditahan cukup lama.

“Dokter mengatakan kau ditemukan tidak jauh dari aliran sungai,” ucap Daniel ringan, seakan hanya mengisi keheningan. “Airnya deras di musim ini.”

Vivienne mengangguk pelan. “Mungkin… mungkin itu sebabnya aku merasa dingin saat bangun.”

Jawabannya tepat. Terlalu tepat.

Daniel menangkap jeda sepersekian detik sebelum kata dingin keluar—jeda kecil yang biasanya muncul ketika seseorang menyesuaikan cerita dengan informasi baru. Matanya beralih pada Clara, yang masih terisak, tidak menyadari permainan mikro yang terjadi di hadapannya.

"Clara kamu adalah asisten pribadi nona Vivienne, tai kenapa kamu biarkan nona Vivienne pergi sendiri? tanpa pengamanan apapun? kau lupa siapa dia?" Tanya Daniel tajam.

"ak... aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama Julian Daniel, apa.. itu salah? Vivienne menghela napas pelan, seolah kelelahan itu kembali menyerangnya.

“Aku ingin sendirian,” katanya lirih. “Aku hanya butuh… ruang.”

Kalimat itu terdengar wajar. Terlalu wajar.

Daniel menangkap satu detail yang mengganjal:

Vivienne adalah perempuan yang selalu dikelilingi pengamanan, selalu mengatur skenario, selalu memastikan ada saksi—namun kali ini ia memilih tanpa siapa pun?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!