Setelah mengalami kecelakaan, mata batin Nino terbuka. Pemuda berusia 20 tahun itu jadi bisa melihat makhluk astral di sekitarnya.
Sejak tersadar dari komanya, pemuda itu selalu diikuti oleh arwah seorang wanita muda yang dilihatnya ketika kecelakaan terjadi.
Karena tak kuat terus menerus harus melihat makhluk astral, Nino meminta bantuan Pamannya untuk menutup mata batinnya. Sang Paman pun memberikan doa agar bisa menutupi mata batin.
Alih-alih menutup mata batin, kemampuan Nino yang awalnya hanya bisa melihat, justru berkembang jadi bisa berkomunikasi dengan para arwah.
Tak mau menderita sendirian, Nino pun meminta sahabatnya yang penakut, Asep untuk ikut membaca doa dengan dalih supaya menjadi berani. Dan ketika Asep mengamalkannya, sama seperti Nino, pemuda itu juga bisa melihat makhluk halus.
Kejadian demi kejadian aneh terus menimpa kedua sahabat tersebut. Lewat petunjuk dari makhluk astral, mereka bisa mengungkap kejahatan kasus kriminal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersangka
Miko membaca tulisan yang ada di lembaran kertas di tangannya. Di sana berisikan informasi tentang Anton. Dalam tulisan itu disebutkan kalau Anton memiliki hubungan rahasia dengan Maya. Selain itu disebutkan juga kalau Anton lah yang sudah membunuh Maya dan dia melakukan itu di apartemen Grand Harmony, unit 911.
Setelah membaca kertas tersebut, Miko segera beranjak dari duduknya. Dengan langkah panjang pria itu menuju kontrol room. Dia meminta pada petugas untuk memutar rekaman cctv yang ada di bagian depan kantor dan juga parkiran.
Di depan kantor nampak seorang pemuda mengenakan topi mendatangi pos penjagaan. Dia berbincang sejenak dengan petugas kemudian pergi. Miko lanjut memeriksa rekaman cctv di parkiran. Nampak pemuda tadi mendekati sepeda motornya. Dia melepas topinya kemudian memakai helm.
Ketika melepas topinya, wajah pemuda itu tertangkap kamera cctv. Nino memicingkan matanya. Setelah beberapa saat, barulah Miko mengingat siapa pemuda itu.
Usai mengucapkan terima kasih, Miko kembali ke ruangannya. Pria itu langsung melakukan pemeriksaan biodata Nino. Saat dipanggil menjadi saksi, pemuda itu diwajibkan mengisi biodata. Pria itu kemudian mengecek di mana sinyal ponsel Nino terakhir berada.
Baru saja Nino hendak pergi, ponselnya berdering. Melihat nama sang pemanggil adalah Iqbal, pria itu mendaratkan kembali bokongnya di kursi kemudian menjawab panggilan temannya.
“Halo.”
“Aku sudah berhasil menemukan orang yang mentransfer uang ke rekening Maya. Dia bilang, kalau hanya disuruh seseorang. Dia meminta mentransfer sejumlah uang ke rekening Maya.”
“Apa dia tahu orang yang menyuruhnya?”
“Tidak tahu. Dia hanya menyebutkan ciri-cirinya saja. Aku sudah mencatatnya. Sekembalinya ke kantor aku akan meminta dibuatkan sketsa wajahnya.”
“Baiklah.”
Begitu panggilan berakhir, Miko beranjak dari tempatnya. Pria itu harus segera menemui Nino dan menanyakan secara langsung apa maksud surat yang diberikan padanya. Saat melintasi meja rekannya, pria itu berkata.
“Ada donat di meja ku. Kalian makan saja.”
Tanpa menunggu jawaban, pria itu bergegas keluar dari kantor.
***
Di tukang nasi goreng langganannya, Nino dan Asep tengah menikmati nasi goreng sambil berbincang santai.
“Kira-kira Pak Miko percaya ngga ya sama informasi yang kita kasih?” tanya Nino di sela-sela makannya.
“Teuing atuh. Tapi urang sieun Pak Miko kalakah curiga ka urang. Mun manehna nanya, mana buktina? Kumaha tah? (Ngga tahu. Tapi gue takut Pak Miko malah curiga. Kalau dia tanya, mana buktinya? Gimana tuh?).”
“Ya bilang aja kita dapet info dari si Maya.”
“Bujug dah, moal percayaeun (Bujug dah, ngga akan percaya).”
“Dicoba aja dulu. Siapa tahu percaya.”
Asep hanya menggelengkan kepalanya sambil terus menghabiskan nasi gorengnya. Ketika pemuda itu mengangkat kepalanya, dia terbengong melihat Miko sudah berdiri tepat di belakang Nino. Asep menepuk-nepuk lengan Nino.
“Apaan sih?”
“Itu.”
Jari Asep menunjuk ke arah belakang Nino. Refleks pria itu menolehkan kepalanya. Sama seperti Asep, pemuda itu hanya terbengong saja melihat kemunculan Miko. Baru saja mereka membicarakan pria itu, sekarang sudah berada di depannya.
“Pak, udah makan belum?” tanya Asep untuk mencairkan suasana tegang yang sempat melanda.
Tanpa menjawab, Miko menarik kursi di dekat Nino lalu mendaratkan bokongnya di sana. Dipandanginya sejenak dua pemuda di dekatnya ini yang terlihat tegang. Pria itu kemudian meminta kertas dan pena dari sang penjual.
“Tolong tuliskan pesanan ku, nasi goreng pedas dan jeruk hangat.”
“Kenapa ngga nulis sendiri, Pak?” tanya Nino.
“Tulis sekarang.”
Mau tidak mau, Nino menulis pesanan Miko. Sebelum menyerahkan pesanan itu pada penjual, Miko mengambil kertas tersebut. Pria itu lalu mengeluarkan lembaran yang didapatnya tadi kemudian mencocokkan tulisan tersebut.
“Kamu yang menulis surat ini kan?”
“Ng.. ngga, Pak.”
“Kalau kamu tidak mau mengaku, saya akan memasukkan kamu ke sel!”
“I.. iya, Pak. Saya yang tulis surat itu.”
Miko tersenyum kecil, triknya menakuti akhirnya berhasil membuat Nino mengaku. Sebelum melanjutkan interogasinya, lebih dulu Miko menyerahkan kertas pesanan pada penjual. Perutnya memang lapar seharian belum masuk makanan berat.
“Soal yang kamu tulis, apa itu benar?”
“Benar, Pak.”
“Kamu menuduh Pak Anton sebagai pelaku, apa kamu punya buktinya?”
“Ngga ada, Pak.”
“Kamu sadar kalau apa yang kamu berikan itu informasi palsu? Kamu tahu kalau ada hukumannya memberi informasi palsu?”
“Eh.. ng.. ngga, Pak. Informasi itu benar kok,” sela Asep.
“Apa kalian menyaksikan sendiri pembunuhan itu?”
“Ngga.”
“Apa ada bukti kalau Anton yang membunuh Maya?”
“Ngga ada.”
“Siapa yang kasih tahu kalau Anton yang membunuh Maya?”
“Maya.”
Miko menghembuskan nafas kasar. Sudah perutnya lapar, mendengar jawaban dua pemuda di depannya malah memantik emosinya. Beruntungnya pemadam kelaparan tiba. Nasi goreng pesanan Miko sudah siap. Tanpa menunggu lama, pria itu langsung menyantap makanannya.
Tiba-tiba saja Eris muncul di antara mereka. Hantu wanita itu duduk manis sambil memandangi Miko yang tengah menyantap makanannya tanpa berkedip. Nino yang menyadari arah pandang Miko, langsung memberi kode pada Asep.
“Tutup mulut kamu kalau kamu ngga mau dianggap sinting sama dia.”
Mulut Asep yang semula terbuka, seketika langsung tertutup lagi. Pemuda itu memberi isyarat pada Nino untuk pergi. Pelan-pelan keduanya beranjak dari kursinya.
“Kita duluan ya, Pak.”
“Duduk!”
Sontak keduanya kembali mendaratkan bokong di kursi. Eris hanya tertawa saja melihat Nino dan Asep yang nampak bingung. Siapa suruh mereka nekad memberikan informasi tentang Anton tanpa disertai bukti nyata.
Selesai menikmati makanannya, Miko meneguk dulu jeruk hangatnya sebelum melanjutkan interogasinya pada Nino dan Asep.
“Sekali lagi saya tanya, siapa yang memberitahu informasi tentang Anton?”
“Maya, Pak.”
“Saya ngga bercanda ya.”
“Saya juga ngga bercanda, Pak. Muka saya udah serius loh ini.”
“Jadi gini, Pak. Teman saya ini bisa lihat hantu dan komunikasi sama hantu.”
“Dia juga bisa,” balas Nino sambil menunjuk Asep.
“Oke, kalau Maya yang memberi informasi sama kamu, bagaimana Maya meninggal?”
“Kepalanya dibenturin ke lantai beberapa kali, terus perutnya juga ditendang. Padahal Maya lagi hamil anaknya dia.”
Sejenak Miko terdiam. Pria itu terkejut karena apa yang dikatakan Nino sama dengan hasil autopsi. Kini pria itu melihat pada Nino dengan pandangan curiga.
“Orang yang tahu bagaimana kronologi kejadian, pertama korban, kedua pelaku. Karena korban sudah meninggal, jadi orang yang tahu pasti pelakunya.”
Nino menelan ludahnya kelat. Wajahnya seketika berubah pucat. Maksud hati ingin menolong Maya menangkap Anton, sekarang malah dirinya yang dijadikan tersangka.
“Pak, Bapak salah sangka. Bukan Nino pelakunya. Dia benar-benar tahu itu dari Maya langsung. Arwahnya masih penasaran karena jasadnya belum ditemukan. Lagi pula kalau Nino yang membunuh Maya, motifnya apa?”
“Bisa jadi kamu menyukai Maya, tapi Maya tidak menggubris perasaan mu. Dia malah menjalin kasih dengan Anton. Didorong perasaan cemburu, kamu menghabisi Maya dan melemparkan tuduhan pada Anton.”
Tubuh Nino semakin lemas mendengar penuturan panjang Miko. Wajahnya semakin pucat saja. Asep masih berusaha meyakinkan kalau Nino tidak bersalah.
“Saya ini polisi dan saya bekerja berdasarkan bukti dan fakta di lapangan. Bagaimana mungkin saya bisa percaya kalau kamu mendapatkan informasi dari arwah Maya. Kalau memang benar arwah Maya gentayangan, suruh dia muncul di depan saya.”
Tepat setelah Miko mengatakan itu, tiba-tiba saja gelas berisi jus jeruk di dekat pria itu terangkat. Tentu saja Eris yang melakukannya. Dia kasihan juga melihat Nino yang justru dituduh sebagai pelaku kejahatan.
***
Nah percaya ora Miko?🤣
Upin ipin lgi sibuk liburan 🤣
eeehh🤔
belum waktunya kamu ke tangkep Anton...tunggu aja gk bakal lama juga kamu akan mendekam jd penghuni hotel prodeo...karena apartemen mu udah di pindah sewakan ke orang lain...untuk meniggalkan jejak ke jahatanmu....ementara kamu tinggal gretongan di bui 😂
pintar sekali kamu ya Anton /Curse/