NovelToon NovelToon
BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Pelakor / Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.

Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.

Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Kegundahan Pak Kusuma

Malam-malam bulan madu itu terasa seperti dunia yang hanya berisi mereka berdua. Reza benar-benar larut, mabuk kepayang oleh Tari—oleh caranya tersenyum, caranya menatap, caranya hadir begitu utuh sebagai seorang istri. Setiap gerak Tari seolah punya daya magis yang membuat Reza lupa pada siapa dirinya sebelum hari itu.

Tari tidak banyak bicara, tapi sentuhan perhatiannya terasa jelas. Dia tahu kapan harus mendekat, kapan harus memberi ruang, dan kapan membuat Reza merasa menjadi lelaki paling dibutuhkan di dunia. Sikapnya lembut, penuh pengertian, dan sangat meyakinkan. Reza merasa dimanjakan, dipuja, dan diutamakan—sesuatu yang diam-diam selalu dia dambakan.

Di samping Tari, Reza tertawa lebih lepas. Dia merasa lebih hidup. Kepalanya ringan, dadanya hangat, hatinya penuh. Segala lelah dan beban seakan luruh begitu saja. Tari membuatnya lupa waktu, lupa dunia luar, lupa bahwa ada masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.

Malam itu, Reza semakin yakin: dia telah memilih dengan benar. Tari bukan hanya istri, tapi juga candu—yang membuatnya ingin terus kembali, terus tenggelam, dan terus percaya bahwa kebahagiaan ini nyata.

Tari tahu betul apa yang sedang dia lakukan. Setiap senyum, setiap sentuhan kecil, setiap perhatian yang dia berikan—semuanya terukur. Dia tak ingin Reza hanya mencintainya; dia ingin Reza ketergantungan.

Dia selalu memastikan Reza merasa menjadi pusat dunianya. Saat Reza bicara, Tari mendengarkan dengan mata berbinar, seolah tak ada hal lain yang lebih penting. Dia memuji Reza tanpa berlebihan, tepat di titik yang membuat harga diri lelaki itu mengembang. Reza merasa dihargai, dipuja, dan—yang paling penting—dibutuhkan.

Tari sengaja membandingkan, tapi tanpa kata-kata. Dia tidak pernah menyebut masa lalu Reza, tidak pernah menyinggung istri sebelumnya. Justru di situlah jebakannya. Dia hadir sebagai kebalikan dari semua keluh yang pernah Reza simpan dalam diam. Lembut, sigap, penuh pengertian. Tidak menuntut, tapi selalu memberi.

Dalam diam, Tari membaca Reza dengan cermat. Dia tahu Reza haus akan kekaguman, lelah dengan konflik, dan ingin merasa menang. Maka Tari membiarkannya merasa demikian. Dia membiarkan Reza percaya bahwa bersamanya, hidup terasa lebih mudah, lebih hangat, lebih memuaskan.

Selama bulan madu itu Tari meneguhkan perannya. Dia selalu memastikan Reza pulang jalan-jalan dengan perasaan puas—bukan hanya raga, tapi juga ego dan hatinya. Reza mulai lupa bagaimana rasanya tidak bersama Tari. Dia mulai membandingkan tanpa sadar, dan hasilnya selalu sama: Tari menang.

Di dalam hatinya, Tari tersenyum puas. Jaring itu sudah terpasang rapi. Reza telah masuk terlalu jauh, terlalu nyaman, terlalu yakin. Dan ketika cinta berubah menjadi kebutuhan, Tari tahu—dia telah berhasil.

Malam itu Tari menatap Reza yang terlelap di sampingnya, napas lelaki itu teratur, wajahnya damai. Pemandangan yang membuat dadanya hangat—bukan oleh cinta, tapi oleh kemenangan kecil yang berlapis-lapis. Da tahu, malam-malam seperti ini akan membuat Reza semakin jauh dari siapa pun selain dirinya.

Dia tersenyum tipis.

Lelaki seperti Reza mudah sekali dibaca. Dia ingin dipuja, ingin merasa paling benar, paling dibutuhkan. Dia lelah dengan perempuan yang bertanya terlalu banyak, menuntut terlalu dalam, dan berharap terlalu jujur. Maka Tari memilih menjadi sebaliknya. Dia tidak bertanya, ia mengerti. Ia tidak menuntut, ia memberi. Dan Reza—seperti yang sudah ia duga—jatuh perlahan, tanpa sadar.

Biarlah Reza mengira ini cinta yang murni. Biarlah dia percaya bahwa kebahagiaan ini tumbuh alami. Tari tahu, tidak ada yang alami dalam setiap sikapnya malam ini. Semua adalah pilihan. Semua adalah strategi.

Dia sengaja membuat Reza merasa aman. Aman untuk ego, aman untuk kelelahan batin, aman untuk melupakan rasa bersalah. Dia ingin Reza berpikir: bersamanya, tidak ada konflik. Tidak ada drama. Tidak ada tuntutan moral. Hanya penerimaan.

Dan itulah jebakan paling manis.

Tari tidak butuh Reza menjadi suami yang baik. Dia butuh Reza menjadi suami yang tak bisa pergi. Ketika seorang lelaki merasa dicintai tanpa syarat—padahal syarat itu hanya tak pernah dia sadari—di situlah dia akan bertahan sekuat tenaga.

"Aku akan jadi rumahmu.” Batin Tari, lirih tapi mantap.

"Dan rumah adalah tempat yang paling sulit ditinggalkan.”

Dia merapatkan selimut, mendekatkan tubuhnya ke Reza, memastikan kehadirannya terasa bahkan dalam tidur lelaki itu. Besok, lusa, dan seterusnya, dia akan terus memainkan perannya dengan sempurna, demi ambisinya menguasai kekayaan Reza.

***

Pak Kusuma duduk santai di ruang keluarga, bersandar nyaman di kursi empuk kesayangannya. Televisi menyala tanpa benar-benar dia tonton. Pikirannya justru dipenuhi rasa lega yang sudah lama tak dia rasakan. Bibirnya melengkung, senyum tipis penuh kepuasan.

"Alhamdulillah,” gumamnya pelan. “Tari bisa juga meluluhkan Reza. Mudah-mudahan, dia benar-benar jadi jalan keluar dari kesulitan kita.”

Ibu Kusuma yang duduk tak jauh darinya menanggapi dengan nada lebih hati-hati. “Tapi Pa, menguasai perusahaan mereka dalam waktu tujuh bulan itu bukan perkara mudah.”

Pak Kusuma melambaikan tangan, seolah ingin menyingkirkan kekhawatiran itu. “Kenapa mesti tujuh bulan? Pelan-pelan saja. Yang penting sekarang Tari sudah di dalam.”

Ibu Kusuma menoleh cepat, raut wajahnya berubah. “Pa, Papa kok nggak ngerti sih?”

Pak Kusuma mengerutkan dahi, merasa ada yang janggal dari nada bicara istrinya. “Nggak ngerti apa?”

Ibu Kusuma menarik napas dalam, seakan menimbang kata-katanya sendiri. Suaranya kemudian turun, nyaris berbisik. “Mama belum cerita ya? Tari itu… sekarang sedang mengandung.”

Pak Kusuma terdiam sesaat. Lalu wajahnya kembali cerah. “Ya baguslah. Sekarang kan sudah menikah. Justru itu penguat posisi Tari.”

Ibu Kusuma menggeleng pelan. Tatapannya tajam, menyimpan kegelisahan yang tak bisa lagi dia tahan.

"Masalahnya, Pa… Tari mengandung anaknya si Jackson Negro itu.”

"Apa?”

Pak Kusuma langsung menegakkan badan. Senyum di wajahnya lenyap seketika, tergantikan ekspresi kaget dan tak percaya. Jantungnya berdegup lebih cepat.

"Kamu serius ngomong begitu?” Suaranya meninggi, nyaris tak terkendali.

Ibu Kusuma mengangguk pelan. “Itulah kenapa Mama bilang tujuh bulan itu penting. Sebelum semuanya kelihatan. Sebelum Reza curiga.”

Pak Kusuma terdiam lama. Tangannya mengepal di atas paha. Rasa senang yang tadi menghangat kini berubah menjadi dingin yang menusuk.

"Kalau sampai Reza tahu…” Gumamnya, suaranya berat. “Bisa hancur semua rencana kita.”

Ibu Kusuma menatap lurus ke depan. “Makanya, Pa. Mulai sekarang, Tari gak boleh salah langkah. Sedikit saja meleset—habis kita.”

"Kalau sampai Tari keburu melahirkan, dan dia belum menguasai perusahaan itu, Tari benar-benar akan ditendang dan dia tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali caci maki."

"Nah itulah maksud mama, Pa."

"Kapan Tari bilang dia mengandung anaknya Si Jackson."

"Pas malam midodareni. Kata Tari, dia bisa mendesak Reza untuk menikahinya karena dia mengaku sedang hamil. Dia mengatakan kalau itu anaknya Reza, padahal itu anaknya si Jackson."

Ruang keluarga yang tadinya terasa nyaman, kini dipenuhi ketegangan. Televisi masih menyala, tapi tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar melihatnya. Yang ada hanya satu pikiran sama:

permainan ini sudah terlalu jauh untuk mundur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!