Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 : Uring-uringan
Rio akhirnya pulang ke apartemen. Sebelum masuk pemuda itu mengetuk pintu terlebih dahulu untuk memastikan di dalam sana sedang ada Risa atau tidak.
Tok
Tok
Tok
"Nah, itu Rio, sana masuk kamar!"
Risa melotot ke arah ibunya sendiri, dia agak kesel karena sekarang dia yang harus mengalah demi pemuda itu. Kasihan sih, ngidamnya aneh, cuma kenapa harus muntah tiap liat muka dia cobak.
Dewi, sang ibu melotot balik, malah lebih galakan dia kayaknya. Risa menghela napas pasrah dan langsung masuk ke kamar.
Dewi kemudian beranjak membukakan pintu apartemen.
Begitu masuk, Rio langsung celingak-celinguk mencari keberadaan Risa. Mau gimana lagi, dia gak mau muntah-muntah terus dong?
"Risa di kamar kok, Rio," ucap Dewi yang memahami apa yang sedang dilakukan menantunya itu.
"Hehehe, maaf ya Tante...." Rio nyengir sambil garuk-garuk jadi ngerasa ga enak hati dia.
"Kamu mau pulang lagi ke rumah Ibumu?" Tanyanya, karena beberapa hari terakhir sejak dinobatkan dia mual setiap ketemu Risa, dirinya jadi lebih sering pulang ke rumah.
"Kayaknya iya untuk sementara, maaf ya Tante?" Sumpah dia ngerasa ga enak banget sama Bu Dewi yang udah baik ke dia.
"Ya gak apa-apa, paling nanti juga normal lagi, maklum bawaan bayi." Dewi menepuk pelan lengan pemuda itu.
"Kalau begitu, Rio langsung pamitan ya Bu, salam buat Bu Risa," balasnya dan langsung mencium tangan wanita itu.
...****************...
Rio akhirnya keluar lagi dari apartemen setelah berpamitan dari Dewi. Tak lama Risa keluar dari kamar dengan raut wajah yang gak enak banget buat diliat.
"Kenapa kamu, Ris? Kok cemberut?" Tanya Dewi merasa heran dengan anaknya sendiri. Perasaan tadi dia baik-baik saja, tapi pas keluar ekspresi mukanya kayak lagi bete.
"Gak," jawab wanita itu dengan singkat dan langsung duduk lagi di meja makan.
Dewi mengernyitkan dahi sambil memandangi Risa.
"Yakin kamu gak apa-apa?" Tanyanya lagi seperti sedang butuh konfirmasi.
"Tch, main pergi begitu saja, mana enggak pamit lagi!" Ujarnya dengan nada kesal.
"Ooooooooooh...." Mulut Dewi membentuk huruf 'O' dengan nada panjang macam penyanyi yang lagi pemanasan pita suara.
"Biasa aja kali, Ma!" Risa sewot, nyemprot emaknya sendiri yang langsung ketawa geli.
"Barusan Rio pamit kok, sama Mama, dan dia titip salam buat kamu," ujar sang ibu menyampaikan ucapan Rio sebelum dia pergi tadi.
"Dih, beraninya titip salam, gak berani ngomong sendiri?" Risa malah keliatan makin emosi.
"Kamu itu lagi OP! Over power! Dia mana bisa liat kamu, ketemu aja kabur ke kamar mandi 'kan!" Balas wanita itu bisa-bisanya tau istilah over power (emak-emak gaul emang).
"Ya kan, dia bisa aja loh ngomong dari balik pintu kamar, pamit gitu, bukannya langsung nyelonong gitu aja, kayak rampok!" Risa tetap gak menerima pembelaan dari ibunya buat Rio. Pokoknya Rio itu tetep salah.
"Haduh Ris, terserah kamu saja lah," ujar sang ibu yang nyerah kasih penjelasan ke Risa. Dia kalau ngambek emang agak susah dibujuk.
Risa akhirnya melanjutkan makan siang dengan mood yang buruk. Sang ibu pun heran melihat Risa yang mendadak berubah.
"Ris, kamu..., gak lagi kepengen deket sama Rio 'kan...?" Tanya si ibu dengan perasaan curiga.
"Deket sama Rio?? Ih, ogah!!!" Risa langsung menapik keras dugaan tersebut.
"Mama kirain lagi bawaan bayi, kamu! Habis aneh, kenapa mendadak kamu uring-uringan, kayak enggak ikhlas ditinggal sama Rio," jawab Dewi menjelaskan kenapa dia bisa mikir ke arah situ.
"Iiih, siapa juga yang uring-uringan cuma gegara Rio!" Ucapnya dengan nada gak terima tapi jelas banget keliatan dia lagi kesel.
"Ya kalau gitu udah dong mukanya, jangan pasang wajah kayak mau nelen orang, Ris! Mama serem liatnya!" Balas wanita itu setengah menggoda sang putri.
"Mama apaan sih? Wajar kalau Risa kesel dong? Dia aja pergi melengos gitu aja, tanpa mau ketemu Risa!" Nah, kan ternyata bener dia kesel karena Rio gak pamit ke dia.
Emaknya kali ini beneran speechless sama anaknya sendiri. Gimana Rio mau pamitan kalau anak itu saja lagi gak bisa melihat muka si Risa, istrinya sendiri. Lalu, sekarang drama nya, Risa bete sendiri karena merasa ditinggal.
"Kombinasi ngidam yang unik...," gumam Dewi geleng-geleng. Baru kali ini dia liat orang yang ngidamnya saling bertolak-belakang kayak Rio dan Risa.
Si Rio lagi gak bisa deket ke Risa, eh si Risa malah kepengen dideketin. Bener-bener deh, istimewa sekali pasangan ini.
...****************...
Sementara itu Rio terlihat lagi rebahan di atas kasur yang sudah lama ditinggalinya itu. Rasanya nyaman dan hangat. Tanpa sadar Rio akhirnya tertidur pulas.
Sang ibu dan adiknya diam-diam memperhatikan Rio dari balik pintu kamar. Keduanya tersenyum tipis setelah melihat Rio tidur dengan nyenyak. Wajahnya tampak damai dan seolah seperti tak memiliki beban. Padahal mereka tahu, kalau Rio sudah bekerja-keras menjadi tulang-punggung pasca perceraian sang ibu dengan suami keduanya setelah menikah selama 3 tahun.
Sang ibu menggugat cerai karena pria itu melakukan KDRT dan kecanduan judi. Dia hampir menghabiskan seluruh harta ibunya Rio dari almarhum ayahnya, yang untungnya bisa segera disadari dan masih bisa diselamatkan.
Tapi karena hal itulah, Rio harus bekerja agar tidak terlalu sering menggunakan uang tabungan sang ayah, sementara dana pensiun ayahnya terpakai untuk kebutuhan rumah-tangga bulanan.
"Ah, kasihan kamu Rio, pasti capek banget ya...," gumam sang ibu dengan nada pelan.
"Loh, Bu, kenapa sedih?" Tanya sang adik secara reflek ketika melihat wajah ibunya yang mendadak berubah.
"Ah, gak apa-apa," jawab wanita itu sambil menggeleng lemah, "udah yuk, dek. Jangan ganggu Kakak kamu, kasihan kalau kebangun. Yuk, turun," lanjutnya yang mengajak Dina membiarkan Rio beristirahat.
...****************...
Sorenya Rio terbangun dan melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 05:00 sore.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki terdengar sedang menaiki tangga.
"Kakak, disuruh Ibu turun buat makan! Tadi siang Kak Rio langsung tidur 'kan." Dina mengingatkan sang kakak untuk makan dulu sambil melongok ke arah pintu.
"Oh, iya Dek. Bilang ke Ibu, Kakak mau mandi dan ganti baju dulu, baru ke bawah!" Jawab Rio yang sudah bersiap mau pergi mandi.
"Oke deh!!!" Balas sang adik dengan riang. Gadis itu segera berbalik dan menuruni tangga dengan setengah berlari.
...****************...
Rio saat ini tengah berkumpul dengan adik dan ibunya. Ada suatu perasaan rindu yang tak bisa ia ungkapkan. Rasanya ia sudah begitu lama melewati momen ini.
"Ih, Kakak kok senyum-senyum sendiri?" Ujar Dina yang merasa aneh setelah melihat kakaknya sendiri.
"Kakak lagi seneng aja, emang gak boleh?" Balas Rio dengan jujur.
"Sudah, ngobrolnya nanti aja, makan dulu ayo!" Timpal sang ibu yang menyuruh kedua anaknya untuk segera makan.
Akan tetapi disela-sela kenikmatan keluarga itu Rio mendadak muntah ketika mencicipi ikan bakar buatan sang ibu.
"Hoeeeek...!" Yap, dia mual setelah mengambil sepotong daging ikan tersebut yang langsung membuatnya mual meski baru tercium aromanya saja.
"Rio???" Sang ibu menatap putranya dengan heran.
"Ibu, ikannya bau amis banget, Rio gak suka...." Dengan cepat pemuda itu menyingkirkan makanan tersebut dari piringnya.
"Bukannya Kakak suka banget ya? Ibu juga biasa bikin 'kok!" Dina juga kebingungan melihat tingkah sang kakak.
"Gak, ini amis banget, Rio kepengen sambel yang pedes!" Celetuknya yang malah nyariin sambal.
"Kamu beneran mau sambal? Ibu bisa bikinin buat kamu," ujar sang ibu yang bersiap berdiri dari kursi.
"Kalau Ibu gak keberatan sih..., ma-maaf ya Bu, Rio juga bingung lagi pengen banget makan sambal," jawab Rio yang jadi ngerasa gak enak malah bikin repot.
"Ya udah, Ibu buatkan sebentar ya." Wanita itu pun bergegas berjalan kembali ke dapur untuk membuatkan sambal.
"Kakak aneh deh, bukannya gak doyan pedas? Kasihan Ibu gak jadi makan!" Dina langsung mencibir.
Rio tanpa pikir panjang langsung berdiri dan berjalan menghampiri sang ibu yang mulai sibuk. Niatnya sih mau membantu, tapi....
"Hoeeeek...." Perutnya kembali mual.
"Kenapa lagi kamu?" Tanya sang ibu yang langsung menoleh ke arah belakang karena kaget.
"Bau bawang, kuat banget, Rio jadi pusing pengen muntah!"
Akhirnya Rio enggak tahan juga dan langsung ke kamar mandi buat muntah. Sementara ibunya mengerutkan kening, merasa ada yang janggal.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Bagaimana Rio akan memberi penjelasan perihal rasa pusing dan mualnya kepada sang ibu yang kayaknya mulai curiga sama dia?
.
.
.
BERSAMBUNG....