“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hening yang dingin
...menenangkan. Sebuah kehangatan yang menjalar dari telapak tangannya, naik melalui pergelangan, dan seolah menyentuh titik beku di dalam dadanya.
Raras membuka kantong beludru itu sepenuhnya. Di telapak tangannya yang pucat, tergeletak sebuah kepingan kayu jati tua, mungkin sebesar ibu jari orang dewasa. Permukaannya halus oleh waktu, dan di atasnya terukir rajah aksara Jawa kuno yang rumit dan tak ia mengerti maknanya. Namun, benda itu terasa hidup. Berdenyut lembut, seirama dengan detak jantungnya yang ketakutan.
'Ini pasti dari Eyang,'batinnya.
Sebuah jimat. Sebuah penanda bahwa di tengah transaksi dingin ini, di tengah penghinaan yang baru saja ia terima, ada sepasang mata tua yang masih melihatnya lebih dari sekadar tumbal.
Raras menggenggam kepingan kayu itu erat-erat, seolah berpegang pada satu-satunya pelampung di tengah lautan es. Malam itu, dengan jimat di genggamannya, ia akhirnya terlelap, meski tidurnya tak pernah benar-benar nyenyak.
***
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang megah. Kediaman utama Cokrodinoto adalah sebuah istana yang tak bersuara. Para pelayan bergerak seperti bayangan, tidak pernah menatap matanya secara langsung, hanya menunduk dan memanggilnya “Nyonya” dengan nada datar yang membuat Raras merasa seperti hantu.
Makanan tersaji di meja makan raksasa tiga kali sehari, tetapi ia selalu makan sendirian. Gema sendok dan garpunya yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya musik pengiring kesepiannya.
Tidak ada kabar dari Radya. Seolah pria itu telah menguap dari muka bumi setelah mengucapkan ijab kabul dan meninggalkannya di ambang pintu paviliun. Raras tidak tahu harus merasa lega atau semakin terhina.
Pada hari keempat, saat ia sedang duduk termangu di beranda belakang yang menghadap ke taman bunga aneka warna, ponsel lamanya yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah nomor tak dikenal. Dengan ragu, ia mengangkatnya.
“Halo?”
“Ini aku,” suara di seberang terdengar dingin dan tajam, tanpa basa-basi. Suara yang sama yang menyebutnya tumbal. Radya.
Jantung Raras berdebar kencang. Ia menegakkan punggungnya, seolah sedang bersiap menerima serangan.
“Ya?”
“Aku cuma mau memastikan semuanya jelas,” lanjut Radya, nadanya seperti sedang memberikan instruksi pada bawahan.
“Aku tidak akan tinggal di rumah utama. Aku akan tetap di apartemenku. Mengerti?”
“Mengerti,” jawab Raras singkat. Tenggorokannya terasa kering.
“Tugasmu di sana cuma satu, jaga Eyang. Pastikan beliau senang, pastikan beliau melihatmu ada di sana. Berperanlah sebagai istri yang baik di depannya. Di luar itu, jangan lakukan apa pun yang menarik perhatian.”
Raras menarik napas perlahan, mencoba mengendalikan emosinya yang mulai bergejolak.
“Berperan sebagai istri yang baik. Baik, aku mencatatnya.”
Hening sejenak di seberang sana, seolah Radya terkejut dengan nada Raras yang tidak memohon atau menangis.
“Satu lagi. Jangan coba-coba menghubungiku, kecuali Eyang dalam keadaan darurat. Kalau kau butuh sesuatu, hubungi Bayu. Nomornya sudah kusimpan di ponsel baru yang kutinggalkan di laci mejamu.”
Raras melirik ke kamarnya. Ia bahkan belum membuka semua laci di sana.
“Ponsel baru?”
“Tentu saja. Kau pikir aku akan membiarkan istri... " Radya terdiam sejenak, menjeda ucapannya.
"Ya, sekalipun hanya istri di atas kertas, dari seorang Cokrodinoto memakai ponsel butut seperti itu? Itu akan jadi bahan tertawaan,” lanjutnya.
Penghinaan itu lagi. Tajam dan tanpa ampun. Raras memejamkan matanya sejenak, menelan bulat-bulat bara yang membakar harga dirinya perlahan tanpa perlawanan.
“Baik. Ada lagi?”
“Tidak. Itu saja,” jawab Radya ketus, lalu sambungan telepon diputus begitu saja. Tanpa salam, tanpa selamat tinggal.
Raras menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Ia tidak marah. Anehnya, ia merasa kosong. Raras tersenyum kecut lalu menyimpan ponselnya.
Pria itu telah membangun tembok yang begitu tinggi dan tebal di antara mereka, memperjelas posisinya. Ia bukan istri. Ia adalah seorang aktris yang dibayar untuk memainkan sebuah peran di hadapan satu penonton. Eyang Putra.
Baiklah, batin Raras sambil mengepalkan tangan. Jika ini adalah sebuah pekerjaan, maka ia akan menjadi pekerja terbaik.
Raras tidak akan membiarkan dirinya layu dalam kesepian di istana ini. Ia bangkit, melangkah masuk ke dalam rumah. Ia tidak akan hanya duduk dan menunggu.
Jika ia harus tinggal di sini, ia harus mengerti tempat ini. Ia harus mempelajari aturannya, adatnya, dan yang terpenting, ia harus memahami pria tua misterius yang menjadi alasan keberadaannya di sini.
Selama beberapa hari berikutnya, Raras mengubah rutinitasnya. Pagi hari, ia akan berjalan-jalan di taman, bukan lagi untuk melamun, tetapi untuk mengamati.
Raras memperhatikan jenis-jenis bunga yang ditanam, mencoba mengingat namanya. Ia melihat seorang pelayan tua setiap pagi meletakkan sesaji kecil berisi bunga kenanga dan secuil dupa di bawah pohon beringin besar di sudut taman. Ia mulai menyapa para pelayan lebih dulu, dengan senyum kecil, meskipun balasannya sering kali hanya anggukan kaku.
Ia mulai menghabiskan waktunya di dapur, bukan untuk ikut memasak, tetapi untuk belajar. Ia bertanya pada Mbok Parmi, kepala juru masak yang sudah puluhan tahun mengabdi, tentang makanan kesukaan Eyang.
“Eyang sepuh paling suka jangan lodeh, Nyonya,” kata Mbok Parmi suatu sore, sedikit lebih ramah setelah melihat Raras tidak bersikap seperti majikan pada umumnya.
“Tapi ndak boleh terlalu pedas. Sama gereh pethek goreng kering.”
“Lalu kalau untuk Mas Radya?” tanya Raras, sekadar ingin tahu.
Wajah Mbok Parmi berubah sedikit masam.
“Den Radya… beliau sudah lama tidak makan masakan rumah, Nyonya. Sukanya makanan dari luar.”
Raras mengangguk paham. Ia mencatat semua informasi kecil itu dalam benaknya. Ia belajar bahasa Jawa halus dari buku catatan lama yang ia temukan di salah satu rak. Ia mencoba mempraktikkannya saat berbicara dengan pelayan yang lebih tua. Perlahan, dinding es di antara dirinya dan para penghuni rumah mulai retak, meski hanya sedikit.
Sore itu, ia sedang menyiram tanaman melati di dekat paviliun saat Eyang Putra keluar, duduk di kursi goyangnya yang biasa. Pria tua itu hanya diam, mengamatinya dari kejauhan. Raras merasa sedikit gugup, tetapi ia melanjutkan pekerjaannya seolah tidak menyadari tatapan tajam itu.
Setelah beberapa saat, Eyang memanggilnya.
“Nduk, kemarilah.”
Raras meletakkan gembor airnya dan berjalan mendekat, menundukkan kepalanya sedikit.
“Dalem, Eyang.”
Eyang menatapnya lekat-lekat. Matanya yang keriput seolah bisa menembus hingga ke dasar jiwa Raras.
“Sudah lebih dari seminggu kau di sini. Apa yang kau rasakan?”
Ini sebuah ujian, Raras tahu itu. Ia tidak boleh menjawab salah. Ia menarik napas.
“Rumah ini besar dan indah, Eyang. Tapi… sepi.”
Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di bibir Eyang.
“Kesepian adalah penjaga paling setia di rumah ini.” Pria tua itu terdiam sejenak, tatapannya menerawang ke taman.
“Aku melihatmu. Kau tidak hanya duduk diam. Kau belajar. Kau mencoba mengerti.”
Jantung Raras berdebar. Usahanya ternyata tidak sia-sia.
“Kau mengingatkanku pada almarhumah nenekmu Radya,” lanjut Eyang, suaranya melembut.
“Dia juga datang ke sini sebagai orang asing, tapi dia tidak pernah menyerah untuk membuat rumah ini terasa seperti rumah.”
Eyang merogoh saku beskapnya, mengeluarkan sesuatu yang berkilau kusam di bawah cahaya senja. Sebuah kunci kuno dari kuningan yang menghitam dimakan usia, dengan ukiran sulur yang rumit di bagian kepalanya.
“Apa kau benar-benar ingin mengerti keluarga ini, Nduk Raras?” tanya Eyang, suaranya kini terdengar serius dan penuh bobot.
Raras menatap kunci itu, lalu beralih ke mata Eyang. Ia mengangguk mantap.
“Nggeh Eyang. Saya ingin.”
Eyang mengulurkan kunci itu padanya. Berat dan dingin di telapak tangan Raras.
“Ini kunci gudang buku di sayap barat. Tempat itu sudah puluhan tahun tidak dibuka. Di sanalah semua sejarah keluarga ini tersimpan. Yang baik, yang buruk…”
Eyang berhenti sejenak, tatapannya menusuk Raras, seolah ingin memastikan gadis itu siap dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya.
“...dan yang terkutuk. Kau ingin tahu kenapa Radya bersikap seperti itu? Kenapa rumah ini dipenuhi bayang-bayang masa lalu? Jawabannya ada di sana.”
Pria tua itu mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya merendah menjadi bisikan yang sarat akan peringatan.
“Tapi aku harus memperingatkanmu, Nduk. Sekali kau membuka pintu itu… kau tidak akan pernah bisa melihat keluarga ini dengan cara yang sama lagi.”