NovelToon NovelToon
ANASTASIA

ANASTASIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Time Travel / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Ongoing

Lady Anastasia Zylph, seorang gadis muda yang dulu polos dan mudah dipercaya, bangkit kembali dari kematian yang direncanakan oleh saudaranya sendiri. Dengan kekuatan magis kehidupan yang baru muncul, Anastasia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya yang jahat dan memulai hidup sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#27

Badai salju turun sejak sebelum fajar, membuat seluruh benteng Silas tampak seperti mosaik putih yang ditempa dingin. Tidak ada cahaya matahari yang menembus, hanya kelam kelabu yang menggantung seperti ancaman.

Namun pagi itu, meski langit tampak sama—gelap, berat, dan bisu—ada sesuatu yang berbeda di dalam dinding batu itu.

Anastasia terbangun dengan tubuh yang sedikit gemetar. Bukan karena kedinginan; tubuhnya sudah lama kebal terhadap suhu ekstrem. Tetapi… ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar—seperti benang halus sihir yang ditarik paksa dari jantungnya.

Seseorang memanggilnya.

Dan dia tahu siapa.

Theodora.

Suara itu tidak muncul sebagai bisikan. Tidak sebagai ingatan. Tidak juga sebagai delusi. Tapi sebagai tarikan hidup—gelombang sihir gelap yang tidak seharusnya ada.

“Dia… masih hidup?” bisik Anastasia lirih.

Lengan tipisnya mencengkeram selimut. Tatapannya kosong beberapa detik. Lalu berubah menjadi dingin, hitam, sesuatu yang selama ini ia sembunyikan di balik senyum kecilnya.

“Tidak. Itu mustahil. Aku melihat tubuhnya dibakar.”

Namun tubuhnya bereaksi lagi. Seolah serpihan nyawa yang ia pernah bagi dengan kakaknya—yang selalu bersatu sejak kecil—meronta meminta pengakuan.

Tidak. Lebih dari itu.

Meminta pertolongan.

Anastasia menunduk, lalu tersenyum miring.

“Jadi… kau tidak mati. Menarik.”

Ia bangkit, meraih mantel bulu putih yang tergantung di kursi. Tapi ketika ia hendak berjalan keluar, suara berat yang sangat ia kenal datang dari belakang.

“Ke mana kau hendak pergi?”

Anastasia sontak berhenti. Detak jantungnya terlonjak—entah karena terkejut atau alasan lain. Duke Aloric berdiri di pintu, tinggi menjulang, tubuh kekarnya memberi bayangan gelap yang melapisi setengah ruangan.

Ia mengenakan pakaian tempurnya, seolah sudah bersiap menghadapi musuh besar sejak fajar. Rambut peraknya jatuh ke bahu, kontras dengan mata hitam tajam yang memerhatikan Anastasia seperti mau menembus isi pikirannya.

“Pagi-pagi sekali dan kau sudah mencoba kabur lagi,” katanya dingin.

Anastasia menghela napas. “Aku tidak kabur, Yang Mulia.”

Aloric mengangkat satu alis. “Oh? Lalu kenapa kau membawa mantel, sepatu bot, dan ransel kecilmu?”

“Untuk… jalan-jalan.”

“Jalan-jalan?”

Silas mendekat dua langkah, cukup untuk membuat lantai memantulkan suara berat sepatu botnya. “Di tengah badai salju yang bahkan membuat prajuritku hampir mati kedinginan?”

Anastasia tersenyum tipis. “Aku tidak seperti prajuritmu.”

Kalimat itu membuat Aloric menatapnya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di mata Duke—kecurigaan, ketertarikan, dan sedikit… khawatir?

“Anastasia.” Suaranya berubah rendah. “Ada sesuatu yang kau sembunyikan.”

“Aku selalu menyembunyikan sesuatu, Yang Mulia.”

Ia mendekat lagi. Anastasia mundur setengah langkah. Satu tangan Aloric terangkat dan menahan bahunya—lembut, tapi kuat seperti baja.

“Apa yang kau rasakan?” tanya Duke tanpa berputar-putar. “Detak sihirmu kacau sejak subuh.”

Anastasia terkejut.

“Bagaimana Anda—”

“Aku bisa merasakannya.”

Aloric menatapnya lurus. “Telah kubilang, kau membangunkanku dari kematian. Kekuatanmu dan kekuatanku kini terhubung.”

Kalimat itu membuat napas Anastasia tercekat.

Ia tentu tahu bahwa ketika ia menghidupkan kembali seseorang, ada bekas ikatan spiritual yang tertinggal. Tapi ia tidak pernah tahu bahwa kekuatan keluarga Silas—yang dikenal paling purba dan paling liar—bisa menarik garis itu menjadi begitu kuat.

Seakan mereka berdua sekarang berjalan di bayang-bayang satu sama lain.

Anastasia menjaga ekspresinya tetap polos.

“Tidak ada apa-apa.”

Aloric mendekat lebih dekat lagi—sangat dekat—hingga napasnya yang dingin terasa di dahi Anastasia.

“Jangan berbohong padaku. Kau tahu aku benci kebohongan.”

Anastasia terdiam. Mencari celah. Mencari cara.

Ia tidak boleh mengatakan tentang Theodora—belum. Itu akan memicu reaksi yang terlalu cepat, terlalu berbahaya.

Akhirnya ia berkata pelan, “Aku hanya merasa… tidak enak badan.”

Aloric tampak marah.

Namun bukan marah karena dibohongi—tetapi marah karena khawatir.

Dan itu jauh lebih berbahaya.

“Kau tetap di benteng hari ini,” ucapnya tegas. “Aku tidak mengizinkanmu keluar.”

“Dan kenapa aku perlu izin dari Anda?” Anastasia menantang, senyum kecil muncul.

Aloric menatapnya seolah ia baru saja menantang seekor naga.

“Karena kau berada di wilayahku. Dan karena nyawamu berharga bagiku.”

Kalimat itu membuat Anastasia terdiam.

Beberapa detik.

Beberapa detik yang terlalu sunyi dan terlalu panjang.

“Jangan bicara seperti itu,” katanya pelan. “Anda membuatku… sulit pergi.”

Suara Aloric mengeras. “Memang itu maksudku.”

Anastasia hendak menjawab ketika suara langkah tergesa datang dari koridor. Pintu diketuk keras.

“Yang Mulia Duke! Ada laporan penting!”

Aloric menahan napas sejenak, lalu melepaskan bahu Anastasia. Sebentar saja, tapi cukup membuat Anastasia merasakan kehilangan aneh yang menusuk dada.

“Masuk,” perintah Aloric.

Seorang ksatria berbalut salju masuk dan menunduk dalam-dalam.

“Kami menemukan… mayat wanita di kaki gunung utara.”

Ia melanjutkan dengan suara bergetar.

“Mayat itu… menghitam, seperti dibakar dengan sihir berunsur kegelapan. Tapi tubuhnya… masih utuh.”

Anastasia membeku.

“Wanita itu mengenakan perhiasan keluarga Marquis Zylph.”

Aloric menoleh cepat ke Anastasia.

Wajahnya berubah sepenuhnya.

“Anastasia…?”

Napas Anastasia tercekat.

Karena ia tahu.

Karena ia mengerti.

Karena tanda itu…

panggilan itu…

tarikan sihir itu…

Bukan berasal dari Theodora yang hidup.

Tapi dari seseorang yang mencoba menghidupkan Theodora kembali

—dengan sihir gelap.

Dan hanya ada satu tujuan:

Memburu Anastasia Zylph.

Anastasia menunduk pelan, menyembunyikan kilatan mematikan di matanya.

“Sepertinya… masalahku telah menyusulku sampai ke utara, Yang Mulia.”

Aloric menghela napas berat. “Kalau begitu…”

Ia menggenggam pedangnya.

“…kita akan menyambut mereka.”

Anastasia tersenyum kecil. Senang. Takut. Dan… puas. “Baik, Yang Mulia.”

1
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!