El Gracia Jovanka memang terkenal gila. Di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah melanglang buana di dunia malam. Banyak kelab telah dia datangi, untuk sekadar unjuk gigi—meliukkan badan di dance floor demi mendapat applause dari para pengunjung lain.
Moto hidupnya adalah 'I want it, I get it' yang mana hal tersebut membuatnya kerap kali nekat melakukan banyak hal demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sejauh ini, dia belum pernah gagal.
Lalu, apa jadinya jika dia tiba-tiba menginginkan Azerya Karelino Gautama, yang hatinya masih tertinggal di masa lalu untuk menjadi pacarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Another Problem
Mandi air hangat sesuai anjuran ternyata cukup efektif membuat pening di kepala Jovanka hilang. Kini dengan kepala yang basah berbaut handuk, ia menyembul keluar dari kamar. Bajunya yang semalam kusut bau keringat, juga sudah diganti dengan setelan yang baru; kaus oversize warna putih yang menelan hotpants hitamnya. Perhatiannya langsung tertuju pada Karel, di mana lelaki itu masih sibuk membereskan kekacauan yang ditinggalkannya sejak kemarin.
Ketika lelaki itu mengantarnya pulang tadi, mereka disambut keadaan yang berantakan. Pekerjaan Jovanka terbengkalai di atas meja. Kertas-kertas berserakan, laptop terbuka dengan layar hitam--kehabisan daya. Sekarang, meja kerjanya sudah kembali rapi. Kertas-kertas disusun, laptop diisi daya di sisi meja yang lain.
"Yang lain nanti gue beresin sendiri aja," katanya. Dia belum melangkah lebih jauh, masih menjaga jarak dengan berdiri di depan pintu kamar.
Karel, yang tengah mengelap meja kaca di ruang tamu yang ketumpahan kopi, menoleh dan terdiam sejenak. "Aman aja," sahutnya, lalu melanjutkan pekerjaan seolah interupsi Jovanka bukanlah apa-apa.
Sampai detik ini, Jovanka sudah mulai belajar banyak hal. Jika kemarin-kemarin sisi egoisnya selalu menang, kali ini ia tekan dan biarkan kalah. Tidak ada untungnya membantah Karel, setidaknya untuk sesuatu yang jelas ia ketahui kebenaran dan manfaatnya. Maka alih-alih membantah, Jovanka hanya mengangguk di tempat.
Tak lama, Karel selesai dengan pekerjaannya. Lelaki itu cekatan memasukkan sampah ke dalam kantong plastik transparan yang ditemukannya dekat sana. Plastik diikat kencang, lalu dibuang ke dalam tong sampah dekat televisi.
"Nanti gue buang sekalian turun beli makan," katanya. Tanpa menoleh, ia mengubah haluan, menuju dapur. Keran wastafel dinyalakan, ia mencuci tanan dengan sabun di sana, memakan waktu cukup lama sampai ia kembai dengan telapak tangan yang basah.
"Here." Jovanka mengulurkan tisu yang dipungutnya dari meja. Karel menerimanya, kendati tampak di wajahnya sedikit keterkejutan, tidak menyangka Jovanka sudah berpindah dari depan kamar, ke ruang tengah.
"Lo mau makan apa?" Karel membuang tisu bekas mengelap tangan, ikut duduk di sebelah Jovanka. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, lelaki itu tidak menciptakan jarak aman, membuat Jovanka tak kuasa mengulum senyum.
"Ayam geprek."
Karel menoleh, dahinya berkerut tak suka. "Jangan gila," geramnya. "Mau mati part dua?"
Jovanka mencebik, mendumal sebentar. "Kan bisa dibikin nggak pedas," gerutunya.
"Nggak ada," sentak Karel, teguh pada pendiriannya. "Sup ayam mau nggak? Ayam juga kan tu."
Wajah Jovanka memelas, ia menggeleng lemah. "Nggak suka, ayamnya pucet kayak lagi sakit."
"Tuhan...." Karel mendesah geram. Rasa ingin menjitak kepala Jovanka besar sekali, andai bisa langsung direalisasikan. "Coba pikirkan secara logika, Jov."
Jovanka mencibir, mengikuti ucapan terakhir Karel dengan berkomat-kamit tanpa suara. "Bubur lagi aja kalau gitu. Lumayan, nggak perlu ngunyah," katanya asal.
Karel menggeleng tak habis pikir. Menyadari tak ada gunanya bertanya pada Jovanka. Berharap apa memangnya pada perempuan gila yang nyaris meregang nyawa, hanya karena segelas kopi sialannya.
"Soto ayam bening aja."
"N--"
"Nggak nanya," Karel memotong, matanya sudah mau melotot, "ini udah gue pilihin, nggak usah repot."
Seketika, Jovanka cemberut. Ekspresinya mirip bocah yang dilarang makan cokelat, tapi tak punya daya untuk melakukan negosiasi.
Setelah memutuskan menu makan siang, masing-masing dari mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jovanka menekan tombol merah di remote televisi, menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, mulai fokus menatap layar yang menunjukkan serial kartun. Sementara Karel, ia sibuk menggulir layar ponselnya, memeriksa deretan kalimat yang terpampang rapat dari satu kata ke kata berikutnya. Butuh konsentrasi tingkat tinggi untuk memahami, dan sampailah ia pada kesimpulan terkait berita pembunuhan yang sedang dibacanya.
"Ardi, Ardi," cetusnya sambil menggeleng kecil, merujuk pada nama penulis di akhir artikel, di bagian sudut kiri bawah. "Belajar nulis lagi yang bener, Di. Tulisan lo bikin kepala pening."
Merasa penasaran, Jovanka beringsut diam-diam, kepalanya meneleng, mengintip ke layar ponsel Karel yang menyala terang. Tahu bahwa seorang penyusup datang, Karel menjauhkan ponselnya dengan gerakan cepat. Sebelum kepala Jovanka makin dekat, dia halau dengan telapak tangan yang mendarat tepat di keningnya.
"Di mana sopan santunnya?" sindirnya, sambil mendorong kepala Jovanka menjauh. "Siapa yang ngajarin ngintip hape orang lain?"
"Pelit ah," gerutu Jovanka, kembali ke posisi awalnya. "Kan gue mau tahu, lo lagi baca apaan, sampai sewot gitu ke penulisnya."
"Baca cerita dewasa," celetuk Karel. "Puas?"
Jovanka melirik sinis. "Mesum sekali rupa-rupanya," cibirnya. Bibirnya berkomat-kamit lagi, seakan belum puas mengatai, tapi tidak punya keberanian untuk mengumpat terang-terangan.
Di saat mulutnya masih belum berhenti mengomel tanpa suara, distraksi datang dari ponselnya yang menyala terang, bersamaan dengan dering yang menggema kencang. Jovanka menatap nanar layar ponselnya, tahu betul bahwa seseorang di balik label Unknown yang muncul di layar itu adalah David.
"Kenapa?"
Dia menoleh, terpaku pada Karel, dan mengakhiri kontak dengan menghela napas. Seakan mengerti, Karel tidak mengatakan apa pun, alih-alih mengambl ponsel Jovanka dan menekan log hijau.
"Halo?" sapanya tegas. Di seberang, hening terdengar. Seseorang yang menelepon tampak seperti tidak menduga akan mendengar suara Karel alih-alih Jovanka. "Halo? Siapa di sana? Kalau nggak jawab saya tutup," peringatnya.
Setelah diperingatkan begitu, barulah sebuah suara terdengar. Karel menegang sesaat, melirik Jovanka, menelusuri raut wajahnya yang terlihat tidak terkejut sama sekali. "Jovanka lagi mandi," ucapnya. Jari telunjuknya menempel di bibir, petunjuk bagi Jovanka untuk tetap diam. Sejurus kemudian, dia menjauhkan ponsel dari telinga, menekan loud speaker lalu kembali bicara. "Bicara sama saya aja, nanti saya sampaikan," katanya.
"Saya nggak yakin boleh bicara sama kamu," sahut suara di seberang. "Ini masalah keluarga."
Karel melirik Jovanka, seakan meminta persetujuan. Begitu gadis itu mengangguk, suaranya kembali keluar. "Bicara sama saya," ulangnya, lebih tegas. "Jovanka sudah jadi keluarga saya sekarang, jadi nggak masalah."
Lagi, hening menyapa berdetik-detik lamanya. Karel menunggu dengan sabar, tidak berniat mengakhiri panggilan lebih dulu. "Saya masih di sini." Ia menegaskan, kalau-kalau David mulai berpikir untuk lari. Sedetik kemudian, terdengar helaan napas berat. Seakan David di seberang sana sedang memikul banyak beban.
"Sampaikan saja pada Gracia, bahwa mamanya sedang sakit dan saat ini dirawat inap. Kalau tidak keberatan, beritahu dia untuk datang menjenguk."
Sewaktu Karel menoleh, ia menyadari ekspresi Jovanka berubah. Tampak terkekan, sedih, marah, dan kombinasi emosi lain yang tidak mudah dia jelaskan dengan kata-kata.
"Ya," kata Karel pada akhirnya, kembali fokus pada panggilan. "Nanti saya sampaikan."
"Terima kasih."
Tidak dijawab. Karel langsung memutus panggilan setelah dirasa tidak ada lagi yang penting. Ponsel Jovanka tidak serta-merta dikembalikan. Benda pipih itu tergenggam erat di tangan, selagi ia menyelami ketidaknyamanan dalam ekspresi Jovanka.
"So," mulainya. "Apa yang bakal lo lakukan sekarang?"
Bersambung....