NovelToon NovelToon
Istri Bodoh Tuan Mafia

Istri Bodoh Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Mafia / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:855
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 KEDATANGAN

Dalam hitungan detik, rona gelap muncul di mata Kael bukan sekadar amarah, tapi seperti ada badai yang menunggu untuk menghancurkan apa pun yang menghalangi unttuk mendapatkan gadis kecil itu.

"Mereka pikir mereka bisa menyerahkan Seyna ke pria itu?Tidak akan bisa," gumam Kael, nadanya rendah, tapi cukup berbahaya bagis siapa saja yang mendengarnya..

Zidan merasakan bahaya itu dan mundur satu langkah, namun tetap menjawab ucapan Kael pelan.

"Jika pernikahan itu terjadi, Tuan tidak ada yang bisa kita lakukan. Keluarga Hartanto cukup kuat untuk membuat siapa pun tutup mulut. Seyna tidak akan punya pilihan, karena ia pasti akan menuruti ucapan paman dan bibinya lagipula gadis itu..." Zidan menghela napas karena ia tahu kata selanjutnya cukup sensitif.

"cukup bodoh tuan," ucap Zidan pelan dan hati hati.

Tanpa peringatan sedikit pun, Kael melempar tab yang ia pegang dengan sangat keras ke dinding hingga pecah berkeping kepala Zidan refleks menunduk. Zidan sedikit takut gara gara omongannya atau karena hal lain Kael tiba tiba mengamuk.Ini pertama kalinya Zidan melihat Kael kehilangan kendali karena seseorang.

"TIDAK ADA SATU PUN ORANG YANG MENYENTUH SEYNA, SIAPAPUN!" Suaranya memang tidak keras tapi ia menekankan kata kata itu.

Wajah Kael mengeras, matanya gelap oleh kekhawatiran dan kemarahan yang tidak ia sembunyikan lagi. Zidan menunduk lebih dalam. Ia tahu Kael bukan pria yang peduli pada siapa pun. Selama bertahun-tahun bekerja, Kael tidak pernah menunjukkan empati atau kepedulian kepada orang lain bahkan kepada keluarganya sendiri. Dan sekarang, semuanya berubah hanya karena satu gadis.

Dalam hati Zidan berbisik, "Aku tidak percaya… manusia tanpa hati itu ternyata bisa jatuh cinta."

Kael menghela napas perlahan tapi suaranya tetap tajam,

"Zidan, siapkan berkas pernikahan. Aku mau semuanya selesai secepat mungkin."

Zidan mengangguk kaku. "Tapi tuan apakah nona Seyna bakal setuju?" tanya Zidan ragu.

Kael menatap ke arah jendela, kedua tangannya mengepal seolah sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berat daripada emosi.

"Lakukan saja perintahku, nanti malam aku akan mengajak kakek menemui keluarga Darma!" tegas Kael.

Zidan hanya mengangguk lalu segera keluar dari ruangan itu, menyisakkan Kael sendiri yang diliputi amarah.

"Tidak ada yang akan mengambil Seyna dariku. Tidak ada," gumamnya sambil menggenggam gelas kaca.

Seyna hanya sibuk melukis, karena melukis adalah alat bagi dirinya untuk bercerita. Seyna menggoreskan cat itu ke tinta kosong dengan lihai hingga tiba tiba pintu kamarnya terbuka.

"Seyna!" ucap Alisha sambil berjalan mendekat.

Seyna hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus ke arah kanvas itu, Alisha berjalan lebih celat lalu menarik tangan Seyna yang membuat lukisan itu tergores. Melihat itu Seyna segera menjatuhkan kuasnya lalu menatap datar ke arah Alisha.

"Ada apa?"tanyanya datar.

Di hadapan Alisha, Seyna sudah tidak akan berpura pura bodoh lagi. Karena satu hal yang pasti bagi dirinya kehancuran Alisha akan semakin dekat.

Mendengar itu Alisha menunjuk wajah Seyna dengan kasar. "Kau!"

Seyna buru buru mendekat, Alisha yang sedikit takut karena sikap Seyna berubah segera mundur beberapa langkah.

"Baiklah, aku minta maaf," ucap Alisha yang takut dicekik oleh Seyna.

Seyna segera mundur dan menatap ke arah Alisha tatapannnya masih mengintimidasi.

"Cepat katakan!," ucap Seyna tegas.

Alisha hanya menghela napas lalu kembali mendekat ke arah Seyna dan berkata pelan.

"Bantu aku, mendapatkan Amar kembali," ucap Alisha.

Seyna kembali duduk di kursinya lalu menatap ke arah Alisha datar ia tidak menunjukan rasa peduli sedikitpun.

"Memangnya apa urusannya denganku?" ucap Seyna.

Alisha yang mendengar itu rasanya ingin mengata ngatai orang di hadapannya, tetapi ia urungkan karena rencana ini mau tidak mau harus melibatkan Seyna.

"Sekali lagi, tolong lah aku. Kalau kau menolak akan kuberitahukan kepada ibukku, dan meminta ia menghajar adik kesayanganmu," Alisha mengancam Seyna.

Seyna hanya menghela napas, mau bagaimanapun ia berulah ia tetap saja kalah kalau sudah masalah sang adik.

"Baik aku setuju, cepat katakan!" ucap Seyna datar.

Alisha yang mendengar itu segera memeluk Seyna, di dalam hatinya ia akan menggunakan Seyna sebagai umpannya untuk mendapatkan Amar.

Alisha melepas pelukan itu lalu menatap ke arah Seyna lekat lekat.

"Besok ikut aku ke pesta ulang tahun mamanya Amar. Cuma itu dan jangan membuat ulah disana serta jangan dandan. Karena harus aku yang paling sempurna disana!"

Seyna awalnya diam, kedua tangannya mengepal di pangkuan. Ia tahu pesta itu penuh orang, ia tidak suka keramaian, ia tidak suka tatapan orang, dan ia tidak ingin dikendalikan lagi. Tapi begitu Alisha kembali mengucap ancaman tentang adiknya, ia tidak bisa membuat pilihan.

"Baik. Aku ikut," gumam Seyna lirih.

Alisha tersenyum puas. Saat ia keluar kamar, Seyna masih duduk diam wajahnya tanpa ekspresi, tetapi mata itu dingin seperti menyimpan sesuatu yang tajam dan gelap.

Suara mobil berhenti di halaman membuat seluruh rumah sontak tegang. Jarang ada tamu datang malam-malam apalagi dari keluarga sebesar Adikara. Dirga dan Reni terburu-buru keluar menyambut.

"Kakek Adikara… Kael… sungguh kejutan kedatangan kalian," Reni berusaha tersenyum sopan, meski matanya jelas menunjukkan kepanikan.

"Tak mungkin mereka datang tanpa alasan," pikir Reni.

Setelah basa-basi singkat, semua duduk di ruang tamu. Suasana canggung, hanya terdengar suara jam dinding. Kakek Adikara perlahan meletakkan tongkatnya dan berkata pelan namun tegas.

"Reni, panggilkan Seyna. Kakek ingin bicara dengannya." Nada itu seperti perintah bukan permintaan.

Reni menelan salivanya. Ia mengangguk dan hendak naik mencari Seyna, namun sebelum ia sempat bergerak. Dua langkah pelan terdengar dari arah tangga. Seyna muncul terlebih dulu bersama Alisha di belakangnya.

Rambut Seyna dikepang dua, kaus tidurnya bermotif kartun pastel, dan di tangannya ada permen lolipop raksasa warna merah muda.

Ia tampak seperti gadis 10 tahun.

"Ada yang nyari Seyna, ya? ucapnya ceria, sambil memakan lolipopnya itu.

Alisha hanya memutar bola matanya, ia tahu bawa Seyna hanya berpura pura. Tegapi saat ia cerita ke oramg lain yang ada dia dikatakan bohong. Seyna berjalan menghampiri Kakek Adikara bukannya duduk manis, ia menempelkan tubuhnya ke lengan sang kakek lalu berucap manja.

"Kakek… Seyna rindu dengan kakek baik."

Semua orang terpaku, bahkan Kael. Kael tidak pernah melihat gadis seusia Seyna berlaku seperti ini. Tapi Kael paham bahwa Seyna mungkin Seyna menyimpan trauma yang membuatnya berperilaku seperti anak anak.

Kakek Adikara mengusap kepala cucu sahabatnya itu dengan lembut, nada suaranya penuh simpati.

"Anak baik… kamu sehat, ya? Kamu makan yang banyak?"

Seyna mengangguk cepat, masih mengulum lolipop.

"Hmm! Seyna makan banyak. Tapi Alisha bilang besok ada kue ulang tahun jadi Seyna mau ikut biar makan kuenya."

Alisha mencelos. Ia tidak menyangka Seyna mengatakan itu di depan semua orang. Reni langsung menatap Alisha penuh curiga.

"Alisha… apa maksudmu mengajak Seyna ke pesta besok?"

Alisha buru-buru tersenyum lembut, seolah tidak ada maksud apa pun.

"Ah… cuma ingin ajak dia bersenang-senang, Ma.Kasian dia dirumah terus."

Seyna justru menambahkan polos.

"Dan Alisha bilang kalau aku nggak mau ikut, adikku bakal… eh…"

Alisha langsung menyikut pinggang Seyna, semua terdiam. Seyna mengedipkan mata bingung lalu tersenyum canggung seperti anak bodoh yang tidak sadar sedang membocorkan sesuatu.

....

MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH

Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!

1
Bu Dewi
seru, lnjut lagi kak.. hehehhehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!