Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.
Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.
Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pernikahan
Tuan Mahesa menuju ruang kerjanya. Ia tak ingin mendebat istrinya. Ia tak tahan pada wajah cemberut istrinya itu. Pria itu mengambil ponselnya, lalu menekan tombol panggil pada nomor Radit. Ia ingin mendengar langsung dari Radit apa yang sebenarnya terjadi.
"Assalamualaikum, Pa." terdengar suara dari sebrang.
"Wa'alaikumussalam. Jelaskan pada Papa perihal adikmu!" ucap Tuan Mahesa to the point.
"Mungkin Papa sudah dengar dari Mama sebelumnya. Seperti itulah yang terjadi, Pa."
"Jelaskan dengan lebih detail. Apa yang dia lakukan? Kenapa pernikahannya terburu-buru seperti ini?! Jujur pada Papa, Radit!" Tuan Mahesa memberi penekanan pada akhir ucapannya.
Hening sesaat.
"Gadis itu sudah tepat untuknya, Pa. Dialah yang selama ini membantu Ari di kantor. Pernikahannya disegerakan agar gadis itu tidak dilamar laki-laki lain. Karena bukan cuma Ari yang menyukainya dan ingin melamarnya. Papa pasti akan terkejut dengan kinerja Ari sekarang. Dia sudah berubah dan semua itu karena campur tangan gadis itu."
Tuan Mahesa terdiam beberapa saat. "Lalu kenapa kau tidak melaporkan pada Papa berita ini? Kenapa tunggu Papa pulang dulu. Papa kan sudah bilang, apa pun yang dilakukan oleh adikmu itu, sampaikan pada Papa. Papa sudah menunjukmu untuk mengawasinya."
"Maafkan Radit, Pa. Radit hanya gak ingin mengganggu Papa. Lagipula semua sudah Radit atur sedemikian rupa. Radit yakin, Papa pasti gak akan kecewa dengan pernikahan ini. Ini yang terbaik buat Ari. Radit juga yakin, langkah ini mampu merubahnya menjadi lebih baik."
Tuan Mahesa menghela nafas, "Baiklah. Papa percaya padamu. Apa yang terbaik menurut pengamatanmu maka Papa percaya akan baik nantinya."
"Terima kasih, Pa. Maafkan Radit ya, Pa."
Tuan Mahesa menutup panggilan setelah mengucapkan salam. Hatinya sudah tak perlu khawatir lagi sekarang. Kini, ia harus percaya karena Radit sudah menjaminnya. Ia sangat yakin dengan pengamatan putra sulungnya itu. Selama ini Radit tidak pernah membohonginya apalagi mengecewakannya.
Di kantor Makarim Group....
Radit menutup ponselnya dengan rahang mengeras. Ia merasa muak dengan dirinya sendiri yang sudah membohongi Papa. Jika boleh berbicara terus terang, ia akan katakan semua apa adanya.
Ia membuat gerakan pada layar ponselnya. Satu buah chat wa tertera di sana atas nama Mama Ariana. Chat yang diterimanya beberapa saat sebelum ia menerima panggilan telpon dari Papa. Ia menatapnya dengan penuh kecewa. Chat itu yang membuat ia mengkhianati sang Papa.
Jangan katakan apapun yang terjadi pada Papa. Katakan saja jika pernikahan ini yang terbaik buat Ari. Dan yakinkan itu dengan baik. Mama percaya padamu Radit.
Tidak beberapa lama setelah mendapat telpon dari Papa, Radit pulang ke rumah. Pria itu langsung menuju ruang kerja Papanya. Diskusi pernikahan Ari pun digelar di sana.
Radit berhasil mengumpulkan perusahaan yang bisa memasok bahan baku menggantikan Regan. Pernikahan Ari dan Kiran yang rencana awal akan diselenggarakan tiga bulan lagi, bisa dipercepat menjadi satu bulan kedepan. Jika tiga hari lagi akad nikah digelar, maka setelah satu bulan kemudian menggelar resepsinya.
Berita itu langsung disampaikan kepada Mama Ariana dan Ari. Mama Ariana tampak bahagia luar biasa. Sedangkan Ari yang masih berada di kantor sudah tak sabar ingin segera pulang ke rumah membagi informasi tersebut kepada Kiran yang tak tahu apa-apa.
❇❇❇❇
Kiran mengamati pemandangan dari atas balkon. Ia baru saja selesai sholat isya. Meskipun hanya di dalam kamar, namun ia tahu jika Papa Ari sudah pulang. Dan seperti instruksi awal, ia tak pernah menampakkan dirinya.
Ia masih menatap lurus ke depan. Pikirannya kini mengembara. Mengingat kembali apa yang sudah dialaminya. Mulai dari masa-masa bahagianya. Ketika ia masih sekolah dasar.
Masa di mana ia benar-benar merasa bahagia. Bahkan terlalu bahagia. Ia bisa tertawa lepas dengan siapa saja. Senyuman pun tak pernah lekang dari bibirnya. Jangan bandingkan dengan sekarang, ia sendiri sudah lupa kapan terakhir kali ia tertawa. Jika bisa, ia ingin kembali ke masa itu. Masa di mana ia tidak sendiri.
Pada masa itu keluarganya masih lengkap. Ada Mama dan juga Papa yang sangat menyayanginya. Mereka selalu setia menemani dan membimbingnya. Kehangatan keluarga saat itu benar-benar dirasakannya.
Bahkan hadir juga seorang anak laki-laki yang menambah kebahagiaannya. Percaya hingga kini bahwa anak laki-laki itu telah menguasai tempat di hatinya yang paling dalam dan tersembunyi. Anak laki-laki yang berjanji untuk menjadi mempelai prianya di masa yang akan datang setelah mereka besar nantinya. Anak laki-laki yang tak pernah datang dan mencarinya. Mungkin karena itu juga ia belum bisa membuka hati untuk pria lain bahkan untuk Rangga sekalipun.
Semua berubah setelah kepergian Mama secara tiba-tiba. Papa yang tadinya hangat berubah menjadi pendiam dan suka menyendiri. Tawanya hilang, berubah menjadi seorang pemikir yang memetakan segalanya.
Papa bahkan mendidiknya sedemikian rupa agar mampu hidup sendiri. Ilmu bela diri yang dipaksa untuk mumpuni. Kecerdasan agar mampu memetakan kehidupan serta mampu menghadapi berbagai kesulitan di masa yang akan datang. Hingga pembiasaan agar mampu mengerjakan tugas sebagai seorang sekretaris yang handal sudah dipersiapkan Papanya sejak dini.
Di saat Kiran merasa kuat dan mampu melewati hidup sendiri, Papanya pun meninggal dunia karena serangan jantung. Kiran memastikan sendiri hal itu. Jika tidak, mungkin ia akan berpikir bahwa Papanya meninggal karena bunuh diri. Akibat derita bekerpanjangan karena terlalu cinta. Cinta dusta sang Mama yang pergi meninggalkan mereka.
Lalu hadir seorang pria, teman SMA nya yang setia luar biasa. Meskipun ditolak berkali-kali namun tetap berada di sisinya. Di saat ia merasa percaya jika pria itu mampu menemani seumur hidupnya, di saat yang sama ia telah kehilangan pria itu.
Sempat terbersit satu pertanyaan besar dalam hatinya, apakah memang ia tak pantas bahagia? Namun segera ditepisnya. Papanya selalu mengatakan bahwa apapun yang terjadi maka dirinya harus mensyukurinya, agar nikmat itu Allah tambah. Jika tidak maka azab Allah amat pedih. Kata-kata itu yang selalu menguatkannya untuk menepiskan bisikan hati bahwa memang ia sedang mengalami ketidakadilan dalam hidup.
Kini, ia dihadapkan pada pernikahan yang tak pernah sama sekali diharapkannya. Pada orang yang mungkin sampai sekarang, masih belum ia pahami, perasaan apa yang ada di hatinya untuk pria itu. Semua serba fatamorgana.
Gadis itu menghela nafas pelan. Sebenarnya ia memang sudah lelah menimbang dan memetakan langkah terbaik yang harus dilakukannya kedepan. Ia juga lelah harus merasa kuat sendiri.
Jika kau mengalami hal tidak menyenangkan yang membuatmu tidak bersyukur maka lihatlah orang yang kehidupannya berada di bawahmu. Percayalah bahwa Allah hanya memberi cobaan sesuai kesanggupan HambaNya. Ketika sesuatu itu terjadi padamu, maka Allah percaya kau akan mampu menghadapinya.
Kata-kata Papanya terngiang kembali. "Kiran lelah Papa. Kiran mulai lelah menghadapi semuanya sendiri." ucapnya lirih. Satu bulir air mata menetes menuruni pipinya.
"Lagi mikirin aku, ya?" sebuah suara membuyarkan lamunan Kiran. Gadis itu mengusap air matanya dengan cepat, menoleh, mendapati Ari sedang tersenyum menatapnya. Kiran tak menjawab, kembali menatap lurus ke depan.
"Hei, begitu caramu melihat calon suamimu setelah seharian tidak bertemu?!" tanya Ari sewot. Gadis itu bergeming.
"Sebulan setelah akad nikah, kita akan mengadakan resepsi, mengumumkan pernikahan kita. Kakak sudah mengatasi masalah dengan Regan." ucap pria itu lagi.
"Kau yakin mau menikahiku, Ari?" tanya gadis itu tanpa menoleh.
Ari menatapnya heran, "Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?"
"Jujur, aku gak percaya pada hatiku sendiri, Ari. Semua begitu tiba-tiba. Sampai sekarang pun aku belum begitu mengerti yang namanya cinta. Seperti apa dan bagaimana rupanya. Apalagi pernikahan. Sama sekali aku tidak bisa menduganya serta mempersiapkannya. Aku takut kau akan kecewa padaku sementara aku lelah untuk kecewa dan sendiri." Kiran menatap kedua mata Ari. Ya, ia ingin jujur pada pria itu.
Dulu, di saat ia memutuskan akan menikah dengan Rangga, pria itu bisa meyakinkannya dan memastikan bahwa akan selalu menemaninya. Terbukti sebelas tahun yang mereka lalui bersama.
Maka di saat membayangkan akan menikahi Ari, ia seperti dihantui ketakutan sendiri. Bagaimana karakter dan perasaan Ari padanya, ia sendiri belum begitu memahaminya.
"Maksudmu kau meragukanku, Kiran?" Pria itu menatap lembut gadis yang ada di hadapannya.
"Jika aku tidak meragukanmu, maka ketulusanku perlu dipertanyakan. Kita baru saja saling mengenal, Ari. Seperti apa dirimu, aku juga tidak begitu paham. Apalagi perasaanmu, sama sekali tidak kumengerti. Aku tidak ingin semua ini menjadi sia-sia. Aku hanya ingin pernikahan selamanya. Menemaniku selamanya. Aku sudah lelah hidup sendiri." kembali mengalihkan pandangan dari tatapan Ari.
"Kiran, lihat aku!" ucap Ari membalikkan tubuh gadis itu untuk menatapnya dengan memegang kedua bahunya.
"Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Makanya sejak itu aku mengawasi dirimu dan pacarmu. Tadinya aku akan membiarkan kau hidup bahagia bersama pria itu lalu akhirnya aku tahu bahwa pria mu itu tidak mampu menjaga perasaanmu. Maka sejak itulah aku mulai mengejarmu.
Aku mempersiapkan semuanya untuk hari ini. Tidakkah kau pernah berpikir, kenapa aku memesan hotel yang sama dengan hotel yang akan menjadi tempat menginap kekasihmu? Kenapa kau bisa datang bertepatan dengan saat kekasihmu itu bersama dengan seorang gadis di kamarnya? Semuanya karena aku sudah merencanakannya agar kau tahu bagaimana pria mu itu. Dan sekarang kau sudah bisa menebak bukan bagaimana dalamnya perasaanku padamu."
"Kau yang merencanakannya?" tanya Kiran menatap tak percaya pada pria di depannya.
"Iya. Aku hanya ingin kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri. Tentu kau tidak akan percaya jika aku yang mengatakannya. Tapi itu semua bukan karena aku ingin memisahkan kalian. Aku hanya tidak ingin kau menikah dengan pria matre seperti itu, apapun alasannya."
"Biarkan saja pernikahan ini berjalan apa adanya, Kiran. Biarkan kebersamaan kita nantinya bisa menumbuhkan cinta di hatimu. Kau hanya perlu menerimaku. Cinta itu akan datang dengan sendirinya." Pria itu melanjutkan ucapannya.
Kiran menghela nafas pelan." Bagaimana jika aku tidak bisa? Apakah kau akan kecewa?"
"Mari kita berjanji. Apa pun yang terjadi di antara kita, kita akan selalu bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu dan kau tidak akan meninggalkanku. Bagaimana?"
"Ari..., aku...." Kiran tak melanjutkan ucapannya. Ia masih ragu.
"Aku tidak akan pernah kecewa padamu. Yang penting kau tetap ada di sisiku. Dan jangan lihat pria lain selain aku, maka semua sudah cukup bagiku." menatap Kiran dengan penuh kesungguhan.
Hening beberapa saat.
"Baiklah. Aku janji."
"Pakai ini....," menunjukkan jari kelingkingnya.
"Aku bukan anak kecil lagi, Ari." menepis tangan pria itu. Namun Ari memaksa dengan menunjukkan jari kelingkingnya.
"Baiklah kau calon imamku sekarang." kata Kiran menyerah.
Mereka mengaitkan jari kelingkingnya. Menatap dalam satu sama lain. Entah kebawa perasaan dan kebawa suasana, Ari mulai mencondongkan tubuhnya. Mendekati wajah Kiran dengan wajahnya. Tatapannya kini beralih pada bibir gadis itu yang masih dalam mode diam membisu.
Prang!!
Sebuah suara mengangetkan mereka. menghentikan aktifitas keintiman mereka. Kiran dan Ari mencari asal suara. Menemukan Radit berdiri tak berapa jauh dari mereka. Kakaknya itu baru saja memukul besi pagar balkon dengan tangannya sehingga mengagetkan mereka berdua.
Pria itu baru saja masuk ke kamarnya. Ketika ia mendengar suara percakapan dari balkon, segera ia mengeceknya. Syukur dia cepat tahu. Jika tidak, mungkin dua makhluk lupa diri itu sudah melakukan hal yang masih belum dibolehkan agama.
"Eh, Kakak...," Ari nyengir, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Pernikahan kalian tinggal tiga hari lagi. Apa udah gak sabar banget, hah?!" menatap tajam Kiran dan Ari.
"Masuk kamarmu, Ari!" perintahnya pada Ari yang langsung ngacir kembali ke kamarnya.
Radit menatap tajam ke arah Kiran yang berdiri canggung di hadapannya. Pria itu memang sudah tahu jika Kiran menginap di rumahnya karena Ari sudah memberitahunya.
Ia menarik sudut bibirnya. Merasa menyesal telah memuji wanita mata duitan itu di depan Papanya. Walaupun memang pernyataannya tentang wanita itu yang membuat kinerja Ari lebih baik adalah benar adanya.
"Hargailah sedikit dirimu. Jangan terlalu gampangan jadi wanita." katanya tajam kemudian pergi meninggalkan Kiran yang termangu.