"Kata orang, cinta itu berawal dari mata, kemudian turun ke hati. Namun, itu tidak berlaku bagi kami. Cinta kami bermula dari getaran yang timbul di dalam hati, sementara mata hanyalah buktinya."- Yuri
Yuanri Agatha, atau yang biasa disapa dengan sebutan Yuri, adalah seorang perempuan dengan paras cantik serta bentuk tubuh yang sempurna. Meski begitu kisah hidupnya tidak seindah penampilan fisiknya.
Ada satu masa dimana perempuan itu akhirnya berpikir untuk mengakhiri hidup karena tidak tahan dengan hinaan warga sekitar, yang terus melabelnya sebagai wanita penggoda. Padahal, kenyataannya adalah bahwa Yuri selalu menjaga kehormatannya.
Keputusan mengakhiri hidup itu ia urungkan saat melihat seorang laki-laki terbaring dalam kondisi tidak sadarkan diri di atas sebuah karang, yang lokasinya tidak jauh dari tempat, yang sudah ia rencanakan untuk mengakhiri hidup.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Segera favoritkan kisah ini dan nantikan kelanjutan kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Bantuan
**Awal Kilas Balik**
"Tolong beritahu aku, apa yang harus kulakukan saat bertemu dengannya nanti?" Laki-laki itu sepertinya tersesat dalam pikirannya sendiri hingga ia bingung harus bersikap seperti apa.
Yuri segera bangkit dari tempatnya. Ia menarik serta tangan Bram dan memberi isyarat pada laki-laki itu untuk ikut berdiri bersamanya.
"Aku akan memberi tahu apa yang harus Mas lakukan ketika bertemu dengannya," jawab Yuri dengan mata berkaca-kaca.
Bram hanya menganggukkan kepala. Ia masih berdiri pada posisinya, saat Yuri berperan seolah dia adalah Rosalie.
Bersamaan dengan itu, samar-samar terdengar sebuah lagu tua tentang cinta. Lagu itu terdengar dari playlist yang diputar oleh Yuri lewat handphone-nya sejak sebelum Bram masuk ke dalam kamar gadis itu. Sebuah lagu berjudul 'love story' yang dinyanyikan dengan sangat merdu oleh Andy Williams.
🎵🎶🎵🎶
Where do i begin?
To tell the story of how great a love can be
The sweet love story that is older than the sea
The simple truth about the love she brings to me
Where do i start?
"Dia akan datang di depan pintu rumah ini. Aku ingin Mas yang menyambutnya. Berdirilah di balik pintu dan bukakan pintu itu untuk kekasihmu." Yuri menceritakan apa yang ada di dalam bayangannya saat Rosalie dan Bram bertemu nanti.
🎵🎶🎵🎶
With her first hello
She gave new meaning to this empty world of mine
There'd never be another love, another time
She came into my life and made the living fine
She fills my heart
"Gadis itu akan menangis saat melihatmu. Ia akan menyentuh wajahmu dengan tangan yang bergetar dan mempertanyakan apakah benar bahwa Laki-laki di hadapannya adalah Abraham Adiputera, kekasihnya." Yuri benar-benar menyentuh wajah Bram dengan tangan yang bergetar. Bersamaan dengan itu juga air matanya kembali menetes.
"Ini aku. A-aku sangat merindukanmu, mawar merahku," ucap Bram dengan spontan saat merasakan Yuri menyentuh wajahnya. Bram sepertinya terhisap dalam cerita yang disampaikan oleh Yuri.
Laki-laki itu kemudian mendekap Yuri. Ia mendekap dan mengecup puncak kepala gadis itu beberapa kali.
🎵🎶🎵🎶
She fills my heart with very special things
With Angels' songs, with wild imaginings
She fills my soul with so much love
"Beberapa kali, ia akan mengatakan 'aku mencintaimu dan merindukanmu'. Gadis itu akan memelukmu sangat erat. Bahkan lebih erat dari yang sebelumnya." Yuri membalas dekapan Bram dan memeluk laki-laki itu dengan erat. Ia juga mengatakan Aku mencintaimu di dalam hatinya. Air mata gadis itu mengalir semakin deras.
"Aku juga mencintaimu, Rosalie. Aku sangat, sangat, sangat mencintai dan merindukanmu." Bram mengatakan kalimat itu dengan sepenuh hati, saat perasaan Yuri merintih karena cinta yang tidak akan pernah bisa ia miliki.
🎵🎶🎵🎶
That anywhere i go, I'm never lonely
With her around, who could be lonely
I reach for her hand
It's always there
Laki-laki itu pun kemudian menyentuh wajah Yuri. Ia menyentuh alis, mata, hidung, pipi, rahang, dan terakhir bibir gadis itu dengan lembut dan perlahan-lahan.
🎵🎶🎵🎶
How long does it last?
Can love be measured by the hours in a day?
I have no answers now but this much I can say
I know I'll need her 'till the stars are burn away.....
Bram terbawa suasana. Begitu juga dengan Yuri. Wajah mereka semakin lama semakin dekat. Bram menyentuh dagu gadis itu dan terus mendekatkan wajahnya kepada Yuri, hingga hanya tersisa dua centimeter lagi.
Yuri menutup matanya saat jarak di antara mereka semakin tipis. Ia tidak berani memandang wajah laki-laki itu.
🎵🎶🎵🎶
And she'll be there
**Akhir kilas Balik**
----------------
Cup!
Bram mencium bibir kekasihnya. Mereka saling melepas rasa rindu yang telah lama tertahan. Tidak ada orang lain di sana, selain mereka berdua dan cinta yang ada di dalam hati mereka.
Sebuah kebetulan, ketika apa yang diajarkan Yuri malam itu sungguh-sungguh terjadi. Bram melakukannya persis seperti apa yang ia latih bersama Yuri. Bedanya, tidak pernah ada ciuman di antara Yuri dan Bram malam itu.
Ketika wajah Bram dan Yuri hampir tidak menyisakan jarak sedikitpun, Yuri membuka mata dan menarik dirinya sekuat tenaga untuk menjauhi Bram.
Yuri cukup tahu diri dengan posisinya. Meski ia menginginkan sebuah kecupan manis dari bibir laki-laki itu, ia sadar bahwa bukan dia yang ada di dalam benak Bram malam itu.
----------------
"Kau mencintainya. Iya kan?" Radit menatap mata Yuri yang menerawang. Perempuan itu sedang memandang langit biru yang ada di depan matanya, saat ia sedang berdiri di tepi pantai, di mana pertama kali ia menemukan Bram.
Setelah memastikan Bram bertemu dengan Rosalie, Yuri pergi meninggalkan sepasang kekasih itu sendiri di dalam rumah. Ia berjalan keluar lewat pintu yang terletak di bagian belakang rumahnya. Gadis itu terus melangkah memutari rumah sambil menangis dan bertemu dengan Radit di halaman depan tanpa sengaja.
Radit menyadari sesuatu terjadi pada Yuri. Ia pun menawarkan perempuan itu untuk berbincang berdua di tempat lain, yang sekiranya bisa membuat Yuri merasa lebih baik. Pada akhirnya gadis itu pun meminta Radit untuk membawanya ke pantai di mana pertama kali ia menemukan Bram.
"Dia ada di atas karang itu, saat aku hampir menghabisi nyawaku sendiri. Mas Bram menyelamatkanku dari tindakan bodoh yang hampir saja kulakukan." Yuri menunjuk karang yang ada di depan matanya. Gadis itu berusaha menceritakan kepada Radit bagaimana ia menemukan Bram dulu.
"Kau mau bunuh diri? Karena apa?" Radit hampir tidak percaya. Perempuan yang berdiri di sampingnya itu ternyata menyimpan banyak rahasia.
"Karena tidak ada alasan lagi untukku hidup saat itu. Aku begitu kesepian sebelumnya, tanpa kasih sayang, tanpa perlindungan, hingga orang-orang jahat itu datang dan bermaksud melecehkanku." Yuri mengingat kembali kenangan pahit sebelum Bram hadir dalam hidupnya.
"Itu sebabnya Bram mengatakan padaku bahwa kamu adalah....." Radit menahan ucapannya. Ia tidak tega mengucapkan kata itu.
"Aku tidak pernah membiarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. Orang-orang jahat yang sakit hati itu kemudian memfitnahku sebagai perempuan penggoda." Yuri menghapus air matanya yang kembali menetes, saat mengingat betapa menderita hidupnya dulu.
"Aku bahkan hampir di arak tanpa busana oleh warga karena fitnah yang semakin menyebar. Oleh karena itu, aku lari ke pantai ini. Melihat Mas Bram terluka parah saat itu, aku mengurungkan niat bodohku dan terpaksa membawanya kembali ke desa. Saat itu, warga menyangka Mas Bram adalah laki-laki hidung belang yang aku kencani." Yuri menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya.
"Oleh karena itu, kalian berpura-pura sebagai suami istri untuk menghindari amukan warga. Dan laki-laki bodoh itu benar-benar berpikir bahwa kamu pernah menjadi perempuan pengoda?" Radit menyimpulkan dengan cepat.
Yuri tersenyum menatap Radit. Meski begitu laki-laki itu bisa melihat ada begitu banyak luka di sorot mata perempuan yang ada di sebelahnya.
"Biarkan saja begitu. Aku lebih nyaman jika ia berpikir seperti itu. Dengan demikian, aku sudah memberi batasan pada perasaanku." Yuri kembali menatap langit biru di hadapannya.
"Kau seharusnya tidak membiarkan dirimu jatuh cinta pada Bram. Kau tidak akan mendapatkan apapun Nona." Raditya mulai iba kepada Yuri.
"Aku tahu Tuan. Aku terlalu bodoh sehingga bisa dikendalikan oleh perasaanku sendiri. Sekarang, aku sudah merasakan sakitnya." Yuri menghapus lagi butiran air mata yang semakin mengalir deras.
"Lalu apa rencanamu setelah ini?" Radit cukup khawatir Yuri akan kembali mengakhiri hidupnya.
Yuri seketika teringat dengan janjinya kepada awan. Namun, ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Radit.
"Setelah semua selesai, aku akan meninggalkan desa ini. Memulai sebuah kehidupan baru tanpa Mas Bram." Yuri membalikkan tubuhnya menghadap Radit.
"Maukah Tuan menolongku?" Yuri menyentuh lengan Radit sejenak dan kemudian melepaskannya lagi.
"Apa yang bisa kuperbuat untukmu?" Radit yang iba tidak mempunyai pilihan lain selain mendengarkan permintaan Yuri.
"Jika suatu hari nanti Mas Bram tiba-tiba mengingatku dan ingin mencariku, saat kami sudah menjalani hidup kami masing-masing, berjanjilah Tuan akan melarangnya. Buatlah dia membenciku hingga mengurungkan niatnya!" Ucapan Yuri menyisakan pertanyaan di benak Radit.
"Kenapa?" Radit mengerutkan keningnya.
"Karena jika dia datang lagi dalam hidupku, maka aku tidak akan pernah melepaskannya seperti saat ini." Yuri mengancam Radit.
Gadis itu paham bahwa Radit adalah pelindung Rosalie. Ia harus mengatakannya, supaya setelah ini Radit membantunya untuk menghapus nama Yuri dari ingatan Bram selamanya.
------------
Selamat membaca!