NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Segel Kerajaan di Pintu Toko

"Singkirkan kertas sketsa ini dari hadapanku sekarang juga, Monsieur Gerard. Aku sudah mengatakan berulang kali bahwa kita tidak akan pernah memproduksi desain minimalis yang membosankan ini."

​Geneviève mengetukkan ujung pena bulunya ke atas meja kayu mahoni dengan nada tidak sabar. Matanya menatap tajam ke arah kepala pengrajin perhiasannya yang tampak pucat pasi.

​"Tetapi, Nona Montmirail," ucap Monsieur Gerard dengan suara bergetar. "Tren di kalangan bangsawan istana saat ini adalah kesederhanaan. Putri Mahkota Camille baru saja mengenakan kalung mutiara tunggal yang sangat tipis pada perjamuan musim gugur kemarin. Semua wanita bangsawan kini mencari desain yang serupa."

​Geneviève menghela napas panjang. Ia bersandar pada kursi kerjanya yang dilapisi beludru biru gelap. Udara musim gugur yang dingin berhembus masuk melalui jendela besar di ruang kerjanya, membawa serta aroma daun ek kering dan sisa sisa embun pagi. Tragedi berdarah di perkemahan musim panas telah berlalu beberapa minggu yang lalu. Kematian sang penembak jitu dengan tato bunga bakung emas itu menciptakan ketegangan diam diam di ibu kota. Di permukaan, Istana Soleil tampak tenang dan menutup rapat insiden tersebut. Ketenangan sementara ini memberikan Geneviève waktu yang sangat berharga untuk menarik napas panjang dan memfokuskan seluruh energinya pada ekspansi bisnis Le C'eow menjelang musim dingin.

​"Monsieur Gerard, dengarkan aku baik baik," ucap Geneviève dengan suara yang melembut namun tetap memancarkan otoritas mutlak. "Kita tidak mengikuti tren yang dibuat oleh Putri Mahkota. Kita adalah orang orang yang mendikte tren tersebut. Jika wanita itu menyukai desain minimalis yang terlihat seperti kawat jemuran, biarkan saja. Le C'eow akan tetap berpegang teguh pada visi maksimalis."

​Geneviève menarik selembar kertas perkamen kosong dan mulai membuat coretan cepat.

​"Aku menginginkan koleksi edisi musim dingin yang ramai, kompleks, dan sama sekali berbeda dari apa pun yang ada di pasaran saat ini. Gunakan batu safir berwarna biru lembut dan batu kecubung ungu lembut. Itulah identitas kita. Jangan pernah mencoba memasukkan unsur warna kuning atau hijau ke dalam koleksi ini. Aku ingin setiap wanita yang memakai perhiasan kita merasa seperti seorang ratu dari negeri dongeng, bukan sekadar pengikut bayangan istana."

​Monsieur Gerard mengangguk kaku, segera mengumpulkan sketsa sketsa lamanya, lalu menunduk hormat sebelum bergegas keluar dari ruang kerja tersebut.

​Tepat saat pintu kayu berukir itu tertutup, sebuah tawa bariton yang sangat familiar terdengar dari arah sofa di sudut ruangan.

​"Kau benar benar bos yang sangat menakutkan, C'eow-ku."

​Geneviève menoleh. Lucien de Vaudémont sedang duduk bersandar dengan nyaman di atas sofa beludru. Pria itu mengenakan kemeja katun putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, menampilkan perban medis yang masih melilit rapi di bahu kanannya. Lengan kanannya disangga oleh sebuah kain putih bersih. Meskipun sedang dalam masa pemulihan akibat racun mematikan, ketampanan sang Duke sama sekali tidak memudar. Sorot mata hijau tuanya justru terlihat semakin hangat dan hidup setiap kali ia menatap Geneviève.

​"Dan Anda adalah pasien yang sangat keras kepala, Tuan Duke," balas Geneviève, meletakkan pena bulunya. "Tabib pribadi Anda pasti sedang menangis di kediaman Vaudémont karena majikannya terus menerus kabur dari ranjang pemulihan hanya untuk merepotkanku di butik ini."

​Lucien terkekeh pelan. Ia mengangkat cangkir teh porselen menggunakan tangan kirinya yang sehat, lalu menyesap teh chamomile yang khusus diseduh oleh Odette untuknya.

​"Udara di kediamanku terlalu membosankan. Lagipula, melihatmu memarahi para pengrajin jauh lebih efektif menyembuhkan lukaku daripada ramuan pahit apa pun," goda Lucien. Ia meletakkan cangkirnya dan menatap Geneviève dengan sorot mata yang tiba tiba berubah serius. "Lagipula, aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Setelah insiden malam itu, Camille pasti sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih kotor dari sekadar panah beracun."

​Jantung Geneviève berdetak sedikit lebih cepat mendengar nada protektif dari pria itu. Semenjak ingatan Lucien kembali dan pria itu melepaskan belenggu Sihir Putih, hubungan mereka memang mengalami kemajuan yang aneh. Lucien tidak lagi bersikap dingin, melainkan kembali menjadi sosok pelindung yang sering melontarkan rayuan rayuan masa lalu mereka. Namun, logika rasional Geneviève selalu berusaha menekan perasaannya. Ia harus fokus pada tujuannya.

​"Saya bisa menjaga diri saya sendiri, Lucien. Fokuslah pada kesembuhan Anda," ucap Geneviève seraya berdiri dari kursinya.

​Ia melangkah menuju sudut ruangan, tempat di mana inovasi terbesarnya untuk musim dingin sedang ditutupi oleh kain kanvas tebal. Dengan satu tarikan anggun, Geneviève menyingkap kain tersebut.

​Mata Lucien sedikit melebar. Di balik kanvas itu, terdapat sebuah purwarupa gerobak pajangan yang sangat luar biasa. Gerobak itu tidak terlihat seperti kereta dagang biasa. Benda itu dibangun dari kayu oak yang dicat putih gading, dihiasi dengan ukiran sulur sulur perak dan kaca kristal tebal di keempat sisinya. Gerobak itu memancarkan aura magis, persis seperti kereta labu milik Cinderella namun dalam versi yang sangat mewah dan berkelas.

​"Bagaimana menurut Anda?" tanya Geneviève dengan senyum bangga yang sulit disembunyikan. "Ini adalah gerobak etalase berjalan milik Le C'eow. Aku merancangnya khusus untuk pameran perhiasan di luar ruangan saat festival musim dingin nanti."

​Lucien berdiri dari sofa dan melangkah mendekat. Ia menyentuh ukiran perak di pinggiran kaca kristal tersebut. "Ini sangat indah, Geneviève. Tetapi memamerkan perhiasan mahal di jalanan terbuka adalah tindakan bunuh diri. Para pencuri akan menghancurkan kaca ini dalam hitungan detik."

​"Tentu saja aku sudah memikirkan manajemen risikonya," balas Geneviève dengan nada meremehkan yang menggemaskan.

​Wanita itu merogoh saku gaunnya, mengeluarkan sebuah kunci perak kecil, lalu memasukkannya ke sebuah celah rahasia di bawah ukiran kayu. Terdengar bunyi klik logam yang sangat rumit. Lapisan pelat baja tipis tiba tiba meluncur turun dari bagian atas gerobak, menutupi seluruh kaca kristal dengan sempurna dalam waktu kurang dari tiga detik.

​Lucien tertawa takjub. "Kau memasang mekanisme pertahanan militer ke dalam gerobak penjual perhiasan?"

​"Bisnis adalah medan perang, Lucien. Aku tidak akan membiarkan satu keping koin pun dicuri dariku."

​Lucien menatap wajah Geneviève yang bersinar karena antusiasme. Pria itu mengangkat tangan kirinya, dengan ragu menyelipkan sehelai rambut cokelat Geneviève ke belakang telinga wanita itu.

​"Kau benar benar menakjubkan," bisik Lucien dengan suara parau yang membuat napas Geneviève tertahan. Jarak mereka sangat dekat, dan aroma kayu cendana dari tubuh Lucien kembali membuat pertahanan rasional Geneviève goyah.

​Namun, momen romantis yang lembut itu hancur berantakan dalam sekejap.

​BRAK!

​Suara hantaman keras dari arah luar ruang kerja membuat Geneviève dan Lucien terlonjak mundur. Suara itu disusul oleh jeritan melengking para pelanggan wanita dari lantai dasar butik, disusul oleh bunyi pecahan kaca yang berserakan. Dentingan baju zirah militer yang bergerak serentak memenuhi seluruh penjuru toko.

​Ekspresi hangat di wajah Lucien langsung lenyap, digantikan oleh aura membunuh sang komandan ksatria. Tangan kirinya secara refleks meraba pinggangnya, mencari gagang pedang yang sayangnya tidak ia bawa hari ini.

​"Tetap di sini," desis Lucien.

​Geneviève segera menahan dada pria itu. "Jangan konyol. Jika kau keluar dengan kondisi terluka dan berada di butikku, itu hanya akan memberi mereka amunisi politik baru. Ini wilayahku. Aku yang akan menghadapinya. Masuklah ke ruang VIP di balik rak buku itu dan jangan keluar sampai aku memanggilmu."

​Lucien menggeram marah, tetapi ia tahu logika Geneviève sepenuhnya benar. Kehadirannya di sana hanya akan merugikan wanita itu. Dengan berat hati, Lucien melangkah mundur dan menghilang ke balik pintu rahasia di belakang rak buku pembukuan.

​Geneviève merapikan lipatan gaunnya, menarik napas dalam dalam, lalu mendorong pintu ruang kerjanya dan melangkah keluar menuju balkon lantai dua yang menghadap langsung ke area utama butik.

​Pemandangan di bawah sana benar benar membuat darahnya mendidih.

​Lebih dari dua puluh orang prajurit elit penjaga kerajaan dalam balutan zirah perak lengkap telah menerobos masuk. Mereka membariskan para pelanggan bangsawan yang sedang berbelanja ke sudut ruangan dengan kasar. Beberapa etalase kaca kecil hancur berantakan akibat didorong paksa oleh laras senapan para prajurit tersebut. Ketenangan estetik butik Le C'eow dihancurkan tanpa sisa.

​Seorang pria berbadan besar dengan jubah kapten penjaga melangkah angkuh ke tengah ruangan. Ia memegang sebuah gulungan perkamen berstempel resmi istana di tangan kanannya.

​"Siapa yang bertanggung jawab atas tempat kotor ini?!" teriak sang kapten dengan suara lantang yang menggema.

​Geneviève menuruni tangga melengkung berlapis karpet merah dengan postur yang sangat tegak. Dagunya terangkat, matanya memancarkan arogansi dingin. Ia melangkah satu demi satu, membuat suara ketukan sepatu hak tingginya terdengar membelah keheningan yang mencekam.

​"Saya sarankan Anda membersihkan sepatu bot Anda dari lumpur jalanan sebelum menginjak karpet impor saya, Tuan Kapten," sapa Geneviève dengan nada sedingin es saat ia tiba di lantai dasar. "Apa tujuan Anda menghancurkan properti saya di siang bolong seperti sekawanan bandit tidak berpendidikan?"

​Sang Kapten tersenyum meremehkan. Ia tidak terpengaruh oleh intimidasi Geneviève. Pria itu membentangkan gulungan perkamen di tangannya.

​"Atas nama hukum Kekaisaran Valerand, dan melalui titah langsung dari departemen perbendaharaan istana," baca sang kapten dengan suara yang sengaja dikeraskan agar seluruh pelanggan bangsawan mendengarnya. "Geneviève de Montmirail, pemilik butik Le C'eow, didakwa secara resmi atas tuduhan penipuan pajak skala besar, pemalsuan laporan pendapatan kerajaan, dan penyelundupan material batu permata ilegal dari luar perbatasan!"

​Ruangan itu seketika dipenuhi helaan napas terkejut. Para pelanggan bangsawan mulai berbisik bisik panik. Tuduhan itu adalah kejahatan tingkat tinggi. Menipu kas kerajaan adalah jalan pintas menuju tiang gantungan.

​Geneviève berdiri mematung di tempatnya. Otot otot di wajahnya sama sekali tidak bergerak, namun jauh di lubuk hatinya, ia benar benar ingin tertawa terbahak bahak.

​Penipuan pajak? Pemalsuan laporan?

​Menuduh seorang mantan auditor keuangan senior dari abad kedua puluh satu dengan tuduhan ceroboh seperti itu adalah sebuah penghinaan intelektual terbesar terhadap profesinya. Di kehidupan masa lalunya, Geneviève adalah ahli strategi manajemen kekayaan yang mendeteksi penggelapan dana triliunan rupiah. Jika ia memang ingin melakukan penipuan pajak, ia akan melakukannya dengan sangat sempurna hingga seluruh departemen perbendaharaan kerajaan ini mati membusuk sebelum bisa menemukan satu angka pun yang salah.

​Ini adalah jebakan. Manuver politik rendahan dari faksi Putri Mahkota Camille. Wanita suci itu sedang memancing amarahnya agar Geneviève memberontak dan memberikan alasan bagi para penjaga untuk membunuhnya di tempat.

​"Tuduhan yang sangat imajinatif," tanggap Geneviève dengan suara tenang yang membuat sang kapten mengerutkan kening. "Saya adalah pembayar pajak terbesar ketiga di ibu kota ini. Semua dokumen saya telah diaudit oleh serikat pedagang."

​"Serikat pedagang tidak memiliki otoritas di atas istana, Nona!" bentak sang kapten. "Tutup semua pintu! Segel tempat ini sekarang juga!"

​Para prajurit kerajaan segera bergerak cepat. Mereka mengeluarkan gulungan rantai besi tebal dan gembok besar. Mereka merantai pintu utama butik, mengunci jendela jendela, dan bahkan merantai paksa beberapa gerobak pajangan yang belum selesai dikerjakan di sudut ruangan.

​Rasa frustrasi mulai mencekik para karyawan butik. Odette yang sedang memegang nampan teh di dekat meja kasir tampak gemetar menahan tangis dan amarah melihat tempat kerja kesayangannya dirantai seperti rumah jagal. Para pelanggan bangsawan digiring keluar satu per satu secara paksa. Reputasi Le C'eow dihancurkan di depan publik dalam hitungan menit.

​Geneviève masih berdiri tegak, tidak melawan dan tidak meneteskan air mata sedikit pun. Ia mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya hingga buku buku jarinya memutih.

​"Penyegelan ini melanggar prosedur hukum," ucap Geneviève tajam. "Anda tidak bisa menyita aset fisik sebelum pengadilan membuktikan kesalahan saya."

​"Pengadilan akan membuktikannya malam ini juga, Nona," seringai sang kapten dengan raut wajah penuh kemenangan. Ia menunjuk pedangnya ke arah tangga menuju lantai dua. "Karena kami tidak hanya menyita tempat ini. Pasukan! Geledah ruang kerjanya! Sita semua buku besar, jurnal transaksi, dan catatan pembukuan rahasianya!"

​Ini adalah ketukan palu eksekusi yang sebenarnya. Geneviève tahu, menyita buku besar adalah inti dari penyerangan ini. Camille ingin melumpuhkan urat nadi keuangannya, mencari nama nama klien rahasia Le C'eow, dan menyisipkan bukti palsu ke dalam buku besar tersebut agar eksekusi mati Geneviève menjadi sah di mata hukum.

​Lima orang prajurit berlari menaiki tangga. Tak lama kemudian, mereka turun membawa tumpukan tebal Buku Besar bersampul kulit merah, jurnal jurnal transaksi bergaris emas, serta puluhan gulungan nota pembelian bahan baku.

​Sang kapten penjaga melangkah mendekati tumpukan buku yang dibawa oleh prajuritnya. Ia menepuk sampul kulit buku besar itu dengan telapak tangannya, menatap Geneviève dengan tatapan mengejek. Pria itu merasa bahwa ia telah memegang nyawa sang putri Duke. Ia merasa telah memegang kelemahan paling fatal yang akan mengakhiri keangkuhan Geneviève selamanya.

​"Terima kasih atas kerja samanya, Nona Montmirail. Kami akan mengaudit buku buku ini dengan sangat saksama. Bersiaplah menerima panggilan sidang dari istana besok pagi."

​Kapten itu memutar tubuhnya dengan sombong dan melangkah keluar dari butik, diikuti oleh barisan pasukannya yang membawa pergi seluruh aset informasi Le C'eow. Pintu ganda butik ditarik tertutup dan dirantai dari luar, meninggalkan Geneviève terkurung di dalam tokonya sendiri bersama Odette dan sisa karyawan yang ketakutan.

​Kereta kuda kerajaan yang membawa buku buku besar itu mulai bergerak menjauhi jalanan berbatu di depan butik. Suara derap tapak kuda terdengar semakin memudar.

​Di lantai dasar yang kini gelap dan berantakan, Odette akhirnya jatuh terduduk dan menangis. "Nona... mereka membawa semuanya. Mereka membawa semua catatan kerja keras kita. Kita hancur, Nona. Kita akan dihukum mati."

​Dari atas balkon lantai dua, Lucien melangkah keluar dari ruang rahasianya. Wajah sang Duke terlihat sangat gelap dan mematikan. Ia bersiap untuk memanggil pasukan elit Vaudémont malam ini juga dan melakukan pembantaian massal di kantor departemen perbendaharaan.

​Namun, sebelum Lucien sempat mengucapkan satu patah kata pun, sebuah suara yang sangat aneh menghentikan niatnya.

​Geneviève tidak menangis. Wanita itu juga tidak berteriak histeris.

​Geneviève berdiri diam mematung di tengah ruangan yang remang remang, menatap pintu yang tersegel rantai besi. Tepat saat derap langkah kereta kuda kerajaan itu benar benar hilang di ujung jalan, bahu Geneviève mulai bergetar pelan.

​Bibir wanita rasional itu perlahan melengkung ke atas, membentuk sebuah senyuman dingin yang sangat mengerikan. Matanya berkilat kilat tajam menembus kegelapan, memancarkan aura seorang pemangsa yang baru saja melihat mangsanya masuk sendiri ke dalam perangkap yang telah disiapkan.

​"Mereka ingin bermain main dengan pembukuan seorang akuntan?" bisik Geneviève dengan tawa pelan yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding. "Mari kita lihat seberapa cepat istana ini akan menyadari bahwa mereka baru saja mencuri sebuah bom waktu."

1
tenny
makin seru ceritanya
Cty Badria
good
Pa Muhsid
lagi kenceng kenceng nya tarik gas eh bensin habis😩😩😩
tenny
lagi seru serunya eeh abis 🤣🤣nunggu update lagi..
🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ
Sindrom penyelamat dunia atau dikenal sebagai savior complex atau hero complex adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa terdorong secara berlebihan untuk membantu, memperbaiki, atau menyelamatkan hidup orang lain.
Selalu ingin menjadi pahlawan, mencari atau mendekati orang-orang yang punya masalah besar agar bisa dijadikan "proyek" perbaikan.
Memaksa memberi solusi:, suka memengaruhi dan memaksa mengubah kehidupan orang lain agar menjadi lebih baik sesuai anggapannya atau mendikte hidup orang lain bahkan saat tidak diminta atau tidak dibutuhkan.
Membantu dan menolong orang lain memang perbuatan yang terpuji.
Namun, ketika Anda memiliki perilaku savior complex, bantuan yang Anda lakukan justru membuat orang lain merasa terganggu dan tidak nyaman...🤔🫣🤨
🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ
Puisimu sangat indah dan penuh semangat, Genevieve...😅😂🤣
Baris-baris itu melukiskan rasa cinta yang kuat dan hangat di tengah cuaca yang sangat dingin.
Makna dari Puisimu adalah
Cinta yang hangat:
Rasa sayang digambarkan seperti tungku besi panas yang melawan dinginnya badai.
Perjuangan:
Kayu bakar yang dibakar menunjukkan usaha keras untuk menjaga api cinta tetap menyala.
Berikut adalah kelanjutan bait puisi untuk melengkapi ungkapan perasaanmu.
Oh Lucien, cintaku padamu sepanas tungku besi, membakar kayu bakar di tengah badai salju.
Biar angin menderu menghantam dinding sunyi, hangatnya dekapku takkan pernah jadi abu.
Ketukan rintik es kian mencerca jendela, namun bara di dada enggan untuk mereda.
Dunia boleh membeku dalam balutan lara, kita tetap menyala, berdua tanpa jeda.
lin sya
genevieve jgn krn marah , gaun semahal itu mnding jual buat nambah kekayaan dripd dibakar, buang2 energi krn amarah
tenny
ceritanya seru banget,kere keren 🥰🥰🥰👏👏
tenny
baru baca bab bab awal udah seru banget 👍👍👍👏👏
nadnote: makasih ka, semoga suka ama ceritanya🫶
total 1 replies
netizen nyinyir
double up dong thorrrr😍
nadnote: nanti aku bakal up 3 bab🤭
total 1 replies
Tio Buki
Hadiah untukmu dek🙏👍
Tio Buki
Semangat ya🙏🙏👍
Tio Buki
Mampir dek👍👍👍
Tio Buki
Oh, ternya Dewi cahaya toh
Tio Buki
Apa, jangan jangan
Tio Buki
Main suruh aja
Tio Buki
Cuma satu gentong kok
Tio Buki
Teringat akan
Tio Buki
Ada orang lain rupanya
Tio Buki
Apa yang terjadi??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!