Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIPECAT DENGAN SURAT SATU LEMBAR
Surat pemutusan kerja itu hanya satu lembar.
Aku selalu membayangkan kehilangan pekerjaan akan datang dengan rapat panjang, perdebatan, atau setidaknya map tebal yang menunjukkan bahwa perusahaan bersungguh-sungguh menghancurkan hidup seseorang. Ternyata nasib buruk bisa dicetak pada satu sisi kertas A4, diberi kop perusahaan, lalu diletakkan di meja di antara gelas kopi dan stapler.
Sebelum masuk ruangan, aku sempat berhenti di depan papan keselamatan kerja yang tergantung di lorong. Di sana tertulis bahwa setiap pekerja berhak menghentikan pekerjaan apabila kondisi tidak aman. Selama dua tahun bekerja, aku melewati kalimat itu ratusan kali tanpa membacanya sampai selesai. Pagi itu, huruf-hurufnya terasa seperti sengaja dicetak lebih besar.
Petugas administrasi yang biasanya menyapaku hanya menunjuk pintu Pak Gunawan. Di mejanya ada formulir pengembalian seragam dan kartu identitas. Semua sudah disiapkan. Rupanya keputusan tentang hidupku selesai dibuat sebelum aku datang, mandi, dan menyisir rambut hangusku sebaik mungkin agar tetap terlihat seperti orang yang masih punya pekerjaan.
Pak Gunawan duduk di belakang meja. Laptopnya menghadap kepadaku, tetapi layar kedua di dinding memutar video viral tanpa suara. Wajahku membeku pada detik sebelum percikan. Di bawah gambar itu, jumlah penonton terus bertambah.
Rinso duduk di kursi sudut. Seragamnya rapi. Tangannya bertumpu pada lutut. Ia tidak menatapku.
“Duduk,” kata Pak Gunawan.
“Aku lebih enak berdiri.”
“Bukan pertanyaan.”
Aku duduk.
Pak Gunawan mendorong surat itu ke arahku. “Manajemen memutuskan hubungan kerja efektif hari ini.”
Aku tidak menyentuh kertasnya. “Karena video?”
“Karena tindakanmu.”
“Video itu membuat perusahaan panik.”
“Video itu hanya membuat tindakanmu terlihat orang banyak.”
Aku menatap layar. Tanpa suara, mulutku mengucapkan aman, lalu ruangan gelap. Aku benci betapa jelasnya urutan itu.
“Gedung minta ganti rugi,” lanjut Pak Gunawan. “Terminal panel rusak, satu unit lampu sorot ikut terbakar, acara terlambat hampir dua jam, dan keluarga pengantin meminta permintaan maaf resmi. Klien kita juga mempertanyakan prosedur kerja.”
“Listrik akhirnya hidup.”
Pak Gunawan menyandarkan punggung. “Dua jam terlambat.”
“Tapi tidak ada yang terluka.”
“Itu bukan pembelaan. Itu keberuntungan.”
Aku merasakan panas naik ke wajah. “Semua alat tambahan dipasang panitia. Mesin kabut, sorot, pendingin. Bukan aku yang bawa.”
“Siapa yang membuat jalur tambahan?”
Aku diam.
“Siapa yang menaikkan MCB setelah jatuh tanpa memastikan semua beban terlepas?”
“Situasinya ramai.”
“Siapa?”
“Aku.”
“Siapa yang diberi instruksi menunggu teknisi gedung?”
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. “Aku.”
Pak Gunawan mengangguk sekali, seolah kami baru menyelesaikan soal sederhana. “Itu sebabnya.”
Aku menoleh kepada Rinso. “Kau senang?”
Ia akhirnya menatapku. “Tidak.”
“Wajahmu memang begitu kalau senang?”
“Wajahku begini kalau laporan yang kubuat dibaca.”
“Kau cepat kali buat laporan. Lampu belum hidup, kau sudah cari siapa yang disalahkan.”
Rinso tidak membalas. Pak Gunawan membuka sebuah map dan mengeluarkan lembar pemeriksaan.
“Rinto mencatat beban jalur dan menulis bahwa ia menolak sambungan tambahan,” katanya. “Ada tanda tangan saksi dari kru gedung.”
Aku mengambil kertas itu. Tulisan Rinso rapi seperti cetakan. Jam, angka, jenis beban, peringatan, instruksi. Bahkan kalimatku—pala susah kali, sambung sikit—ditulis di bagian catatan.
“Kau tulis ucapanku?”
“Itu bagian kejadian,” kata Rinso.
“Sekalian tulis waktu aku ke toilet.”
“Kalau berpengaruh pada beban, akan kutulis.”
Pak Gunawan mengetuk meja. “Cukup.”
Aku melempar kertas itu kembali. “Jadi dia aman karena pandai tulis laporan?”
“Dia aman karena mengikuti instruksi.”
Kalimat itu mengenai bagian diriku yang paling tidak suka disentuh. Aku berdiri.
“Perusahaan ini cuma butuh orang yang pandai tunduk.”
“Perusahaan ini butuh teknisi yang tidak menganggap prosedur sebagai penghinaan.”
“Aku menyelamatkan banyak pekerjaan di lapangan karena tidak menunggu aturan.”
“Dan selama ini orang lain membersihkan akibatnya.”
Ruangan mendadak terasa sempit. Aku ingin membanting sesuatu, tetapi semua barang di meja terlihat mahal dan kemungkinan dipotong dari gaji terakhir.
Pak Gunawan menggeser surat itu lebih dekat. “Gaji sampai hari ini dibayarkan. Uang pengganti cuti masuk sesuai aturan. Namun, perusahaan tidak menanggung kerusakan pribadi pada alatmu.”
“Tespenku baik-baik saja.”
“Syukurlah. Setidaknya ada satu benda yang selamat.”
Rinso menundukkan kepala, mungkin menahan senyum. Aku menatapnya tajam.
Pak Gunawan menyerahkan bolpoin. “Tanda tangani penerimaan surat.”
“Aku tidak setuju.”
“Tanda tangan hanya menyatakan kau menerima.”
“Aku bisa menolak.”
“Kau bisa. Suratnya tetap berlaku.”
Aku memegang bolpoin. Tanganku tidak gemetar, tetapi ujungnya menekan kertas terlalu kuat hingga meninggalkan titik tinta.
Nama lengkapku terlihat asing ketika kutulis di bawah kalimat pemutusan hubungan kerja.
Jefri Andalas Sinaga.
Selembar kertas mampu membuat nama itu terasa lebih kecil.
Aku berdiri tanpa pamit dan keluar. Di lorong, beberapa pegawai pura-pura sibuk. Seorang teknisi junior menatapku, lalu cepat-cepat menunduk. Ponsel seseorang memutar potongan video dengan suara pelan. Aku mendengar suaraku sendiri berkata aman, bah sebelum orang itu buru-buru mematikannya.
Tia menunggu di dekat tangga. Ia tadi memaksa ikut karena katanya aku tidak boleh mengendarai motor saat marah. Ponselnya ada di tangan, tetapi kameranya menghadap lantai.
“Sudah?” tanyanya.
Aku mengangkat surat.
Wajahnya berubah. “Bang…”
“Jangan bilang ini bisa jadi konten.”
Ia menurunkan ponsel sepenuhnya. “Tidak direkam?”
Aku menatapnya, curiga karena pertanyaannya terdengar terbalik.
Tia menggeleng. “Tidak semua yang penting harus jadi tontonan, Bang.”
Aku ingin marah. Anehnya, kalimat itu justru membuat tenggorokanku sakit.
“Pulanglah,” kataku.
“Kita pulang sama-sama.”
“Aku mau sendiri.”
“Mak bilang—”
“Pulang, Tia.”
Ia menggigit bibir, lalu mengangguk. Sebelum pergi, ia menyelipkan kunci motorku ke dalam saku celanaku. “Jangan ngebut.”
Aku turun ke parkiran beberapa menit kemudian. Udara siang panas dan berbau aspal. Rinso berdiri dekat motornya sambil memasukkan alat ke dalam kotak dengan rapi.
Aku berjalan mendekat. “Puas kau?”
“Tidak.”
“Kau dapat apa setelah aku keluar? Jabatan?”
“Aku juga akan keluar.”
Aku berhenti. “Apa?”
Ia menutup kotak alat. “Akhir bulan.”
“Kenapa?”
“Aku mau buka bengkel sendiri.”
Aku tertawa pendek. “Jadi laporan itu sekalian membersihkan saingan?”
Rinso merapikan manset seragamnya. “Kau selalu perlu orang lain menjadi penjahat supaya kau tidak perlu melihat kesalahanmu.”
“Jangan ceramah.”
“Bukan ceramah. Aku tidak punya waktu.”
Ia mengangkat kotak alat dan menatapku lurus.
“Aku akan membangun usaha yang rapi, punya prosedur, dan tidak hidup dari keberuntungan,” katanya. “Aku tidak membutuhkan orang yang otaknya pun pakai kabel kupas.”
Rinso menaiki motornya dan pergi sebelum aku menemukan balasan yang cukup menyakitkan.
Aku berdiri sendirian di parkiran dengan surat satu lembar di tangan. Untuk pertama kalinya sejak malam pesta, tidak ada kamera, tidak ada orang tertawa, dan tidak ada listrik mati yang bisa kusalahkan.