Disaat bumi dikuasai oleh para alien berwujud monster mengerikan. Dunia dilanda kekacauan dimana mana, Umat manusia harus berperang menghadapi ancaman yang nyata tersebut.
Ini adalah awal dari permulaan punahnya umat manusia dari tangan monster ganas, Perwujudan dari alien yang kejam.
Didunia yang hancur ini, Hanya yang terkuatlah yang disegani dan yang lemah hanya akan menjadi mayat tak berharga.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Akhirnya Mendapatkan Uang Juga
Malam itu cuaca terasa dingin.
Storm saat ini sudah memulai pekerjaannya sebagai Balistik, Tidak Bartista, Batistik, atau Barista, Ah sudahlah.
Tak cuma Storm, Pelayan Kafe Vresnot ini ada seorang senior yang sudah lima tahun bekerja disini.
Kakek Robert mengandalkan pelayan kafenya yang senior itu. Mengarahkan pekerja baru yang tampak melongo saja sejak tadi.
"Kenalkan wahai pemuda, Namaku Tales Krauser...
Kamu bisa memanggilku senior Tales!'.
Lelaki yang seperti berusia dua puluh tahunan sedikit naik ketiga puluh tahunan itu. Mengenalkan dirinya dihadapan Storm, Tak lupa memberi instruksi.
Pekerjaan apa saja yang harus dikerjakan oleh pelayan baru itu!
'Ya, Baiklah! Aku sedikit mengerti...
Storm mengangguk paham.
Ternyata kerjaannya hanya perlu mengantarkan pesanan dari pembeli dan membuat pesanan. Sedangkan Tales yang menjadi pesuruhnya.
Menurut Storm, Tales memanfaatkannya saja dengan alih nama senior. Buktinya dia hanya bersantai saja, Saat dia sibuk bekerja.
'Dasar Manusia licik!'. Umpat Storm pada Tales yang tampak duduk santai menikmati musik itu.
Tales juga memberi tahu pekerja baru itu, Bahwa kafe ini sangatlah sepi sekali.
Saking sepinya satu hari hanya memiliki satu pelanggan, Atau sama sekali tidak ada pembeli.
Hal itu dikarenakan, Kafe ini lokasinya lumayan jauh dari distrik kota.
Tentu para pembeli tidaklah bodoh, Susah payah melewati tempat terpencil dikawasan ini hanya membeli secangkir kopi!
'Jadi, Tidak ada pembeli ya?".
Storm paham atas ucapan dari Tales itu. Ternyata tempat dirinya bekerja tidaklah laku sama sekali.
Seperti barang rongsokan yang tidak ada mau memungutnya.
"Benar pemuda, Aku sudah berusaha mempromosikan kafe ini...
Baik menggunakan koran ataupun melalui internet! Namun sama saja, Tidak ada perubahan...
Tales dengan pasrah menyampaikan usahanya dalam membuat kafe ini ramai pengunjung, Tetapi berakhir gagal.
Kafe bernama Vresnot ini sama sekali tidak ada yang tertarik mengunjunginya.
Storm sedikit mengerti tentang permasalahan ini. Dia berfikir jika tidak ada pembeli, Maka itu artinya dia tidak mendapatkan uang sama sekali.
Storm tidak mau bekerja tanpa mendapatkan uang!
Masalah seperti sangatlah serius baginya.
Tanpa ba bi bu, Storm segera mengapload dan mempromosikan kafe ini. Tak lupa dengan memasang wajah sedih, Storm memohon untuk kafe ini dibeli.
Tak masalah satu, Asalkan mendapat uang.
'Huahaha, Tolonglah kunjungi tempat ini...
Aku tidak mau harus menjadi pelayan tidak digaji, Hiks...
Setelah itu, Storm mengusap wajah sedihnya menggunakan tisu. Storm yakin dengan memasang wajah sedihnya, Maka tempat ini akan ramai pengunjung.
"Pfff!
Uhuk, Uhuk!
Tales yang asyik menikmati secangkir kopi buatannya, Ditemani bacaan berita koran itu.
Mendadak batuk batuk hingga tenggorokan Tales terasa sakit. Tales tidak menyangka, Pekerja baru itu melakukan tindakan bodoh itu demi mempromosikan tempat ini.
"Apa apaan itu? Aku tidak salah lihatkan?'.
Tales berusaha duduk kembali kursinya sembari menstabilkan nafasnya.
Tales tidak mengangka, Pekerja baru itu memiliki cara yang aneh dalam melakukan promosi kafe ini.
"Percuma saja, Bahkan jika kamu guling guling dilantai sekalipun!
Tidak ada yang pembeli yang datang ketempat ini...
Tales merasa tindakan pekerja baru itu hanyalah sia sia saja. Tales sangat menyayangkan, Pemuda itu tampak tidak pintar dalam mempromosikan kafe terbengkalai ini.
Sungguh tidak punya pemikiran yang matang sama sekali!
'Hei, Bisakah aku memesan satu cangkir kopi!
Aku juga, Buatkan kopi spesial untukku!
Aku juga, Aku juga, Aku juga!
Tak berselang lama, Kafe Vresnot sudah didatangi puluhan pembeli.
Mereka dengan antusiasnya memesan kopi kepada pelayan itu. Mereka kebanyakan pembeli wanita muda.
Para pembeli merasa iba melihat wajah Storm yang tampak menyedihkan.
Tak salah bagi mereka membantunya, Walau hanya membeli itu sudah lebih dari cukup membantu sesama manusia yang saling membutuhkan satu sama lain.
"Hahaha".
Tidak sia sia aku memohon untuk dibeli...
Baiklah, Silahkan tunggu pesanannya!'.
Storm segera membuatkan kopi untuk semua pembeli yang sudah menunggunya itu.
Berbekal pengalamannya yang setiap hari membuat kopi saat kelelahan. Storm mencampurkan berbagai bubuk kopi, Ditambah puluhan sendok gula sekaligus.
Storm harus melayani para pelanggan itu dengan baik, Dia tidak mau harus kehilangan uang berjalan yang sudah menunggunya!.
'Eh, Apa aku salah lihat?'.
Plak!
Aduh, Ini benar benar nyata!...
Tales terbelalak tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini.
Sebelum ini dia meremehkan pekerja baru yang melakukan aksi anehnya dalam mempromosikan kafe ini.
Tapi apa yang dilihat oleh Tales sangatlah nyata, Banyak pembeli yang terus berdatangan ketempat ini.
"Haha, Bagus pemuda!
Ini dia yang sudah aku nantikan sejak lama...
Tanpa berlambat lambat lagi, Tales membantu Storm dalam melayani para pembeli.
Tales mengantarkan banyak pesanan para pembeli. Bahkan Tales terus didesak untuk diantarkan pesanannya.
"Sabar sabar, Pesanan kalian akan saya antarkan...
Sambil melayani para pembeli, Tales terus tertawa senang.
Akhirnya setelah lama kafe ini terbengkalai, Kini kafe ini sangatlah ramai pengunjung.
Tales tidak akan membuang keberuntungan ini hilang begitu saja. Dengan ramah Tales melayani tamu sebaik mungkin.
Berjam jam kemudian.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 02.00 malam.
Kafe Vresnot tetap banyak pembeli. Bahkan mereka ada yang bersantai menikmati secangkir kopi, Ada juga yang tidur nyenyak disofa tepi pojok sana.
"Buahaha...
Uangku sangat banyak!..
Storm menepuk nepuk uangnya, Dia mendapatkan uang ini karena para pembeli merasa puas akan kenikmatan kopi buatannya.
Tales tak kalah senangnya, Dia duduk santai menghitung pemasukan malam ini. Dimana dalam satu malam saja, Dia sudah mendapatkan keuntungan seperti ini.
Bagaimana dengan setiap malamnya?
Ah, Itu pastinya dia akan menjadi kerepotan melayani para pembeli!
"Emuah, Haha...
Akhirnya ada juga yang mau mengunjungi kafe ini!
Tales bahkan mencium gepokan uangnya itu.
Tak hanya itu saja, Pemilik kafe Vresnot ini yakni kakek Robert. Tidak meminta apapun bagi yang mengelola kafenya.
Kakek Robert sudah sangat kaya akan bisnisnya, Mana mungkin menagih uang hasil kafe ini.
Itu sama saja kakek Robert melakukan pemerasan!
Lebih baik kakek Robert menyerahkan dan mempercayai Tales yang menjadi pemilik kafe ini.