Kinara seorang gadis tomboy yang baru saja lulus kuliah harus menerima kenyataan jika dirinya di jodohkan dengan seorang Duda yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Adisty. Tapi kakaknya menolak dengan alasan harus bekerja di luar kota. Padahal alasan utamanya adalah karena dia mendengar gosip jika calon suaminya seorang Duda dan juga bisu.
Abizar seorang Duda yang akan di jodohkan. Dan dia juga terpaksa menerima perjodohan itu karena tekanan dari kedua orang tuanya. Padahal dia masih menunggu kedatangan dari mantan istrinya yang pergi meninggalkannya sudah lima tahun.
Akankah pernikahan mereka yang tanpa cinta itu bertahan. Akankah ada cinta di antara mereka? Bagaimana jika mantan istri Abizar datang?
Apalagi selain bersaing dengan mantan istri yang masih selalu di hati Abizar, Kinara juga harus bersaing dengan banyak wanita yang datang silih berganti mendekati suaminya.
Mampukah Kinara bertahan ataukah dia menyerah? Ikutin terus yuk ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
"Tunggu Bu Kinara..." Joko menarik bahu Kinara yang akan menjauh. Dengan cepat Kinara menarik tangan Joko dengan sekuat tenaga sehingga membuat tubuh pria bertato itu terjungkal saat Kinara membanting tubuhnya kedepan.
"Saaaakiit..." teriak Joko yang sudah terhempas di bawah.
Sedangkan semua orang yang melihat adegan itu di buat kagum oleh Kinara. Mereka tak menyangka jika Kinara bisa menjatuhkan Joko dengan mudah dan terlihat sangat ringan.
"Kenapa berani sentuh gue?" kesal Kinara.
Kinara menginjak kaki Joko dan mulai bertarung dengan preman kampung itu. Joko tak mengira jika Kinara bisa beladiri sehingga membuat dirinya kewalahan. Alhasil dia ambruk saat Kinara menendang perutnya sampai terjengkang dan tak mampu bangun lagi. Melihat hal itu ketiga anak buahnya berusaha membantu Joko. Mereka menyerang Kinara bersamaan. Kevin dan Bang Bopak malah menonton saat Kinara melawan tiga anak buah Joko dan terus berteriak menyorakan nama Kinara bersama dengan para warga kampung lainnya.
"Ck, cunguks..." kesal Kinara berbalik dan menyerang tiga orang anak buah Joko sekaligus dengan mudah. Apalagi mereka dalam pengaruh minuman beralkohol yang membuat fokus dan dan tenaga mereka berkurang.
BUGH
BUGH
WOOSSH
Degan mudah ketiganya tumbang di tangan Kinara. Mereka sudah babak belur di buatnya.
"Ampun Bu... Ampun Bu Kinara. Ini sangat sakit." ujar ketiganya sambil meringis kesakitan menahan sakit di sekujur tubuh mereka karena ternyata tenaga Kinara sangat kuat. Sekuat penampilannya yang lain dari perempuan lain. Apa yang terjadi disana menjadi tontonan warga yang merasa senang saat melihat keempat preman dihajar oleh Kinara. Karena selama ini keempat orang itu memang sangat meresahkan warga disana.
Kinara kembali berbalik dan menarik kerah baju belakang Joko yang akan kabur saat melihat ketiga anak buahnya sudah babak belur. Melihat apa yang dilakukan Kinara kepada Joko membuat semua warga tertawa terbahak.
"Mau kemana Bang? Urusan kita belum selesai." ujar Kinara membuat Joko ketakutan dan berbalik.
"Eh Anu Bu... Maafkan tadi salah bicara. Silahkan jika Bu Kinara dan yang lain mau pergi. Saya gak jadi ko muntah uangnya. Sudah kenyang minum banyak tadi." jawab Joko ngeles.
"Denger Bang. Ini peringatan yang pertama dan terakhir. Selama ini aku selalu diam saja. Tapi lama-lama Bang Joko ini semakin meresahakan. Jika sampai Aku melihat Bang Joko memeras baik kepada karyawan ataupun warga maka tak segan aku akan membuat tangan dan kaki Bang Joko patah. Jika kalian butuh uang. Kerja. Jangan malak. Dan kalau meu kerja bisa datang ke proyek. Agar uangnya halal kalian berikan kepada anak bini. Noh, gak kasihan melihat ibunya nangis seperti itu? Mana sudah tua." kesal Kinara membuat keempat preman kampung itu menundukkan kepalanya. Sedangkan para warga kampung menatap kagum kepada Kinara. Dan apa yang kinara katakan memang benar adanya. Ada benerapa warga kampung juga yang bekerja di proyek.
"Maafkan saya Bu." jawab Joko lemas.
"Jangan minta maaf sama saya. Minta maaf sama kedua orang tuamu dan juga para warga. Jangan di ulangi lagi." jawab Kinara kemudian kembali menaiki motornya dan pergi dari sana diikuti oleh Kevin dan Bopak di belakangnya. Mereka kembali ke proyek untuk bekerja.
"Gilaaaa... Keren banget Bu Kinara ini. Aku kira cuma galak dan suka teriak-teriak di proyek saja. Ternyata bisa berantem juga." puji Kevin saat mereka berada di kantor.
"Bener banget Pak Kevin. Lihat gak tadi ekspresi mereka berempat. Kasihan sekali. Sudah mukanya jelek semua di tambah babak belur. Makin ancur." kekeh Bopak membuat Kevin tertawa terbahak mengingat wajah keempatnya saat Kinara menghajar mereka.
"Mau gosip apa kerja? Ini masih jam kantor." ujar Kinara membuat keduanya membubarkan diri dan kembali ke posisi masing-masing dan mulai bekerja. Kinara memang tegas dan disiplin saat jam kerja dan akan menjadi wanita paling santuy saat jam istirahat dan di luar jam kerjanya. Kevin dan Bopak tau itu. Tapi mereka tetap saja ngeyel dan iseng kepada Kinara.
"Maaf permisi. Apa saya bisa bertemu dengan Kinara?" seorang wanita cantik rambut sebahu datang mencari Kinara. Melihat wanita yang datang membuat Kinara mengerutkan keningnya.
"Anda siapa ya? Dan ada perlu apa mencari saya?" tanya Kinara mendekat ke arah wanita tersebut.
"Apa kita bisa berbicara berdua? Saya ingin bicara masalah pribadi." jawabnya kemudian. Kinara melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Karena anda bilang masalah pribadi, saya tidak bisa berbicara di jam kerja saya. Istirahat saya masih dua puluh menit lagi. Jika anda mau menunggu, silahkan tunggu di luar. Jika tidak berkenan silahkan kembali lagi besok di jam istirahat atau disaat saya pulang kerja." jawab Kinara tegas membuat nyali wanita itu menciut melihat aura tegas dari Kinara saat berkerja.
"Baiklah saya akan menunggu diluar." jawabnya dengan sedikit kikuk.
"Baiklah, silahkan." jawab Kinara dan kembali masuk kedalam ruangannya.
"Siapa?" tanya Kevin kepo. Kinara menaikkan kedua bahunya pertanda dia juga tidak tau. Melihat jawaban Kinara, Kevin tidak berani bertanya lagi. Hingga akhirnya waktu istirahat tiba dan Kinara menemui wanita tadi yang bahkan namanya saja dia belum tanya.
"Siapa nama anda dan ada pergi apa, Mbak?" tanya Kinara sambil duduk santai dihadapan wanita tadi yang mencarinya.
"Saya Fenti, saya teman kerja Gian sekaligus teman dekat Gian di kantor." jawabnya dengan penuh percaya diri. Kinara malah mengerutkan keningnya bingung.
"Lalu ada perlu apa anda datang mencari saya?" tanya Kinara heran dan tak habis fikir. Teman dekat Gian kenapa malah datang kepadanya.
"Saya minta dengan sangat anda jangan lagi mengganggu dan menghantui fikiran Gian. Karena sudah hampir satu bulan ini Gian selalu membicarakan kamu kepada saya. Saya merasa tak ada artinya dimata Gian. Padahal sebelumnya Gian tidak seperti itu. Apa yang sudah kamu lakukan kepada calon suami saya Mbak?" ujar Genti dengan nada berapi-api membuat Kinara menatap tak percaya dengan yang di katakan wanita di depannya.
"Mbak, anda salah alamat kalau datang pada saya. Saya dan Gian tak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman karena memang dari pinyik bareng-bareng. Lagian saya juga sudah nikah. Yang seharusnya mbak tanya itu sama si ontohod Gian. Kalau memang dia beneran cinta dan udah jadiin kamu beneran calon istrinya pasti dia gak akan mikirin wanita lain. Jika begitu artinya dia tidak sepenuh hati sama kamu. Jangan mau. Lebih baik cari kebahagiaanmu sendiri. Nanti kamu stres dan gila sendiri jika tidak kuat menghadapinya. Tanya dan bicara baik-baik dengan Gian. Karena jika anda datang pada saya. salah alamat." jawab Kinara.
Kinara yang sebenarnya dia juga merasa sakit mengatakan hal itu. Karena dia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Fenti. Hati suami culunnya itu ternyata masih nyangkut di orang lama. Dan pernikahan mereka hanya sementara. Jika di tanya dia pun rasanya ingin menyerah. Walau belum ada cinta dihatinya untuk Abidzar. Tapi saat ini pria itu sudah menjadi suaminya. Dan berdosa baginya jika tidak belajar mulai mencintai dan menerima suaminya apa adanya. Itulah yang dari awal pernikahan yang menjadi pegangan bagi Kinara.
"Saya permisi Mbak. Saya hanya berharap jika nanti Gian datang atau menghubungi kamu jangan pernah kamu respon. Karena kami berencana menikah bulan depan." ujar Fenti kemudian pergi dari hadapan Kinara. Mendapat ucapan ketus dari wanita itu membuat Kinara tertawa hambar dan geleng kepala.
"Apa aku bisa berbicara seperti itu kepada mantan istri Mas Bizar kalau seandainya dia datang? ah rasanya tak mungkin karena Pria itu akan lebih dulu menendangku." ujar akinara menghela nafas panjang sambil menatap langit biru.
Love hate relationship selalu menarik dinikmati,,
semangaat othor