"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 22
Wanita itu masih menatapku ramah, diri ini yang mematung di tempat masih enggan mendekat, sampai akhirnya Gara bangkit menghampiriku, menarik tangan ini agar ikut duduk bergabung. Dengan gesit ia melambaikan tangan pada pelayan dan memintaku untuk memilih menu makanan.
Setelahnya, tersisa keheningan beberapa detik...
"Hallo, ini beneran pacar kamu, Mas?" tanyanya ramah.
Rambut wanita itu yang diwarnai model pirang, membuatku sangsi akan statusnya, entah siapanya Gara.
"Buk,--" Aku ingin menyela. Tapi, injakan di kaki membuatku tertahan, Gara benar-benar cari gara-gara. Senyum tengil sepaket ringisan membuatku segera menerima kode darinya, agar aku ikut saja sandiwara yang saat ini Gara buat. Berusaha menampilkan senyum meski kaki-ku lumayan sakit akibat ulah Gara tadi.
"Iya, ini kekasihku, Ma. Orang Bandung," jelas Sagara membuatku rasanya ingin menyangkal saja. Terniat sekali dia, mengakuiku sebagai kekasih.
"Cantik, Mas. Namamu siapa...?" tanyanya ramah.
"Hanin, Tante." Terpaksa bibir ini kutarik ke atas, tersenyum semanis mungkin dan memperkenalkan diri.
"Udah lama, tinggal di Jakarta?" tanyanya.
"Baru, Tante."
Gara melirikku sekilas, tiba-tiba jemarinya sudah berada di atas punggung tanganku. Hampir saja bola mataku melompat karena terkejut dibuatnya, "Mama inget gak, pas minta anter ke Bandung nyari seseorang? Yang aku pulangnya ke Jakarta sendiri?"
"Iya inget."
"Iya, gara-gara itu aku kenal dekat dengan Hanin terus jadian," sahut Gara enteng tanpa dosa. Sampai-sampai aku tak bisa menyela ucapannya sedikit pun. Pintar sekali dia berakting, jangan-jangan dia memang sudah memikirkan hal ini sebelumnya, sampai berbohong pun masih terlihat santai.
"Oh, gitu. Ajak main ke rumah dong, Gara. Biar kenalan juga sama Papi kamu," sahut Mamanya Gara lalu menatapku lagi, "mau kan, Sayang?"
Eh eh...
"Aku sih terserah Gara, Tante." Lalu mengerling ke arahnya, "aku nggak sibuk-sibuk banget, apalagi kerja juga selalu pulang ontime."
"Hanin kerja dimana?"
Mam-puss, baru juga mau mulai kerja besok senin!
"Ehm, Wijaya grup, Tante!"
"Oh dunia ini sempit sekali, ya?" Mamanya Gara itu tertawa heboh. Aku sampai kehabisan kata-kata, memilih menunduk dan diam. Adakah yang salah sampai membuat mamanya Gara tertawa?
"Udah, Ma. Hanin kan gak tahu kalau Mama itu,--"
"Gara, suttttt!"
"Mama mantannya Om Divine," sahut Sagara nyablak lalu meringis.
Wanita paruh baya bernama Cassandra itu mendelik ke arah Gara.
"Serius Tante?" jelas aku kaget, kok bisa-bisanya Pak Divine punya mantan modelan Mamanya Gara.
"Alah, jangan didengerin omongan Gara ya, Sayang. Dia emang suka gitu, ya namanya dulu kami sama-sama muda, wajarlah pernah saling jatuh cinta. Itu masalalu yang sangat buruk, jadi... Lupakan saja!"
Ah, rasanya dadaku berdebar mendengar panggilan 'sayang' berulang kali dari mamanya Gara. Ada rasa hangat menyeruak, mendesak cairan bening yang sedari tadi tertahan di ujung mata jadi keluar.
"Lho Hanin kenapa?" Panik, baik Gara maupun mamanya sama-sama khawatir melihatku menangis.
"I'm oke, Tante. Cuma terharu denger Tante manggil aku sayang!"
"Ck, baperan kamu, Ay!" Lagi ini, Gara malah meledekku dan tersenyum tengil.
Bercerita panjang lebar, tak terasa satu jam lebih aku bergabung dengan Gara dan Mamanya.
"Gara, anterin Hanin pulang aja, Papi kamu bilang udah on the way kesini mau jemput Mama."
Wait...
"Eh, aku bisa pulang sendiri kok, Tante!"
Wanita cantik itu menatapku lekat, "No, Gara bukan pengecut yang akan biarin pacarnya pulang sendiri.
"Udah nurut aja," sahut Gara yang sudah berdiri lalu mengulurkan tangan.
"See you next time, Sayang!" begitulah Mama Gara melambaikan tangan sebelum kami berpisah.
"Kamu gak perlu nganter aku, Gara. Aku bisa pulang sendiri, lagi pula aku tadi berangkat sendiri!"
"Menurutmu, aku orang yang setega itu Hanin? Setelah kamu membantuku tadi?" Gara menaikkan alis, lalu menoleh padaku. Masih enggan melajukan mobilnya, dan yang terjadi kami hanya saling diam berdua di dalam mobil yang masih berada di parkiran.
"Oke terserah!"
"Kamu beneran tinggal disini?" Gara menghentikan mobil, seolah tak percaya.
"Mmm..."
"Kamu bisa tinggal di apartemenku kalau mau," sahutnya setelah terdiam lama.
"Akan aku pikirkan, apalagi jika kamu menawariku gratis tanpa biaya sewa!" jawabku asal, semata tak ingin terkesan menolak bantuannya.
Baru saja berniat turun, aku melihat seseorang berdiri di depan gerbang seraya celingukan.
Mam-pushhhh! Kenapa pula Mas Harsa sampai disini!
"Kamu kenal?" tanya Gara.
Aku mengangguk, "aku terima tawaran untuk tinggal di apartemen kamu. Tapi sekarang, aku butuh sekarang Gara!" tenggorokanku tercekat, bisa-bisanya Mas Harsa mencariku seorang diri ke Jakarta, mau apa dia.
"Mau menemuinya? Siapa tahu ada hal penting?"
Aku menghela napas, berusaha berfikir sebentar. "Sekarang giliranmu membantuku!"