✦ JERAT TIGA SISI ✦
"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"
Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.
Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.
Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.
Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.
Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Akhir dan Benih Badai Baru
Tiga hari pasca-kejadian mencekam yang menguras nyawa di tengah dinginnya Laut Utara, Azira akhirnya diperbolehkan keluar dari Rumah Sakit Pusat Jakarta.
Pagi itu, suasana di dalam kamar rawat VIP tidak lagi pekat oleh aroma kecemasan. Baskara datang sendiri untuk menjemputnya.
Pria itu menolak membiarkan para pengawal atau asisten pribadinya menyentuh barang-barang Azira. Dengan gerakan yang sengaja dibuat sepelan mungkin agar tidak mengejutkan fisik Azira yang masih rapuh, Baskara mengambil tas kecil tunangannya.
Sebelum mereka melangkah keluar, Baskara meraba saku jasnya, mengeluarkan selembar kain rajut berwarna krem yang familier. Itu adalah syal pemberiannya yang sempat dirobek kasar oleh Gavin di rumah kuno.
Azira tertegun saat melihat kain itu kini sudah kembali utuh, bersih, dan memancarkan wangi aroma vanila yang menenangkan. Tidak ada satu pun serat benang rajutan yang terlihat cacat; Baskara diam-diam telah mengirim syal itu ke perajin terbaik di ibu kota untuk diperbaiki dalam waktu semalam.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Baskara melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Tangan besarnya yang hangat perlahan mengalungkan syal krem itu ke leher Azira, merapikannya dengan kelembutan yang sangat kontras dengan pembawaannya yang biasa angkuh.
Tatapan mata elangnya mengunci manik mata Azira, mengirimkan getaran aneh yang membuat dada Azira seketika menghangat. "Udara di luar sedang berangin. Jangan sampai kau menggigil lagi," ucap Baskara, suaranya berat dan rendah.
Perjalanan di dalam mobil mewah menuju kawasan penthouse sore itu terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi ketegangan kontraktual yang membakar udara, tidak ada pula paksaan.
Azira menyandarkan kepalanya ke kaca mobil, menatap jalanan ibu kota yang mulai diguyur rintik hujan tipis. Di sampingnya, Baskara sesekali melirik dari sudut mata, memastikan posisi duduk Azira sudah cukup nyaman di atas jok kulit yang empuk.
Begitu mobil berhenti di pelataran parkir bawah tanah gedung penthouse, sebuah pertemuan penting yang tidak terduga telah menanti mereka.
Di dekat pilar beton, sosok Dokter Farhan berdiri bersandar pada pintu mobil sedannya. Ia masih mengenakan kemeja kasual dengan jas dokter yang tersampir di lengan, memperlihatkan gurat lelah yang pekat di wajah tampannya setelah berhari-hari memantau kondisi kesehatan Azira.
Baskara meminta Azira untuk tetap tinggal di dalam mobil sejenak. Sang CEO muda membuka pintu, melangkah keluar dengan langkah tegap, menembus hembusan angin sore yang berbau tanah basah.
Kedua pria yang pernah bertaruh nyawa di tengah laut itu kini berdiri saling berhadapan hanya dalam jarak dua langkah.
Farhan menegakkan tubuhnya, melifting kedua tangannya di dada dengan tatapan yang tetap tegas menantang dominasi Baskara.
"Aku sudah memastikan seluruh rekam medis perkembangan fisik, resep obat, dan suplemen trauma Azira diserahkan kepada dokter pribadi keluargamu, Baskara. Secara medis dan hukum, tugasku untuk mengobatinya di rumah sakit sudah selesai."
"Aku tahu. Reza sudah menerima dokumennya," jawab Baskara dingin, namun nadanya tidak lagi mengandung penghinaan seperti hari-hari sebelumnya. Ada seberkas rasa hormat yang samar di balik ketenangan suaranya.
Farhan menghela napas panjang, matanya melirik sekilas ke arah kaca gelap mobil di mana Azira duduk menanti.
"Aku ke sini bukan untuk meminta upah finansial dari Prayoga Group. Aku ke sini sebagai pria yang telah menjaga Azira sejak kami masih mengenakan seragam sekolah. Aku tahu persis bagaimana rapuhnya batin wanita itu di balik senyum cerianya. Jadi, dengarkan aku baik-baik, Baskara. Jika kau kembali menggunakannya sebagai pion kontrak bisnis di atas mediamu, atau jika kau membuatnya menangis karena keangkuhan hartamu..." Farhan menjeda kalimatnya, memajukan tubuhnya dengan aura jantan yang tidak gentar sedikit pun.
"...aku bersumpah tidak akan lagi menggunakan jalur hukum untuk merebutnya. Aku sendiri yang akan membawanya pergi ke tempat terjauh yang tidak akan pernah bisa kau lacak dengan seluruh helikopter atau radar militer milikmu."
Baskara bergeming di tempatnya. Ia menatap Farhan lekat-lekat, lalu perlahan menyunggingkan senyum miring yang tipis.
"Kau sudah melihat sendiri apa yang kulakukan di dermaga Laut Utara malam itu, Dokter. Aku meruntuhkan seluruh egoku, dan aku bahkan siap menukar seluruh saham Prayoga Group demi seujung kukunya. Kertas kontrak pernikahan yang kau benci itu... sudah kuhancurkan berkeping-keping sejak aku memeluk tubuhnya yang gemetar di kabin kapal."
Farhan tertegun selama beberapa detik. Mendengar pengakuan jujur dan mutlak dari pria sekeras dan seangkuh Baskara membuat sang dokter menyadari satu kenyataan pahit yang menghantam ulu hatinya:
ruang di hati Azira sudah tidak lagi menyisakan celah untuknya. Baskara tidak lagi memandang pernikahan ini sebagai transaksi, melainkan sebagai garis akhir dari hidupnya sendiri.
Farhan memaksakan sebuah senyuman tipis—sebuah senyum kepasrahan seorang pria yang memilih mundur demi kebahagiaan wanita yang dicintainya. Ia mengulurkan tangan kanannya ke depan. "Jaga dia dengan baik, Baskara. Jangan mengecewakanku."
Baskara menatap tangan Farhan sejenak, lalu mengangkat tangan kanannya, menyambut jabat tangan tersebut dengan remasan yang kuat dan tegas. Sebuah kesepakatan jantan tanpa kata-kata resmi terjalin di antara dua rival tersebut.
Farhan menarik tangannya, berbalik, lalu masuk ke dalam mobilnya. Sedan hitam itu perlahan melaju membelah rintik hujan, meninggalkan pelataran dan mengambil satu langkah mundur yang sangat besar dari kehidupan Azira.
Di lantai atas, atmosfer di dalam penthouse bernuansa monokrom itu terasa jauh lebih hidup. Rangkaian bunga lili putih segar yang memancarkan aroma menenangkan kini menghiasi setiap sudut meja marmer, menggantikan kesan kaku yang selama ini membatasi ruang gerak Azira.
Azira berdiri diam di depan jendela kaca besar yang menjulang tinggi, menatap pemandangan lampu-lampu kota yang mulai menyala di balik tirai hujan malam.
Pintu lift privat berdentang pelan, menampilkan sosok Baskara yang berjalan masuk. Pria itu menanggalkan jas kemejanya, menyisakan kaos hitam kasual yang memperlihatkan lekuk dada bidangnya yang tegap.
Langkah kaki Baskara yang mendekat membuat jantung Azira mendadak bertalu-talu tidak keruan. Getaran asing yang selama ini ia sangkal kini meletup hebat di dalam dadanya. Saat tubuh tinggi Baskara sudah berdiri tepat di belakangnya, Azira bisa merasakan kehangatan yang mengalir dari pria itu.
Baskara mengulurkan kedua tangan kekarnya dari belakang, perlahan melingkari pinggang Azira, menarik punggung wanita itu agar bersandar pas di dada bidangnya.
Azira tersentak kecil, namun ia tidak menolak. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan protektif yang selama ini selalu menyelamatkannya dari neraka Gavin dan keluarganya.
Baskara menumpukan dagunya dengan lembut di atas pundak Azira, menghirup dalam-dalam aroma vanila yang menguar dari rambut panjang tunangannya.
"Farhan baru saja pamit di bawah. Dia menitipkan seluruh sisa hidupmu kepadaku," bisik Baskara, suaranya terdengar sangat berat, serak, namun sarat akan kehangatan intim yang meruntuhkan sisa-sisa dinding pertahanan batin Azira.
Azira menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang mendadak memerah panas. Jemari tangannya yang mungil perlahan bergerak ke atas, menyentuh dan menggenggam balik lengan kekar Baskara yang sedang mengunci pinggangnya.
"Baskara... soal surat perjanjian kontrak pernikahan kita di atas meja kerja kemarin..." cicit Azira lirih, suaranya sedikit tercekat oleh riak emosi.
"Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi transaksi saham, dan tidak ada lagi batasan kertas di antara kita, Azira," potong Baskara tegas tanpa bantahan. Ia memutar lembut tubuh Azira agar mereka saling berhadapan.
Tangan hangat Baskara terangkat, menangkup kedua sisi pipi Azira, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam sepasang mata elangnya yang kini dipenuhi oleh kabut cinta yang tulus.
"Mulai detik ini, kau bukan lagi tunangan kontrak yang terpaksa tinggal di sangkar emasku. Kau adalah akhir dari seluruh pencarian hidupku, Azira. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu atau membiarkanmu bergeser ke sisi mana pun lagi di dunia ini," ucap Baskara lirih, memajukan wajahnya hingga dahi mereka saling bersentuhan lembut di bawah temaram lampu ruangan.
Air mata kebahagiaan menetes perlahan di pipi Azira, namun kali ini bukan karena rapuh, melainkan karena rasa lega yang luar biasa besar. Jerat tiga sisi yang selama belasan bab mengurung, menyiksa, dan mempertanyakan takdir hidupnya kini telah melebur sepenuhnya tanpa sisa.
Di balik jendela yang diguyur hujan malam, Azira mengangguk pelan, membiarkan bibir Baskara mengecup keningnya dengan penuh takzim, mengunci seluruh takdir dan cinta mereka di garis akhir yang sesungguhnya.
...----------------...
[ALARM KEWASPADAAN BARU: Hilangnya Sang Monster]
Tepat ketika kehangatan ciuman Baskara baru saja terlepas dari kening Azira, ponsel khusus terenkripsi di dalam saku celana Baskara bergetar kencang, menghancurkan keheningan romantis di dalam ruangan dalam satu detik yang krusial.
Baskara menarik napas dalam, mencoba meredam ekspresi wajahnya agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi Azira. Ia mengusap pipi Azira sekali lagi sebelum melangkah mundur dua langkah ke arah sudut meja kerja jati dekat lift privat.
Baskara menekan tombol terima. Suara dari seberang garis telepon adalah suara kepala tim intelijen keamanan Prayoga Group, Bagas, yang terdengar sangat tegang, panik, dan terengah-engah—sebuah nada yang belum pernah Baskara dengar selama bertahun-tahun pria itu mengabdi padanya.
"Tuan Muda... kita memiliki situasi darurat tingkat merah," bisik Bagas dengan suara parau. Rahang kokoh Baskara langsung mengeras sempurna. Sisi CEO-nya yang dingin dan waspada mendadak bangkit kembali.
"Bicaralah, Bagas. Dan pastikan informasi ini layak mengganggu waktuku."
"Gavin Manzies... dia baru saja hilang dari Sayap Barat Rumah Sakit Jiwa Pusat Grogol dua puluh menit yang lalu, Tuan Muda," lapor Bagas cepat, mengirimkan gelombang kejut psikologis yang tak kasat mata ke dalam benak Baskara.
Sepasang mata elang Baskara menyipit tajam menembus kegelapan kaca penthouse, memancarkan kilat amarah dan insting protektif yang meledak instan.
"Hilang? Bagaimana bisa seorang pasien psikopat forensik dengan pengawasan perimeter berlapis kepolisian dan tim taktis kita bisa keluar begitu saja?! Apa pengawal kita tidak berguna?!" desis Baskara dengan suara yang diredam sangat rendah agar tidak terdengar oleh Azira yang masih berdiri di dekat jendela.
"Ini bukan pelarian biasa, Tuan Muda. Ini adalah operasi ekstraksi taktis tingkat tinggi," Bagas menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan analisisnya.
"Seluruh CCTV di koridor Sayap Barat diretas dan dihapus secara profesional dalam hitungan detik. Dokumen medis pemindahan daruratnya dipalsukan dengan cap stempel otoritas kementerian tertinggi. Tidak ada baku tembak, tidak ada kerusakan fisik pada pintu sel isolasi.
Seseorang bersetelan jas hitam mahal yang mengatasnamakan entitas finansial asing telah menebus jaminan penahanannya dan membawa Gavin pergi menggunakan helikopter sipil tanpa registrasi resmi dari atap rumah sakit."
Kata-kata Bagas menghantam logika Baskara seperti petir di malam hari. Gavin tidak melarikan diri karena gila; ada kekuatan gelap yang jauh lebih besar, lebih kaya, dan lebih terorganisir di balik bayang-bayang yang sengaja menjemput monster delutif itu untuk dijadikan pion serangan baru.
Kewaspadaan baru yang sangat pekat kini merayap masuk ke dalam urat saraf Baskara. Badai ini belum selesai. Musuh mereka bukan lagi sekadar seorang pemuda yang terobsesi masa kecil, melainkan sebuah konspirasi finansial rahasia yang kini memegang kendali atas kegilaan Gavin.
Baskara melirik sekilas ke arah Azira yang sedang menatapnya dari jauh dengan tatapan bingung namun penuh percaya. Baskara memejamkan matanya sejenak, mengunci rapat-rapat informasi mematikan ini agar tidak merusak kebahagiaan wanita yang baru saja ia bawa pulang dari neraka.
"Perketat perimeter keamanan penthouse di level maksimal," perintah Baskara dengan suara bariton yang teramat dingin, kaku, dan penuh otoritas absolut kepada Bagas.
"Aktifkan seluruh jaringan agen intelijen Prayoga di luar negeri. Cari tahu siapa bajingan berjas hitam yang berani menyentuh papan caturku. Jika Gavin atau sekutu barunya berani mendekat satu senti saja ke wilayah Jakarta... habisi mereka tanpa perlu meminta persetujuanku."
Baskara memutuskan panggilan sepihak. Ia memasukkan kembali ponselnya, lalu menarik napas panjang demi menormalkan kembali rahangnya yang menegang parah.
Saat ia berbalik dan melangkah kembali mendekati Azira, senyum hangat yang menenangkan kembali ia pamerkan dengan sempurna di wajah tampannya, menyembunyikan rapat-rapat benih badai baru yang siap mengancam takdir masa depan mereka.