Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Sejak rapat proyek berakhir, ada sesuatu yang terus mengganggu pikiran Evan. Bukan pembahasan anggaran. Bukan pula tenggat waktu proyek. Yang terus terbayang justru sosok seorang karyawan muda bernama Riko.
Beberapa kali Evan mencoba mengalihkan pikirannya dengan menumpuk pekerjaan. Berkas demi berkas ia baca, tetapi bayangan itu tidak juga menghilang.
Ia masih mengingat bagaimana Riko memperhatikan Indri saat rapat berlangsung. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada percakapan pribadi. Namun entah mengapa, pemandangan itu terus mengusik benaknya.
Rio yang masuk ke ruang kerja menghentikan langkah ketika melihat meja Evan masih dipenuhi dokumen.
"Bapak belum pulang?"
Evan menutup map di hadapannya. "Masih ada yang harus diselesaikan."
Rio mengamati wajah atasannya.
"Sepertinya bukan pekerjaan yang sedang Bapak pikirkan."
Evan mengembuskan napas pelan. "Apa pendapatmu tentang Riko?"
Rio sedikit terkejut. "Karyawan baru Haris Group itu?"
Evan mengangguk. "Dari laporan yang saya baca, kinerjanya cukup baik. Tidak ada catatan yang mengkhawatirkan."
Evan kembali terdiam. Jawaban itu tidak membuat pikirannya lebih tenang.
Sore mulai beranjak. Alih-alih pulang, Evan memilih duduk sendirian di lounge hotel tempat ia biasa bertemu klien.
Ia memesan segelas minuman beralkohol. Lalu segelas lagi. Bukan untuk melupakan. Melainkan untuk membungkam pikirannya yang terus berputar.
Suara gelas yang diletakkan di atas meja membuatnya tersadar sejenak. "Aku ini sebenarnya sedang memikirkan apa?" gumamnya.
Ia mengaku pada dirinya sendiri bahwa ia masih membenci masa lalu. Namun, ia bertanya-tanya mengapa kehadiran orang yang sama sekali tidak terlibat dalam peristiwa itu bisa mengganggu pikirannya.
Beberapa saat kemudian, pintu lounge terbuka. Sekelompok tamu keluar dari ruang pertemuan hotel. Di antara mereka, Evan melihat sosok yang langsung dikenalnya.
Indri. Wanita itu baru saja menyelesaikan pertemuan dengan klien Haris Group. Ia berjalan bersama dua rekan kerja dan seorang klien, masih membahas beberapa poin kerja sama sebelum akhirnya saling berjabat tangan dan berpamitan.
Setelah rombongan bubar, Indri berjalan sendirian menuju lobi. Tatapan Evan mengikuti langkahnya tanpa sadar. Ia menarik napas panjang. Pikirannya berkecamuk.
Di satu sisi, ia ingin tetap duduk dan membiarkan Indri pergi. Di sisi lain, ada dorongan untuk menghampiri dan menanyakan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Akhirnya, ia berdiri. Langkahnya pelan. Tidak tergesa-gesa.
Indri yang sedang menunggu lift menoleh ketika mendengar suara langkah mendekat.
"Evan?"
Pria itu berhenti beberapa langkah di depannya.
"Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini."
"Baru selesai bertemu klien," jawab Indri singkat.
Evan hanya mengangguk kecil. Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat.
Indri memilih untuk tidak menghiraukan keberadaan Evan. Ia terus menatap pintu lift hingga terbuka. Langkahnya cepat dan segera menekan tombol lantai tempat ruang parkir berada.
Namun, ketika Pintu lift hampir tertutup Evan segera melangkah masuk yang membuat Indri terkejut. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Evan berdiri di sampin Indri. Aroma alkohol yang samar masih tercium dari tubuh pria itu. Wajahnya tampak lelah, matanya sedikit memerah, tetapi kesadarannya masih cukup untuk mengenali keadaan di sekeliling.
Pintu lift tertutup. Suara mesin yang bergerak ke bawah menjadi satu-satunya suara di antara mereka.
Indri menatap angka lantai yang terus berubah. Ia berharap perjalanan itu segera berakhir.
Namun Evan justru membuka percakapan.
"Kau pernah berpikir bagaimana kalau orang yang dulu kau coba jebak adalah orang lain?"
Indri tetap diam. Ia tahu ke mana arah pembicaraan itu.
Evan tertawa hambar. "Kalau aku berada di posisi Vano waktu itu..."
Indri menunduk.
"Aku mungkin tidak akan pernah mau tinggal serumah denganmu."
Dada Indri terasa sesak. Namun ia tetap diam.
Evan melanjutkan. "Bayangkan saja. Seorang perempuan mencoba menjebak orang lain demi keinginannya sendiri. Dan pada akhirnya, orang yang tidak bersalah justru menanggung akibat paling besar."
Jari-jari Indri mengepal di sisi tubuhnya. Ia sudah mendengar kalimat-kalimat semacam itu berkali-kali. Tetapi malam ini terasa berbeda. Mungkin karena pikirannya sedang lelah. Mungkin karena ia baru saja melewati hari yang panjang.
"Kalau aku menjadi Vano," lanjut Evan lagi. "Aku pasti akan bertanya-tanya setiap hari bagaimana mungkin seseorang bisa hidup tenang setelah menyebabkan semua itu."
Indri akhirnya menoleh. Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak menyesal." Suaranya begitu pelan hingga hampir tertelan suara lift.
Evan terdiam sesaat. Namun kemudian ia berkata. "Penyesalan tidak bisa mengembalikan Laura."
Kalimat itu menghantam Indri lebih keras daripada sindiran sebelumnya.
Ia memejamkan mata. "Aku tahu." Suaranya bergetar. "Aku tidak pernah berharap kejadiannya akan seperti ini."
Evan menatapnya. "Tapi kau tetap menjadi awal dari semuanya."
Indri mengangguk. Tidak ada pembelaan. Tidak ada usaha untuk menyangkal. Ia sudah menerima kesalahannya bertahun-tahun lalu.
Ia telah kehilangan bertahun-tahun hidupnya. Kehilangan kebebasan. Kehilangan banyak momen bersama keluarganya. Dan setiap kali mengingat Laura, rasa bersalah itu kembali menghantuinya.
Evan menarik napas panjang. "Kalau aku menjadi Vano, aku tidak tahu apakah aku sanggup memandangmu setiap hari."
Indri menatap lurus ke depan.
"Dan untung Vano tidak seperti kamu."
Kalimat itu membuat wajah Evan seketika berubah. Tatapannya mengeras. Luka lama yang selama ini ia pendam seolah kembali terbuka hanya karena satu kalimat tersebut.
Emosinya meledak. Ia bergerak mendekat dan membuat Indri terdesak di dalam lift. Indri terkejut dan berusaha menjauh.
"Evan, berhenti!"
Namun Evan yang sudah dikuasai amarah tak menghiraukan. Ia semakin memangkas jarak dan langsung mencium Indri secara tiba-tiba dan kasar.
Indri membeku sesaat karena terkejut. Namun ia segera tersadar dan berusaha melepaskan diri.
"Berhenti!" Tangannya mendorong dada Evan.
Pria itu masih terbawa emosi, tetapi Indri terus berusaha menjauh.
"Jangan!" Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, Indri akhirnya berhasil melepaskan diri.
Ia langsung mendorong Evan menjauh.
Tepat saat itu— Ding! Pintu lift terbuka.
Indri hendak langsung berlari keluar, tetapi langkahnya terhenti. Ia menoleh kepada Evan. Matanya berkaca-kaca. Kali ini bukan hanya karena takut atau terkejut, melainkan karena kemarahan yang telah lama ia pendam akhirnya pecah.
Indri menarik napas panjang, berusaha menahan air mata. "Tidak perlu terus mengingatkan aku tentang kesalahanku." Suaranya bergetar.
"Aku tahu apa yang sudah aku lakukan!" Nada suaranya mulai meninggi. Air mata akhirnya jatuh di pipinya.
"Tanpa kau membuatku merasa kotor pun, aku selalu mengingat kesalahanku setiap hari." Ia mengepalkan tangannya.
"Setiap hari, Evan! Setiap kali aku melihat wajah Laura kecil, aku ingat apa yang terjadi. Setiap kali aku melihat Kak Cinta, aku ingat bagaimana hidupnya berubah karena semua itu. Dan setiap kali aku melihat Papaku, aku juga ingat bahwa bertahun-tahun hidupku sudah hilang karena kesalahanku sendiri." Suaranya perlahan terdengar lirih.
"Aku tidak pernah melupakan semuanya." Ia menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
"Jadi jangan berpikir aku hidup tenang seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku menyesal. Aku benar-benar menyesal!" Ia menatap Evan dengan tajam.
"Tapi aku juga manusia. Aku ingin menjalani hidup tanpa harus terus merasa bahwa aku tidak pantas bahagia."
Evan tidak mampu membalas kalimat-kalimat itu.
Indri berbalik keluar dari lift. Langkahnya cepat menyusuri koridor, sementara air mata terus mengalir tanpa mampu ia tahan.
Pintu lift kembali tertutup. Evan masih berdiri seorang diri. Kata-kata Indri terus berputar di kepalanya.
"Tanpa kau membuatku merasa kotor pun, aku selalu mengingat kesalahanku setiap hari."
Untuk pertama kalinya, Evan menyadari bahwa selama ini ia mungkin terlalu sibuk menghukum Indri sampai lupa bahwa rasa bersalah telah menjadi hukuman yang dibawa wanita itu jauh sebelum dirinya datang.
Dan pertanyaan yang muncul di benaknya malam itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua pertanyaan tentang masa lalu.
Apakah dendamnya benar-benar membuat Laura mendapatkan keadilan? Atau selama ini ia hanya sedang menciptakan luka baru untuk menutupi luka yang belum pernah sembuh dalam dirinya sendiri?
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁