Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAFE KESAWAN TANPA KOPI
Bayaran yang ditawarkan pemilik kafe cukup untuk menutup hampir separuh tunggakan sewa. Karena itu, aku menjawab bisa sebelum laki-laki tersebut selesai menjelaskan masalahnya.
“Bisa,” kataku.
Liza menginjak ujung sepatuku.
Aku menahan wajah. “Maksudku, bisa diperiksa malam ini.”
Pemilik kafe memperkenalkan diri sebagai Arman. Ia ingin tempatnya siap pukul sembilan pagi untuk pembukaan terbatas dan peliputan beberapa pembuat konten. Mesin kopi, dua pendingin ruangan, kulkas pajangan, lampu dekorasi, dan sistem suara harus menyala bersamaan. Saat ini, MCB jatuh setiap kali barista mencoba membuat kopi sementara pendingin bekerja.
“Masalah beban,” kataku.
“Atau instalasi,” kata Liza.
Arman memandang kami bergantian. “Yang penting selesai.”
“Kami perlu pemeriksaan penuh dan uang muka material,” ujar Liza.
Aku hampir mengatakan uang muka tidak perlu karena ingin terlihat yakin. Ingatan tentang surat pemecatan menahan lidahku sepersekian detik, cukup lama bagi Liza menyodorkan perkiraan biaya tertulis.
“Kalau setelah diperiksa ternyata perlu pekerjaan di luar ini, kami jelaskan dulu,” katanya. “Tidak ada tambahan tanpa persetujuan.”
Arman membayar uang muka melalui transfer. Aku menatap notifikasi masuk dan mendadak menganggap semua formalitas Liza sebagai penemuan peradaban yang cukup berguna.
Kami berangkat menjelang magrib. Fadli mengantar kotak alat dengan motornya, sedangkan aku berboncengan dengan Liza karena motor Tia dipakai kuliah. Di tengah Jalan Halat, jadwal kami berubah lagi ketika Arman menelepon dan meminta kami datang lebih cepat karena kru dekorasi hendak memasang lampu tambahan.
“Kau rindu aku, ya?” tanyaku setelah Liza mematikan telepon dengan wajah makin tegang.
“Aku rindu jadwal yang tidak berubah karena egomu.”
“Ini bukan egoku. Ini pelanggan.”
“Pelanggan berubah karena kau bilang semua bisa.”
Kafe itu menempati bangunan lama dua lantai di kawasan Kesawan. Dari luar, dindingnya dicat hijau gelap dengan jendela tinggi. Di dalam, meja kayu baru berbaris rapi, aroma cat bercampur kopi, dan kabel-kabel dekorasi menggantung dari plafon seperti akar pohon yang kehilangan tanah.
Arman menunjukkan panel utama di belakang dapur. MCB tidak memiliki label. Tiga kabel berbeda warna masuk ke satu terminal. Sebuah kabel ekstensi panjang memberi daya pada mesin kopi yang spesifikasinya saja hampir menyamai beban satu rumah kecil.
“Kontraktor bilang tinggal tambah MCB,” kata Arman.
“Kalau ember bocor, tambah keran tidak membuat air berhenti,” jawabku.
Liza menatapku. “Itu penjelasan teknis pertama darimu yang hampir berguna.”
Aku memutus sumber listrik dan mulai memetakan jalur. Tia datang setengah jam kemudian setelah kuliah, membawa kamera kecil dan formulir izin yang dibuat Liza. Ia meminta izin Arman sebelum mengambil gambar panel, lalu memastikan wajah pekerja dekorasi tidak masuk bingkai.
“Kemajuan,” kataku.
“Aku tidak mau dipanggil penjual malu lagi,” jawabnya.
Dari pintu depan terdengar suara orang memberi instruksi keras. Binsar masuk dengan rompi biru bertuliskan PLN dan helm proyek yang terlalu besar. Ia membawa tang kombinasi, tas pinggang, serta keyakinan yang tidak sebanding dengan kemampuan.
“Tenang,” katanya. “Tenaga profesional sudah datang.”
Aku menunjuk rompinya. “Dari mana itu?”
“Pasar loak.”
Arman langsung berdiri lebih tegak. “Bapak dari PLN?”
“Bukan,” jawabku cepat. “Dia dari keluarga yang sulit dikendalikan.”
Binsar memandang tulisannya sendiri. “Ini cuma rompi. Biar aman.”
“Kalau ada orang mengira kau petugas, kau lepas.”
Ia membuka rompi dan membaliknya. Di sisi dalam tertulis sebuah nama perusahaan katering.
“Sekarang aman,” katanya.
Liza menutup mata sebentar. Tia mengarahkan kamera ke lantai agar tidak merekam wajahnya sendiri yang sedang tertawa.
Kami membagi pekerjaan. Aku memeriksa panel dan jalur utama. Binsar menelusuri stopkontak dengan instruksi ketat agar tidak membuka apa pun tanpa memanggilku. Tia mengambil foto bukti. Liza mencatat beban setiap alat dan menjaga agar kru dekorasi tidak memasang colokan baru sesuka hati.
Masalahnya lebih buruk dari dugaan. Jalur mesin kopi disambung dengan kabel terlalu kecil. Dua pendingin ruangan berada pada sirkuit yang sama dengan lampu dapur. Di atas plafon, aku menemukan sambungan dari sedikitnya tiga masa renovasi: kabel tua berisolasi kain, kabel baru, dan potongan pendek yang disatukan memakai selotip biasa.
“Ini seperti silsilah keluarga,” kata Binsar dari bawah tangga. “Banyak cabang, tak jelas siapa ayahnya.”
“Pegang tangganya. Jangan analisis keturunan kabel.”
Panas di atas plafon membuat kausku basah. Debu menempel di wajah. Setiap kali kukira sudah menemukan jalur mesin kopi, kabel itu bercabang lagi menuju lampu, stopkontak, atau ruang penyimpanan. Tidak ada gambar instalasi. Tidak ada label. Hanya kebiasaan orang terdahulu menambah sambungan setiap kali kebutuhan baru muncul.
Aku turun dan menjelaskan bahwa pekerjaan tidak bisa selesai hanya dengan mengganti MCB. Jalur berbahaya harus dipisahkan, terminal panel dirapikan, dan beberapa sambungan diganti. Arman melihat jam lalu bertanya apakah pembukaan harus dibatalkan.
“Belum,” kataku. “Kita bisa prioritaskan mesin kopi, pendingin utama, dan penerangan. Lampu dekorasi tambahan jangan dulu.”
Liza mencatat persetujuan perubahan pekerjaan. Arman menandatangani. Aku merasakan sesuatu yang aneh: mengatakan keterbatasan ternyata tidak langsung membuat pelanggan pergi.
Kami mulai menarik kabel baru dari panel ke area mesin kopi. Binsar akhirnya berguna sebagai penarik kabel, meski setiap lima menit ia mengumumkan kemajuan seperti penyiar pertandingan. Tia memasang tanda agar pekerja lain tidak masuk dapur. Liza pergi membeli terminal dan pelindung kabel setelah memastikan harga melalui Acong Congki.
Menjelang pukul sepuluh, jalur pertama selesai. Mesin kopi dapat dinyalakan bersama satu pendingin tanpa menjatuhkan MCB. Arman tersenyum untuk pertama kalinya. Aku ingin langsung menguji semua alat, tetapi Liza belum kembali dan Pak Tor menelepon mengingatkan pengujian bertahap.
“Aku tahu,” kataku.
“Kalau tahu, lakukan.”
Setelah menutup telepon, aku memeriksa lagi terminal. Binsar bertanya apakah kami boleh membuat kopi gratis sebagai bagian uji fungsi. Arman mengatakan biji kopi untuk pembukaan belum boleh dipakai.
“Kafe tanpa kopi,” kata Binsar. “Ini seperti bengkel tanpa utang.”
Aku hendak menjawab ketika suara sepatu hak terdengar dari ruang utama. Seseorang berbicara kepada Arman, disusul bunyi ring light dibuka.
Lalu suara perempuan yang sangat kukenal memanggil dari depan.
“Jefri? Kau masih hidup rupanya.”