Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Nikah Siri
Rupanya keputusan Ratna tidak bisa lagi diganggu gugat, bahkan oleh anaknya sendiri yang meminta waktu pernikahan tersebut diundur barang satu hari atau dua hari saja.
Semuanya berjalan begitu cepat, Nara di dandani dengan kebaya putih. Sedangkan Sagara mengenakan sarung dan baju koko, rambutnya disisir rapi dengan peci menghiasi kepalanya.
"Ananda Sagara Radetya Adhiyaksa bin Danuarta Adhiyaksa, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Kanara binti Almarhum Suhendar, dengan mas kawin berupa uang sebesar dua juta rupiah dibayar tunai!"
Bahkan untuk uang mahar tidak sempat disiapkan, hanya beberapa lembar uang tunai yang tersisa di dompet Sagara.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kanara binti Almarhum Suhendar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ujar Sagara lantang dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Pak Penghulu.
"Sah."
"Sahhhhh!"
Sahut menyahut suara warga setelah kedua saksi menyatakan 'sah'. Kepala Nara menunduk, keduanya tangannya memilin. Dengan cepat statusnya yang sebagian perawan tua, kini berganti dengan istri dari pria yang satu tudung dengannya. Pria yang baru ditemui, pria yang bahkan nama panjangnya baru diketahuinya sekarang. Sifat, perangai, bahkan keluarganya, satu pun tidak ada yang Nara tahu.
Penghulu mengucapakan kalimat hamdalah, kemudian dilanjut do'a. Para warga mengangkat tangan dengan takzim, mengamini.
"Sekarang Ananda Sagara dan Ananda Kanara telah resmi menjadi sepasang suami istri, silakan, bisa cium tangan suaminya." Mendengar kata Pak Penghulu, tubuh Nara menjadi tegang. Sagara terlihat mengulurkan tangannya.
Nara mengangkat kepala, pandangannya terarah pada sang ibu. Ibunya di sana tengah berderai air mata, kepalanya kemudian mengangguk. Mata Nara ikut berkaca-kaca, ia meraih tangan besar Sagara yang kemudian dikecupnya. Setetes air matanya mengalir begitu saja membasahi permukaan kulit tangan pria itu. Salah satu tangan Sagara memegang ubun-ubun Nara dan bibirnya mengucapakan do'a.
Nara melepaskan kecupannya, air matanya masih berderai tak kala Sagara mengangkat wajahnya dengan lembut. Bibir pria itu berlabuh pada kening Nara yang dipoles bedak tipis. Kecupannya singkat saja, namun meninggalkan bekas yang tak kasat mata untuk Nara. Semakin mempertegas bahwa apa yang dialaminya sekarang, bukanlah sebuah mimpi.
"Selamat atas pernikahannya, langgeng sampai tua dan sakinah mawadah warahmah." Do'a warga dan mulai menyalami Nara dan Sagara.
Nara mengangguk tanpa sepatah kata pun, sedangkan Sagara mengangguk mengamini dengan senyum tipis menawannya.
Setelah menyalami semua tamu, pria itu bangkit membantu Ratna yang kini menjadi ibu mertuanya untuk menjamu tamu dengan makanan di warung yang memang masih banyak karena ditutup tengah hari.
"Loh, kok penganten baru di sini. Udah, kamu duduk saja sama Nara. Biar Ibu di sini," kata Ratna yang kaget melihat kedatangan menantunya itu.
"Iya, Saga bantuin Ibu sebentar, sekalian ambili nasi buat kami berdua." Kembali Sagara mengulas senyumnya yang membuat mertuanya itu langsung luluh tanpa penolakan lagi.
Dengan sigap pria itu menjamu tamunya bersama sang mertua, mondar-mandir ke sana dan kemari. Tidak berapa lama kemudian, ia mencentong nasi ke atas piring beserta lauk pauknya. "Ini, Ibu juga makan dulu. Semua tamu sudah dapat makanannya." Sagara menyodorkan nasi tersebut kepada sang mertua, tidak lupa juga mengambilkan air minum untuknya.
"Terima kasih, Nak. Kamu juga sama Nara makan dulu," Bu Ratna menerima makanan yang disodorkan, senyumannya terukir dengan kepala mengangguk pelan. Puas akan perlakuan sang menantu yang begitu sopan.
Semoga keluarga kecilmu bahagia, Nak. Langgeng, sakinah mawadah warahmah. Batin Bu Ratna melihat ke arah anaknya, lalu kemudian sang menantu yang berjalan pergi dengan makanan dan segelas air.
***
Sagara duduk berhadapan dengan Nara yang kini tengah melamun, tatapan mata gadis itu tampak kosong. Bahkan kedatangan Sagara tidak disambutnya, lebih tepatnya gadis itu tidak menyadarinya.
Pria itu sampai menggaruk belakang lehernya, bingung harus melakukan apa. Selama ini, ia hanya berhadapan dengan para gadis tantrum yang kelewat aktif, atau gadis menye-menye penuh drama. Sama sekali tidak memiliki pengalaman dengan gadis pendiam seperti ini.
"Hm, Nara. Makan dulu," ujar Sagara mendekatkan makanan yang dibawanya ke dekat Nara. Namun, Nara sama sekali tidak menghiraukan. Tatapannya masih melalang buana, bahkan setelah tangan Sagara bergerak-gerak di depan wajahnya.
Mata Sagara berkedip, kemudian helaan napas terdengar. "Makan dulu, hmm. Kamu pasti lapar sampai tidak fokus begini," ujar pria itu berkata lembut, tetapi Nara malah tersentak tak kala merasakan tangan besar dingin seseorang yang bertengger seraya mengelus pipinya.
Nara melihat si pemilik tangan dan tatapan matanya langsung bertemu dengan manik kelam pria yang tak lain telah resmi menjadi suaminya secara agama. Pria itu mengulas senyum menawannya, membuat bibir Nara mencibir. "Apa? Nggak usah pegang-pegang!" kata gadis itu ketus, seraya melepaskan tangan Sagara di pipinya. Syukurlah para tamu sedang fokus menikmati hidangan dan duduk berjauhan dengan mereka.
"Kamu senyum dikit napa, nanti orang-orang kira kamu nggak bahagia nikah sama aku," kata pria itu masih dengan senyumannya.
"Memang!" balas Nara dengan delikan mata. "Siapa juga yang akan bahagia jika menikah dengan orang asing yang sama sekali tidak dikenal?!"
"Mm-mm," Sagara menggeleng kiri-kanan, "Sekarang statusku bukan lagi orang asing, tapi SUAMI kamu sekarang," tekan pria itu pada kata suami. "Nanti juga saling kenal, bahkan sampai luar dalam. Tidak perlu buru-buru, kita jalani perlahan. Atau ... kamu mau sekarang?" Sagara menaik-turunkan alisnya. "Walaupun tidak lagi hujan, tapi suasananya masih sangat mendukung."
Sejenak ... Nara mengernyit, mencerna maksud dari pria itu. Lalu sesaat kemudian, tangannya langsung mencubit paha Sagara yang tengah duduk bersila.
Sagara meringis. "Kita baru saja menikah, kamu langsung KDRT." Suara pria itu memelas, beneran sakit. Sumpah. Jari-jari mungil itu ternyata aktif juga.
"Makanya, mulut kamu itu dijaga. Jangan sembarang, ini masih banyak orang. Kalau di dengar gimana?!" bisik Nara dengan suara tertahan penuh amarah, tepat di hadapan wajah pria itu.
Sagara sama sekali tidak merasa terintimidasi, sebaliknya ia malah memandang lekat wajah Nara yang begitu dekat dengannya. Bahkan napas keduanya menerpa mengenai wajah masing-masing, sampai tanpa sadar tatapan pria itu berhenti dan intens menatap bibir mungil nan ranum yang dihiasi liptint merah tipis. "Jadi, kalau tidak ada orang, boleh?" tanya pria ini masih tidak mengalihkan pandangannya.
Mata Nara mendelik, ia mengambil jarak. Namun, tengkuknya segera di tahan oleh Sagara. "K-kamu mau apa?!" tanya Nara gagap. Diikuti tubuhnya yang membeku karena tindakan mendadak pria itu, terlebih tatapannya yang begitu dalam. Nara merasa akan dikuliti.
Sagara masih menatapnya intens, lalu sesaat kemudian, mata pria itu berkedip dengan helaan napas yang terdengar. Ia menyendok makanan dan memasukkan ke dalam mulut mungil gadis itu. "Kasih kamu makan," jawabnya kemudian. "Aaaa ...." Dan Nara mau-mau saja membuka mulutnya untuk disuapin pria itu. Otaknya tengah blank, melebihi saat ia write block.
***
Bersambung ...