Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Sang Brondong SMA
Sepanjang perjalanan pulang, air mata yena tak henti mengalir. Yena memacu mobil pelan, meski hatinya rasanya ingin lari secepat mungkin menjauh dari kenyataan yang menyakitkan itu. Gedung perkantoran tempat Arga bekerja kini terasa seperti bangunan yang penuh kebohongan. Empat tahun waktu yang yena habiskan bersamanya, persahabatan belasan tahun dengan Fira—seolah semuanya hanyalah sandiwara panjang yang tak pernah yena sadari.
Malam itu, yena tak langsung pulang ke rumah melainkan dia menuju toko kuenya yang terletak di pinggiran kota, tempat di mana yena merasa paling tenang. Toko itu sudah tutup, tapi yena punya kunci cadangan.
Kunci pintu berderit pelan saat di buka. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk lewat jendela kaca. Aroma sisa kue mentega dan vanila masih tercium samar, seolah ingin menenangkan jiwa yena yang sedang berantakan. Yena duduk di lantai belakang meja kasir, memeluk lutut dan kembali menangis sepuasnya. Rasanya dunia runtuh seketika, dan yena tak tahu harus mulai dari mana untuk menyusunnya kembali.
Waktu berlalu begitu saja tanpa disadari. Hingga terdengar suara ketukan pelan di pintu kaca depan yang sudah dikunci.
Yena mengusap kasar air matanya, berusaha tenang.
"Siapa yang datang jam selarut ini?" Dengan ragu,yena bangkit dan melangkah mendekat.
Di balik kaca, berdiri seorang pemuda berseragam SMA berwarna putih abu-abu. Berkaca mata,rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tampak cemas, dan di tangannya ia memegang sebuah tas ransel serta sebuah amplop surat. Saat ia melihat yena menoleh, ia sedikit terkejut namun tetap tersenyum sopan—senyum yang begitu tulus, hangat, dan polos, jauh berbeda dengan segala kepalsuan yang baru saja yena lihat.
Yena membuka pintu sedikit,
“Maaf, toko sudah tutup. Kamu cari siapa?”
Pemuda itu menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, terlihat sedikit malu.
“Maaf mengganggu malam-malam, Kak. Aku… aku habis latihan ekskul dan kebetulan lewat. Tadi pagi aku lupa menaruh surat izin praktik kue kelompokku di sini. Kira-kira masih ada?”
Suaranya terdengar lembut namun tegas, matanya berbinar jernih menatap yena. Tatapan yang jujur, tanpa beban, tanpa niat buruk.
Hati yena yang sedingin es perlahan mulai merasakan kehangatan kecil.
“Oh, surat izin ya? Tunggu sebentar ya, aku cek dulu.”
Yena membiarkannya menunggu di depan sebentar, lalu kembali dengan selembar kertas yang terselip di buku catatan. Saat menyerahkan surat itu, tanganku sedikit gemetar—sisa tangis yang belum reda.
“Kakak menangis?” tanyanya tiba-tiba, matanya menatap lekat wajah yena.
Yena tertegun sejenak, lalu buru-buru memalingkan wajah. “Bukan, cuma… tadi kelilipan debu.”
Ia tak memaksa yena bicara, namun ia tak langsung pergi. Sebaliknya, ia merogoh saku seragamnya, lalu mengeluarkan sebatang permen cokelat.
“Kalau Kakak sedih, makan ini saja. Cokelat biasanya bisa bikin perasaan lebih enak. Itu kata bunda saya.”
Perlahan ia menyodorkan permen itu. Tatapannya begitu tulus, penuh perhatian tanpa ingin tahu masalah orang lain.
“Terima kasih ya, Kakak yang baik. Maaf sekali lagi sudah mengganggu istirahat Kakak. Saya pamit dulu.” Ia membungkuk sopan, lalu berbalik hendak melangkah pergi.
“Tunggu!” panggil yena tanpa sadar. Ia berhenti dan menoleh kembali.
“Kamu… siapa namamu?”
Pemuda itu tersenyum lebar, menampakkan lesung pipi yang manis. “Namaku juvan. Kalau Kakak?”
“Yena,” jawab yena pelan.
“Terima kasih permennya, juvan.”
“Sama-sama, Kak Yena. Semoga hari Kakak besok lebih baik.”
Dengan langkah ringan, juvan pergi meninggalkan toko kue. Namun ada sesuatu yang tertinggal—secercah cahaya kecil yang entah bagaimana berhasil merembes masuk ke dalam hati yang baru saja hancur lebur. Mungkin benar kata orang, setelah badai yang paling dahsyat berlalu, selalu ada cahaya yang tak terduga datang menyapa. Dan pertemuan yena dengan Raka malam itu, adalah awal dari cerita yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Tak lama juvan pergi yena pun memutuskan pulang ke rumah. Setelah sesampainya di rumah yena langsung memarkirkan mobil, dan masuk ke rumah, di ruang tamu tengah duduk seorang anak remaja yang sedang menonton pertandingan bola, ia adalah kenzo adik laki-laki yena.
"Loh kakak, kakak habis nangis, kenapa? Siapa yang bikin kakak nangis. " tanya kenzo dengan nada khawatir.
Kenzo menghampiri yena.
"Kak"
"Kakak gak kenapa-napa kok, cuma kecapekan aja, oh iya papa udah pulang?"
"Seperti biasa kak papa gk pulang"
"Oh, kakak ke kamar dulu ya"
Kenzo mengangguk, dan membiarkan kakaknya pergi walapun hatinya begitu penasaran kenapa kakaknya menangis sampai matanya sembab seperti itu, tapi kenzo memilih diam mungkin belum waktunya untuk bertanya-tanya ke yena.
Di kamar yena membuka laci meja disana terdapat album yang berisi foto-foto dia bersama arga, tangis yena pecah saat melihat foto-foto tersebut, yena masih tidak menyangka kalau hubungannya dengan arga akan berakhir semudah ini. Setelah puas menangis yena membersihkan diri lalu berusaha untuk tidur.
Keesokan paginya cahaya matahin masok melalui jendela kaca kamar yena, yena terbangun dengan mata yang sedikit agak sembab. Saat yena membuka hp yena kaget melihat banyak sekali pesan masuk, dan ternyata itu pesan dari para customer yang ingin memesan kue.
"Wah tiba-tiba banget banyak yang mesen kue hari ini, aku harus ke toko lebih awal hari ini" ucap yena dengan senyum mengambang"
Walaupun di toko yena sudah memiliki lima karyawan tapi dia tetap harus turun tangan membantu menghandle semua pesanan.
Yena pun turun ke bawah,
"KAKAK"teriak kenzo yang melihat kakaknya pergi terburu-buru.
" kenapa"
"Kakak mau kemana kok buru-buru banget, ayo sarapan dulu"
"Kakak mau ke toko kue, udah ya kakak pergi dulu soalnya ada banyak pesanan kue"
Yena pun pergi,
"Di rumah ini semua orang pada sibuk ya bik, dedek merasa kesepian banget, mana papa jarang pulang ke rumah pula." ucap kenzo pada bik ina, bik ina adalah ART di rumah itu dia sudah bekerja lebih dari 20 tahun, kenzo juga sudah menganggap bik ina sebagai ibunya karna sejauh ini hanya bik ina yang peduli pada kenzo.
Walapun aslinya kenzo ini adalah berandalan di sekolah tapi kalau di rumah kenzo memiliki sipat yang lembut dan penyayang.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan,papa sibuk mencari uang,toh demi kebaikan kamu juga.kak yena juga sibuk dengan kuliah nya dan toko kuenya, semua orang di dunia ini memiliki kesibukankanya masing-masing .ayok makan, makan yang banyak" ucap bik ina berusaha menyemangati kenzo. Kenzo pun mengangguk.
Di kampus vivien dan zara di kejutkan dengan fira yang datang ke kampus di antar oleh arga.
"Loh, loh, loh itukan arga kok dia anter fira ke kampus sih"ucap zara
"Lah iya ya"
"Pagi guys" sapa fira dengan ceria.
"Eem yena udah dateng"
"Yena hari ini gk ngampus katanya toko kuenya lagi rame jadi dia izin gk masuk" jawab vivien.
"Kamu kok bisa di anter arga ke kampus"
"Eeemm anuu..... Aku masuk duluan ya guys daa...."jawab fira yang menghindari pertanyaan vivien.
Zara dan vivien saling bertatapan.
" vi jangan bilang kamu punya pemikiran yang sama kayak aku"
"Udah za dari pada mikir yang enggak-enggak mending pulang dari kampus kita jenguk yena kita tanyain aja sama yena"
"Ide bagus tuh" jawab vivien.
Yena, fira, zara, dan vivien mereka ber empat adalah sahabat sejak SMA , sampai kuliah mereka masih bersahabat baik. Tapi tidak dengan fira, dia malah berhianat dengan merebut pacar yena.