Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 28- di Balik Lensa CCTV
Ep. 28- di Balik Lensa CCTV
Malam kian larut, namun hujan deras di luar sana belum juga mereda. Rintik air yang menghantam kaca jendela mobil SUV hitam itu seakan menyerupai dentuman kemarahan yang bergemuruh di dalam dada Kirana.
Setelah memastikan Aura aman dalam penjagaan ketat Mbok Darmi di ruang perawatan rumah sakit, Kirana memutuskan meluncur pulang ke rumah bersama Keisya.
Lampu jalanan kota membiaskan rona merah dan kuning yang buram di atas jalanan yang basah, menambah dingin atmosfer malam itu. Di jok belakang, Keisya ketiduran akibat keletihan dan terlalu banyak menangis, kepalanya bersandar lemas pada bantal kecil yang ada disana.
Beberapa saat kemudian, Pak Jaka menghentikan mobil tepat di depan teras rumah dan gerbang otomatis terbuka lambat.
Setibanya di rumah, Kirana turun dari mobil seraya membopong Keisya yang tertidur lelap ke dalam dekapannya. Langkah kakinya yang tegas dan mantap bergema di teras depan. Begitu pintu kayu utama dibuka, para ART yang cemas sudah berkumpul di ruang tengah menantikan kabar.
Mbak Yem, Tuti, dan Mbak Sri menyambut kedatangan Kirana dengan raut wajah yang tegang, namun Mbak Sri berdiri paling belakang sambil menyilangkan kedua tangannya dengan wajah pura-pura prihatin dan panik yang dibuat-buat.
"Bu Kirana... bagaimana kondisi Dek Aura, Bu?" tanya Mbak Yem dengan mata yang berkaca-kaca.
Kirana menghentikan langkahnya. Matanya yang dingin dan tajam menyapu satu per satu wajah orang-orang yang berdiri di hadapannya, termasuk Mbak Sri.
Kirana sengaja bersikap datar dan menyembunyikan badai amarah yang siap meledak dari raut wajahnya. Tidak ada bentakan dan tidak ada tuduhan. Kirana adalah wanita yang penuh kalkulasi, ia butuh bukti yang tak terbantahkan sebelum menghancurkan lawan.
"Aura sudah ditangani dokter di rumah sakit. Mbok Darmi yang menjaga di sana," jawab Kirana dengan suara datar yang tak menunjukkan emosi apa pun.
Kirana lalu menoleh pada Mbak Yem. "Yem, tolong ambil Keisya dari dekapan saya. Bantu dia bersih-bersih dan persiapkan dia untuk tidur di kamarnya."
"Baik, Bu Kirana," sahut Mbak Yem sigap, lalu mengambil alih tubuh Keisya yang tertidur lelap dengan penuh kehati-hatian.
Tanpa mengacuhkan Mbak Sri yang sempat mencuri pandang ke arahnya dengan gurat kecemasan yang tersembunyi, Kirana melangkah cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Ia langsung masuk ke dalam kamar pribadinya, memutar kunci dari dalam hingga berbunyi klik, lalu melangkah menuju meja kerja.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kirana membuka layar laptopnya. Ia menggeser kursor dengan cepat, mengklik aplikasi sistem keamanan smart home yang terhubung langsung dengan belasan kamera CCTV tersembunyi yang terpasang di setiap sudut rumahnya.
Kirana menyalakan rekaman CCTV di laptopnya.
Ia memasukkan kata kunci rentang waktu hari ini, memutar balik rekaman video tepat pada pukul 16.50 WIB, beberapa menit sebelum jeritan histeris Aura menggema di dasar tangga.
Layar monitor menampilkan sudut pandang kamera beresolusi tinggi (4K) yang terpasang di sudut plafon koridor lantai dua dan menghadap langsung ke arah mulut tangga utama.
Di dalam rekaman video itu, Kirana melihat Aura berjalan terhuyung-huyung sendirian. Balita itu tampak sangat lemas dengan sesekali memegangi perutnya. Tak lama kemudian, sosok Mbak Sri muncul dari belakang dengan wajah yang bertekuk dan bersungut-sungut.
Mbak Sri meraih lengan kiri Aura secara kasar dan mencoba menarik balita itu untuk turun. Namun, Aura yang kesakitan berusaha melepaskan genggaman itu dan menolak melangkah. Mbak Sri terlihat mengomeli Aura dengan gestur wajah yang sangat marah.
Lalu... insiden mengerikan itu terjadi.
Karena kesal anak kecil itu terus merajuk dan tidak mau menurut, Mbak Sri yang tersulut emosi mendadak mengibaskan tangannya dan tanpa sengaja mendorong tubuh mungil Aura dengan cukup keras!
Aura yang tidak siap dan dalam kondisi lemas kehilangan keseimbangan di bibir tangga. Balita tiga tahun itu terlempar ke belakang, berguling-guling hebat memukul belasan undakan kayu keras hingga menghantam lantai granit bawah dengan dentuman yang mengerikan.
Sementara di atas tangga, Mbak Sri menutup mulutnya sendiri dalam ketakutan dan rasa panik, lalu berpura-pura histeris seolah-olah Aura terpeleset sendiri!
"Ya ampun...!" pekik Kirana tertahan. Matanya membelalak lebar, tangan kirinya menutup mulutnya sendiri yang membeku dalam rasa shock yang luar biasa.
Darah Kirana mendidih seraya aura dingin merayap menembus dadanya. Ternyata Aura tidak jatuh sendiri! Pengasuh biadab itu yang telah mencelakakannya!
Amarah yang membakar mendorong Kirana untuk mencari tau lebih jauh. Dengan jemari yang cekatan, Kirana membuka file arsip rekaman CCTV dari pekan-pekan sebelumnya, khususnya rekaman video di mana Mbak Sri sedang bertugas berdua saja bersama Aura di ruang bermain belakang dan kamar bawah.
Kirana mengklik rekaman tanggal 12 Juli, jam 14.00 WIB.
Di layar monitor, terlihat Aura sedang duduk di karpet bermain seraya memegang mainan plastik. Mbak Sri yang duduk di sampingnya tampak sibuk bermain ponsel. Saat Aura tidak sengaja menjatuhkan cangkir plastiknya hingga mengenai kaki Mbak Sri, wanita itu seketika melemparkan ponselnya.
Tanpa perikemanusiaan, Mbak Sri meraih lengan mungil Aura dan mencubit kulit perut dan rusuk anak itu secara bertubi-tubi dengan sangat keras!
Aura yang kesakitan membuka mulutnya lebar-lebar untuk menjerit menangis. Namun, sebelum suara tangisannya sempat membelah udara, Mbak Sri dengan cepat dan kasar langsung membekap mulut dan hidung mungil Aura menggunakan telapak tangannya yang tebal!
Aura berjuang keras di balik bekapan biadab itu. Kaki dan tangan gempalnya menendang-nendang udara, matanya membelalak panik mencari udara segar, sementara air matanya mengalir deras membasahi pipinya.
Namun Mbak Sri terus membekapnya seraya berbisik mengancam di dekat telinga Aura sampai balita itu lemas dan hanya bisa menangis sesenggukan tanpa suara!
"Biadab..." bisik Kirana.
Kirana terus menggeser rekaman video ke tanggal-tanggal berikutnya. Dan di sana, terhampar kenyataan pahit yang makin menghancurkan hatinya.
Ia melihat rekaman tanggal 18 Juli, Mbak Sri memukul paha Aura memakai penggaris kayu karena Aura menumpahkan susunya. Rekaman tanggal 25 Juli, Mbak Sri mendorong kepala Aura hingga terbentur sudut sofa karena anak itu terus menangis merindukan Keisya.
Ada belasan rekaman CCTV yang merekam aksi penganiayaan dan kekerasan fisik serta mental yang dilakukan Mbak Sri terhadap Aura secara konsisten selama satu bulan terakhir!
Hati Kirana sangat teriris dan hancur berkeping-keping.
Setiap adegan kekerasan itu bagaikan sembilu tajam yang menyayat-nyayat dinding jantungnya tanpa ampun.
Anak sekecil itu... anak tiga tahun yang belum mengerti apa-apa, yang tidak bisa melawan, dan yang tak sanggup mengadu... telah menjadi sarana pelampiasan kekejaman seorang wanita dewasa di dalam rumahnya sendiri!
"Keterlaluan kamu, Mbak Sri!! Keterlaluan!! 😠" seru Kirana geram, air mata kemarahannya akhirnya meledak membasahi kedua pipinya.
Merasa tidak kuat lagi melihat adegan-adegan kekerasan yang mengerikan itu, Kirana segera menutup layar laptopnya hingga berbunyi nyaring.
Ia lalu menyandarkan punggungnya di kursi kerja, meremas dadanya yang terasa begitu sesak dan perih luar biasa. Air matanya menetes makin deras dan jatuh membasahi kemeja linennya.
Rasa bersalah yang teramat berat meremukkan jiwa Kirana. Selama ini, ia sengaja menarik diri dari urusan Aura. Ia bersikap dingin, tidak mau menyentuh atau memperhatikan anak itu karena dendamnya pada almarhum Rendra dan istri keduanya.
Namun, sikap pengabaiannya itulah yang telah memberikan celah dan panggung bagi Mbak Sri untuk menyiksa Aura tanpa terdeteksi!
"Aura menatapku siang tadi... anak itu memanggilku 'Mama' sambil menangis... dia bukan merajuk... dia sedang memohon perlindungan padaku!" batin Kirana menjerit menangis dalam penyesalan.
Kirana memejamkan matanya rapat-rapat, lalu tiba-tiba wajah Keisya berkelebat di dalam pikirannya.
Kirana membayangkan... bagaimana jika hal mengerikan ini terjadi pada Keisya? Bagaimana jika putri tunggalnya yang disiksa, dicubit bertubi-tubi, dibekap hingga sesak napas, dan didorong dari atas tangga oleh orang kepercayaan rumah tangga?
Bayangan itu membuat seluruh bulu kuduk Kirana berdiri ketakutan. Rasa mual dan amarah yang dahsyat menyatu menjadi gelombang keberanian yang dingin dan mematikan.
Kirana lantas mengusap air matanya secara kasar dengan telapak tangannya. Tatapan matanya yang tadinya dipenuhi kepedihan kini berubah total menjadi tatapan baja yang tajam, kelam, dan tanpa ampun.
Ia kemudian berdiri tegak dari kursi kerjanya, menyalin seluruh berkas video rekaman CCTV penganiayaan itu ke dalam sebuah flashdisk kecil di mejanya, lalu meraih ponselnya untuk menelepon kepolisian setempat.
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗