Aku masih perawan, itu yang di katakan Maudy ketika akhirnya Ia tau kalau suaminya selama ini mencoba menghindarinya karena kepercayaan turun temurun dari keluarga suaminya itu.
Pada saat resepsi pernikahan mereka entah karena apa, ada beberapa kembang mayang yang tiba-tiba mengering, dan itu membuatnya mendapat hinaan karena di percaya sudah tidak segel lagi.
Maudy yang mengira kalau suaminya menghindarinya karena memang tidak ada cinta, karena memang pernikahan mereka terjadi karena perjodohan.
Hingga akhirnya Ia tau alasan suaminya itu diam padanya selama berbulan-bulan. Yuk mampir di karya author remangan, jangan lupa bagi like komennya ya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 6 Bulan
Sementara Gibran pergi karena menghindari Maudy, istrinya itu langsung menemui Ibu mertuanya. Ia ingin meminta maaf karena sudah membuat wanita itu khawatir.
Di saat sedang merutuki dirinya sendiri, lagi-lagi ponsel nya berdering. Ini untuk yang kedua kalinya, ingin acuh tapi sebuah pesan yang baru saja masuk membuatnya terkejut dan langsung tancap gas. Ia merasa khawatir telah terjadi hal yang buruk.
Sampai di depan sebuah rumah mewah Gibran langsung berlari masuk, kebetulan disana Ia di sambut oleh seorang wanita paruh baya.
" Bi, Susan dimana. " Tanya Gibran.
" Ada di atas Pak, silahkan masuk. "
Gibran mengangguk dan berterima kasih dan langsung berlari ke lantai dua, di lantai dua Susan yang sejak tadi mengintip melalui kaca jendela segera melangkah ke atas ranjang dan menutup hampir seluruh tubuhnya.
Gibran melangkah perlahan mendekat dan duduk di sisi ranjang, tangannya terangkat kedepan ingin menyentuh tubuh Susan yang di lapisi selimut namun tangannya ragu.
" Susan, aku disini. Kamu baik-baik saja kan. "
Gibran menunggu jawaban Susan namun wanita itu tak bergeming, ketika Gibran ingin menyentuhnya tiba-tiba Ia terkejut karena Susan tiba-tiba memeluknya. Ia melempar selimut yang tadi menutup tubuhnya dan tersisa gaun transparan yang begitu nampak ketika di pandang, apalagi Ia bahkan tidak menggunakan pengaman yang lain.
Gibran membeku ketika dua gundukan kenyal menempel di dadanya, sebagai lelaki normal tentu saja hasratnya langsung menggebu ketika di suguhkan pemandangan seperti saat ini.
" Aku mencintai mu sayang, aku mohon tetaplah di sisiku. Aku bisa memberikan apapun yang kamu mau, bahkan diriku pun bisa kamu miliki. "
Susan menangis terisak masih dengan memeluk tubuh Gibran, Gibran berusaha menarik tubuhnya agar tidak bersentuhan langsung dengan tubuh Susan. Namun semakin Ia menghindar, Susan justru semakin memeluknya dengan erat. Ia bahkan menarik kuat tubuh Gibran hingga jatuh tepat di atas tubuhnya.
Gibran menelan salivanya sendiri ketika melihat pemandangan indah di bawahnya, namun tiba-tiba sekelebat momen seolah hadir di ingatan nya. Gibran memejamkan mata agar tidak melihat sesuatu yang seharusnya bukan untuk nya.
Susan merasa kecewa melihat Gibran memejamkan mata, nampak kalau Pria itu tidak menginginkan nya. Air matanya jatuh hingga membasahi telinganya, karena emosi di dalam dirinya Susan langsung menyerang Gibran dengan membabi buta.
Ia ******* dengan kasar bibir Pria yang sangat Ia cintai itu, Gibran yang terkejut berusaha menarik diri dari atas tubuh Susan. Susan tidak menyerah dan terus ******* bibir kekasihnya itu begitu juga dengan Gibran.
Bertepatan dengan adzan maghrib yang berkumandang, Gibran dengan semua kekuatan nya bisa terlepas dari jeratan yang hampir saja menjerumuskan nya. Ia berderab ke arah jendela sembari mengatur nafasnya yang naik turun tak menentu.
Dengan penuh kekecewaan, Susan menangis terisak.
" Kenapa sayang, kenapa kamu melakukan ini padaku. Kamu tau bagaimana perasaan ku padamu selama tujuh tahun ini, aku sangat mencintaimu. Semua tujuan hidupku hanya padamu, aku bahkan menolak banyak cinta semata-mata hanya untuk mu, tapi apa, apa yang sudah kamu lakukan padaku sayang. Aku sudah berjanji tidak akan pernah menikah dengan siapapun selain dengan mu, tapi kenapa....... kenapa Gibran....... !!. "
Susan turun dari ranjang dan ingin memeluk tubuh Gibran kembali namun Gibran dengan lantang melarangnya bahkan tanpa menoleh sedikit pun.
" Tetaplah disana Susan. " Seru Gibran dengan suara sedikit keras.
Susan terpaku, Ia shock mendengar seruan Gibran, selama ini Pria itu selalu berlaku lembut padanya.
" Tutuplah tubuh mu dengan selimut, aku.... aku tidak ingin kamu sakit. "
Gibran mulai memelankan suaranya, Ia merasa menyesal telah membentak wanita yang sampai saat ini masih bertahta di hatinya itu.
Susan tersenyum mendengar ucapan Gibran, setidaknya Pria itu masih peduli padanya.
" Sayang........ !! "
Lagi-lagi Gibran melarang Susan untuk mendekati nya, bahkan sedikit mengancamnya.
" Aku bilang berhenti disana, kalau kamu tetap memaksakan diri, aku....... aku bersumpah tidak akan pernah ingin menemui mu lagi. "
Mendengar ucapan Gibran yang bernada ancaman, Susan pun duduk kembali ke atas ranjang. Lama mereka terdiam hingga akhir nya Susan berderab ke arah lemari dan mengambil pakaian yang layak untuk Ia pakai. Gibran menghela nafas panjang masih terus memandang ke luar jendela, langit mulai gelap dan lampu di Ibukota terlihat indah dari tempat Ia berdiri.
Susan duduk di sofa dengan menyilang kan kedua kakinya, Gibran pun menoleh dan ikut duduk di sofa tempat Susan duduk.
" Maafkan aku Susan. Di dunia ini ada banyak hal yang kita anggap baik dan selalu kita ingin raih, namun tidak semua yang kita yakini itu bisa dengan mudah kita wujudkan. "
" A- apa maksud mu sayang. "
Susan bukan tidak mengerti apa yang ingin di katakan oleh Gibran, Ia hanya berpura-pura tidak tau. Semua yang terjadi terasa begitu sangat menyakitkan baginya, cinta mereka pernah kandas karena terhalang restu dari dari Ibunya Gibran dan sekarang terancam pupus karena perjodohan. Sungguh benar-benar menyakitkan untuk nya.
" Cobalah buka hatimu untuk orang lain Susan. "
Susan merasakan sesak di dadanya bahkan untuk bernafas saja Ia kesulitan.
" Kenapa sayang, apa kamu tidak ingin berjuang bersama ku lagi. Bukankah aku sudah berjanji akan merebut hati Bunda dan membuat nya menyukai ku, aku akan berusaha agar Bunda mau merestui hubungan kita. Satu tahun, aku minta waktu satu tahun, setelah itu kalau Bunda tetap tidak menyukai ku maka aku akan pergi dari hidup mu. "
Susan merasa ucapannya saat ini sangatlah konyol, namun Ia harus meyakinkan dirinya kalau Ia bisa kembali merebut cinta Gibran dan dan juga mendapatkan restu dari calon Ibu mertuanya.
Gibran menoleh, Ia tidak menyangka kalau Susan akan mengatakan hal seperti itu.
" Untuk apa membuang waktu Susan, tujuh tahun apa itu belum cukup untuk meyakinkan kalau Bunda memang tidak akan pernah merestui hubungan kita dan kamu juga tau bagaimana aku. Satu-satunya hal yang tidak ingin aku lakukan adalah melukai hati Bunda apalagi membuatnya menangis. "
Susan menggigit bibir bawahnya, apa yang di katakan Gibran benar-benar sangat melukai hatinya namun Ia berusaha tersenyum.
" Enam bulan, ya... cukup enam bulan saja. Jika aku tetap gagal maka aku akan berusaha merelakan mu, tapi aku juga meminta sesuatu padamu. "
" Meminta apa. " Tanya Gibran.
" Selama enam bulan, aku mohon agar kamu tetap menjaga hatimu dan tidak membukanya untuk orang lain. Bisakan kamu melakukan nya untuk ku. "
Lama mereka terdiam, Gibran berpikir sangat keras. Meskipun permintaan Susan terkesan konyol namun Gibran akhirnya tidak dapat menolaknya, mungkin hanya ini satu-satunya jalan keluar bagi mereka. Ya hanya enam bulan, setelah enam bulan mereka bisa memahami perasaan mereka masing-masing.
......................