NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Pagi hari di halaman rumah Kyai Abdullah, matahari bersinar terang menembus pepohonan.

Suara ayam berkokok bersahutan dengan lantunan hafalan para santri yang mulai beraktivitas.

Rani duduk di bangku kayu depan rumah, menyilangkan kakinya yang beralaskan sandal jepit pink andalannya.

Ia hanya mengenakan kaos lengan panjang dan celana training.

Tanpa hijab, tanpa riasan wajah, hanya wajah natural dengan sisa kantuk dan rasa bosan yang tak kunjung hilang sejak kemarin.

Yudiz muncul dari pintu, bersiap berangkat ke kantor.

Penampilannya pagi ini sangat kontras dengan sang istri.

Ia mengenakan jas biru gelap yang rapi dengan aroma parfum elegan.

Mobil sport hitam mengilap miliknya terparkir mencolok di tengah halaman pesantren yang sederhana.

“Rani, aku pamit ke kantor dulu,” ucap Yudiz, menatap istrinya dengan binar harapan kecil di matanya.

“Iya, sana-sana. Aku bisa hidup sendiri kok,” jawab Rani cuek.

Ia berharap suaminya lekas pergi agar ia bisa bernapas lega.

Yudiz tersenyum tipis melihat tingkah istrinya, kemudian ia mengulurkan tangan kanannya.

“Cium tangan suamimu dulu, Rani.”

Rani membelalakkan matanya saat mendengar permintaan suaminya.

“C-cium tangan? Maksudnya, seperti Umi ke Abi?”

“Iya, Rani. Itu bentuk penghormatan istri pada suaminya. Kamu tidak wajib, tapi akan lebih baik jika kamu melakukannya,” tutur Yudiz lembut.

Dengan sedikit gemetar dan kikuk, Rani mengulurkan tangannya, menunduk, lalu menyentuhkan bibirnya ke punggung tangan Yudiz.

“Seperti itu?” tanya Rani pendek.

“Untuk permulaan pagi ini, bagiku sudah luar biasa,” jawab Yudiz sebelum melajukan mobilnya membelah gerbang pesantren.

Rani menatap mobil suaminya yang sudah pergi menjauh.

"Kamu benar-benar membuatku merinding,” gumamnya sambil berjalan malas menuju pekarangan.

Ia melihat induk ayam yang sedang mencari makan bersama anak-anaknya.

“Kenapa aku bisa sampai di sini? Dari sirkuit langsung nyemplung ke pondok,” keluhnya sambil menggelengkan kepala.

Tiba-tiba terdengar suara motor matik berhenti di depan rumah.

Seorang gadis muda meloncat turun dengan lincah.

Ia memakai jaket merah, celana jeans, dan hijab sport hitam.

Di tangannya ada koper kecil dan sebuah piala yang berkilau.

“Assalamualaikum! Hai, rumah pesantrenku tercinta!” seru gadis itu ceria.

Rani berdiri, menatap bingung ke arah gadis yang menghampirinya dengan tawa lebar itu.

“Eh, Kamu siapa?”

“Kakak ipar! Akhirnya aku ketemu sama istri Mas Yudiz yang katanya super unik ini! Aku Lilis, adiknya Mas Yudiz. Aku baru pulang lomba dakwah dan debat bahasa Arab di Jakarta. Juara dua, lho!”

Rani hanya mengangguk-angguk, sedikit kagum dengan energi Lilis.

“Kata Mas Yudiz, Mbak Rani suka balap motor ya?” tanya Lilis antusias.

“Iya. Kenapa?” jawab Rani datar.

Ia menatap Lilis antara kagum dan lelah mental. Sepertinya hidupku akan makin ramai, batinnya.

Setelah Lilis masuk ke dalam, Rani kembali ke kamar.

Ia menatap sekeliling ruangan yang sunyi dengan sinar matahari yang membentuk pola di lantai, menyinari sajadah yang tergulung dan mushaf Al-Qur’an yang semalam disentuhnya dengan canggung.

Ia memeluk bantal erat-erat, menenggelamkan wajahnya di sana.

“Ya Allah, kalau Engkau memang ada, kenapa hidupku berbelok sejauh ini?” gumamnya.

Di matanya hanya ada bayangan helm, sarung tangan kulit, dan raungan mesin.

Rani tidak tahan lagi dan segera berganti pakaian: celana jeans favorit, hoodie hitam bertuliskan “Racing is Living”, dan sepatu boots ringan. Dengan senyum yang dipaksakan, ia menghampiri Kyai Abdullah di ruang tamu.

“Kyai Abi...”

“Ya, Rani. Sudah mulai betah di sini, Nak?” tanya Kyai Abdullah lembut tanpa mengalihkan pandangan dari kitabnya.

“Umi Siti rindu, Kyai. Beliau memintaku pulang sebentar ke rumah.” jawab Rani sambil menundukkan kepalanya.

Kyai Abdullah menatap Rani dengan tatapan penuh makna.

Beliau bukan orang bodoh, beliau tahu persis wajah anak muda yang sedang mencari jalan untuk melarikan diri. Namun, beliau hanya tersenyum tipis.

“Kalau begitu, hati-hati di jalan. Sampaikan salam kami pada orang tuamu.”

“Iya, Kyai Abi!”

Rani melangkah ringan menuju halaman, memanggil ojek untuk mengantarkannya pulang

Perjalanan dua jam, ia tempuh dengan wajah yang sangat sumringah.

“Umi Siti pasti lagi rebahan sambil makan kerupuk, bukannya nangis kangen,” gumamnya geli.

Sesampainya di rumah, Rani langsung membuka garasi samping.

Di sana, sepeda trail merah kesayangannya berdiri gagah dengan stiker-stiker juara.

Ia mengelus setang dan mencium bodi motornya seolah menyapa sahabat lama.

“Akhirnya kita ketemu lagi. Aku kangen berat, Sayang!”

Setelah memakai perlengkapan lengkap, Rani menyalakan mesin.

BRUUM!

Suara knalpot yang memekakkan telinga itu terdengar seperti musik di telinganya. Ia melesat menuju sirkuit kecil tempat komunitasnya berkumpul.

Di lintasan penuh lumpur, Rani kembali menjadi "penguasa". Helmnya menyala, motor merahnya menari-nari melompati gundukan tanah. Ia menyalip, menukik, dan melesat seperti burung liar.

“INILAH AKU!” jeritnya dalam hati di tengah sorakan teman-temannya.

Keringat dan bau oli terasa jauh lebih akrab daripada wangi kayu gaharu di kamar Yudiz.

Saat matahari mulai terbenam, Rani berhenti di pinggir lintasan, melepas helm, dan menyeka peluh di wajahnya dengan puas.

Sementara itu, di pesantren, Yudiz baru saja pulang dari kantor.

Ia masuk ke kamar, meletakkan tas kerjanya, dan menatap sudut ruangan.

“Rani?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban dari Rani, kamar itu kosong. Sajadah masih tergulung rapi di atas tempat tidur, seolah mengejek kesepiannya.

Yudiz menarik napas panjang, lalu tersenyum pahit.

Ia tidak menyangka istrinya akan senekat itu untuk kabur di hari kedua pernikahan mereka.

"Sepertinya, lintasan yang harus kutempuh untuk memenangkan hatimu jauh lebih terjal daripada sirkuit balapmu, Rani,” bisik Yudiz sambil tersenyum kecil.

Yudiz tidak mau membuang waktu dan langsung mengganti jas kantornya dengan jaket kulit hitam yang pas di badanm

Setelah itu ia mengambil kunci motor sport miliknya.

Di bawah sorot lampu jalanan yang mulai menyala, ia memacu motornya menuju sirkuit pinggiran kota yang sudah ia ketahui dari informasi santrinya.

Yudiz tidak peduli dengan lokasi yang menurutnya sangat jauh.

Dengan jalanan yang tidak begitu ramai, Yudiz telah sampai di sirkuit.

Ia melihat istrinya yang masih ada disana bersama beberapa temannya.

Rani yang masih di sana dan baru saja hendak menyalakan motornya untuk putaran terakhir kalinya .

Ia menoleh ke arah suara mesin yang halus namun bertenaga besar mendekat.

Sebuah motor sport hitam mengilap berhenti tepat di samping motor trail merahnya.

Rani membuka kaca helmnya, matanya membelalak tak percaya melihat siapa yang ada di balik helm full-face hitam itu.

"Yudiz?!"

Yudiz melepaskan helmnya, rambutnya sedikit berantakan namun auranya tampak berbeda, lebih tegas dan menantang.

"Kamu pikir aku hanya bisa duduk di belakang meja kantor atau di atas sajadah, Rani. Ayo kita balapan."

1
lin
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!