NOVEL SEDANG DIREVISI
Karena keterpaksaan mertua, Siska harus menjalani tekanan batin yang luar biasa,
namanya Fransiska Damayanti usia 33 tahun sementara suaminya bernama Arya Praptama berusia 35 tahun.
Selama 10 tahun Siska menjalani rumah tangganya bersama suaminya, namun belum dikaruniai anak, hingga akhirnya Siska memutuskan untuk menikahkan suaminya bersama gadis belia berusia 17 tahun yang bernama Dinda Kinara. Dinda adalah gadis yatim piatu yang tinggal disebuah desa terpencil, keterbatasan ekonomi mengharuskan Dinda menjadi tulang punggung keluarga, hingga akhirnya ia mendapatkan tawaran dari Siska untuk menjadi istri kontrak selama satu tahun sampai ia memiliki anak.
Yang penasaran bisa ikuti cerita ini langsung dibawah ini yah, sebelum membaca saya berharap kepada teman readers agar bersabar dan berlapang dada dalam membaca ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isna Putri Tarimakase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Ricko dan Dinda
Ricko sedang duduk santai di balkon rumahnya, sejenak ia menyuruput kopinya melepaskan segala kepenatannya selama dikantor, perlahan ia menggapai ponselnya, seperti biasa ia akan memberikan pesan kepada Dinda walau hanya sekedar tanya kabar meskipun itu tak pernah dibalas oleh Dinda.
[Selamat sore Dinda, bagaimana kabarmu?]
Belum lama Ricko mengirimi Dinda pesan, tiba-tiba dibalas oleh Dinda, seketika Ricko langsung membuka pesan dari Dinda.
[Selamat sore juga mas, Alhamdulillah aku baik]
"Hah tumben dia balas, biasanya dia tak pernah balas, apa mungkin dia sudah selesai kontrak yah?" gumam Ricko bertanya-tanya
Karena penasaran, Ricko segera menekan kontak Dinda lalu meneleponnya.
-----
Tring tring tring.
Saat Dinda sedang merebahkan tubuhnya diatas ranjang, tiba-tiba terdengar suara ponsel Dinda berbunyi, Dindapun melihat kontak Ricko sedang meneleponnya , namun saat Dinda akan mengangkat teleponnya tiba-tiba ia teringat dengan Arya suaminya yang marah jika ia menerima telepon dari Ricko.
"Hmm mas Ricko menelponku, hmm bagaimana ini apa Tuan tidak akan marah jika aku menerima telepon dari mas Ricko?"
"Tapi kan sudah satu bulan Tuan tidak pernah menghubungiku, mungkin Tuan sudah melupakanku" gumam Dinda dalam hati merasa sedih.
Perlahan Dinda mulai mnegangkat telepon dari Ricko.
"Hallo" jawab Dinda.
"Hallo Dinda, syukurlah kamu mau mengangkat teleponku, kamu apa kabar Dinda"
"Alhamdulillah baik mas, mas Ricko sendiri apa kabar?"
"Alhamdulillah baik juga Dinda, oh ya tumben kamu bisa sms dan angkat teleponku? Apa itu pertanda kamu sudah selesai kontrak Dinda?"
"Iya mas, aku sudah selesai kontrak mas, dan aku sudah kembali ke kampung mas"
"Wah syukurlah kalau begitu, apa aku bisa bertemu denganmu Dinda, aku minta alamatmu yah"
"Bisa mas, tapi kampungku jauh"
"Tidak apa-apa Dinda aku tetap akan pergi kesana walau jauh"
"Baiklah mas, nanti aku sms alamatnya"
"Iya Dinda, aku tunggu"
Setelah Ricko menutup teleponnya, wajahnya tampak bahagia, karena penantiannya selama ini tak sia-sia.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu Dinda" gumam Ricko dalam hati.
***
Keesokan Harinya
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Ricko sampai dirumah Dinda. Sementara Dinda sedang berada didepan rumah, menunggu kedatangan Ricko.
Perlahan Ricko menuruni mobilnya, lalu menghampiri Dinda yang berada didepan rumahnya.
"Dinda" sapa Ricko sambil tersenyum menatap Dinda.
"Mas Ricko" sahut Dinda.
"Mari masuk mas Ricko" ajak Dinda mempersilakan Ricko masuk.
Setelah Ricko masuk dan duduk di sofa, Dinda pamit untuk membuatkan minuman untuk Ricko, setelah Dinda membuat minuman, Dinda mengantarkan minuman itu lalu menyajikannya diatas meja.
"Silakan mas di minum dulu"
"Iya Dinda, terima kasih" ucap Ricko tersenyum menatap Dinda.
"Oh ya Dinda, sejak kapan kontrakmu selesai?"
"Sudah dari sebulan yang lalu mas"
"Wah lama juga, kenapa kamu baru kasih tahu aku sekarang Dinda"
"Iya soalnya, aku juga sibuk mas"
"Oh,"
Tak lama mereja sedang mengobrol, tiba-tiba Mbah keluar dari ruang tengah dan melihat Dinda bersama Ricko.
"Oh ada tamu to," kata Mbah Tarmin mengagetkan Dinda bersama Ricko.
"Oh iya mbah, ini teman Dinda yang dari jakarta"
"Ricko, Mbah" ucap Ricko sambil menciumi tangan Mbah Tarmin.
Setelah Ricko mencium tangan Mbah Tarmin, Mbah Tarmin mengajak Dinda masuk ke dalam.
"Nduuk bisa ikut mbah ke dalam, soalnya ada yang ingin Mbah bicarakan"
"Oh nggih mbah, Mas ricko tunggu sebentar yah aku kedalam dulu"
"Oh iya Dinda, silahkan!"
Sampai didalam mbah Tarmin mulai berbicara kapada Dinda.
"Nduuk kalau bisa untuk saat ini kamu jangan terima laki-laki dulu, meskipun kamu sudah pisah dengan suamimu, tapi bukan berarti dia sudah menceraikanmu, nduuk"
"Iya mbah maaf, itu teman Dinda kok bukan siapa-siapa Dinda"
"Walaupun itu cuma teman, tapi orang diluarsana tidak memandang itu temanmu atau bukan, karena semua pikiran orang itu berbeda-beda, apalagi kamu baru satu bulan berpisah dengan suamimu, sebaiknya kamu bersabar sampai tiga bulan masa iddahmu nduk, kalau memang nak Arya tak datang memberikanmu nafkah sampai waktunya maka jatuhlah talaknya,"
"Nggih Mbah, nanti aku bicarakan ini kepada mas Ricko"
"Iya nduk"
Setelah Dinda berbicara dengan mbah Tarmin, Dinda kembali ke ruang tamu untuk menemui Ricko, ia ingin mengatakan itu tapi tidak enak dengan Ricko.
"Maaf mas bisa aku bicara sesuatu!" ucap Dinda merasa gugup.
"Iya Dinda silahkan,"
"Kalau bisa mas jangan lama-lama disini yah soalnya aku malu nanti jadi bahan bicara tetangga"
"Oh iya tidak apa-apa Dinda, aku mengerti kok, lagian aku gak bakal lama kok disini, yang penting sudah ketemu kamu sudah mengobati rasa rinduku padamu Dinda" ujar Ricko sambil tersenyum menatap Dinda.
"Nggih mas, terima kasih atas perhatiannya,"
"Oh ya Dinda, nanti aku bisa kan kesini lagi? soalnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu',"
"Hmm bicara apa yah mas?" tanya Dinda penasaran.
"Ada deh, nanti sureprise untukmu Dinda,"
"Oh gitu, ya udah mas gak papa hehehe" kata Dinda terkekeh.
Setelah Dinda dan Ricko mengobrol yang cukup lama, akhirnya Ricko pamit pulang kepada Dinda.
Bersambung..