Hijrahnya Ernest adalah titik awal perjalanannya untuk menjadi seorang hamba yang bertaqwa sekaligus perjuangannya untuk meraih bahagia bersama Aisya.
Pendidikan yang berjauhan menjadi ujian Aisya dan Ernest berikutnya, bersama kesibukan masing-masing yang semakin membuat hubungan keduanya berjarak, hingga seiring waktu keduanya hanya saling menitipkan pada Yang Maha Kuasa.
Setelah perpisahan lama, Ernest memutuskan untuk pulang dan berencana meminang Aisya, lalu ujian hubungan seperti apa yang Tuhan berikan untuk keduanya demi meningkatkan keimanan dan ketaqwaan? Bagaimana usaha mereka untuk meraih kebahagiaan yang diridhoi Sang Pencipta?
"Dear My'Adam...
jika memang kamulah Adamku, aku yakin Rabb akan menjaga raga, telinga, mata, dan hatimu hingga kamu kembali..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DM'A_part 22
Aisya tersentak kaget ketika mendengar ucapan Erja, yang meminta Ernest bertanggung jawab atas kesalahannya.
Suara Erja memang tak kencang apalagi sampai bisa terdengar keluar kamar dan seantero Madinah, namun jelas sayup-sayup suara Erja itu menggema menelusup pendengaran termasuk hati Aisya, saat ia menghampiri Ernest yang tengah berbicara di telfon, dengan maksud bergabung dengannya di dekat jendela kamar hotel.
Suara Erja bocor dan terdengar, entah volume yang Ernest stel begitu kencang atau memang firasat istri yang menuntun pendengaran Aisya agar begitu sensitif.
Perse tan dengan marwah. Anaknya aja yang mau gue jebol. Dia sendiri ngga mikirin harga diri keluarga kan?! Hari gini udah ngga jaman mikirin harga diri bang, tapi mikirin nikmat sama pengalaman.... Kalo abang masih mikirin nama baik keluarga....Gampang, poligami ngga dilarang kan? Abang nikahin dia siri...anaknya lahir cerein. Kalo emang abang ngga mau hianatin kak Ai. Asal abangnya aja jangan ngedip-ngedipin si Husna, terus belok.
Ernest melirik ke arahnya getir, "si alan..." desis Ernest, "sampai kapanpun gue ngga akan pernah ngelakuin itu." Ucap Ernest seraya menatap Aisya lekat penuh makna. Ernest mematikan panggilan itu dan berlanjut menelfon Coki juga Evan.
Hati istri mana yang tak berdenyut ketika mendengar permintaan agar sang suami mendua meski itu tak terucap langsung dari bibir Ernest.
Kemudian mata Aisya menangkap setiap gerak-gerik dan gestur sang suami tengah berbicara dengan Evan dan Coki.
Sepasang tangan lentik menyentuhnya lembut, menelusup melingkari pinggang Ernest, dan Ernest membiarkan itu. Aisya menyenderkan kepalanya di punggung Ernest seolah sedang menyandarkan beban hidupnya pada Ernest begitu mesra dan manja.
Setidaknya amarah yang sempat bercokol di dadha teredam dan meluruh karena kelembutan istrinya.
"Kita lagi ibadah, ngga baik hati kamu diselimuti rasa marah. Apa yang mau kamu lakuin sama Coki sama Evan? Jangan pake cara kekerasan, by. Erja adek kamu..." mata bening nan bulat itu seolah memohon pada Ernest saat ia sudah memutar badannya.
"Kamu tenang aja, untuk urusan Erja dan Husna sudah kuurus. Maaf jika nanti selama pernikahan, kamu harus direpotkan dengan masalah keluarga aku yang boleh dikatakan bobrok...." ucap Ernest membawa surai sehitam eboni itu ke belakang telinga Aisya.
Aisya menggeleng cepat, "keluarga kamu adalah keluargaku, adik-adikmu adalah adikku. Sudah seharusnya kamu sebagai abang laki-laki yang mengajarkan dan membimbing mereka." Jawab Aisya.
"Maaf juga kalau ucapan Erja sempat menyakiti hati kamu, biar aku yang kasih pelajaran...."
Aisya menggeleng, "aku emang sempet kaget waktu Erja nyuruh kamu nikahin pacarnya. Tapi itu ngga bikin aku terus ngamuk sama kamu. Itu adalah ucapan dari lelaki yang ketakutan masa mudanya terenggut."
"Jangan pernah menyetujui perkataan Erja yang nyuruh aku nikahin Husna demi marwahnya. Karena sampai kapanpun aku ngga akan sanggup untuk berlaku adil....apalagi sampai harus nyakitin hati kamu. Perjuangan dapetin kamu itu lebih dari cukup untukku sebagai pengingat setiap detik waktu kehilangan...."
Aisya menyunggingkan senyumannya, "aku setuju sama Erja."
Ernest mengangkat kedua alisnya kaget, "serius?!" tanya nya, baru kali ini Aisya melihat wajah terkejut Ernest, ia tertawa empuk dan mengangguk, "setuju kalo poligami itu tidak dilarang, tapi....dengan syarat dan ketentuan."
Ernest berdecak, "ck. Aku juga tau..." ia menjiwir hidung Aisya gemas.
"Dan syarat itu yang aku ngga yakin sanggup. Tak ada manusia yang benar-benar bisa berlaku adil. Aku bukan nabi, aku bukan rasul...hanya manusia biasa, aku bukan maha pembolak-balik hati seseorang. Dan bagiku, kamu sama sekali tak memiliki kekurangan yang mengharuskanku untuk memiliki istri lebih dari satu," jawab Ernest.
"Dan aku juga ngga sanggup untuk diduakan, Nest. Aku belum cukup iman untuk tegar untuk berbagi suami, bukan cita-citaku untuk dimadu," tiba-tiba saja air mata yang ditahannya sejak tadi meleleh begitu saja.
"Eh! Tuh kan, belum apa-apa udah nangis...Erja! Nanti aku sambit leher Erja karena udah bikin istri aku nangis," Ernest membawa Aisya ke dalam dekapannya. Aisya menggeleng, "jangan. Aku ngga mau kamu apa-apain Erja secara fisik...kalian adik--kakak."
"Segitu khawatirnya kamu sama Erja. Bisa ngga? Ngga usah kebanyakan khawatir sama cowok lain? Aku cemburu!"
"Apa sih!" Aisya mengurai pelukannya dan mendorong kecil pipi Ernest.
"Aku masih bisa tahan emosi di ibadah kita kali ini, tapi aku hampir ngga bisa nahan hawa nav suu waktu deket kamu, apalagi kamu nempel-nempel gini..."
Aisya tertawa, "iman kisanat setipis tissue..."
"Cium-cium boleh kali, Sya? Biar meredam yang dibawah," Ernest memajukan bibirnya mirip cingur sapi. Kembali Aisya terkekeh dibuatnya dan menggidikan bahu, "geli tau!"
"Kok geli, emang aku kumisan ya? Aku mau tumbuhin brewok ahh, biar kaya a Sandi, biar kamu kegelian..." godanya, Aisya benar-benar tertawa dibuatnya.
"Jangan ah! Jelek! Bukan Adamku, itu..."
"Obrolan tentang Erja, tentang Husna. Cukup sampai disini, aku ngga mau kamu ikut mikirin masalah ini. Ngga usah khawatir..." ujarnya menangkup wajah Aisya dan menghapus jejak-jejak sisa air matanya.
"Mendingan sekarang ngomongin yang lebih asik, tentang kita...." alisnya naik turun dan sejurus kemudian, dalam sekali gerakan Ernest menggendong Aisya
Aisya merapikan jilbabnya, "aku duluan sama bu Dini, sama akhwat lainnya juga. Biar dapet antrean cepet, by..."
Ernest mengangguk, "perlu aku tungguin ngga? Udah bekel?"
Aisya mengangguk, "bekel snack, biar ngga bosen kalo dapet antrian jauh."
Jika Ernest datang ke masjid Nabawi untuk melaksanakan salat fardhu, maka Aisya selain untuk beribadah ia akan mengantre untuk mengunjungi Raudhah di Nabawi.
"Bu Dini!" Aisya berseru memanggil, namun saat ia akan melangkah ke arah bu Dini, Ernest menahan tangannya, "kasih bekel dulu atuh...." pintanya, Aisya mengernyit, "bekel apa? Snack cemilan? Kan kamu bisa langsung balik ke hotel kalo udah selesai? Jadwalnya Ikhwan nanti dzuhur."
"Bukan bekel itu, kalo itu mah disuruh puasa seharian juga aku kuat...." ujarnya melihat lekat-lekat wanita tercinta dalam balutan syar'i hitam.
Ernest tersenyum, ia lantas mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah lipatan kain hitam lain dalam genggaman Ernest dibentangkannya, "bismillah...kalo kamu belum siap, minimalnya kamu pakai saat ngga ada aku disisi kamu, aku ngga rela wajah kamu jadi konsumsi lelaki lain..." Ernest memasangkan sebuah niqab di wajah Aisya'nya.
Niqab senada dengan jilbab syar'i Aisyah, "memang sah-sah saja mereka liat wajah kamu, tapi aku ngga yakin mereka bakalan ngga memandang kamu lebih dari 5 detik. Itu artinya makruh. Aku ngga mau nanti jatuhnya kamu tabarruj..." bisiknya.
"Q.S An- Nur ayat 31...Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara ***********. Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya (auratnya) kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadhanya, dan janganlah menampakan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada suami mereka....." Ernest mengikat tali di belakang kepala Aisya.
Netra Aisya jelas sedang beradu pandang dengan suaminya, seolah sedang saling mengunci, "dan ayah mereka, atau ayah dari suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka...." lanjut Aisya, terlihat meraup nafas menyesuaikan dengan ikatan yang tak begitu kencang dan sesak yang Ernest berikan.
"Atau perempuan (sesama Islam), atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki tua yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." Pungkas Ernest menurunkan tangannya yang telah selesai memasangkan niqab di wajah Aisya.
Aisya tersenyum di balik niqab yang telah menutupi bagian wajah dari bawah matanya, Ernest meraih kembali kepala Aisya lalu mengecup bagian keningnya lembut, "hati-hati, jangan pisah sama rombongan. Aku tunggu kamu di sini lagi..."
"Iya by, assalamu'alaikum..." Aisya meraih punggung tangan Ernest dan menyalaminya takzim.
"Wa'alaikumsalam."
Bu Dini cukup tersentuh sampai-sampai ekor matanya basah dibuatnya.
"Owalahhh, manis banget to!" ujar salah satu jemaah umroh yang satu rombongan dan kebetulan melihat itu.
"Penganten baru," kekeh bu Dini.
.
.
.
.
.
.
penasaran ending nya
Nunggu notif ernest dan Ai
Semoga ide” y bermunculan kak thor Sin