Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
misophonia kambuh : 05
“Sumpah, Nya. Bibi gak bohong. Ini coba dihitung sendiri!” Bi Mirma menarik resleting tas kecil khusus menaruh barang berharga, lalu mengeluarkan amplop coklat polos.
Antara ragu, bingung, dan merasa bersalah seolah tak mempercayai suami yang sudah memanjakannya — batin Helya berperang melawan logika.
Ia gamang hendak mengambil, takut pada dua kemungkinan — kebenaran menyakitkan, dan dusta meruntuhkan kepercayaan.
Bibi turun dari kursi panjang besi, ia berlutut masih dengan memegang amplop sedikit tebal. Mulutnya terkunci, namun sorot mata memohon.
Untuk pertama kalinya, Helya mengkhianati kepercayaan yang dia bangun sepenuh hati dan dipersembahkan teruntuk pria terkasih.
Diambilnya amplop tadi, bagian lipatan penutup dibuka. Ia menahan napas kala jemari menarik lembaran rupiah bernilai seratus ribu rupiah.
Pelan-pelan dihitungnya tanpa mengeluarkan seluruh lembaran kertas. Pada tumpukan terakhir, Helya memejamkan mata.
‘Lima puluh lembar, uang ini hanya lima juta rupiah,’ keraguan bercokol. Sekeras apapun mau menampik, kebimbangan semakin besar.
“Bibi maklum kalau Nyonya sulit percaya. Sumpah demi apapun, uang ini pemberian tuan Alan, jumlahnya gak saya kurangi maupun tambahi,” ucapnya penuh kejujuran.
“Duduk lagi, Bi! Kita jadi pusat perhatian.” Ia melirik ke kanan dan kiri, ada beberapa orang diam-diam memperhatikan.
Bi Mirma menurut, duduk tepat disebelah sang nyonya.
Helya kembalikan amplop coklat ke pemiliknya. Dia diam seribu bahasa.
‘Semoga kebohongan pertama ini menjadi satu-satunya,’ hatinya melambungkan harapan.
“Saya percaya sama, Bibi. Mungkin mas Alan salah hitung, atau saya yang kurang jelas dengerin pas dia bilang lewat sambungan ponsel,” ucapnya masih menjaga harga diri suaminya, dan tidak meragukan kejujuran bi Mirma.
Mantan pembantu telah lama bekerja di rumah Helyara tak lagi berusaha meyakinkan. Dia maklum, memahami kepribadian tertutup dan sangat sulit didekati Helyara.
Hari-hari wanita baik hati ini lebih banyak berdiam diri di ruang kerja. Merancang desain perhiasan daripada berinteraksi dengan kedua pelayan apalagi orang asing.
Pengumuman keberangkatan pun bergema. Bibi berpamitan, memberanikan diri menggenggam tangan terasa dingin.
Helyara balas dengan memeluk, lalu entah apa yang dibisikkan oleh bi Mirma — mata jernih wanita gendut tersebut membulat sempurna, tubuhnya kaku, wajahnya seolah tak dialiri darah. Pucat.
“Saya pamit ya, Nyonya. Hubungi saja kalau semisalnya —” kalimatnya menggantung.
Bi Mirma berdiri, melangkah sambil mengelap air mata di pipinya.
Helya masih duduk dengan punggung tegak, pandangan mata kosong. Pelan-pelan keningnya mengernyit, alis hampir menyatu.
Dering ponsel mengembalikan fokusnya. Ia angkat panggilan dari pria sudah enam tahun berstatus suami.
“Kamu dimana, Sayang? Ini sudah masuk malam hari,” terdengar suara Alan sarat rasa khawatir berlebihan.
“Masih di stasiun. Tadi nungguin Bibi sampai masuk kereta,” jawabnya jujur.
Terdengar suara dengusan, lalu gerutuan tidak jelas. Helya kenal suara itu, ibu mertuanya.
“Mas jemput ya?” Alan menawarkan diri.
“Gak usah, Mas. Aku juga udah mau pulang.”
“Baguslah. Sesekali jadi perempuan itu berguna bukan bisanya nyusahin aja.”
Helya menggenggam kuat ponselnya, kalimat tajam ibu mertuanya kembali terdengar.
“Ya sudah hati-hati di jalan cintaku. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Mas,” suaranya tetap sama seperti ribuan hari telah berlalu. Lembut penuh perhatian.
“Iya Mas.” Helyara mematikan sambungan ponsel.
‘Rasanya gak nyaman banget, satu kebohongan bisa buat aku seperti orang linglung, gimana kalau ternyata masih banyak rahasia tersembunyi?’ ia seperti seorang kehilangan tenaga, lemas.
Helyara beranjak dari bangku tunggu. Melangkah dengan perasaan bimbang, pikiran mulai menjelajahi masa lalu.
Kala sudah di dalam mobil, perutnya terasa sedikit nyeri.
“Sebaiknya cari restoran atau warung, aku melewatkan makan siang dan sekarang sudah mulai petang.” Dinyalakannya mesin mobil, lalu melaju. Helya membayar uang parkir, setelahnya tancap gas.
Sepanjang jalan kembali ke hunian, wanita berpenampilan sangat sederhana namun rapi, wangi itu menyempatkan melihat kanan kiri mencari warung makan yang menggugah selera.
Pilihannya jatuh pada pedagang kaki lima yang menyediakan menu Lamongan. Helya memarkirkan mobil di bahu jalan, ia keluar lalu berjalan sebentar.
“Pak, ayam goreng sama ati ampela, nasi dua porsi. Minumnya es jeruk,” pesannya ke pemilik warung bertenda kain bergambar ikan, ayam.
“Siap, Bu. Mau duduk di kursi atau lesehan?” tanya pria memakai peci bulat, berkemeja rapi.
Helyara mengedarkan pandangan ke halaman sebuah ruko digelari tikar, hanya ada dua pria tengah bersantap. Sementara kursi di tenda warung sedikit ramai.
“Lesehan saja,” katanya kemudian, lalu melangkah ke tikar berjarak satu meter dari tenda. Ia memilih duduk paling ujung.
Sembari menunggu pesanan disajikan, Helya duduk termenung memandangi lampu menyala. Dia bukan wanita ketergantungan pada ponsel, apalagi berniat beramah tamah sama pembeli yang duduk setengah meter darinya.
Baginya berinteraksi dengan orang asing sangat menguras energi, seperti mengeluarkan tenaga dalam. Sama halnya keluar dari huniannya, dia sering kehilangan ketenangan serta rasa nyaman.
Tak lama setelahnya, porsi jumbo pesanan Helya telah disuguhkan. Dia mencuci tangan dalam mangkuk kecil terdapat irisan jeruk nipis dan mulai menikmati ayam goreng menguarkan aroma gurih.
Helya makan dalam diam, pun enggan memperhatikan sekitar, tak peduli jika diperhatikan orang saat dia menghabiskan dua tumpukan nasi berikut lauk. Porsi makannya memang banyak, terkadang masih terasa kurang.
Tak butuh waktu lama untuk menyantap hidangan hingga satu butir nasi pun tidak tersisa.
Helya masih duduk di sana sambil menghabiskan es teh baru dipesannya karena kepedasan jadi nambah minum.
Dari jarak masih jauh sebab suaranya terdengar sayup-sayup — bulu kuduk Helyara Utomo meremang.
Ngiu … ngiu … ngiu ….
Sirine ambulans terdengar panjang, sambung menyambung.
Tubuh Helyara mulai menunjukkan ketakutan. Ia meremat kuat sisi cardigan. Perutnya mual, dan titik keringat bermunculan di pelipis, kening.
“Aku mohon jangan lewat sini, cepatlah pergi!” Ia menutup telinga, duduk dengan kedua lutut saling menempel.
Namun harapannya pupus, suara mengerikan itu bertambah kencang nan jelas.
Hueg!
Hueg!
Sebelah tangan turun dari telinga, lalu membungkam mulut bagian lidah terasa masam dan pahit.
Kondisi Helyara Utomo bertambah kacau. Dia menggigil hebat, berkeringat, bibirnya kering.
Dua pengunjung yang duduk tak jauh darinya menyadari kejanggalan. Mereka pun mendekat.
“Mbak, kamu kenapa? Apa perlu kami panggilkan ambulan?” tanya pria memakai kemeja panjang lengan digulung sesiku.
Badannya Helyara bertambah menggigil, kata ambulans membuatnya mual dan merinding.
Pria satunya lagi berjongkok, menaikan sedikit topi yang dia kenakan. “Apa kamu misophonia sirine ambulans?”
Anggukan samar menjawab pertanyaan bersarang di kepala. “Maaf, bukan bermaksud lancang, sepertinya akan lebih baik jika kamu muntah.”
Sang pria memiliki tinggi menjulang di atas Helyara, menarik tangan yang menutup telinga, lalu disampirkan ke pundak. Butuh tenaga ekstra untuk mengangkat beban berat terlebih dalam keadaan lemas.
.
.
Bersambung.
nahh kan mau bilang apa coba