NovelToon NovelToon
LEGENDA KULTIVATOR GILA

LEGENDA KULTIVATOR GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

​Di dalam ruang pengobatan utama faksi murid dalam, atmosfer terasa begitu suram dan dingin. Bau menyengat dari berbagai obat-obatan spiritual dan ramuan penyembuh meridian memenuhi ruangan, namun tak satu pun dari ramuan mahal itu mampu mengubah garis takdir yang telah tertulis. Beberapa tabib senior klan berdiri mengelilingi ranjang giok dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap mata Tetua Faksi Murid Dalam yang dadanya kian kembang kempis menahan murka.

​Di atas ranjang, Wu Yan terbaring tak berdaya. Wajah tampan yang biasanya memancarkan keangkuhan bangsawan itu kini terbungkus perban tebal, menyembunyikan struktur tulang rahang dan hidung yang telah hancur total. Yang lebih mengerikan, aliran energi di dalam tubuhnya telah lenyap. Pukulan fisik mentah Wu Tian, dikombinasikan dengan serangan balik masif dari Pil Tirani Api, telah merobek dan menghancurkan jaringan meridian internalnya hingga tak bersisa. Sang jenius peringkat dua klan resmi dinyatakan cacat permanen, kehilangan seluruh basis kultivasinya untuk selamanya.

​PRAAANG!

​Tetua Faksi Dalam menghantamkan tangannya ke meja giok di dekatnya hingga hancur berkeping-keping. "Bocah haram sialan! Dia sengaja menghancurkan masa depan faksi kita!" raungnya dengan suara parau.

​Namun, di tengah kemarahan itu, terselip ketakutan yang teramat mendalam. Faksi murid dalam kini tidak lagi memiliki perwakilan di partai puncak. Taruhan terakhir Klan Wu untuk mempertahankan hak pengelolaan tambang batu spiritual Yunzhou dari cengkeraman Klan Li dan Sekte Pedang Langit kini jatuh sepenuhnya pada pundak Wu Xue, sang Bidadari Es.

​Di saat yang sama, di dalam aula Paviliun Tetua Agung, sebuah pertemuan darurat tengah berlangsung dengan atmosfer yang tidak kalah pekat. Beberapa tetua konservatif klan duduk dengan wajah masam, mendiskusikan status Wu Tian yang secara mengejutkan berhasil menembus babak final.

​"Bagaimana pun juga, kita tidak boleh membiarkan bocah cabang luar itu menjadi wajah utama kemenangan Klan Wu!" cetus salah seorang tetua dengan nada suara penuh penghinaan. "Dia hanyalah keturunan dari darah rendahan yang tumbuh di area terpencil. Dia tidak memiliki tata krama klan, tidak menghormati hierarki, dan bertarung seperti binatang buas. Menjadikan murid luar seperti dia sebagai pahlawan klan hanya akan merusak tatanan yang telah kita bangun selama ratusan tahun! Di mataku, dia sama sekali tidak berharga untuk menyandang nama besar Klan Wu."

​Mendengar ucapan tersebut, beberapa tetua dari faksi netral yang biasanya cuek dan condong pada murid dalam, saling melempar pandangan pelan. Mereka terdiam sejenak, menatap bagan pertandingan esok hari sebelum salah satu tetua senior mengembuskan napas panjang dan angkat bicara dengan nada suara yang teramat realistis.

​"Tetua Liu, singkirkan keangkuhan butamu itu," ucap sang tetua senior, memotong perdebatan. "Apakah kamu tidak melihat apa yang terjadi pada Li Zhen dan Wu Yan? Bocah bernama Wu Tian itu bukan lagi sekadar murid luar yang beruntung. Dia adalah monster fisik murni yang kekuatannya tidak bisa diukur dengan logika kultivasi kita. Jika kita terus menekannya dan memaksanya berbalik memusuhi klan, siapa di antara kita yang sanggup menahan tinjunya saat turnamen selesai?"

​Ia menjeda kalimatnya, menatap Tetua Agung Wu Cang yang duduk diam di singgasana tengah. "Faksi kita sudah kehilangan Wu Yan. Realitasnya, jika kita ingin memenangkan hak tambang batu spiritual dari dua klan rival esok hari, kita membutuhkan kekuatan Wu Tian. Sudah saatnya kita mundur satu langkah dari ego murid dalam dan mendukungnya secara penuh, bukan karena kita menyukainya, melainkan karena kita sadar dengan keadaan bahwa dialah satu-satunya senjata paling mematikan yang kita miliki saat ini."

​Mendengar analisis yang teramat dingin dan logis tersebut, para tetua konservatif lainnya terpaksa membisu. Mereka menelan kembali ludah mereka, menyadari bahwa peta kekuatan internal klan telah bergeser sepenuhnya ke tangan seorang murid luar yang selama ini mereka campakkan.

​Malam semakin larut menyelimuti kompleks klan, membawa hawa dingin yang tidak biasa ke area penginapan murid luar. Di dalam paviliun usangnya, Wu Tian sedang duduk santai di atas kursi kayu, mengunyah potongan dendeng kering dengan wajah datarnya yang khas.

​BZZZZT...

​Secercah kabut es tipis mendadak merembes masuk melalui celah-celah jendela, membuat suhu di dalam ruangan kecil itu merosot tajam hingga ke titik beku. Pintu kayu paviliun tidak diketuk, melainkan terbuka perlahan oleh embusan angin dingin yang teramat jernih.

​Sesosok gadis berjubah putih sebersih salju berdiri di ambang pintu. Rambut hitam panjangnya berkibar pelan, dan sepasang mata birunya yang sejenis kristal menatap lurus ke arah Wu Tian. Dia adalah Wu Xue. Ini adalah pertama kalinya dua ekstremitas tertinggi generasi muda klan itu berada dalam jarak sedekat ini tanpa adanya sekat arena.

​"Aku melihat kabut hitam yang mengalir di kulitmu tadi siang," ucap Wu Xue, suaranya terdengar seperti dentingan es yang jernih namun tenang, bebas dari segala bentuk kesombongan murahan khas murid dalam lainnya. "Hawa kematian itu... bukan berasal dari teknik kultivasi Yunzhou. Besok di babak final, aku tidak akan menahan diri seperti saat bertarung melawan orang lain. Jika kamu tidak melepaskan seluruh wujud monstermu, es abadiku akan mengubur dan membekukan seluruh darahmu selamanya."

​Wu Tian tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun atas kunjungan mendadak sang Bidadari Es. Ia tetap fokus mengunyah dendeng kering di mulutnya, lalu melirik sepasang mata biru Wu Xue dengan pandangan malas yang mengantuk.

​"Es milikmu cukup bagus," ucap Wu Tian dengan nada lempang tanpa beban. "Jika digunakan untuk mengawetkan pasokan daging keringku di musim panas, itu akan sangat berguna."

​Wu Xue tertegun mendengar respons yang teramat eksentrik dan pragmatis tersebut. Detik berikutnya, sebuah senyuman tipis yang sangat jarang terjadi terukir di wajah cantiknya yang sedingin es. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, tubuhnya perlahan memudar, menyatu bersama embusan kabut es malam yang hilang disapu angin, meninggalkan ruangan yang kembali hangat.

​Tidak lama setelah kepergian Wu Xue, pintu paviliun kembali terbuka dengan riuh. Kali ini, Wu Lin, Wu Chen, dan Wu Ao melangkah masuk membawa keranjang besar berisi pasokan makanan dan teh herbal hangat yang melimpah. Atmosfer di dalam paviliun usang itu seketika berubah menjadi campur aduk antara kehebohan dan rasa emosional yang pekat.

​"Wu Tian! Kami membawakanmu sup ayam spiritual terbaik malam ini!" seru Wu Chen sembari menata mangkuk di atas meja kayu. "Para murid luar di luar sana sedang merayakan kemenanganmu, tahu! Kamu benar-benar pahlawan kami!"

​Wu Ao menepuk dada tegapnya dengan wajah serius. "Jika besok setelah final para tetua faksi dalam itu berani berbuat curang atau tidak adil kepadamu, katakan saja pada kami! Kami dan seluruh murid cabang siap menjamin keselamatanmu, bahkan jika kami harus membuat keributan di gerbang utama klan!"

​Di tengah kehebohan kedua rekannya, Wu Lin berjalan mendekat dan duduk di kursi tepat di sebelah Wu Tian. Sepasang mata indahnya menatap lekat-lekat jubah biru tua baru yang kini dikenakan pemuda itu, menggantikan jubahnya yang hangus tadi siang. Ada kedalaman perasaan yang teramat pekat terpancar dari wajah cantiknya yang sedikit merona.

​Wu Lin merogoh saku pakaiannya, mengeluarkan sebuah jimat pelindung kain berukuran kecil yang disulam dengan benang sutra biru. Pinggiran jimat itu tampak sedikit tidak rapi, menunjukkan bahwa jimat tersebut disulam sendiri dengan tangan penuh ketelitian selama beberapa malam terakhir di tengah rasa cemasnya.

​"Ini... bawalah untuk besok," ucap Wu Lin dengan suara yang agak pelan, menyodorkan jimat tersebut ke tangan Wu Tian. "Aku tahu kamu sangat kuat dan tidak membutuhkan benda seperti ini. Tapi... ini adalah doaku agar kamu selalu pulang tanpa terluka sedikit pun."

​Wu Tian menatap jimat kain kecil di telapak tangan kasarnya. Sebagai petarung yang dibesarkan di kerasnya Shenzhou, benda-benda seperti ini sama sekali tidak memiliki nilai taktis dalam pertempuran. Namun, melihat ketulusan yang murni di sepasang mata Wu Lin, Wu Tian tidak menolaknya. Ia menerima jimat kecil itu, lalu memasukkannya ke dalam kantong kain terdalam di balik jubah biru tuanya, tepat di atas posisi jantungnya.

​Melihat tindakan sederhana namun sarat makna itu, wajah Wu Lin seketika memerah padam penuh kebahagiaan, memicu sorakan menggoda dari Wu Chen dan Wu Ao yang membuat malam terakhir sebelum badai besar itu terasa begitu hangat dan damai bagi jiwa Wu Tian.

​Fajar kelabu esok hari akhirnya menyingsing di ufuk timur, membawa serta atmosfer penghakiman yang teramat masif. Seluruh formasi pertahanan di sekeliling Koloseum Raksasa telah dinyalakan pada tingkat maksimum atas instruksi langsung Tetua Agung Wu Cang untuk menahan dampak pertarungan tingkat puncak. Lantai panggung utama kini tidak hanya dilapisi batu obsidian, tetapi juga disegel oleh lapisan es mistis berlapis-lapis yang memancarkan uap dingin yang membekukan udara.

​DONG...!!!

​Gong penanda Babak Final bergema besar membelah langit. Dari lorong pintu masuk sebelah barat, Wu Xue melangkah keluar dengan keanggunan jubah putihnya yang berkibar, meninggalkan jejak-jejak embun beku di setiap langkah kakinya. Di saat yang sama, dari kegelapan lorong seberang, Wu Tian melangkah maju dengan tegap, jubah biru tuanya bergerak seiring dengan hembusan angin arena, dan sepasang mata hitam legamnya telah mengunci pandangan lurus pada sang Ratu Es.

​Dua kekuatan ekstremitas tertinggi generasi muda klan resmi berdiri berhadapan, bersiap untuk meledakkan pertempuran terdahsyat yang akan mengubah sejarah Yunzhou untuk selamanya.

1
Mamat Stone
/Bomb//Bomb//Bomb/
Mamat Stone
/Cleaver//Cleaver//Cleaver/
Mamat Stone
/Casual/🤩/Casual/
Mamat Stone
🤩/CoolGuy/🤩
LanzT0k3
lanjut thor
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
y@y@
⭐👍🏿👍🏼👍🏿⭐
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Iskandar Muda
bagus cerita ny simple padat
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
/Hammer//Hammer//Skull/
Mamat Stone
😈👊👊
Mamat Stone
💪👊
Mamat Stone
/Ok//Good/
Agus Rose
kasih judul setiap bab nya biar lebih menarik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!