NovelToon NovelToon
Suamiku Spesial

Suamiku Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Fantasi / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Undangan Piknik ke Air Terjun

Menjelang sore, udara di desa mulai terasa lebih sejuk. Matahari perlahan turun, warnanya berubah dari kuning cerah menjadi oranye keemasan. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, dan angin sore berembus pelan membawa aroma dedaunan yang segar.

Liora sedang duduk di ruang tamu, melipat beberapa pakaian yang sudah ia cuci. Alex berada di dekat jendela, bermain dengan mobil-mobilannya di atas karpet. Suasana terasa tenang dan damai—hingga mereka mendengar suara ketukan di pintu depan.

Tok. Tok. Tok.

Liora mengangkat kepalanya. "Siapa ya?"

Alex langsung berlari ke pintu. "Mungkin Rama! Alex buka!"

Ia membuka pintu, dan benar, di sana berdiri Rama—pria tua yang merawat peternakan. Ia masih mengenakan pakaian kerjanya, tetapi wajahnya tersenyum ramah.

"Selamat sore, Tuan Alex, Nona Liora," sapa Rama dengan suara beratnya yang khas.

"Rama! Rama datang!" seru Alex gembira.

Liora berdiri dan mendekati pintu. "Selamat sore, Pak Rama. Ada apa ya, kok datang ke rumah?"

Rama tersenyum. "Maaf mengganggu sore-sore begini. Saya ingin mengajak Tuan Alex dan Nona Liora untuk piknik besok. Ke air terjun yang pernah saya bicarakan dulu."

Mata Alex langsung membulat sempurna. "Air terjun! Alex mau! Alex mau!"

Liora juga tersenyum. Ia teringat saat Rama pertama kali menyebut air terjun itu. Tempat yang indah, dengan kolam alami di bawahnya. Ia sendiri sangat penasaran ingin melihatnya.

"Pak Rama, apakah tempat itu aman untuk Alex?" tanya Liora hati-hati.

Rama mengangguk. "Tentu, Nona. Saya yang akan memandu jalannya. Jalannya memang sedikit berbatu, tetapi tidak terlalu sulit. Saya akan memastikan Tuan Alex tetap aman. Kita bisa berangkat pagi hari, dan saya akan membawa bekal untuk makan siang."

"Alex juga mau bawa bekal! Liora bikin puding labu!" seru Alex dengan semangat.

Rama tertawa kecil. "Wah, puding labu? Itu pasti enak, Tuan Alex."

Liora tersenyum mendengar semangat Alex. "Baiklah, Pak Rama. Kami akan siap besok pagi. Kira-kira jam berapa kita berangkat?"

"Jam tujuh pagi, Nona. Cuaca pagi masih sejuk, dan perjalanan ke air terjun sekitar tiga puluh menit berjalan kaki. Jadi, jika berangkat jam tujuh, kita akan sampai sekitar jam setengah delapan," jelas Rama.

"Baik, Pak Rama. Kami akan siap," jawab Liora.

Rama mengangguk. "Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan sebelum malam. Sampai jumpa besok, Tuan Alex, Nona Liora."

Sampai jumpa, Rama!" teriak Alex sambil melambaikan tangan.

Setelah Rama pergi, Liora dan Alex kembali masuk ke dalam rumah. Alex masih melompat-lompat kegirangan.

"Besok kita piknik, Liora! Besok kita lihat air terjun! Alex sangat senang!" serunya.

Liora tersenyum. "Iya, Alex. Tapi sekarang, kita harus bersiap-siap. Liora akan membuat bekal untuk besok."

---

Liora masuk ke dapur. Ia membuka kulkas, mengeluarkan beberapa bahan makanan. Ia memutuskan untuk membuat beberapa cemilan untuk piknik—roti lapis dengan isi telur dan sayuran, serta potongan buah-buahan segar.

Ia juga mengeluarkan labu kuning yang Alex bawa tadi pagi. Hari ini ia berjanji membuat puding labu untuk Alex. Dan besok, puding itu akan menjadi hidangan penutup yang sempurna untuk piknik mereka.

Liora mulai bekerja. Ia memanggang roti lapis dengan hati-hati, memotong sayuran, dan menyusunnya dengan rapi. Ia juga memotong apel dan anggur yang ada di kulkas, memasukkannya ke dalam wadah plastik kecil.

Setelah itu, ia mulai membuat puding labu. Ia mengupas labu, memotongnya menjadi kecil-kecil, lalu mengukusnya hingga empuk. Setelah labu matang, ia menghaluskannya dengan blender, mencampurkannya dengan santan, gula, dan sedikit garam. Ia menambahkan bubuk agar-agar agar puding mengeras dengan sempurna.

Aroma harum labu dan santan mulai memenuhi dapur. Alex yang masih di ruang tamu, langsung mencium aromanya.

"Wah! Wanginya puding labu!" seru Alex sambil berlari ke dapur.

"Sebentar lagi jadi, Alex. Liora masih harus memasaknya," jawab Liora.

Liora menuangkan adonan puding ke dalam cetakan, lalu memasukkannya ke dalam kulkas agar mengeras. Setelah itu, ia mulai menyiapkan makan malam.

---

Malam tiba. Liora dan Alex duduk di meja makan, menikmati makan malam yang sudah disiapkan. Alex berbicara tanpa henti tentang piknik besok—tentang air terjun, tentang kolam, dan tentang bagaimana ia akan bermain air.

Mereka berdua makan dengan gembira. Liora merasa senang melihat antusiasme Alex.

Setelah makan malam, Liora membereskan piring. Alex sudah mulai menguap lebar, tanda bahwa ia mulai mengantuk.

"Alex, sudah waktunya tidur. Besok kita harus bangun pagi," kata Liora.

Alex mengangguk. "Iya, Liora. Alex mau tidur. Besok Alex mau piknik!"

Mereka naik ke lantai atas. Liora mengantar Alex ke kamarnya, membantunya berganti piyama, dan menutupinya dengan selimut.

"Selamat tidur, Alex," bisik Liora.

"Selamat tidur, Liora. Jangan lupa impian yang indah," jawab Alex dengan suara mengantuk.

Liora menutup pintu kamar Alex, lalu berjalan ke kamarnya sendiri. Ia berganti pakaian tidur, dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tidak lama kemudian, ia pun tertidur.

---

Rumah itu menjadi sunyi. Hanya ada suara jam dinding di ruang tamu yang berdetak perlahan.

Namun, sekitar pukul sebelas malam, pintu kamar Alex terbuka dengan perlahan. Alex keluar dari kamarnya. Matanya tidak lagi sayu dan mengantuk. Matanya tajam, fokus, dan penuh kesadaran.

Ia menuruni tangga dengan langkah yang sangat hati-hati, menghindari bagian anak tangga yang biasanya berderit. Ia berbelok ke lorong di sebelah dapur, melewati tirai tebal, dan membuka pintu gudang.

Di dalam gudang, ia mengambil kotak kayu yang tersembunyi di balik tumpukan kardus. Ia mengeluarkan handphone dan sebungkus rokok. Ia menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, dan menekan tombol panggil.

Terdengar nada sambung. Lalu, suara Rian menjawab.

"Tuan Alexander? Ada apa?"

"Rian," sapa Alex dengan suara rendah dan tegas. "Bagaimana keadaan perusahaan?"

Rian terdiam sejenak. Lalu ia menjawab, suaranya sedikit tergesa-gesa. "Tuan... ada sedikit masalah. Keluarga Theodore mulai curiga. Mereka mencari tahu keberadaan Anda. Beberapa dari mereka sudah mulai menyelidiki desa tempat Anda tinggal."

Alex mengerutkan kening. Matanya menyipit. "Keluarga Theodore? Siapa yang bergerak?"

"Paman Anda, Tuan. Tuan Stefan. Ia mengirim beberapa orang ke desa sekitar. Saya sudah berusaha menutupi jejak, tetapi mereka terus mencari."

Alex menghisap rokoknya lagi. Asap mengepul di ruangan gelap. "Berapa lama waktu yang kita miliki?"

"Mungkin dua atau tiga hari lagi, Tuan. Saya akan terus memantau pergerakan mereka," jawab Rian.

"Baik," kata Alex. "Lanjutkan pengawasan. Beri tahu saya jika ada perkembangan baru. Dan jangan biarkan mereka menemukan Liora. Dia belum tahu apa-apa."

"Baik, Tuan. Saya akan pastikan semuanya aman."

"Terima kasih, Rian. Selamat malam."

"Selamat malam, Tuan."

Alex menutup telepon. Ia mematikan handphone dan menyimpannya kembali ke dalam kotak kayu. Ia menyalakan sebatang rokok lagi, menghisapnya perlahan, dan menghembuskan asap ke udara gelap.

Kemudian, ia tersenyum tipis. Senyuman yang dingin, penuh perhitungan. Senyuman yang tidak akan pernah dilihat Liora.

"Keluarga Theodore," bisiknya pelan. "Mereka tidak akan pernah menemukan aku. Atau Liora."

Ia mematikan rokok, memasukkannya kembali ke dalam kotak, lalu menutup gudang dengan hati-hati. Ia menaiki tangga dengan langkah yang sama—hati-hati, tanpa suara—dan kembali ke kamarnya.

Ia berbaring di tempat tidur. Ekspresinya berubah, kembali menjadi wajah polos yang biasa ia tunjukkan pada Liora.

Besok, ia akan menjadi Alex yang polos lagi. Alex yang gembira, yang suka bermain, yang akan piknik ke air terjun.

Namun, di balik semua itu, ada rahasia besar yang terus ia jaga.

1
Ilfa Yarni
oooo jadi gitu tp syukurlah udah ga ada rahasia lg diantara mereka dan jg bisa bersikap sebagaimana mestinya dan skr kalian bisa menghadapi masalah bersama2
Ilfa Yarni
aku jg penasaran bukan km saja liora
wulaniii
gais like dan komen kalo bisa tonton yah biar dapet komisi 🤣
Alia Chans
Hadir Thor, penasaran banget ama lanjutan nya ...🤭🤭

saling support sabi kali😉
Muhajir Al musyaffa
halo kak aku punya karya loh mampir yu kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!