NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:67.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa

Seorang gadis berpakaian sederhana dengan tas kain lusuh berdiri di depan toko.

Yanti.

"Ra..." panggilnya pelan. "Aku sudah sebulan lalu dipecat dari tempat kerja. Uangku juga sudah habis, sementara sampai sekarang aku belum dapat pekerjaan baru."

Ia menundukkan kepala. "Boleh gak aku tinggal di sini untuk sementara?"

Vira hanya menatapnya dalam diam. Wajah itu... Wajah yang sama. Yang tersenyum puas saat melihat dirinya meregang nyawa.

 

"Kau benar-benar bodoh, Vira."

"Selama ini kau pikir kenapa aku bertahan di rumah ini? Karena aku mencintai Daril."

"Aku sudah lama menunggu hari ini. Setelah kau mati, aku bisa menikah dengannya."

 

Suara itu kembali menggema di kepalanya.

"Ra?" panggil Yanti membuat Vira tersadar. "Boleh, 'kan?"

Perlahan, Vira mengulas senyum tipis. "Tentu saja boleh. Kamu, 'kan, sepupuku, keluargaku."

Sorot mata Yanti langsung berbinar.

Dalam hati, Vira mencibir. "Ya... keluarga yang kupelihara di rumahku sendiri, lalu menungguku mati."

"Terima kasih, Ra!" Yanti langsung menggenggam tangan Vira. "Aku janji gak bakal ngerepotin kamu."

"Tapi..." Vira menggantung kata-katanya.

Senyum di wajah Yanti perlahan memudar. "Tapi apa?"

"Kalau ingin tinggal di rumahku," lanjut Vira. "kamu harus bekerja."

Yanti mengernyit. "Maksudmu?"

"Kamu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah."

Yanti membelalak. "Hah?"

"Menyapu, mengepel, mencuci, memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah," jelas Vira.

Rahang Yanti menegang. "Enak saja. Aku datang untuk numpang hidup, bukan jadi pembantu."

Namun umpatan itu hanya berani ia simpan dalam hati.

"Bagaimana?" tanya Vira dengan nada suara lembut. "Kalau kamu setuju, masuklah dan setelah sarapan bantu aku."

Vira berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kalau tidak, maaf. Aku gak bisa bantu kamu."

Yanti menggigit bibir bawahnya.

"Kamu tahu sendiri aku hidup sendirian," lanjut Vira. "Aku memang punya toko sembako, tapi itu satu-satunya sumber penghasilanku."

Tatapan Vira tetap tenang. "Makan, listrik, air, semuanya butuh biaya. Aku juga anak yatim piatu. Tidak ada yang menanggung hidupku selain diriku sendiri."

Yanti mengepalkan tangan di balik tasnya.

Dalam hati ia mengumpat habis-habisan. "Pelit sekali! Masa sepupu sendiri disuruh jadi kacung?"

Yanti melirik ke arah toko sembako yang berada di samping rumah itu.

"Ra..." katanya ragu. "Sebenarnya aku agak lemot kalau disuruh beres-beres rumah."

Ia tersenyum canggung. "Gimana kalau aku bantu jaga toko aja?"

Vira mengangkat sebelah alisnya. Di kehidupan sebelumnya, ia memang meminta Yanti menjaga toko.

Yanti makan gratis, tidur gratis, bahkan tidak pernah diminta mengeluarkan uang sepeser pun. Sebagai balasannya, Yanti membantu melayani pembeli.

Namun, Vira sering mendapati uang hasil penjualan berkurang tanpa alasan yang jelas. Awalnya ia mengira dirinya salah menghitung. Lama-kelamaan, ia sadar. Yanti diam-diam mengambil uang dari laci kasir sedikit demi sedikit.

Vira memilih menutup mata, karena merasa kasihan Yanti tidak memiliki penghasilan.

Ia hanya mengurangi jumlah uang tunai di laci dan lebih sering menyimpannya sendiri agar kerugiannya tidak semakin besar.

Sekarang, kesalahan itu tidak akan terulang lagi.

"Jangankan ribuan rupiah. Satu lembar uang pun tidak akan kubiarkan berpindah ke tanganmu," batin Vira.

"Maaf," ujar Vira dengan suara terkontrol. "Aku sedang butuh orang untuk mengurus pekerjaan rumah, bukan menjaga toko."

Wajah Yanti mulai berubah. "Tapi, Ra..."

"Tenang saja." Vira memotong ucapan Yanti. "Kalau kinerjamu bagus, aku tetap akan memberimu gaji."

Wajah Yanti langsung membeku. "Digaji? Berarti aku benar-benar dianggap art?"

Dalam hati ia mendecak kesal. "Kalau kayak gitu, mana bisa aku pegang uang toko?"

Namun ia tidak berani menunjukkannya. Saat ini ia memang sedang tidak punya tempat tinggal dan tidak memiliki pekerjaan.

Kalau sampai Vira berubah pikiran, ia benar-benar tidak tahu harus ke mana lagi.

Yanti akhirnya mengangguk pelan, menelan kekesalannya.

"Baiklah, Ra," jawabnya pelan sambil memaksakan senyum. "Aku bakal ngerjain semua pekerjaan rumah."

Vira mengangguk puas. "Bagus. Masuklah. Kamarmu di belakang, deket dapur."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Vira kembali menata barang-barang dagangannya.

Sementara itu, Yanti melangkah masuk ke dalam rumah dengan senyum yang masih terpasang di wajahnya. Meski demikian, kedua tangannya sudah mengepal erat sejak tadi.

"Kamar deket dapur?" gerutunya. "Dia benar-benar menganggap aku babu. Dasar Vira sialan!"

Setelah masuk ke dalam rumah, Yanti meletakkan tasnya di kamar yang dikatakan Vira, lalu berjalan menuju meja makan. Saat membuka tudung saji, yang ada hanya bubur.

Yanti mendengus. "Sarapannya cuma bubur begini? Mana kenyang? Dasar pelit!"

Namun Yanti tak punya pilihan lain selain memakan bubur itu.

 

Setelah selesai menyusun barang di toko, Vira masuk ke dalam rumah. Ia melihat bubur di atas meja yang dibawakan Daril tadi sudah habis.

"Yanti."

"Iya, Ra?" sahut Yanti yang baru saja membuang sampah bekas bubur.

Vira menyerahkan sebuah celemek. "Tolong sapu dan pel seluruh rumah dulu. Setelah itu cuci piring yang ada di dapur."

Yanti tersenyum tipis. "Baik."

"Oh ya." Vira kembali menoleh. "Nanti sekalian cuci pakaian yang ada di kamar mandi. Kalau sudah selesai, masak nasi. Lauknya nanti aku yang belanja."

Senyum Yanti mulai terasa kaku. "I-iya."

Vira mengangguk puas, lalu kembali ke toko. "Jangan harap jadi tamu dan aku perlakukan kayak ratu. Sekali tertipu sudah lebih dari cukup."

Begitu sosok Vira menghilang dari pandangan, senyum di wajah Yanti langsung lenyap. Ia menatap celemek di tangannya dengan wajah masam.

"Dasar menyebalkan," gumamnya lirih. "Kukira numpang di sini bakal hidup enak."

Yanti mendecak kesal. "Ternyata malah diperlakukan kayak orang asing. Pekerja biasa."

Dengan enggan ia mulai menyapu lantai. Belum setengah rumah selesai, peluh sudah membasahi pelipisnya.

"Capek banget..."

Ia melirik ke arah toko. Dari kejauhan terlihat Vira sedang melayani pelanggan sambil sesekali mencatat barang yang keluar.

"Enak sekali dia. Kerjanya cuma berdiri, pegang uang, lalu duduk. Sementara aku..."

Yanti menatap lantai yang belum selesai disapu. Harus mengepel, mencuci piring, mencuci pakaian. Belum lagi memasak.

Rahangnya mengeras. "Mentang-mentang punya toko. Kalau bukan karena aku belum punya tempat tinggal, mana sudi aku kerja kasar begini."

Ia kembali menatap keluar pada toko milik Vira. "Lihat saja, semua ini bakal jadi milikku."

Ia menarik napas panjang, lalu kembali bekerja.

Sementara itu, dari balik etalase toko, Vira diam-diam memerhatikan setiap gerakan Yanti. Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Dulu aku terlalu baik. Kali ini, setiap orang akan mendapatkan tempat yang pantas."

Vira kembali melanjutkan menimbang gula saat suara itu terdengar.

"Ra, aku mau beli beras setengah liter."

Vira menoleh. Jemarinya yang memegang timbangan seketika membeku.

Orang yang berdiri di hadapannya adalah seseorang yang tak pernah ia duga akan ditemuinya lagi.

"Kamu..."

 

...✨"Orang yang benar-benar menyayangimu akan menghargai bantuanmu. Yang memanfaatkanmu justru menganggapnya sebagai kewajiban."...

..."Memberi tempat tinggal adalah kebaikan. Membiarkan orang menguasai hidupmu adalah kebodohan."...

..."Kebaikan tanpa batas sering kali melahirkan orang yang lupa diri."✨...

.

To be continued

1
fii 🤩
👍👍👍
anonim
Arvin setia mendampingi Ibunya yang mentalnya terganggu. Masa lalunya menjadikan Arvin tulus dalam merawat Ibunya.

Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.

Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.

Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.

Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.

Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.

Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.

Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
anonim
Pak Kades dan istrinya sudah mendengar gosip tentang Vira.

Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.

Pak Kades juga belum tentu percaya.

Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.

Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.

Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
anonim
Dasar Ibu dan anak sama-sama bejatnya. Keduanya masih menginginkan Vira tapi dengan cara yang salah.
anonim
Kebetulan sekali leher Vira di gigit tomcat. Jadi semakin meyakinkan ibu-ibu dengan apa yang telah dikatakan Tari.

Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.

Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.

Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
anonim
Daril ini lekaki pecundang. Menambah omongan yang sudah gak benar, dengan bicara bohong.

Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.

Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
A.R
mau bangun usaha kok minta dana sama org lainn,,, gadaikan saja tuhh rmh ibu mu
Anitha
Alhamdulillah akhir bahagia Vira dan Arvin...

Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Kembali kasih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
mampir kk
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih, Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
abimasta
terimakasih thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Saatnya Vira menanyakan skincare yang hilang.

Yanti langsung tersedak mendengarnya.

Dia mengelak, tidak tahu.

Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.

Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.

Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.

Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.

Tari mengaku itu miliknya.

Ditanya beli di mana, harganya berapa.

Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
anonim
Tari semakin parah kebohongannya. Ia sekaligus memfitnah Vira.

Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.

Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.

Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
anonim
Yanti baru memarkirkan motornya di tempat penjual buah. Iya mendengar suara beberapa ibu sedang membicarakan Vira yang sudah tidak perawan lagi.

Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.

Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.

Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
anonim
Vira masih mau memberikan kesempatan sekali lagi.

Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.

Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.

Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.

Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.

Yanti pergi naik motor.

Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.

Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
mery harwati
Terimakasih karyanya yang sudah menghibur readers yang author 🙏
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Masih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Nah bingung kan Yanti mau tinggal di mana kalau Vira benar-benar mengusirnya.

Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.

Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
anonim
Yanti banyak akalnya untuk bisa menjaga tokonya Vira. Tapi Vira juga bisa mematahkan setiap omongan Yanti yang akal-akalan kekeh menjaga toko biar bisa ngutil uangnya Vira.

Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.

Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.

Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.

Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.

Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
LibraGirls
Selalu suka sama karya author Nana banyak pelajaran tentang kehidpan yg baik bisa di ambil yang tidak baik jagan di ambil ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️😍😍😍😍😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Makasih Nana yang selalu menyuguhkan cerita² bagusnya 🤩 sukses selalu menciptkan karya² bagus yang lainya 🤩🤩🤩🤩🙏🙏🙏
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏
total 1 replies
anonim
Gosip Hartato mau melamar Vira cepat sekali diketahui Ibu-ibu. Di warung tempat paling pas untuk ngerumpi sambil berbelanja.

Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.

Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.

Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.

Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.

Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!