Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Tamu yang Tak Lagi Istimewa
Seorang gadis berpakaian sederhana dengan tas kain lusuh berdiri di depan toko.
Yanti.
"Ra..." panggilnya pelan. "Aku sudah sebulan lalu dipecat dari tempat kerja. Uangku juga sudah habis, sementara sampai sekarang aku belum dapat pekerjaan baru."
Ia menundukkan kepala. "Boleh gak aku tinggal di sini untuk sementara?"
Vira hanya menatapnya dalam diam. Wajah itu... Wajah yang sama. Yang tersenyum puas saat melihat dirinya meregang nyawa.
"Kau benar-benar bodoh, Vira."
"Selama ini kau pikir kenapa aku bertahan di rumah ini? Karena aku mencintai Daril."
"Aku sudah lama menunggu hari ini. Setelah kau mati, aku bisa menikah dengannya."
Suara itu kembali menggema di kepalanya.
"Ra?" panggil Yanti membuat Vira tersadar. "Boleh, 'kan?"
Perlahan, Vira mengulas senyum tipis. "Tentu saja boleh. Kamu, 'kan, sepupuku, keluargaku."
Sorot mata Yanti langsung berbinar.
Dalam hati, Vira mencibir. "Ya... keluarga yang kupelihara di rumahku sendiri, lalu menungguku mati."
"Terima kasih, Ra!" Yanti langsung menggenggam tangan Vira. "Aku janji gak bakal ngerepotin kamu."
"Tapi..." Vira menggantung kata-katanya.
Senyum di wajah Yanti perlahan memudar. "Tapi apa?"
"Kalau ingin tinggal di rumahku," lanjut Vira. "kamu harus bekerja."
Yanti mengernyit. "Maksudmu?"
"Kamu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah."
Yanti membelalak. "Hah?"
"Menyapu, mengepel, mencuci, memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah," jelas Vira.
Rahang Yanti menegang. "Enak saja. Aku datang untuk numpang hidup, bukan jadi pembantu."
Namun umpatan itu hanya berani ia simpan dalam hati.
"Bagaimana?" tanya Vira dengan nada suara lembut. "Kalau kamu setuju, masuklah dan setelah sarapan bantu aku."
Vira berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kalau tidak, maaf. Aku gak bisa bantu kamu."
Yanti menggigit bibir bawahnya.
"Kamu tahu sendiri aku hidup sendirian," lanjut Vira. "Aku memang punya toko sembako, tapi itu satu-satunya sumber penghasilanku."
Tatapan Vira tetap tenang. "Makan, listrik, air, semuanya butuh biaya. Aku juga anak yatim piatu. Tidak ada yang menanggung hidupku selain diriku sendiri."
Yanti mengepalkan tangan di balik tasnya.
Dalam hati ia mengumpat habis-habisan. "Pelit sekali! Masa sepupu sendiri disuruh jadi kacung?"
Yanti melirik ke arah toko sembako yang berada di samping rumah itu.
"Ra..." katanya ragu. "Sebenarnya aku agak lemot kalau disuruh beres-beres rumah."
Ia tersenyum canggung. "Gimana kalau aku bantu jaga toko aja?"
Vira mengangkat sebelah alisnya. Di kehidupan sebelumnya, ia memang meminta Yanti menjaga toko.
Yanti makan gratis, tidur gratis, bahkan tidak pernah diminta mengeluarkan uang sepeser pun. Sebagai balasannya, Yanti membantu melayani pembeli.
Namun, Vira sering mendapati uang hasil penjualan berkurang tanpa alasan yang jelas. Awalnya ia mengira dirinya salah menghitung. Lama-kelamaan, ia sadar. Yanti diam-diam mengambil uang dari laci kasir sedikit demi sedikit.
Vira memilih menutup mata, karena merasa kasihan Yanti tidak memiliki penghasilan.
Ia hanya mengurangi jumlah uang tunai di laci dan lebih sering menyimpannya sendiri agar kerugiannya tidak semakin besar.
Sekarang, kesalahan itu tidak akan terulang lagi.
"Jangankan ribuan rupiah. Satu lembar uang pun tidak akan kubiarkan berpindah ke tanganmu," batin Vira.
"Maaf," ujar Vira dengan suara terkontrol. "Aku sedang butuh orang untuk mengurus pekerjaan rumah, bukan menjaga toko."
Wajah Yanti mulai berubah. "Tapi, Ra..."
"Tenang saja." Vira memotong ucapan Yanti. "Kalau kinerjamu bagus, aku tetap akan memberimu gaji."
Wajah Yanti langsung membeku. "Digaji? Berarti aku benar-benar dianggap art?"
Dalam hati ia mendecak kesal. "Kalau kayak gitu, mana bisa aku pegang uang toko?"
Namun ia tidak berani menunjukkannya. Saat ini ia memang sedang tidak punya tempat tinggal dan tidak memiliki pekerjaan.
Kalau sampai Vira berubah pikiran, ia benar-benar tidak tahu harus ke mana lagi.
Yanti akhirnya mengangguk pelan, menelan kekesalannya.
"Baiklah, Ra," jawabnya pelan sambil memaksakan senyum. "Aku bakal ngerjain semua pekerjaan rumah."
Vira mengangguk puas. "Bagus. Masuklah. Kamarmu di belakang, deket dapur."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Vira kembali menata barang-barang dagangannya.
Sementara itu, Yanti melangkah masuk ke dalam rumah dengan senyum yang masih terpasang di wajahnya. Meski demikian, kedua tangannya sudah mengepal erat sejak tadi.
"Kamar deket dapur?" gerutunya. "Dia benar-benar menganggap aku babu. Dasar Vira sialan!"
Setelah masuk ke dalam rumah, Yanti meletakkan tasnya di kamar yang dikatakan Vira, lalu berjalan menuju meja makan. Saat membuka tudung saji, yang ada hanya bubur.
Yanti mendengus. "Sarapannya cuma bubur begini? Mana kenyang? Dasar pelit!"
Namun Yanti tak punya pilihan lain selain memakan bubur itu.
Setelah selesai menyusun barang di toko, Vira masuk ke dalam rumah. Ia melihat bubur di atas meja yang dibawakan Daril tadi sudah habis.
"Yanti."
"Iya, Ra?" sahut Yanti yang baru saja membuang sampah bekas bubur.
Vira menyerahkan sebuah celemek. "Tolong sapu dan pel seluruh rumah dulu. Setelah itu cuci piring yang ada di dapur."
Yanti tersenyum tipis. "Baik."
"Oh ya." Vira kembali menoleh. "Nanti sekalian cuci pakaian yang ada di kamar mandi. Kalau sudah selesai, masak nasi. Lauknya nanti aku yang belanja."
Senyum Yanti mulai terasa kaku. "I-iya."
Vira mengangguk puas, lalu kembali ke toko. "Jangan harap jadi tamu dan aku perlakukan kayak ratu. Sekali tertipu sudah lebih dari cukup."
Begitu sosok Vira menghilang dari pandangan, senyum di wajah Yanti langsung lenyap. Ia menatap celemek di tangannya dengan wajah masam.
"Dasar menyebalkan," gumamnya lirih. "Kukira numpang di sini bakal hidup enak."
Yanti mendecak kesal. "Ternyata malah diperlakukan kayak orang asing. Pekerja biasa."
Dengan enggan ia mulai menyapu lantai. Belum setengah rumah selesai, peluh sudah membasahi pelipisnya.
"Capek banget..."
Ia melirik ke arah toko. Dari kejauhan terlihat Vira sedang melayani pelanggan sambil sesekali mencatat barang yang keluar.
"Enak sekali dia. Kerjanya cuma berdiri, pegang uang, lalu duduk. Sementara aku..."
Yanti menatap lantai yang belum selesai disapu. Harus mengepel, mencuci piring, mencuci pakaian. Belum lagi memasak.
Rahangnya mengeras. "Mentang-mentang punya toko. Kalau bukan karena aku belum punya tempat tinggal, mana sudi aku kerja kasar begini."
Ia kembali menatap keluar pada toko milik Vira. "Lihat saja, semua ini bakal jadi milikku."
Ia menarik napas panjang, lalu kembali bekerja.
Sementara itu, dari balik etalase toko, Vira diam-diam memerhatikan setiap gerakan Yanti. Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Dulu aku terlalu baik. Kali ini, setiap orang akan mendapatkan tempat yang pantas."
Vira kembali melanjutkan menimbang gula saat suara itu terdengar.
"Ra, aku mau beli beras setengah liter."
Vira menoleh. Jemarinya yang memegang timbangan seketika membeku.
Orang yang berdiri di hadapannya adalah seseorang yang tak pernah ia duga akan ditemuinya lagi.
"Kamu..."
...✨"Orang yang benar-benar menyayangimu akan menghargai bantuanmu. Yang memanfaatkanmu justru menganggapnya sebagai kewajiban."...
..."Memberi tempat tinggal adalah kebaikan. Membiarkan orang menguasai hidupmu adalah kebodohan."...
..."Kebaikan tanpa batas sering kali melahirkan orang yang lupa diri."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄