Pernyataan cintanya di tolak mentah mentah oleh pangeran kedua, hingga akhirnya sang putra mahkota yang mengambil kesempatan. Tapi apa yang akan terjadi saat dia dan Pangeran kedua melakukan affair di belakang putra mahkota, sebatas rasa penasaran atau hanya pelampiasan?
Spin Off Guardian Flower (Simba dan Liara)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defri yantiHermawan17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Kelam
Semilir angin malam menerbangkan anak rambut milik Anyelir. Gadis bergaun malam panjang dengan kimono tidur senada itu terlihat melamun di balkon, sudah hampir tengah malam tapi dirinya belum juga merasa ngantuk.
Anyelir berbalik dan segera masuk kedalam kamar saat angin malam kian kencang, udara dingin mulai menusuk kulit mulusnya. Sepertinya akan datang hujan badai malam ini, lihat saja kilat dan angin semakin terlihat menggila.
Braak!
Sang Princess menutup pintu balkon cukup kencang. Helaan napasnya kembali terdengar, dengan langkah gontai dia mendekat ke arah tempat tidur, tapi sayangnya kedua mata indahnya belum mengantuk sama sekali.
"Aku butuh susu hangat kalau seperti ini," gumamnya.
Dengan cepat dia bangkit dan keluar, sebenarnya Anyelir bisa saja memanggil pelayan, tapi entah rasanya saat ini dia ingin membuat minuman itu sendiri tanpa berbau tangan orang lain. Dengan langkah pelan Anyelir menuruni anak tangga, suasana remang dan sepi membuatnya sedikit bergidik. Istana sebesar ini dengan suasana damai dan tenang hanya ada suara jangkrik dan hewan lainnya terlihat menyeramkan untuk Anyelir.
"Aku akan segera melakukannya!"
Deg
Langkah Anyelir terhenti saat dia mendengar samar samar orang berbicara. Sang princess reflek menoleh ke arah belakang, tapi sayang dia tidak menemukan apa pun. Bila mata biru indahnya bergulir ke arah jam besar yang berdiri kokoh di sudut ruangan.
Pukul 11 malam lewat 45 menit, belum tengah malam memang. Tapi siapa yang masih terjaga malam malam seperti ini sama sepertinya?
"Aku tidak mau kalau kau sampai terjebak oleh rencanamu sendiri. Aku lihat dia sangat cantik, dan aku yakin kau tidak buta dan bodoh untuk menyadarinya!"
Suara lain kembali terdengar, kalau tadi Anyelir mendengar suara pria kali ini yang dia dengar adalah suara seorang wanita. Anyelir susah payah menelan salivanya, dia perlahan melangkah menuju sumber suara dengan kedua kaki telanjang.
"Aku tidak mungkin terjebak oleh rencanamu sendiri, kau percaya padaku bukan? Hanya kau lah yang akan menjadi wanitaku satu satunya, kau tahu dia hanya menjadi senjata untuk memperkuat posisiku disini. Kita sudah membahasnya tempo hari, Sayang." bisiknya.
Tangan dan kaki Anyelir bergetar, kedua matanya menatap tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya saat ini. Dia membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.
"Ya, aku percaya padamu." sahut si wanita.
Bekapan Anyelir kian kuat saat melihat kedua orang itu dengan cepat saling bertukar bibir di remangnya malam. Kedua kaki Anyelir reflek mundur beberapa langkah, hingga akhirnya dia tidak sengaja menabrak sesuatu di belakangnya.
Gadis bergaun malam panjang itu berbalik, wajah memerah nya kian ketara, menunjukan kalau saat ini emosinya tengah mencapai puncak.
"Harusnya kau tidak bangun,"
Anyelir tidak menjawab, dia memilih bungkam dan segera menghindari orang yang tidak sengaja di tabraknya tadi. Namun sayang tangannya dengan cepat di cekal hingga membuat langkah dan tubuhnya kembali mundur kebelakang.
Air mata sudah mengajak, namun tangisan itu tidak bersuara sedikit pun, hanya rasa sesak kian menguasai dadanya hingga sedikit kesulitan bernapas.
"Ikut aku!"
Orang itu menarik pelan lengan Anyelir, dia membawa gadis itu ke arah tangga. Berjalan pelan, namun karena kesabarannya setipis tisu di bagi tiga akhirnya dengan cepat dia menggendong Anyelir dengan sekali angkat.
Sepertinya gadis itu juga sudah pasrah, dia hanya menangis tanpa suara sembari mencengkram erat kaos hitam tanpa lengan yang dipakai oleh orang yang menggendongnya saat ini.
Keduanya akhirnya sampai di sebuah ruangan, entah ruangan apa Anyelir tidak mau repot memikirkannya. Tangisannya belum berhenti sekalipun dia kini sudah duduk di sebuah ranjang besar berwarna cream yang tentu bukan ranjang miliknya.
"Minumlah!"
Anyelir mendongak, matanya yang basah semakin berkilau tertimpa cahaya lampu kecil dan remang di ruangan itu. Tanpa bersuara apa pun, Anyelir mendekap orang yang tengah berjongkok di hadapannya saat ini. Dia memberikan kedua tangannya pada leher orang yang ternyata juga membalas dekapannya, elusan lembut di punggungnya membuat air mata Anyelir kian mengalir.
"Dia bohong, dia hanya mau memanfaatkan aku, dia tidak menginginkan aku seperti ucapannya waktu itu." racaunya.
Pelukannya kian mengerat, isakannya kini terdengar, sangat sesak dan begitu dalam. Bahkan orang yang mendekapnya saat ini terlihat mengepalkan satu tangannya yang baru saja meletakan gelas dilantai. Kedua tangan kekarnya sudah membungkus tubuh indah yang pas sekali berada di dalam dekapannya itu.
"Apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui kebenarannya?" bukannya menenangkan dia malah melontarkan pertanyaan yang membuat Anyelir harus kembali berpikir keras.
Perlahan dekapan keduanya terurai, dengan lembut jari jemari panjang berurat itu menyeka air mata yang masih membasahi pipi mulus Sang princess.
"Aku tidak tahu," sahutnya dengan napas terengah dan sesegukan.
Anyelir memalingkan wajahnya ke arah lain, dia baru menyadari kalau orang yang membawanya ini adalah orang yang harus di hindari juga.
"Aku mau tidur!"
Anyelir bangkit, dia segera melangkah lebar namun lagi lagi tertahan saat salah satu tangannya kembali di raih seseorang dan digenggam dengan erat.
"Apa kau mau mendengar sebuah cerita?" tawarnya.
"Tidak!" putusnya cepat.
Sang princess mencoba melepaskan genggaman erat orang itu namun tetap saja tidak bisa, Anyelir malah merasakan tubuhnya tertarik dan kembali duduk di atas tempat tidur lagi.
"Apa kau tidak mau tahu alasan, kenapa aku selalu menolak mu, Princess!" cetus nya lagi dengan raut wajah yang serius, terlihat penuh permohonan.
AYO CERITA BANG, NENG SIAP DENGERIN KOK😘😘😘
kasihan selalu tersisihkan...
terimakasih untuk tulisan indah mu thor