Apa jadinya jika menantu yang dianggap sampah dan dijuluki menantu kelas teri karena tak berguna secara materi, ternyata adalah seorang billionaire ?
Heru Triyono (30 tahun) diam-diam memiliki sebuah rahasia yang tersimpan rapat. Bahkan dirinya saja tidak tahu bahwa ia seorang pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarga Pramudya.
Liam Kaisar Pramudya adalah nama calon pewaris tunggal keluarga Pramudya yang kekayaannya begitu tersohor seantero negeri dan luar negeri. Akan tetapi keberadaan Liam yang masih menjadi misteri, membuat publik selalu bertanya-tanya tak terkecuali musuh dalam selimut.
Di mana kah Liam berada? Apakah sudah mati atau masih hidup?
Simak kisahnya sobat...
DILARANG PLAGIAT🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Pelayan di Rumah Mertua
Paginya Nia mual hebat dan Heru dengan telaten memijat tengkuk istrinya tanpa rasa jijik. Bahkan pagi-pagi Heru sudah menjadi pelayan di rumah ibu mertuanya padahal semalam dirinya baru saja datang.
Bu Rosa menyuruh Heru mengupas kentang, wortel dan sayuran lainnya masing-masing sebanyak sepuluh kilo. Dikarenakan restoran ibu mertuanya itu tengah ada pesanan nasi kotak.
Semua bahan yang dibutuhkan telah ada di rumah Bu Rosa dan harus dikupas bersih oleh Heru sebelum dibawa ke dapur restoran untuk diolah karyawati restorannya. Tak lupa juga Bu Rosa menyuruh menantu kelas terinya itu untuk membersihkan gudang di rumah yang sudah lama terbengkalai tak pernah dibersihkan.
"Ibu mau pergi arisan sebentar terus langsung ke restoran. Jangan lupa kamu selesaikan apa saja yang tadi ibu suruh. Awas kalau enggak beres. Ibu pecat kamu nanti jadi mantu!" pekik Bu Rosa.
"Baik, Bu. Nanti Heru segera lakukan setelah masak sarapan buat Nia," ucap Heru sopan.
"Hem, kerja yang bener. Rawat istri yang bener. Toh kamu di sini kan memang babu. Kecuali kamu punya jabatan tinggi di kantor. Nah kamu enggak cocok jadi babu. Selama tetep jadi OB ya otomatis image babu selamanya cocok buatmu," sarkas Bu Rosa seraya melenggang pergi.
Heru hanya mengulas senyum tipisnya. Ia tidak pernah memasukkan di hati omongan pedas ibu mertuanya itu.
"Mas!" pekik Nia.
"Eh, iya Dek. Tunggu sebentar," balas Heru yang terkejut mendengar teriakan sang istri.
Heru pun bergegas ke kamar Nia setelah mendengar teriakan istrinya itu.
Ceklek...
Pintu kamar pun terbuka, Heru terkejut melihat Nia sudah berwajah cemberut seraya berkacak pinggang.
"Mas ke mana saja sih! Aku panggil-panggil kok lama balik ke kamarnya? Nasi goreng sama telur mata sapi setengah matang yang aku mau mana Mas? Laper nih," ucap Nia dengan wajah jutek.
"Ya ampun iya Dek. Maaf tadi Mas masih berbicara sama ibu. Tunggu sebentar ya cantik. Duduk yang manis, Masmu yang ganteng ini siap masakin pesenan kanjeng ratu," ucap Heru dengan terkekeh merayu sang istri.
Bahkan ia menggandeng istrinya untuk menyuruh Nia duduk di sofa kamar mereka. Agar sang istri tak merajuk lagi padanya.
"Awas saja kalau enggak enak. Bobo di luar!" hardik Nia.
Glekk...
Heru menelan salivanya saat ratu di hatinya tengah merajuk. Namun ia berusaha sabar menghadapi ibu hamil yang konon katanya lebih sensitif dan banyak maunya.
Alhasil kini dengan sigap Heru bergegas ke dapur mengolah pesanan sang istri yang sepertinya tengah mengidam masakannya. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, akhirnya nasi goreng dan telur mata sapi setengah matang pun jadi.
"Taraaa... nasi goreng pesanan kamu sudah jadi, sayang. Semoga suka ya. Yuk segera dimakan. Kalau dingin enggak enak nantinya. Apa mau Mas suapin?" tanya Heru dengan senyum sumringah.
"Sekarang sudah enggak kepengin, Mas. Maunya omelet mie pakai cabai yang banyak," ucap Nia nyengir tanpa dosa dengan deretan giginya.
"Lah terus yang makan ini siapa Dek?" tanya Heru lesu.
"Mas saja yang habisin. Aku maunya ganti omelet mie yang pedes," pinta Nia dengan nada memohon.
Alhasil terjadi perdebatan kecil di antara keduanya. Heru akan membiarkan pesanan Nia asal tidak pedas. Sebab ia khawatir jika makanan pedas nanti kurang baik bagi kesehatan ibu hamil dan jabang bayinya.
Nia merengek tetap minta pedas tetapi Heru merayu Nia kembali. Akhirnya terjadi kesepakatan cabainya cukup satu buah saja.
Akhirnya keduanya makan dengan lahap di meja makan. Nia makan omelet mie sedangkan Heru makan nasi goreng. Saat keduanya tengah asyik menyantap sarapan, mendadak teriakan Bu Rosa membuat kaget dan kalang kabut.
"Heru!" pekik Bu Rosa.
Deg...
🍁🍁🍁