Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Malam Berdarah
Kegelapan malam di ibukota Kerajaan Beast biasanya sunyi dan mencekam, namun malam ini, udara terasa panas oleh api kemarahan yang mulai menyulut setiap sudut kota.
Kabar tentang deklarasi perang Arion menyebar lebih cepat daripada wabah, membangunkan rakyat dari tidur panjang mereka yang dipenuhi ketakutan.
Di jalanan utama menuju istana, kurang dari seratus Ksatria Black Knight berbaris dengan zirah hitam yang berkilat dingin di bawah cahaya bulan.
Arion berjalan di barisan paling depan, memimpin pasukan kecil namun mematikan itu dengan langkah yang tenang namun berwibawa.
Sesuatu yang luar biasa terjadi.
Rakyat Kerajaan Beast-yang biasanya membenci manusia-mulai keluar ke jalanan.
Alih-alih melakukan perlawanan, mereka justru mundur perlahan, menciptakan celah lebar di tengah kerumunan.
Mereka memberi jalan bagi rombongan Arion, seolah-olah sedang menghamparkan karpet merah bagi seorang pembebas yang mereka nantikan selama bertahun-tahun.
Tiba-tiba, deru langkah kaki yang berat terdengar dari arah gang samping.
Sosok raksasa Hanz, yang sejak tiba di ibukota seolah menghilang dalam bayang-bayang tugas khusus, akhirnya muncul.
la tidak datang dengan tangan kosong.
Hanz berjalan dengan napas yang menderu, satu tangannya mencengkeram kerah jubah sutra seorang pria paruh baya yang kini wajahnya hancur oleh lebam dan air mata.
Pria itu adalah Baron Varkas, salah satu bangsawan paling berpengaruh namun dikenal sebagai monster bejat di distrik bawah.
BRAKK!
Hanz melemparkan tubuh gemuk sang Baron ke tengah jalan, tepat di hadapan langkah kaki Arion.
Tubuh bangsawan itu tersungkur di atas aspal yang dingin, merintih dalam kehinaan.
"Tuan Muda," Hanz memberi hormat dengan suara berat yang menggetarkan udara.
"Saya menemukan tikus ini sedang mencoba bermain dengan gadis beast, waktu saya menghajar bawahannya, dia menuntunku kekediaman bangsawan hina ini, 3 gadis polos telah tewas disana dengan keadaan mengenaskan. Tanpa sadar tanganku sudah mau menghancurkan tengkoraknya." Mendengar laporan itu, suasana di sekitar kerumunan rakyat mendadak hening.
Lalu perianan-ianan muncul suara geraman dari tenggorokan para warga Beast yang menonton.
Tatapan mereka yang tadinya takut kini berubah menjadi haus darah saat melihat Baron Varkas-pria yang selama ini memeras mereka dan menculik anak-anak mereka.
Arion berhenti tepat di depan tubuh sang Baron.
la tidak menunduk, namun auranya seolah menekan kepala pria itu hingga mencium tanah.
"Inilah hukum yang kalian lindungi selama ini?" suara Arion bergema dingin, ditujukan kepada para penjaga kota yang masih bimbang di kejauhan.
"Jika kalian menganggap penghancuran sampah ini adalah sebuah kejahatan, maka akulah penjahat terbesar yang pernah menginjakkan kaki di tanah ini."
"Hanz, biarkan rakyat menonton."
tatapan mereka yang tadinya takut kini berubah menjadi haus darah saat melihat Baron Varkas-pria yang selama ini memeras mereka dan menculik anak-anak mereka.
Arion berhenti tepat di depan tubuh sang Baron. la tidak menunduk, namun auranya seolah menekan kepala pria itu hingga mencium tanah.
Arion menatap Baron Varkas yang merangkak di kakinya dengan tatapan yang lebih dingin dari es.
Tanpa peringatan, tangan kanannya bergerak secepat kilat.
SRETT!
Kilatan baja hitam dari pedang Arion membelah udara dengan presisi yang mengerikan.
Detik berikutnya, jeritan melengking pecah saat lengan kanan sang Baron terlepas dari bahunya dalam satu tebasan bersih.
Darah hangat menyiprat, mengenai ujung celana hitam Arion, namun ia bahkan tidak berkedip. Sang Baron jatuh terguling, mengerang kesakitan sambil memegangi lukanya yang memancarkan darah segar ke aspal jalanan.
Rakyat yang menonton menahan napas.
Keheningan yang mencekam menyelimuti jalanan, hanya diisi oleh suara rintihan sang bangsawan yang kini tak lebih dari seonggok daging yang dihina.
Arion kemudian merogoh jubahnya, mengambil beberapa belati pendek milik pasukan Black Knight yang tajam dan berkilau maut.
Dengan gerakan santai, ia melemparkan belati-belati itu satu per satu ke tanah.
Logam belati itu berdenting pelan saat menyentuh marmer jalanan, tepat di samping tubuh sang Baron yang menggeliat.
Arion melangkah maju, melewati tubuh hina itu seolah-olah sang Baron hanyalah kerikil yang tak berarti di jalannya.
Sebelum ia menjauh, suaranya yang berat, penuh otoritas, dan sangat dingin menggema di telinga setiap rakyat Beast yang ada di sana.
"Lakukan apa pun yang kalian mau setelah aku melewatinya,"
ucap Arion tanpa menoleh sedikit pun.
la berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri,
"Ingat, jangan membunuhnya terlalu cepat. itu hanya akan membuat penderitanya hilang begitu saja."
Begitu Arion melangkah melewati batas tubuh sang Baron, keheningan itu pecah menjadi badai amarah.
Kalimat terakhir Arion seolah menjadi instruksi suci bagi rakyat yang selama ini tertindas.
Seperti bendungan yang runtuh, kemarahan mereka meledak.
Seorang pria tua yang anaknya hilang karena sang Baron adalah yang pertama merangkak maju.
Dengan tangan gemetar, ia memungut belati itu, matanya merah oleh air mata dan dendam.
"Kau mendengar perintahnya, monster?" bisik pria tua itu dengan suara parau.
"Kita tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah." Dalam sekejap, kerumunan rakyat itu menyerbu.
Jeritan Baron Varkas yang tadinya melengking perlahan tenggelam di bawah suara amukan massa.
Mereka tidak menyerang titik vital; mereka mengikuti saran Arion-mencabik, menyayat, dan membalas setiap penderitaan dengan sangat lambat.
Di depan, Arion terus berjalan menuju gerbang istana, diikuti oleh sisa Black Knight yang berjalan dengan disiplin militer yang menakutkan.
Di belakang mereka, suara jeritan kematian sang Baron menjadi musik pengiring bagi pawai kematian tersebut.
Elara, yang berjalan di belakang Arion, sempat menutup matanya sejenak sebelum akhirnya membukanya kembali dengan tatapan yang lebih teguh.
"Tuan Muda," Sebas berbisik sambil berjalan di sampingnya, matanya menatap ke arah gerbang istana yang kini mulai dijaga ketat oleh pasukan elit Beast.
"Laporan dari Liora... ksatria penjaga gerbang diperintahkan oleh Putri Valerica untuk membantai siapa pun yang mendekat. Mereka telah menyiapkan busur panah di atas tembok."
Arion menyeringai tipis-sebuah seringai predator yang telah menemukan mangsanya.
"Bagus," jawab Arion singkat.
Bersambung...