Marcelo, seorang anak pengusaha terkenal jatuh cinta pada seorang gadis sederhana. Sayangnya cintanya tidak direstui oleh sang ibu, sehingga dia harus berpura-pura gila agar bisa bersatu dengan gadis itu.
Demi cintanya, Mitha rela menikah dengan laki-laki gila dan hidup menderita karena mertua yang menjadikannya seorang pembantu di rumah mewahnya.
Mampukah Mitha bertahan demi cintanya pada Celo sang suami? Yuk ikuti kisah selanjutnya dalam Cinta Gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CG# 22
Mitha mulai bercerita tentang pernikahannya yang baru seumur jagung. Kisah perjalanan rumah tangganya yang berliku dan penuh cobaan pun tak luput dia ceritakan. Terakhir dia juga menceritakan bagaimana dia diculik dan sampai di kota tersebut, bertemu dengan Bu Wiwin.
Kejadian yang baru saja terjadi, dimana barang bawaannya dijambret juga dia ceritakan secara mendetail. Oleh karena itu, saat dia diminta untuk tes urine langsung disanggupi, mengingat sang suami telah menggaulinya beberapa kali.
"Alhamdulillah, Allah telah menitipkan zuriat di dalam rahim Neng Mitha," ucap Bu Wiwin penuh rasa syukur.
Bu Wiwin belum pernah merasakan hamil pun turut berbahagia. Dia meminta Mitha untuk tinggal bersamanya sampai badannya sehat dan kandungannya juga kuat. Bidan desa itu juga menyarankan pada wanita yang kini menggunakan gamis dan hijab dengan warna, untuk tidak melakukan perjalanan jauh.
"Bu Bidan, kalau misalnya masak sama menyapu atau nyuci baju boleh nggak?" tanya Mitha, dia tidak mungkin hanya makan tidur saja di rumah Bu Wiwin.
Sudah numpang, tidak mau membantu kerepotan tuan rumah sungguh tidak punya rasa malu atau segan sama sekali. Seperti itulah yang dirasakan oleh Mitha saat ini. Dia tidak mau menyusahkan Bu Wiwin yang telah menolongnya, paling tidak membantu memasak dan cuci piring.
"Boleh-boleh saja Neng, yang penting jangan terlalu capek. Banyakin istirahat dan makan makanan yang mengandung gizi, vitamin dan DHA. Jangan lupa minum susu hami!" pesan bidan desa menjawab pertanyaan wanita yang baru saja diperiksanya.
Mitha tersenyum lega karena dia masih bisa membantu Bu Wiwin di dapur. Jadi, tidak masalah jika kepulangannya ke kota Kecil tertunda untuk sementara waktu.
Di sebuah gedung tua yang tidak terpakai lagi, Rosita memarahi pentolan preman bayarannya. Anak buah preman itu salah mengambil barang milik Mitha. Mereka membawa gamis yang telah dilengkapi GPS itu, sehingga mereka tidak bisa lagi melacak keberadaan menantu Weasley.
"Kalian bisa bekerja tidak sih? Seharusnya kalian ambil uangnya saja dan buat dia sakit agar tidak bisa berjalan lagi. Kalau seperti ini, kita tidak tahu dia berada sekarang karena kita tidak bisa memantaunya lagi." Rosita sangat murka ketika preman itu memberi laporan jika sang menantu masih sehat.
"Tapi, Nyonya. Dia sudah tidak memiliki uang lagi karena uangnya telah kami ambil. Dia pasti tidak bisa pulang ke sini tanpa bantuan orang lain." Pentolan preman itu menjelaskan keadaan terakhir Mitha di kota T.
Rosita mengangguk, penjelasan orang bayarannya itu sedikit mengobati rasa kecewanya atas gamis ber-GPS yang kembali dibawa oleh mereka. Perempuan itu tersenyum karena sang menantu tidak jadi pulang dalam waktu dekat ini.
Kamu pasti saat ini sedang mengumpulkan uang untuk ongkos sampai di kota ini. Kamu pikir bisa secepat itu mengumpulkan uang untuk pulang. Mimpilah selagi kamu masih bisa bermimpi karena mimpimu sebentar lagi berakhir. Hahaha!
Raut wajah Rosita tampak menakutkan bagi orang yang melihatnya. Hanya karena ingin memiliki menantu kaya, rela memisahkan sang anak dengan orang yang dicintainya. Semua itu karena menantunya itu hanya dari keluarga sederhana.
"Lalu, kapan kalian akan membawa anakku pulang? Ini sudah hampir dua Minggu kenapa belum juga bergerak?"
Pentolan preman itu pun ketakutan karena belum bisa membawa target ke hadapan sang majikan.
"Ruangan itu dijaga ketat, Bos. Kami sudah berusaha masuk ke ruangan itu dengan menyamar sebagai tenaga medis. Ternyata tidak mudah masuk ke ruangan tersebut. Yang boleh masuk ke ruangan itu hanya dokter dan perawat yang ditunjuk oleh Tuan Damian."
"Bodoh! Kalian bisa pura-pura mengantarkan makanan atau obat atau jika perlu ubah wajah kalian seperti dokter atau perawat yang mengurus dia." bentak Rosita.
Para preman itu hanya bisa menunduk tanpa berani menjawab sepatah kata pun pada sang majikan. Mereka rasanya ingin menyerah saja karena tidak mudah membawa tuan muda mereka yang dijaga ketat oleh orang-orang Damian. Mereka sudah dua kali tertangkap basah dan terjadi baku hantam yang dimenangkan oleh orang-orang Damian.
Rosita meninggalkan gedung tua itu dengan perasaan penuh amarah. Usahanya untuk mendapatkan sang anak lagi-lagi gagal. Sepertinya sang suami mengajak perang kerena tidak mau berpihak padanya.
Wanita paruh baya itu mendatangi kantor sang suami. Dia akan meminta Marcelo secara langsung dengan baik. Jika cara tersebut gagal maka dia akan melawan sang suami dengan cara licik.
"Di mana kamu sembunyikan Celo, Mas?" tanya Rosita begitu masuk ke dalam ruang kerja sang suami.
Damian yang sedang fokus pada lembaran-lembaran kerja mengangkat wajahnya. Laki-laki itu memasang wajah bingung penuh tanda tanya sang istri tiba-tiba menanyakan sang anak padanya.
"Apa kamu tidak salah bertanya? Seharusnya yang bertanya itu aku Rosita. Di mana anak dan menantuku kamu sembunyikan? Aku tahu bagaimana kamu dan seperti apa sepak terjangmu. Jadi, tidak usah bersandiwara lagi di depanku!" jawab Damian dengan pertanyaan yang dikembalikan.
"Kamu!"
"Kenapa? Bukankah apa yang aku ucapkan itu benar? Maling teriak maling! Lucu." Damian menarik tipis bibirnya meremehkan kemampuan sang istri.
Rosita tahu suaminya itu tengah berbohong padanya. Oleh karena itu, dia langsung meninggalkan ruang kerja sang suami begitu saja. Hati perempuan itu seraya terbakar dengan perlakuan sang suami yang tidak ada perhatiannya sama sekali.
Wanita itu membanting pintu dengan sangat keras sampai kaca pembatas itu bergetar. Damian hanya bisa mengusap dadanya melihat kelakuan sang istri. Selama ini, padahal Damian selalu berdo'a agar Allah melembutkan hati serta memberikan hidayah untuk sang istri.
Usahanya tak kurang-kurang dalam menasehati sang istri. Mulai dari menasehati sampai do'a yang selalu dia panjatkan di tengah malam. Namun, semua itu belum menunjukkan hasil yang maksimal.
Dulu awal-awa menikah, wanita itu bersikap baik. Kini setelah dekat dengan keluarga Sapto Hudoyo, istrinya itu kembali bersikap dominan dan mudah marah. Entah kesalahan apa yang dia lakukan dulu sehingga memiliki istri yang hatinya seperti batu.
"Pindahkan anakku ke tempat yang lebih aman! Orang-orang Rosita sudah mengetahui keberadaan Marcelo. Orang yang menerobos masuk tempo hari itu adalah orang Rosita. Kalian harus lebih berhati-hati lagi saat memindahkannya nanti!"
Damian terpaksa memindahkan anaknya dari rumah sakit itu. Dia tidak ingin sang anak mengalami tekanan mental sehingga akan mempengaruhi kesehatan sang anak.
Celo kembali muntah-muntah sampai cairan berwarna kuning yang keluar. Pemuda itu tampak duduk bersandar heat board ranjangnya. Seorang perawat laki-laki membuang air muntahan anak Damian itu ke kamar mandi.
Badan Marcelo yang begitu lemas tak bertenaga hanya bisa berbaring. Semua aktivitasnya dilakukan di atas ranjang.
Tiba-tiba dokter Faisal mendatangi ruangan di mana Marcelo dirawat, lalu menyuruh anak sahabatnya itu untuk berbaring.
"Kita akan kemana, Dokter?"
***
sukses selalu Thor
Laras baik untungnya
meski banyak rintangan yang selama ini menghalangi,akhirnya semua bisa bahagia.
semau sendiri.