Irfin Setyo Nugraha, seorang CEO tampan dan juga sukses di karirnya. Ia harus terusir dari keluarganya yang kaya raya karena tak mau mengikuti perjodohan yang telah diatur oleh sang kakek.
Memutuskan meninggalkan harta warisan yang sangat banyak dengan menjadi seorang kurir yang hidup pas-pasan.
Dengan pesona yang ia miliki ratusan perempuan rela mengantre untuk menjadi Costumer dan juga kekasihnya.
Tetapi hanya ada satu nama dihatinya yang ia harapkan menjadi pendamping hidupnya. Lalu bagaimana kelanjutan kisah percintaannya ketika sang kekasih hati tahu kalau ia hanya berpura-pura miskin?
Akankah ia bahagia dalam hidup yang penuh dengan kepura-puraan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Pesona KK
Drrrt
Drrrt
Ralian menatap handphone Najla yang masih berbunyi dengan nyaring itu dengan tatapan horor. Rupanya penelpon yang mengaku sebagai Kakeknya itu masih terus menghubunginya dengan tak sabar.
"Waduh panggilan video lagi," gumam gadis itu dengan wajah meringis.
"Najla kemana sih? kok belum muncul juga padahal sekarang sudah jam berapa," gerutunya lagi seraya memandang kubikel sahabatnya yang masih kosong. Dalam hati ia merutuki gadis itu yang menitipkan handphonenya kemarin saat berada di Restoran bersama dengan Amar.
Drrrt
Drrrt
Handphone yang ada dihadapannya kembali memanggil dengan tidak sabar. Ralian menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan.
"Ya Allah, kakek. Kok rindu banget sih sama cucumu yang nakal itu? mana pake panggilan video lagi, ah," ujar gadis itu seraya memperbaiki dandanannya. Tapi kemudian ia tertawa sendiri karena merasa lucu harus tampil cantik di depan seorang kakek tua yang pastinya sudah tidak muda lagi.
Drrrt
Drrrt
"Sabar dikit Napa Kek," ujarnya dengan bibir mengerucut. Ia pun segera menerima panggilan itu dengan memasang wajahnya dengan senyum lebar.
"Ralian?!"
"Pak Yusril?"
Kedua orang itu saling berteriak kaget karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dilayar handphone masing-masing.
Yusril merasakan jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Ia tidak menyangka kalau Ralian adalah Nana yang telah dijodohkan dengan Irfin sejak bayi. Hatinya mencelos kecewa. Ia yang sudah jatuh cinta pada gadis itu kini harus mengubur perasaannya dalam-dalam.
Sedangkan Ralian juga merasakan hal yang sama. Ia sangat kaget dan juga kecewa. Ternyata cowok cool yang menarik perhatiannya itu sedang berusaha menggoda sahabat dengan mengaku sebagai kakek.
"Dasar!"
"Kamu mau jadi sugar Daddy ya?"
"Gak nyangka Aku?!"
"Eh bukan sugar Daddy tapi kamu mau jadi sugar grandpa ya?!"
Ralian menatap layar handphone yang menampilkan wajah Yusril Surya dengan ucapan-ucapan yang sangat lucu di telinga pria itu.
"Kenapa menelpon Pak? mau cari siapa ngaku-ngaku sebagai kakek segala?"
"Dasar?!"
Yusril Surya tak bisa lagi menahan dirinya untuk tertawa. Ia jadi lupa apa tujuannya menghubungi gadis itu. Celotehan tidak jelas dari Ralian membuatnya terhibur ditengah kekacauan yang baru dibuat oleh gadis itu.
"Gak mau ngomong?! ya udah Aku tutup nih?!" ujar Ralian lagi karena merasa sangat kesal, pria itu hanya memandanginya bicara sendiri.
"Eh, jangan ditutup. Aku mau bilang kalau kakekmu masuk Rumah Sakit," jawab Yusril Surya dengan wajah berubah serius. Ralian langsung membulatkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Apa? kakek siapa? Aku kan udah bilang kalau..." seketika ia tersadar kembali kalau handphone yang sedang digunakannya ini adalah milik Najla sang sahabat.
"Ah ya Maaf Pak. Dimana Kakek sekarang?" tanyanya dengan wajah berubah khawatir. Ia pun menutup panggilan video itu setelah Yusril Surya memberitahu alamat Rumah Sakitnya.
"Ya ampun Najla, kamu kemana sih? Kakekmu lagi sakit tahu?!" ujarnya dengan perasaan panik. Ia pun segera meminta izin kepada manajernya untuk mengunjungi Rumah Sakit saat itu juga.
Sementara itu di sebuah Hotel bintang lima. Najla yang diminta oleh Boy Syam untuk mewakilinya menghadiri pertemuan para pengusaha travel di Seluruh kota itu sudah sampai di tempat itu dan langsung mendaftarkan dirinya sebagai peserta.
Gadis cantik itu diminta langsung memasuki ballroom hotel tempat dilaksanakannya kegiatan yang sangat spektakuler karena bekerja sama dengan kementerian pariwisata dan rekreasi.
"Wah pengusaha baru ya Mbak?" tegur seorang perempuan cantik dengan dandanan yang sangat elegan. Najla Irham tersenyum kemudian menjawab, "Ah bukan Mbak. Saya hanya karyawan biasa yang diminta mewakili Bos."
"Oh, kirain. Pantas sih," ujar perempuan itu lagi seraya memandang Najla dengan tatapan menilai. Ia menatap gadis cantik berhijab itu dari atas kebawah dengan bibir mencebik.
Najla hanya menarik nafasnya kemudian pamit dan mencari kursi lain. Ia rasanya tidak nyaman dengan tatapan menghina dari perempuan itu.
"Eh, mau kemana sih. Kita duduk barengan aja supaya kamu juga ikut bersinar jika berada di dekat Aku," ujar perempuan itu seraya menarik tangan Najla untuk duduk di dekatnya.
"Eh iya Mbak." Najla akhirnya duduk di samping perempuan itu dengan sabar. Ia terus membujuk dirinya untuk menikmati acara ini dengan tidak terpengaruh dengan kata-kata perempuan itu.
"Bentar lagi kita akan bertemu dengan para pengusaha sukses. Eh nama kamu siapa? kita kan belum berkenalan ya?"
"Eh iya mbak. Saya Najla."
"Oh Najla. Cocok sih dengan penampilan kamu. Eh, kalau udah jadi karyawan perusahaan besar, penampilan kamu harus diubah dong. Ini kan kamu masih tampak kampungan gitu." Najla hanya tersenyum. Ia sudah berjanji untuk tidak terpancing dengan kata-kata perempuan itu yang terasa sangat tajam seperti silet.
"Aku Imelda. Senang berkenalan denganmu Najla," Ujar perempuan itu lagi dengan senyumnya yang nampak sangat sombong.
"Aku kasih tau ya, beberapa pria itu suka bermain-main dengan gadis sederhana seperti kamu ini. Katanya sih gampang dibohongin. Makanya tuh Aku berusaha untuk tampil seperti ini, elegan dan cerdas supaya aku gak gampang dikacangin sama mereka yang berkedok sok baik dan alim."
Najla sekali lagi tersenyum mendengar perempuan itu berbicara blak-blakan tentang dirinya. Rupanya perempuan yang bernama Imelda ini adalah seseorang yang terbuka apa adanya. Ia bahkan terlalu jujur mengatakan apa saja yang ada di dalam pikirannya.
"Eh maaf, Aku terlalu banyak bicara ya, hehehe padahal kita baru saja berkenalan."
"Gak apa-apa Mbak. Santai saja."
"Aku emang gitu sih orangnya. Maaf ya kalau kamu langsung tidak enak hati dengan ucapan Aku."
"Gak apa-apa Mbak. Aku suka kok, ternyata Mbak orangnya terbuka dan menyenangkan. Meskipun sedikit menjengkelkan pada awalnya hehehe," ujar Najla terkekeh. Tadinya ia pikir akan sulit melalui hari ini bersama dengan perempuan bernama Imelda ini tetapi ternyata ia salah.
Pandangan pertama memang kadang sering menipu. ujarnya dalam hati.
"Lihat tuh, para pengusaha yang kece-kece dan sangat tajir!" Imelda mengarahkan pandangannya ke arah depan dimana beberapa pria tampan sedang berjalan ke arah kursi VVIP tak jauh dari tempat duduk mereka sekarang.
Deg
Najla Irham merasakan tubuhnya menegang. Matanya ia paksa untuk menatap serius pada salah satu pria tampan yang ia lihat di depan sana. Ia sampai berdiri dari duduknya untuk memastikan penglihatannya.
"Najla, ada apa? Apa kamu mengenal salah satu pria itu?"
🌺🌺🌺
*Tobe Continued.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Siapakah yang dilihat oleh Najla?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍