Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan dengan sahabatnya, Vanessa. Bahkan mereka sudah memiliki anak dari hubungan gelap itu.
Namun di tengah rasa sakit itu, ayah mertuanya memberikan kehangatan yang tak bisa ia tolak. Membuat Luna memutuskan untuk melepaskan status istri dan menjadi ibu tiri dari mantan suaminya.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Kebohongan Runtuh
"Pa … setiap aku membuat desain, aku selalu memberikan tanda kepemilikan. Papa bisa mengeceknya. Ada tanda yang sama di sini dan desain-desain yang aku serahkan ke Papa."
Mendengar ucapan Luna, wajah Vanessa seketika berubah pucat. Matanya terbelalak, kegelisahan mulai merayap di dadanya. Jemarinya tanpa sadar mengepal kuat.
Tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya jika Luna akan secerdas itu. Vanessa pikir, Luna hanya menggambar tanpa memberikan tanda kepemilikannya.
Sial!
Bara yang sudah mendengar penjelasan Luna, tanpa berpikir panjang langsung meminta Ares untuk menyelidiki semuanya.
"Ares," panggil Bara dengan suara berat yang dipenuhi dengan wibawa.
"Ya, Tuan." Ares menyahut sambil membungkukkan setengah badannya sebagai bentuk penghormatan.
"Selidiki semuanya!" perintah Bara seraya memberikan gambar desain yang sebelumnya ada di tangan Luna. "Aku mau hasilnya dalam lima menit."
"Baik, Tuan."
Ares segera meninggalkan ballroom dengan langkah cepat.
Suasana ballroom mendadak menjadi sunyi. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara meskipun rasa penasaran memenuhi benak mereka.
Tatapan datar dan dingin Bara yang menyapu seluruh ruang seolah mampu membuat semua orang memilih untuk bungkam.
Beberapa saat kemudian, Layar LED raksasa di belakang panggung tiba-tiba menyala. Cahaya terang langsung memenuhi ruangan itu, membuat seluruh tamu serempak mengalihkan perhatian ke arah layar.
Layar besar itu menampilkan dua gambar desain gaun yang diklaim sebagai karya Vanessa berdampingan langsung dengan desain asli milik Luna.
Kini rasa penasaran para tamu semakin memuncak.
Luna melangkah maju beberapa langkah.
"Pa, tolong perbesar bagian ini dan juga ini," pinta Luna.
Bara mengangguk lalu memerintahkan Ares untuk memperbesar bagian yang Luna tunjuk.
Luna lantas menunjukkan sebuah simbol kecil berbentuk bulan sabit di sudut tertentu dari setiap desainnya.
Sekilas itu hanya seperti ornamen biasa, tetapi sebenarnya itu tanda kepemilikan yang sengaja Luna buat. Luna sengaja memilih tanda bulan sabit karena sama seperti namanya.
"Inilah tanda kepemilikanku, Vanessa," ucap Luna dengan senyuman sinis. Ia lalu melangkah ke hadapan Vanessa, menatap wanita itu dingin. "Aku sudah membuktikannya! Kamu mau mengelak apa lagi?"
Suara gumaman mulai terdengar dari para tamu undangan. Mereka saling bertukar pandang setelah melihat desain itu benar-benar memiliki tanda yang sama.
Vanessa membeku seketika. Ia menunduk dan tidak berani menampakkan wajahnya di depan Luna. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Namun alih-alih mengaku, Vanessa justru menujuk Luna dengan wajah penuh amarah.
"Kamu pasti berbohong, kan? Kamu merekayasa semuanya."
"Bukti sudah ada di depan matamu dan kamu masih mengelak dan menuduhku?" Luna menggeleng pelan dengan sorot mata kecewa. "Aku tidak menyangka kamu setega itu padaku."
"Karena aku tidak percaya padamu," balas Vanessa dengan suaranya yang meninggi. "Sejak kapan kamu bisa membuat desain gaun sebagus itu? Selama ini kamu tidak memberitahuku."
Luna tersenyum tipis, tetapi senyum itu dipenuhi rasa getir.
"Aku bersyukur Luna tidak memberitahumu," sela Bara sebelum Luna sempat menjawab. Tatapan tajam Bara menusuk Vanessa tanpa belas kasihan. "Kalau tidak, mungkin semua hasil kerja keras Luna sudah kamu manfaatkan sejak dulu."
Lagi-lagi Vanessa hanya mampu terdiam. Ia menoleh ke arah Raka. Tatapannya seolah meminta bantuan pada laki-laki itu. Namun Raka justru menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan pada Vanessa untuk diam. Berurusan dengan Bara sama artinya mencari mati.
Beberapa saat kemudian Luna menghela napas pelan dan kembali menatap Vanessa.
"Apa kamu lupa, Vanessa?" Pertanyaan Luna membuat Vanessa spontan menoleh ke arahnya. "Aku pernah menceritakan mimpiku untuk menjadi desainer terkenal seperti dirimu. Lalu pada saat itu kamu memberikan jawaban yang sebenarnya membuat hatiku sakit."
Vanessa terdiam.
"Waktu itu kamu mengatakan agar aku mengubur mimpiku karena itu sulit. Karena aku tidak berpendidikan," imbuh Luna. Senyum pahit menghiasi bibir Luna. "Kamu juga bilang mas Raka tidak akan mendukungku."
Luna bicara sambil melirik ke arah Raka. Ucapannya juga sengaja untuk menyindir sang suami yang memang tidak pernah mau mendukungnya.
Ucapan Luna membuat Vanessa terpaku.
Begitu juga dengan Raka.
Ingatan Vanessa membawanya kembali ke masa lalu.
Shit! Bagaimana aku bisa melupakan hal itu?
"Sekarang aku justru ragu," lanjut Luna dengan mata yang berkaca-kaca. "Sebenarnya selama ini kamu menganggapku sebagai teman atau bukan."
Vanessa tidak mampu menjawab.
"Kamu sebenarnya mendekatiku atau mau mendekati suamiku?" Ucapan itu meluncur begitu saja dari mulut Luna.
"Luna! Tutup mulutmu!" bentak Raka.
"Turunkan nada bicaramu!" ucap Bara pelan tapi penuh tekanan.
"Pa … wanita ini sudah bicara yang tidak masuk akal."
"Tidak masuk akal?" Luna tersenyum sinis. "Kamu selalu membelanya, bahkan tidak canggung bermesraan di depan umum padahal kalian sudah memiliki pasangan masing-masing."
Vanessa dan Raka kini tersudut.
Amarah Luna seolah tak terbendung lagi. Namun Bara mencoba menenangkannya.
"Luna, calm down," ucap Bara mencoba menenangkan. "Sekarang kamu bisa menuntut wanita itu atas dasar pencurian."
Ucapan Bara seketika membuat suasana menjadi lebih tegang.
"Pa … apa kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini secara keluarga?" tanya Raka dengan wajah gelisah.
Belum sempat Bara menjawab, Ares datang dengan membawa berkas dan memberikannya kepada Bara. Ares lantas berbisik di telinga atasannya itu.
Bara membuka berkas itu membacanya dengan seksama. Sorot matanya semakin dingin setiap kali membalikan halaman.
Tanpa banyak berkata, Bara memberikannya berkas itu kepada Raka.
"Orang seperti ini yang kamu pekerjaan?"
Kening Raka mengerut lantas membaca berkas yang diberikan oleh ayahnya. Mata Raka terbelalak melihat isi dari berkas itu.
Vanessa yang merasa penasaran mengambil berkas di tangan Raka begitu saja lantas melihatnya sendiri. Semakin banyak membaca, wajahnya justru semakin pucat.
Di dalam berkas itu ada banyak bukti transaksi yang menunjukkan bahwa Vanessa mentransfer sejumlah uang dalam jumlah besar ke seseorang. Uang itu diberikan untuk membeli desain-desain yang selama ini Vanessa klaim sebagai hasil karyanya sendiri.
"Tidak … ini tidak mungkin …," teriak Vanessa.
"Arrght!" Vanessa menggeram tidak terima dengan kekalahannya. Tanpa berpikir panjang, ia mengayunkan tangannya hendak menampar wajah Luna.
Namun sebelum tangannya mendarat di pipi Luna, seseorang lebih dulu menahannya.
Mata Vanessa membulat sempurna saat tatapannya bertemu dengan tatapan dingin Bara. Jantungnya berdebar kencang, ketakutan merayap di dadanya.
Cengkeraman tangan Bara begitu kuat, membuat Vanessa meringis kesakitan.
Perlahan Bara melepaskan pergelangan tangan Vanessa.
Namun, detik berikutnya Bara …
PLAK
Tamparan keras mendarat di pipi Vanessa.
Tubuh Vanessa terhuyung beberapa langkah. Andai saja tidak ada Raka yang menahan tubuhnya, mungkin Vanessa akan terjatuh ke lantai.
Raka langsung menyentuh pipi Vanessa yang terlihat merah.
"Pa —"
"Shut up!"
Bara kemudian menatap Vanessa tanpa sedikit pun rasa iba.
"If you dare lay a hand on her, I swear I'll make you disappear."
Suara Bara terdengar rendah, namun setiap katanya dipenuhi ancaman.
mereka ayah dan anak ga sih aku curigooong kaya tom and Jerry ga akur