NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Cucian dan Sindiran

​Hanifah duduk di bangku plastik kecil di kamar mandi. Di hadapannya, sebuah ember besar telah penuh berisi pakaian milik Bibi Ratna.

Ia menarik napas pelan sebelum mulai mengucek satu per satu pakaian tersebut.

Perutnya yang semakin membesar membuat ruang geraknya tidak lagi sebebas dulu. Ia harus membuka kedua lutut sedikit lebih lebar agar tidak menekan perutnya saat membungkuk.

Baru beberapa helai pakaian selesai dicuci, aroma keringat dari pakaian kotor bercampur bau sabun membuat wajah Hanifah langsung berubah pucat.

​"Astaghfirullah, mualnya datang lagi..." bisik Hanifah. Ia berhenti sejenak, memejamkan mata beberapa saat dan menarik napas perlahan. Kemudian ia membiarkan aroma sabun cuci masuk ke hidungnya untuk mengusir rasa mual akibat bau keringat dari baju kotor.

"Yang sabar ya, Nak," bisiknya sambil mengusap perutnya. "Ibu cuma ingin cepat selesai."

Ia kembali mencuci pakaian dengan gerakan pelan.

Belum sempat menyelesaikan semuanya, suara langkah kaki terdengar mendekat. ​Bibi Ratna tiba-tiba berdiri di ambang pintu kamar mandi.

​"Hanifah."

"Iya, Bi."

"Itu bajunya jangan disikat terlalu keras, ya. Bahan batik itu sensitif."

​Hanifah menoleh sambil menyeka keringat di dahinya. "Oh, iya, Bi. Ini cuma saya kucek pelan kok."

Ratna memperhatikan beberapa saat. ​"Terus, setelah ini tolong lantai dapur dipel sekalian. Tadi Bibi lihat ada bekas minyak waktu Arkana masak telur."

Hanifah menghentikan gerakannya. ​"Mas Arkana katanya mau mengepel nanti sepulang kantor, Bi."

​Bibi Ratna mendecak pelan sambil melipat tangan di dada. "Loh, suami baru pulang kerja kok malah disuruh ngepel? Laki-laki itu capek cari uang di luar, Hanifah. Urusan rumah ya harusnya diselesaikan istri sebelum suaminya pulang."

​Hanifah terdiam. Ia sebenarnya ingin menjelaskan bahwa dokter sudah melarangnya bekerja terlalu berat.

Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Ia memaksakan senyum tebal. "Iya, Bi. Nanti Hanifah pel pelan-pelan."

​"Nah, begitu. Perempuan hamil itu jangan terlalu manja. Zaman Bibi dulu, hamil tua pun tetap ke sawah, tetap menumbuk padi. Anak-anak zaman sekarang baru hamil muda sudah seperti sakit parah."

​Bibi Ratna kemudian berlalu, kembali duduk di ruang tamu sambil melanjutkan makan cemilan yang sudah disiapkan oleh Hanifah.

​Hanifah hanya bisa mengembus napas panjang. Ia memegang perutnya yang mendadak terasa agak kencang. "Sabar ya, Nak... Kita kuat," bisiknya pada ketiga bayi di dalam kandungannya.

Beberapa saat kemudian, seluruh pakaian selesai dicuci.

Hanifah mengangkat ember itu perlahan menuju halaman belakang. Ia memeras pakaian satu per satu, lalu menggantungnya di jemuran.

Saat mengangkat pakaian terakhir, pinggangnya tiba-tiba terasa nyeri.

"Aduh..."

Ia spontan memegang dinding. Keringat mulai membasahi pelipisnya. Hanifah memejamkan mata sejenak sebelum kembali menarik napas panjang.

Setelah rasa nyeri sedikit berkurang, ia mengambil pel dan mulai membersihkan lantai dapur. Gerakannya sangat pelan. Sesekali ia berhenti untuk mengatur napas.

Hampir setengah jam kemudian, pekerjaan itu akhirnya selesai. Hanifah menjatuhkan tubuhnya perlahan ke sofa ruang tamu.

...----------------...

​Sore harinya, suara motor Arkana terdengar di halaman. Hanifah bergegas membukakan pintu. Wajah Arkana tampak kuyu, namun ia langsung tersenyum begitu melihat istrinya.

​"Assalamu'alaikum, Dek."

​"Wa'alaikumsalam, Mas. Mau langsung mandi atau minum teh dulu?"

​"Mandi saja dulu, Dek. Badan lengket semua." Arkana berjalan masuk, namun langkahnya terhenti saat melihat lantai ruang tamu dan dapur yang tampak mengkilap. "Loh, lantai ini sudah dipel? Kan Mas bilang biar Mas saja nanti?"

​Sebelum Hanifah sempat menjawab, Bibi Ratna menyahut dari meja makan.

​"Bibi yang menyuruh, Arkana. Tidak pantas kalau suami pulang kerja masih harus mengurusi lantai kotor. Istrimu juga masih kuat, kok."

​Arkana menoleh ke arah Hanifah, menyadari wajah istrinya yang tampak lebih pucat dari biasanya.

​"Dek, kamu yang ngepel semua ini?" tanya Arkana dengan nada khawatir.

​"Iya, Mas. Tapi pelan-pelan kok, diselingi istirahat," jawab Hanifah, berusaha meredam ketegangan.

Pandangannya kemudian jatuh pada kedua tangan Hanifah yang tampak memerah dan mulai mengerut akibat terlalu lama terkena air. Jantungnya langsung terasa sesak.

"Dek, kamu juga nyuci baju?"

Hanifah refleks menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuh.

"Iya, tapi pelan-pelan kok."

​Arkana mendekat, lalu berbisik di telinga Hanifah. "Mas kan sudah bilang, jangan dipaksa. Nanti kalau flek lagi bagaimana?"

​"Bibi dengar ya, Arkana!" seru Bibi Ratna dari kejauhan. "Kamu jangan terlalu memanjakan istri. Nanti dia jadi malas. Hamil itu proses alami, bukan penyakit."

​Arkana menarik napas dalam-dalam. Ia mengepalkan tangannya tersembunyi di dalam saku celana, mencoba menahan emosi demi menghormati kakaknya sang ayah.

​"Iya, Bi. Tapi kondisi Hanifah ini kembar tiga, jadi beda dengan hamil biasa," balas Arkana, berusaha tetap sopan.

​Bibi Ratna hanya mengibaskan tangan, tidak peduli. "Ah, sama saja. Intinya jangan terlalu lebay, nanti jadi manja. Baru hamil anak pertama sudah begitu, gimana nanti saat lahiran."

​Malam itu, suasana di meja makan terasa sangat canggung. Arkana lebih banyak diam, sementara Bibi Ratna terus mengomentari rasa masakan malam itu yang menurutnya masih kurang asin. Hanifah hanya menunduk, kehilangan selera makan akibat rasa lelah yang luar biasa di punggungnya.

Usai makan malam, Ratna masuk lebih dulu ke kamar. Sementara Arkana duduk di samping Hanifah yang masih termenung di ruang tamu.

"Dek..."

Hanifah menoleh. "Iya, Mas."

"Besok jangan dikerjakan lagi ya."

Hanifah tersenyum tipis. "Kalau Hanifah tidak kerjakan, nanti Bibi bilang Hanifah malas."

Arkana terdiam. Ia menggenggam pelan tangan istrinya yang masih kemerahan.

Untuk pertama kalinya sejak Bibi Ratna tinggal bersama mereka, Arkana merasa rumah kecil yang dulu selalu dipenuhi tawa mulai kehilangan kehangatannya.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!