Kaina Chandrina terpaksa harus menikah dengan seorang CEO perusahaan besar. Ia harus menjadi tumbal akibat perbuatan orang tua, yang tega menukar dirinya dengan saham perusahaan.
Kini ia harus terjebak dalam sebuah pernikahan kontrak dengan Haikal Kusumanegara, CEO yang begitu berkuasa dan juga kejam.
Keluar dari kandang singa, masuk ke kandang harimau. Bagitulah ungkapan kata yang cocok untuk gadis malang itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Tambatannya
Rasya terkejut dengan kondisi Kaina. Ia bisa menebak, jika gadis ini sudah berhubungan badan dengan Haikal. Namun, yang membuatnya marah adalah, melihat ada sedikit darah dan memar pada sudut bibir Kaina.
Apa yang sudah dilakukan badjingan itu? Ini bukan lagi hubungan suami istri, tetapi lebih kepada pemerkosaan, walaupun Kaina adalah istrinya. Kurang ajar!. Batin Rasya begitu miris dengan keadaan Kaina kali ini.
Ia hanya fokus untuk menangani gadis itu. Memasang infus dan memasukkan obat kedalam tubuh Kaina, sambil masih mengumpati Haikal.
Cukup lama ia memeriksa dengan teliti keadaan Kaina. Hingga gadis itu sadar dan langsung menangis.
"Bunda," panggilnya lirih.
"Kaina?" Panggil Rasya dengan lembut.
Gadis itu tidak merespon, ia masih menangis sembari mengerang kesakitan. Rasya hanya menghela nafas melihat keadaan itu. Ia memberikan Kaina obat tidur agar dia bisa beristirahat.
Rasya menatap Haikal dengan tajam. Raut wajah bengis ia tampakkan kali ini.
"Kal, kali ini kau keterlaluan! Apa kau tidak kasihan dengan keadaannya yang sudah seperti itu?" ucap Rasya menahan diri untuk tidak memarahi sahabatnya ini.
Ia menarik Haikal ke dalam baik Kaina. "Kau lihat dia!" ucap Rasya.
Haikal menatap Rasya tidak suka. Namun dengan sekuat hati ia menahan emosi agar tidak mengganggu orang lain yang berada di sana.
"Itu gara-gara, Mommy!" ucap Haikal menghela nafasnya.
"Tante Muzi?" tanya Rasya terkejut.
"Tadi pagi dia masih baik-baik saja. Menjelang siang, mommy datang ketika aku tidak berada di rumah dan mengusirnya," ucap Haikal lirih.
Rasya hanya bisa memejamkan mata menahan emosi. Sungguh tindakan keluarga Haikal sudah tidak bisa ditolerir. Ia merasa sangat geram ketika melihat keadaan Kaina yang seperti sekarang ini.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Rasya.
"Membawa dia ke kota B untuk sementara waktu," ucap Haikal. "Apa dia perlu di rawat?" sambungnya.
"Tidak. Tapi kau harus pastikan gizi dan istirahatnya cukup. Jangan kau kerjai lagi dia!" ucap Rasya memilih untuk pergi dari sana.
Ada rasa berbeda yang menyelimuti hatinya ketika mengetahui jika mereka sudah melakukan hubungan suami istri.
Sementara Haikal menatap Kaina sambil menghela nafas. Aku yang tidak becus sepertinya. Kalaupun dia harus tersiksa, itu hanya aku yang berhak, bukan siapapun!. Huft! Gadis malang ini, apa aku daftarkan saja dia bela diri agar tidak di tindas terus?. Batin Haikal.
Beberapa kali ia hanya menghel nafas, sambil menatap Kaina yang sudah kumuh dan lusuh.
Ia segera meminta Along untuk menyiapkan pakaian yang akan mereka bawa nanti ke kota B.
Apa yang harus aku lakukan agar Kaina aman tanpa gangguan dari Mommy. Batinnya.
Ia mengusap kepala Kaina dan mengernyit, ketika beberapa helai rambut terbawa di tangannya.
Rontok? Semalam tidak ada rambut gadis itu yang rontok, atau aku yang tidak terlalu memperhatikan. Batin Haikal.
Ia masih menunggu gadis itu hingga terbangun. Menatap dalam raut wajah pucat, namun masih terlihat cantik.
Bayangkan tentang peraduan mereka semalam kembali terlintas. Bagaimana Kaina meminta berhenti namun rasa nikmat membuat gadis itu menikmati permainan mereka.
Haikal tersenyum dan mengusap bubii. gadis itu. Namun ia terkejut ketika melihat bekas memar pada sudut bibir gadis itu.
Apa ini? Apa mommy menamparnya?. Batin Haikal melotot.
Ia hanya menghela nafas sambil berfikir keras, menemukan jalan keluar agar istri dan keluarganya bisa akur tanpa berselisih.
🥕🥕
"Bukankah tadi ada mobil Tuan Haikal?" tanya Selena yang sempat melihat pria tampan itu masuk kedalam perkarangan rumahnya.
"Kenapa, sayang?" tanya Sisca mengernyit.
"Tadi sepertinya, tuan Haikal datang ke sini, Bu. Tapi, kenapa dia tidak masuk?" tanya Selena mengedikkan bahunya.
"Apa perempuan itu membuat masalah?" ucapan Sisca marah.
"Mungkin saja!" ucap Selena tidak acuh.
Syalan gadis itu! Gara-gara dia, aku harus berlutut kepada ****** itu untuk meminta waktu tambahan. Batinnya kesal.
Leo memilih untuk rawat jalan, ia tidak ingin tinggal di sana. Mereka juga pulang setelah kepergian Kaina dari rumah sakit.
"Bu, aku mau jadi istri Tuan Haikal juga!" ucap Selena cemberut.
"Ck, kita belum tau bagaimana sifat Tuan Muda itu. Kita lihat bagaimana gadis bodoh itu hidup bersama dengannya. Jika aman, kamu tenang saja, ibu sudah memiliki rencana untuk menyingkirkan gadis itu!" ucap Sisca.
"Benarkah, Bu?" Ucap Selena berbinar. "Ah, harusnya dari awal, aku yang dinikahkan dengan tuan muda, bukan dia!" sambungnya kesal.
"Ck, dia baru saja dia minggu menjadi istri, sudah begitu sombong. Bahkan kemarin ibu meminta uang, dia tidak mau memberikannya!" ucap Sisca.
"Cih, kalau aku yang jadi istri tuan muda, ibu tidak perlu meminta. Tiap bulan akan aku transfer lebih besar dari jajan yang diberi oleh Ayah!" ucap Selena.
"Ah, memang anak ibu ini baik budi! Jangan contoh dia, bahkan ayah sakit aja dia tidak taun Emang dia tidak pernah peduli dengan keluarga ini," ucap Sisca kesal.
Begitulah ucapan jahatnya yang selalu keluar untuk menghakimi Kaina. Padahal, setiap hari gadis itu harus bekerja membersihkan rumah hanya untuk mendapatkan sepiring nasi.
"Apa dia tidk berniat mengajar tuan muda datang ke sini, Bu? Padahal sekarang sudah dia minggu mereka menikah!" ucap Selena.
"Ck, ibu malas membahas dia. Lebih baik kita pergi belanja!" ucap Sisca berdiri.
Selena bertepuk tangan dengan senang. Memang, sekarang batas kartu kreditnya tidak sebanyak dulu, namun masih terbilang cukup banyak untuk berbelanja selama satu bulan. Mengingat perusahaan sang ayah sudah mulai stabil kembali.
🥕🥕
Haikal dan Kaina sedang berada di dalam mobil, menuju kota B. Gadis itu sudah sempat mandi di hotel dan juga mengisi perut mereka.
Ia hanya terdiam dengan tatapan kosong. Harapannya untuk pergi dari pria tampan ini, seolah nguap begitu saja.
Aku tidak akan pernah bisa aman jika berada di samping tuan muda. Pasti akan banyak hal yang terjadi setelah ini, apalagi jika orang-orang tau, jika ia adalah istri sah Haikal.
"Hai, gadis kecil. Jangan bermenung!" ucap Haikal sambil mengusap pipi Kaina.
"Kita akan kemana, Tuan?" tanya Kaina lirih.
"Kita akan berbulan madu," ucap Haikal tersenyum mesum.
Kaina menatap lesu sang suami. Ia menghela nafas pelan dan kembali bersandar di dada bidang Haikal.
"Apa ada yang tidak nyaman?" tanya Haikal memeluk gadis itu dengan gemas.
"Tidak, Tuan. Saya hanya ingin beristirahat sebentar," ucap Kain.
"Baiklah?" ucap Haikal memangku Kaina seperti seorang bocah.
Ia menepuk bokoong gadis itu seperti menidurkan seorang balita. Wajah Kaina merona malu, ia mencoba untuk memberontak, namun mata tajam Haikal membuat nyalinya menciut.
"Apa kau ingin tinggal denganku di rumah utama?" tanya Haikal ketika melihat Kaina tidak kunjung memejamkan mata.
Gadis itu terdiam, bayangan bagaimana ibu mertua yang begitu tega mengusir sambil menjambak rambutnya.
"Apa tidak ada tempat lagi, Tuan?" tanya Kaina lirih.
"Kau mau tinggal dimana?" tanya Haikal.
"Dimana saja, asal saya bisa tidur dengan nyenyak," ucap Kaina semakin lirih dengan mata yang mulai terpejam.
"Kalau begitu, kau akan ikut kemanapun saya pergi!" ucap Haikal tegas.
Namun ia merasa begitu gwmas melihat Kaina yang sudah terlelap seperti anak kecil. Berulang kali ia mengecup bibir kecil itu, hingga mobil berhenti di sebuah Villa pribadi miliknya.
Di sini, Kaina aman tanpa ada yang mengetahui keberadaan mereka. Ia langsung menggendong Kaina dan membaringkannya di atas ranjang mereka.
"Sayang, bangunlah! Kita sudah sampai!" ucap Haikal tersenyum dan menciumi pipi Kaina.
Gadis itu mengerjab dan terkejut ketika melihat Haikal sudah berada di atasnya.
"Tuan," rengeknya sambil mendorong tubuh Haikal dengan penuh perjuangan.
Haikal mengernyit, namun ia tersenyum setelah menyadari pikiran Kaina. "Aku menginginkanmu!" ucapnya sambil mengecup bibir gadis itu.
"Tuan, nanti saja! Saya masih lelah dan belum bertenaga!" ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Padahal, kita kesini untuk berbulan madu. Ah, gak seru!" ucap Haikal berpura-pura dan memilih untuk duduk.
Kaina hanya menghela nafas, ia tidak tau apakah kini Haikal tengah bercanda atau memang benar-benar serius.
"Tuan," panggil Kaina berusaha untuk memeluk pinggang Haikal agar pria tampan ini tidak memarahinya.
"Hahaha, beristirahatlah!" ucap Haikal terkekeh.
Ia berbaring dan memeluk Kaina dengan erat. Hingga mereka berdua terlelap dengan kondisi hati satu langkah lebih maju.
Hati yang mulai berpihak dan menemui tambatannya.
Sayang bgt lho gak dilanjutin mana ceritanya bagus bgt..
Ayo kk semangat buat lanjutin lg ceritanya