Bhadrika Anneta Fabian memilih bersembunyi dari keluarganya karena belum siap menerima pernikahannya dengan seorang pria yang tak ia cintai.
Sementara Pangeran Aditama meski sudah tiga tahun berlalu masih terus mencari Istri sirinya yang kabur, hingga pada akhirnya ia menemukan titik terang tentang keberadaannya
" Jika kamu tak ingin aku menjadi Tuan Pemaksa, maka patuhi dan cintai aku sebagai suamimu."
" Tapi aku tetap tidak bisa mencintaimu karena di hati ini hanya ada dia. Jadi lepaskan saja aku!"
" Anne dia sudah pergi, jadi lupakanalah! Lagipula aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kamu akan tetap menjadi istriku sampai nanti. "
Di kala Pangeran masih berjuang untuk mendapatkan cinta istri, tiba-tiba muncul seseorang yang sangat mirip dengan almarhum pria yang sangat Anne cintai.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan mereka selanjutnya?
Follow ig Author : Novi_Rahajeng08
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Memiliki anak?
Dikarenakan Anne datang, membuat Mama Dira sibuk membuatkan berbagai makanan kesukaan Anne. Kedatangannya sudah seakan membuat wanita paruh baya itu memeliki energi lebih untuk membuat berbagai menu makanan dari hidangan pembuka sampai penutup. Padahal, selama tiga tahun ini Ia sudah jarang sekali bersemangat membuat makanan. Pasalnya, Ia mendapatkan sebuah kesedihan yang bertubi-tubi, dari putranya yang meninggal, lalu putrinya ikut pergi tanpa ada kabar, sampai kondisi kesehatan suaminya yang terus menurun. Namun, kesedihan itu seakan tergantikan oleh kebahagiaan ketika sang putri kembali dan saling memaafkan satu sama lain.
Mengobati luka yang membelenggu di hati memang cukup dengan saling memaafkan akan kesalahan yang telah di lakukan. Namun, untuk bisa melakukan hal itu tentu butuh waktu yang menyembuhkan.
Melihat semua orang masih terus menatapnya tanpa henti, tentu membuat Anne merasa risih.
" Apakah ada yang aneh di wajahku?" tanya Anne bingung akan sikap keluarganya.
Semua orang menggeleng.
"Lalu, kenapa terus menatapku?" Anne bertanya lagi.
" Karena kita seakan tak percaya bahwa kamu sudah kembali di tengah-tengah kita ...," seru Nala seraya kembali memeluk Anne.
Kepergian Anne membuat Nala merasa sangat kesepian karena tak ada lagi teman curhat dan pergi jalan-jalan. Pasalnya, Ia tak mudah untuk bisa dekat dengan teman-teman di universitasnya yang kebanyakan mau berteman karena statusnya. Berbeda dengan Anne yang benar-benar tulus dalam soal pertemanan.
" Kamu selama ini ke mana aja sih? Kok gak pulang-pulang sampai Lena besar! Emangnya gak kangen apa sama aku, Papa, Mama, dan semuanya?" kata Nala yang memberikan pertanyaan bertubi-tubi.
" Aku berada di tempat - tempat yang indah," jawab Anne singkat.
" Ihh ... Kamu curang! Masak pergi ke tempat indah gak ajak-ajak! "kesal Nala dengan memasang wajah cemberut. Begitulah mama muda berusia dua puluh satu tahun itu yang akan kembali layaknya gadis muda jika sedang bersama sahabat sekaligus adik iparnya.
" Kalau ajak-ajak, namanya liburan bareng bukan kabur, "timpal Anne yang membuat semua orang tertawa mendengarnya.
Sementara Pangeran ikut tersenyum saat melihat keluarga ini kembali bahagia seperti sedia kala.
Tak lama kemudian, terdengar suara panggilan dari Mama Dira yang mengajak semua orang untuk makan malam bersama. Semua orang pun beranjak bangun dari duduknya dan berjalan menuju meja makan.
Kini, kursi yang ada di meja makan sudah tak kosong lagi karena sang pemiliknya sudah kembali. Bahkan, Ia juga sudah memiliki pasangan sama seperti kedua kakaknya.
" Sepertinya, meja makan Papa harus di perbesar lagi deh!" kata Lean yang men oba membuat gurauan.
" Memangnya mejanya masih kurang besar ya?" sahut Papa Ken yang terlihat serius menanggapi perkataan putranya.
" Kurang Pa, apalagi kalau anak Anne dan Pangeran sudah launching, "lanjut Lean yang seketika membuat Anne diam membeku.
Menyadari akan perubahan sikap Anne membuat Nala langsung menyenggol lengan suaminya karena sudah berbicara sembarangan. Sementara Pangeran terlihat menggenggam tangan Anne.
Bagi orang yang menikah dengan rasa cinta, mungkin ini adalah pembicaraan biasa. Namun, lain halnya dengan pernikahan yang tak diinginkan. Untuk menerima pernikahan ini saja masih sulit, apalagi anak? Anne memang menyukai anak-anak dan tentunya memiliki impian untuk mempunyai anak, tapi bukan sekarang. Karena ia masih ada dalam fase belajar untuk dan mengikhlaskan takdir Tuhan yang di gariskam untuk dirinya. Takdir yang tak sesuai dengan harapannya.
" Anne ... maaf kalau Kakak sudah salah bicara," ucap Lean.
" Gapapa kok!" Anne berusaha tersenyum, tapi Lean tahu kalau di dalam hatinya ia sedang merasa tak tenang.
" Anne ... Coba iga manis buatan Mama, pasti kamu sudah lama kan tidak memakannya 'kan? "Mama Dira mencoba menawari makanan guna mengalihkan pembicaraan sebelumnya.
" Iya, Ma," jawab Anne tersenyum saat sang Mama memberikan lauk iga manis di dalam piringnya.
" Ini juga kesukaan Anne. " Papa Ken ikut menuangkan ikan bakar ke piring putrinya. Bahkan bukan hanya Papa Ken dan Mama Dira saja yang mengambilkan lauk. Kean dan Dinda pun jadi ikut-ikutan mengisi piring Anne dengan berbagi lauk kesukaannya. Pasalnya, semua hidangan di meja kebanyakan makanan kesukaan Anne.
" Kenapa semuanya jadi mengambilkan lauk, nanti kalau Anne gemuk gimana?" ujar Anne tatkala melihat piring makanannya yang sudah penuh dengan berbagai lauk.
" Tidak akan gemuk asalkan lebih banyak protein daripada karbohidrat!" tandas Pangeran yang langsung membuat Anne kembali terdiam.
Entah kenapa ia tiba-tiba teringat kembali dengan seseorang yang pernah mengatakan hal itu padanya.
Anne kembali melirik ke kursi sampingnya, dan ia seakan melihat kembali bayangan seseorang yang dulunya pernah duduk di kursi itu dan mengatakan hal yang sama.
" Kak ... " lirih Anne.
" Sayang, Kamu kenapa?" tanya Pangeran yang seketika membuyarkan lamunan Anne akan halusinasinya.
" Aku tidak apa-apa," jawab Anne yang langsung beralih kembali memakan makanannya dengan menahan sesak di dada.
" Mama, aku mau duduk sama Uncle," ucap Lena manja yang ingin duduk di pangkuan oleh Pangeran. Pasalnya, hari ini Pangeran terlihat lebih perhatian dengan tante baru (Anne) daripada dirinya.
" Lena, makan di kursi sendiri. Lagipula Uncle juga sedang makan," nasehat Nala.
" Gak mau! Lena mau cama Uncle!" rajuk Lena dengan wajah cemberut.
Melihat keponakannya yang merajuk, Pangeran pun bangun dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri duduk Lena.
" Yaudah, Lena duduk sama Uncle, ya ... " Pangeran pun mengambil Lena dari high chair.
" Pangeran tidak usah," cegah Nala yang tak enak hati jika merepotkan Pangeran.
" Sini, Lena duduk sama pipi saja," ajak Lean menawarkan diri.
" Gak mau!" tolak gadis kecil itu yang semakin mengeratkan pelukannya pada leher Pangeran.
" Sudah tidak apa-apa, Kak," timpal Pangeran seraya berjalan pergi kembali ke tempat duduknya.
Melihat Lena yang terlihat begitu dekat dan manja pada Pangeran, membuat Anne merasa sedikit heran dan terkejut.
" Lena mau makan di suapi Uncle?" tawar Pangeran lembut, dan diangguki oleh gadis itu.
" Maaf ya, Ran ... Jadi ngerepotin," papar Nala yang masih tak merasa enak.
" Gapapa."
Menatap Pangeran yang begitu luwes saat mengurus anak kecil, tiba-tiba membuat Anne kembali mengingat ucapan Stephanie.
" Apa jangan-jangan dia memang benar sudah memiliki anak dengan wanita lain? "gumam Anne dalam hati yang merasa aneh melihat seorang laki-laki begitu tlaten merawat anak kecil di saat ia sendiri tak memiliki adik ataupun anak. Belum memiliki dalam artian bersama Anne. Soalnya, Anne hanya tahu bahwa sebelumnya Pangeran adalah pria single yang belum menikah.
...****************...
Hayo...
Kira-kira, Pangeran benar-benar sudah pernah memiliki anak apa belum ya?
penasaran sama lnjtn nya