Delia Laros terpaksa harus menikah dengan pria tajir dan arogan yang tidak dikenalinya. Pernikahan itu bermula dari sebuah ancaman akan reputasinya.
Pria yang bernama Rafael Widjaja tersebut berniat memanfaatkan Delia Laros untuk membatalkan pertunangan yang tidak diinginkannya, namun siapa sangka ternyata tanpa sadar pria itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Akankah Rafael Widjaja mampu menaklukkan hati istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XXII
Keesokan harinya...
Keadaan mulai kembali membaik, karena masalah penculikan, Rafael melupakan perusahaan. Ia pun segera mengambil laptopnya dan memeriksa semua email yang yang dikirimkan oleh Jodhi. Selain masalah perusahaan, Jodhi juga melaporkan perusahaan milik keluarga Markes yang telah pria itu selidiki.
Rafael mulai melihat laporan itu dengan teliti, setelah ia selesai melihatnya, ia pun langsung menghubungi Jodhi. Tak perlu waktu lama Rafael menunggu jawaban teleponnya.
"Jod... Beli semua aset milik keluarga Markes dan juga beli saham terbesar di PT. Andalas. Ini caraku untuk menghancurkan Bethran Markes, salahnya sendiri telah melawan Rafael Widjaja," ujar Rafael.
"Anda yakin akan melakukannya pak?" tanya Jodhi.
"Ikuti saja perintahku Jod."
"Baik pak," jawab Jodhi.
"Dan jangan biarkan media dibungkam oleh Dowell. Penangkapan Katrina Dowell yang telah menculik mertuaku, harus disebarkan dengan cepat. Kita juga harus memberi pelajaran pada wanita keras kepala itu," perintah Rafael lagi.
"Siap pak, segera semua akan dilakukan," jawab Jodhi lagi.
Rafael pun menutup teleponnya lalu menghubungi sekretarisnya Melia.
"Bagaimana pekerjaan yang aku perintahkan Mel?" tanya Rafael tanpa basa-basi setelah Melia mengangkat teleponnya.
"Pak Firdaus menggunakan dana perusahaan sebesar lima milyar untuk properti lahan di Sulawesi pak. Tapi ia tidak menyelidiki lahan yang akan dibelinya. Maaf aku tak bisa mencegahnya, karena bukan wewenangku pak," jawab Melia.
"Dasar pria bodoh. Ia pikir membeli properti hanya dengan penawaran menarik saja tanpa harus menyelidiki siapa pemilik dan letak lokasinya. Dalam satu minggu PT. Sinar Abadi bisa bangkrut ditangannya," kata Rafael mulai emosi, "terus kirimkan dokumen dokumen yang ia tanda tangani padaku. Aku akan menanganinya di belakang. Dan ia akan terjebak dengan kebodohannya sendiri. Dan putuskan segala kontrak kerja sama bersama Dowell tanpa kompensasi. Jika Frans Dowell menuntut ganti rugi, ia harus menghadapiku," imbuhnya.
"Baik pak," jawab Melia.
Setelah itu, Rafael pun memutuskan teleponnya lagi. Pria itu menghela nafasnya, masalah keluarganya masih belum bisa ia atasi dengan cepat. Ia benar benar harus membuat sadar ayahnya sebelum semuanya hancur.
*****
Rafael menuju rumah sakit tempat Emili di rawat. Sesampainya di sana, ia melihat istrinya sedang menemani kedua orang tuanya. Wanita itu lagi lagi harus meninggalkan kuliahnya karena masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Rafael semakin merasa bersalah pada istrinya itu.
Rafael mendekati mereka yang masih tak menyadari kehadirannya. Saat suara langkah kakinya terdengar, ketiganya pun langsung melihat ke arahnya.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Rafael.
"Sudah lebih baik dari kemarin," jawab Delia.
"Kami sebaiknya pulang hari ini langsung ke Lampung nak," sahut Derry.
Emili pun menganggukkan kepalanya, "ibu ingin pulang sekarang juga."
"Ibu harus istirahat yang cukup dulu. Dokter menyarankan agar ibu dirawat setidaknya seminggu di sini," jawab Rafael.
"Tidak nak. Kami lebih nyaman pulang ke rumah, ingin sekali tenang setelah beberapa hari ini mengalami situasi yang sedikit mengerikan ini. Kami sering melihat berita di televisi soal penculikan, kami tak pernah membayangkan justru mengalaminya sendiri," kata Emili sedih.
Rafael sangat mengerti apa yang dirasakan oleh mertuanya. Ia melihat Delia, minta persetujuan. Wanita itu pun menganggukan kepalanya pada Rafael.
"Baiklah, aku tak bisa mencegah kalian lagi. Setelah makan siang, kita menuju bandara. Pagi ini, aku akan mengurus surat keperluan dari pihak kepolisian. Satu jam lagi pihak kepolisian akan meminta keterangan pada kalian sebagai korban sekaligus saksi," ujar Rafael.
"Nak... Tidak bisakah keduanya dibebaskan? Mereka hanya terobsesi perasaan cinta. Mereka masih sangat muda," pinta Derry.
Emili pun kembali menganggukan kepalanya setuju dengan pendapat suaminya.
"Kalian terlalu baik, tapi permintaan kalian yang satu ini tidak bisa aku kabulkan. Siapapun yang mengganggu istri dan keluargaku, akan menerima hukuman yang setimpal. Jika mereka tidak diberi pelajaran, kedepannya nanti mereka bisa berbuat kejahatan lagi. Ayah, ibu, Delia... kalian sudah menjadi bagian dari Rafael Widjaja. Kalian sekarang adalah tanggung jawabku, jadi jangan harap masalah ini berakhir dengan damai," ucap Rafael tegas.
Derry dan Emili hanya bisa menghela nafas mereka. Mendengar ucapan menantu mereka yang tegas seperti itu, tentu saja tak mungkin lagi bisa tergoyahkan. Setelah itu, Rafael berpamitan pada mereka untuk ke kantor polisi membawa Delia. Rafael meyakinkan keduanya jika kali ini mereka sudah aman karena masih ada anggota kepolisian yang berjaga di luar ruangan.
Rafael dan Delia pun segera berangkat menuju kantor polisi untuk melihat tersangka yang menculik kedua orang tua mereka.
*****
Di kantor polisi, Frans Dowell dan keluarga Markes ternyata sudah tiba. Frans Dowell menatap Rafael dengan penuh amarah saat Rafael dan Delia baru saja tiba di sana.
"Putriku melakukan perbuatan kriminal gara gara ulahmu. Kau membuatnya malu dengan memutuskan pertunangan kalian secara sepihak," celetuk Frans pada Rafael.
Rafael terkekeh, "sepertinya terbalik tuan Dowell. Putrimu seperti ini karena ulahmu yang menyetujui perjodohan bodoh ini. Karena ia berani mengganggu keluargaku, maka kau yang akan menanggung akibatnya. Aku sudah memutuskan semua kerja sama perusahaan, jangan harap kau bisa meminta ganti rugi padaku, beruntung aku tidak menghancurkan perusahaanmu," jawab Rafael.
Wajah Frans Dowell berubah menjadi pucat akibat ancaman Rafael. Frans tahu akibatnya jika melawan Rafael Widjaja. Ia tak bisa membalas perkataan Rafael, karena sedikit banyaknya apa yang dikatakan Rafael memang benar.
Rafael mengalihkan tatapannya ke Surya Markes.
"Namaku Rafael Widjaja, dan aku pemilik PT. Sinar Abadi. Pasti anda pernah mendengar perusahaanku. Perbuatan putra anda sulit aku maafkan, jika terjadi sesuatu pada perusahaanmu, jangan salahkan aku," ucap Rafael arogan.
"Tentu saja aku mengenali anda, pak Rafael," jawab Surya, "Putraku memang bodoh, tapi tak bisakah kita damai saja pak? Beri kesempatan untuk keluarga Markes memperbaikinya," pintanya.
Rafael tertawa, "siapapun yang menyakiti keluargaku, tak mungkin berakhir dengan damai. Aku datang kemari bukan untuk bernegosiasi."
Seketika Surya Markes terdiam, tak ada yang bisa ia katakan lagi pada pria arogan seperti Rafael Widjaja.
"Aku berniat untuk membeli saham perusahaanmu. Mungkin saja sekarang perusahaanmu itu sudah beralih ke tanganku. Jika kau tidak percaya, kau bisa memastikannya sendiri," ujar Rafael.
Surya Markes terbelalak, "tolong, jangan lakukan ini pak Rafael. Aku tidak ada hubungannya dengan perbuatan bodoh putraku."
"Sayangnya aku melakukan ini untuk memberi pelajaran pada putramu itu. Bukankah satu satunya ahli waris perusahaan adalah putra bodohmu itu? Tapi aku tidak berharap kau mundur dari jabatanmu. Perusahaanmu hanya berganti pemilik, tapi kau tetap harus mengelolanya dengan baik. Pilihan ada di tangan anda, pergi tanpa mendapatkan apapun atau tetap bekerja seperti biasanya," kata Rafael lagi.
Surya Markes kembali terkejut dengan ucapan Rafael. Tubuhnya gemetaran menghadapi seorang pebisnis seperti pria yang ada di depannya. Ia yakin sangat mudah bagi seorang Widjaja untuk mengakuisi sebuah perusahaan kecil seperti perusahaan miliknya.
Delia terus mendengarkan pembicaraan itu, walaupun ia tak mengerti soal bisnis, namun sikap arogan suaminya benar-benar terdengar sangat menakutkan.
Rafael membawa Delia meninggalkan Frans dan Surya. Keduanya menemui Bethran dan Katrina. Kedua tersangka terkejut saat melihat Rafael dan Delia. Bethran hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu menghadapi Delia, sedangkan Katrina justru menatap mereka penuh amarah.
"Apa kau belum menyesali perbuatanmu Kate? Matamu itu nyaris keluar saat melihat kami, kau bahkan seperti ingin membakar tubuh istriku," ucap Rafael.
Katrina melepaskan tawanya, "menyesal? sampai matipun aku tidak akan pernah menyesal. Wanita yang ada di sampingmu itu, hanyalah wanita murahan yang kau nikahi."
"Berani sekali kau menghina istriku," bentak Rafael, "Istriku adalah wanita yang baik. Tanya saja pada rekan jahatmu itu, ia yang telah membayar orang untuk mencoreng nama baiknya. Harusnya kau minta maaf atas apa yang kau lakukan pada keluarga Laros. Sepertinya kau memang ingin mendekam dalam penjara. Apa kau akan berubah jika aku menghancurkan perusahaan Dowellkat?" ancam Rafael.
Wajah Katrina berubah pucat, "tidak... Jangan lakukan itu Rafael. Papa ku tidak ada hubungannya denganku."
"Karena kau pernah menjadi temanku, maka aku tidak akan menghancurkan perusahaanmu itu. Tapi, minta maaflah pada istriku. Walaupun itu tidak akan meringankan hukumanmu," ujar Rafael.
"Aku lebih baik mati dari pada dipenjara. Aku akan malu seumur hidupku Raf," jawab Katrina.
Katrina menatap Delia, namun kali ini tatapannya tidak seganas seperti sebelumnya.
"Delia... tolong maafkan aku. Aku hanya mengikuti saran Bethran saja, bantulah aku lepas dari masalah ini, aku akan melepaskan Rafael untukmu," pinta Katrina.
Delia sangat tidak tega melihatnya. Rafael yakin istrinya akan memaafkan wanita itu dan memohon padanya untuk melepaskannya.
"Permintaan maaf mu diterima. Tapi untuk terbebas dari hukumanmu, itu tidak akan mungkin," celetuk Rafael sebelum istrinya memohon padanya.
"Raf..." ujar Delia lembut.
"Tidak sayang, jangan tunjukkan kebaikanmu pada orang-orang seperti mereka," ujar Rafael seraya membawa Delia meninggalkan mereka.
"Rafael... biarkan aku keluar dari sini... Rafael..." teriak Katrina.
Rafael terus membawa Delia keluar tanpa memperdulikan teriakan Katrina. Keduanya menuju ruangan lain untuk mengurus surat surat kepolisian agar kedua orang tua Delia bisa pulang ke Lampung. Setelah selesai mengurus semuanya, mereka pun meninggalkan kantor polisi untuk kembali ke rumah sakit.
*****
Happy Reading All...
gasskeun✈✈
hmmm mungkin ini memang takdir dari mami otor pernikahan pada pandangan pertama😄
lanjuutt bacaa